Pada Rabu, (18/9), The 23rd Leaders Dialogue mengadakan acara bertema “Indonesia Emas 2045: Bonus atau Beban Demografi?” dengan pembicara Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Keuangan RI periode 2014-2016 dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selaku Gubernur DKI Jakarta periode 2014-2017.
Acara dibuka oleh Arief Wibisono Lubis (PLH Dekan FEB UI), serta sambutan dari Dhika Hikmal Akbar selaku Ketua BEM FEB UI dan Revaldo selaku Project Officer. Acara ini berlangsung di Makara Art Center UI dengan jumlah partisipan yang mendaftar mencapai 1.300 orang.
Bonus Demografi Indonesia: Tidak Ada Kali Kedua!
Perlu diketahui, bonus demografi tidak terjadi di semua negara. Seperti halnya India yang tidak memiliki pembatasan jumlah penduduk akibatnyatidak mengalami bonus demografi. “Di Indonesia, transisi demografis menyebabkan dominasi usia muda, terutama usia 15-16 tahun, yang mengarah pada adanya bonus demografi saat ini,” terang Bambang.
Maka, sebenarnya Indonesia bisa memanfaatkan bonus demografi ini untuk keluar dari middle income trap. “Jepang, Korea, dan Cina berhasil naik kelas dari middle income (country) menjadi high income (country) karena berhasil memanfaatkan bonus demografi yang merupakan once in a lifetime opportunity, tidak ada bonus demografi kedua,” tambah Bambang.
Puncak bonus demografi Indonesia terjadi pada tahun 2030, saat rasio penduduk usia produktif terhadap non-produktif mencapai angka tertingginya. “Setelah tahun 2045, Indonesia akan memasuki fase aging population sehingga 2045 adalah deadline bagi negara kita. Kalau gagal, maka Indonesia akan memasuki middle income trap untuk selamanya.”
“Tanpa ada orang yang sehat, tidak akan ada pendidikan yang baik”
Menurut Ahok, kesehatan dan pendidikan adalah kunci utama mewujudkan Indonesia Emas. Inilah yang mendorongnya membuat BPJS kelas tiga agar rakyat bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak melalui kartu Asekin yang dikelola PT Askes. “BPJS kesehatan ini dibuat agar semua orang tidak miskin karena sakit,” terang Ahok.
Bambang pun menekankan bahwa memperbaiki SDM harus dimulai dari aspek yang sama. Saat ini angka stunting Indonesia masih ada di rentang 20% dan penanganannya harus dimulai dari usia 0–5 tahun. “Jika baru diurus pada usia 20 tahun, it’s too late. Stunting berdampak seumur hidup sehingga jika tidak ditangani secara serius, produktivitas Indonesia akan terancam,” jelasnya.
Kedua pembicara juga menanggapi isu mengenai banyaknya orang Indonesia yang lebih memilih untuk berobat ke luar negeri. Menurut Ahok, hal ini disebabkan oleh adanya koreksi pasar, “Dulu, orang Indonesia suka berobat ke Singapura, sekarang rata-rata ke Penang karena harganya sepertiga lebih murah dibanding di Indonesia.” Oleh karena itu, Indonesia perlu memberikan subsidi biaya pengobatan yang dapat menunjang kebutuhan rakyat akan kesehatan.
Dana yang disiapkan pemerintah harus melimpah dan diperoleh dengan cara yang tepat. Menurut Ahok, pajak itu seharusnya dipungut dari orang asing dan tidak hanya dinaikkan terus tarifnya. “Ketika perekonomian sulit, pemerintah cuman naikin pajak. Jadi kalau lo ga punya duit, berdoalah punya pejabat pemerintah yang baik,” tambah Ahok.
Bambang menambahkan bahwa tingginya biaya obat di Indonesia disebabkan oleh 90 persen bahan baku yang masih diimpor serta adanya monopoli pasar obat. Ia juga menilai Penang menjadi pilihan tempat berobat rakyat Indonesia karena cara penanganan pasiennya yang lebih baik.
Sumber Daya Berlimpah: Kutukan atau Berkah?
Indonesia terlalu terbuai dengan berkah sumber daya yang dimiliki sehingga dikhawatirkan berkah tersebut malah beralih menjadi kutukan, seperti halnya Venezuela dan Afrika. “Once cursed happen, Indonesia jadi tidak punya harapan untuk jadi negara maju. Jadi kita harus me-manage agar blessing tetap menjadi blessing, tidak menjadi curse dengan cara manufacturing,” terang Bambang.
Saat ini, Indonesia mengalami rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5%, sementara untuk mencapai target Indonesia Emas, diperlukan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6-7% per tahun. Industri food and beverage, yang menyumbang 5% terhadap GDP, adalah contoh hilirisasi yang menciptakan nilai tambah dari bahan mentah. Fokus pada produk dengan nilai tambah dapat memanfaatkan keunggulan kompetitif Indonesia.
Hal yang terpenting adalah memastikan produk dari sumber daya alam Indonesia tidak cumadijual dalam bentuk mentah. Kesalahan yang dilakukan oleh Afrika dan Venezuela adalah mengandalkan ekspor barang mentah yang hanya menjadi keuntungan bagi negara maju. “Pada tahun 2000-an ketika seharusnya Indonesia membangkitkan manufacturing, tiba-tiba muncul batubara dan sawit. Ketika sudah dianggap tidak sustainable, everybody talks about nickel, padahal yang terpenting itu turunan nikelnya,” tambahnya.
Indonesia memiliki sumber energi yang sangat ramah lingkungan, yaitu panas bumi. Sayangnya, belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber energi utama di Indonesia. “Kontrak batubara terlalu banyak. Terlalu banyak orang yang mengambil keuntungan dari sana, maka salah satu yang bisa dilakukan adalah data analysis untuk merumuskan data digunakan untuk apa,” sahut Ahok mengenai tantangan yang ada dan bagaimana menghadapinya.
Harapan untuk Generasi Muda
Sektor manufacturing masa depan akan sangat bergantung pada produktivitas yang didorong oleh teknologi digital. Penting untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi digital, tetapi juga mengintegrasikannya untuk meningkatkan produktivitas di Indonesia.
“Jadikanlah teknologi digital untuk menghasilkan entrepreneur yang lebih banyak, itulah yang dilakukan oleh Korea dan Jepang. Mereka berhasil menciptakan entrepreneur dalam jumlah besar termasuk UMKM yang kuat,” ujar Bambang.
“Dalam hal ini, anak muda bisa membuat startup seperti Aruna atau E-Fisher untuk menghubungkan nelayan dengan pedagang. Penting untuk membuat aplikasi seperti itu karena banyaknya pedagang perantara membuat nelayan tetap miskin dan komoditas di pasar juga mahal,” ujar Bambang.
Menurut Ahok sendiri, hal lain yang perlu diperbaiki adalah soal transparansi karena korupsi menjadi akar masalah dari negara ini. Saat ini, hanya orang tertentu yang bisa mendapatkan jabatan tertentu dan menciptakan sistem meritokrasi yang tidak adil. Meskipun Indonesia mungkin sudah terlambat, bukan berarti harus menyerah.
“Saya yakin bangsa kita punya masa depan jika jujur, berintegritas, dan punya etos kerja yang baik. Banyak hal yang bisa di-explore di Indonesia. Saya optimis bangsa Indonesia mampu asal orang-orang politik itu waras saja,” tutup Ahok.
Editor: Khansa, Marshellin Fatricia, dan Titania Nikita

Discussion about this post