Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Sastra

Taman Sastra

by Ibrahim Abdul Halim
10 Agustus 2015
in Sastra

: untuk orang-orang yang menyadarkan saya sastra masih ada

Di antara hak dan kewajiban hidup berlalu begitu cepat,
awan-awan datang lalu hujan kembali tiada, daun dan bukan daun
diterbangkan angin untuk sampai pada tempat yang tak pernah jelas musababnya.
Semua bergerak, bergegas, lambat berarti tamat. Antara masa lalu, masa kini, dan
masa depan saling merapat, jalin-menjalin.

Tapi lalu ada yang bertanya: hidup ini sederhana, kenapa tidak kita nikmati saja?

Dan disitulah kita: gumpalan awan bisa jadi satu hal yang romantis, jatuhnya daun barangkali pertanda hujan akan turun karena angin begitu kencang. Cinta barangkali bisa bertahan. Amarah juga barangkali bisa bertahan.
Tapi setidaknya tak ada yang tergesa-gesa. Semuanya khidmat. Semuanya nikmat.

Karena sebatas kata bukan budaya kami, maka kita mulai memberi makna untuk hidup yang cuma sementara.

Rabu, 4 Maret 2015
Penulis: Ibrohim Abdul Halim

Related Posts

Tuan Rampung 1859
Sastra

Tuan Rampung 1859

OGOH-OGOH DAN IDENTITAS BALI YANG TERUS BERUBAH
Opini

OGOH-OGOH DAN IDENTITAS BALI YANG TERUS BERUBAH

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide