Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Hard News

Indonesia Economic Outlook 2025: Meraih Angan Mencapai Kesejahteraan Rezim Prabowo

by Muhammad Fauzan Rizky, Larasati F. Ichtadita & Agus Leo Tabri Saputra
3 Desember 2024
in Hard News

Aiko Putri (Aiko) selaku Project Officer IEO 2025 mengungkapkan bahwa IEO di tahun ini berupaya untuk mengambil momentum elektoral yang telah berlangsung pada tahun 2024 yang akan memengaruhi Indonesia ke depannya. “Pergantian pemerintahan ini, terutama dengan menjabatnya Pak Prabowo sebagai presiden yang baru untuk menggantikan Pak Jokowi, pastinya memiliki definisi kesejahteraannya sendiri. Kita sebenarnya ingin melihat bagaimana definisi kesejahteraannya, apakah hanya mengarah pada pertumbuhan atau turut menciptakan pemerataan,” jelas Aiko mengenai tema IEO 2025.

 

Dua dekade mendatang akan menjadi periode krusial bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri sebelum mencapai masa keemasan. Strategi yang efektif menjadi keharusan bagi pemerintahan Indonesia yang baru dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, di tengah berbagai tantangan seperti keterbatasan ruang fiskal dan gejolak geopolitik global.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, Indonesia Economic Outlook (IEO) 2025 mengadakan seminar dengan tema “Beyond the Ballot: Redefining Indonesia’s Economic Prosperity Under the New Government” yang diselenggarakan pada Senin (2/12) di Auditorium Soeria Atmadja, FEB UI. Acara ini menghadirkan berbagai pembicara ternama, seperti Habib Rab (Lead Economist World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste), Arsjad Rasjid (Ketua Dewan Pertimbangan KADIN), dan Wahyu Utomo (Kepala Pusat Kebijakan APBN, Badan Kebijakan Fiskal). Seminar ini menjadi ruang diskusi bagi seluruh elemen masyarakat untuk membahas masa depan Indonesia dalam perjalanan menuju masa keemasannya.


Sebuah Harapan: Melangkah Menuju Masa Depan Indonesia Cerah

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar perayaan 100 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, melainkan momentum untuk memanfaatkan bonus demografi demi membawa Indonesia keluar dari Middle Income Trap (MIT). Lebih lanjut, jika Indonesia ingin keluar dari MIT, hal pertama yang harus dibenahi adalah kualitas Sumber Daya Manusianya (SDM). “Jumlah usia produktif saja tidak cukup, tetapi harus juga dibarengi dengan peningkatan produktivitas itu sendiri” ujar Bambang Brodjonegoro selaku pembicara special remarks. “Peningkatan produktivitas itu bisa berasal pertama dari tentunya perbaikan kualitas pendidikan dan kesehatan, tetapi kedua juga bisa diperkuat dengan kehadiran teknologi” pungkasnya.

Selain itu, Arsjad Rasjid juga menambahkan pentingnya lulusan sarjana memiliki life skills dan terus melakukan upskilling, mengingat kebutuhan akan hardskill juga menjadi penunjang teori yang diperoleh selama masa studi. Lebih lanjut, Arsjad menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas, serta perlunya standarisasi pada pendidikan vokasi untuk mengatasi mismatch antara kebutuhan pasar tenaga kerja dan kompetensi yang dimiliki tenaga kerja.

Tanggapan Pembicara Seputar Kenaikan PPN 

Terkait wacana kenaikan PPN pada tahun 2025, baik Arsjad maupun Bambang sepakat bahwa pemerintah perlu mengkaji ulang rencana tersebut. Alasannya, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, ditambah kondisi geopolitik yang tidak stabil sehingga pergerakan ekonomi dan arah kebijakan global menjadi sulit diprediksi. 

Situasi ini memiliki dampak besar bagi Indonesia, yang masih sangat membutuhkan Foreign Direct Investment (FDI) untuk mendorong pertumbuhan ekonominya. Bahkan, daya beli masyarakat cenderung terus melemah. “Dengan adanya PPN 12% ini bisa saja memberatkan, sehingga perlu dilihat penundaan daripada pelaksanaanya sampai dengan keadaan yang ada” ungkap Arsjad. Kebijakan ini dikhawatirkan akan memberatkan masyarakat, memperlambat aktivitas ekonomi, dan pada akhirnya berimplikasi pada melambatnya pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Dinilai sebagai Acara yang Positif dan Menarik

Pada kesempatan press conference yang dilakukan di Student Center FEB UI, Yenny Wahid selaku Direktur Wahid Foundation merespons positif kegiatan seminar ini. “IEO sangat keren dan profesional,” ucapnya. Yenny juga menyatakan bahwa dirinya terkejut mengetahui acara ini diadakan oleh mahasiswa, melihat skala acaranya yang besar.

Ilham, salah satu peserta acara ini, turut mengungkapkan bahwa tema yang diambil merupakan tema yang menarik. “Kita sedang berada pada kondisi pergantian presiden, kebijakan yang akan diambil mungkin akan berbeda dengan pemerintahan sebelumnya,” jelasnya. Sementara salah satu partisipan lain berkata, “Yang disampaikan sebenarnya sudah sering dibahas di kelas, namun di sini kita belajar dari sektor riil dan pelakunya langsung.”

Pemaparan materi berkenaan dengan sektor riil oleh Arsjad Rasyid, utamanya mengenai deindustrialisasi prematur, menjadi bagian paling menarik bagi Ilham. Pendapat yang sama juga dikatakan oleh peserta lain sekaligus mahasiswa (EIE 2022). “Di tengah pemerintahan baru ini, kita dapat melihat perspektif ekonomi Indonesia ke depannya,” pungkasnya. Meskipun bahasannya sangat menarik, Ilham sedikit menyayangkan kesempatan diskusi yang terbatas, “Topiknya sudah menarik. Namun, sayang waktunya kurang untuk diskusi,” seru Ilham. 

 

 

Editor: Anindya, Khansa, Titania, Rafa

Related Posts

Rupiah Merosot, Dolar Melambung: Kenapa Tren Belanja Tetap Gaspol?
Headline

Rupiah Merosot, Dolar Melambung: Kenapa Tren Belanja Tetap Gaspol?

Menavigasi Fragmentasi Global: IEO National Seminar Sajikan Outlook Perekonomian Indonesia
Hard News

Menavigasi Fragmentasi Global: IEO National Seminar Sajikan Outlook Perekonomian Indonesia

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide