sunyi bukan kosong
ia penuh yang tak jadi diucapkan
seperti doa setengah jadi
yang lupa alamat Tuhan
kau dan aku
pernah duduk di jarak yang sama
menghadap arah berbeda
seolah bahagia punya dua mata angin
aku menyebut namamu
pelan, agar tak terdengar rindu
rindu yang keras
selalu berakhir lelah
cinta mengajarkanku
kehilangan tanpa gaduh
tanpa tangis di keramaian
tanpa menjadikan luka tontonan
kau pergi
tanpa perlu membawa apapun
yang tertinggal
sudah cukup membuatku berat
hari-hari berjalan lambat
seperti sengaja menunggu runtuh
aku menata napas
agar tidak mencarimu lagi
sunyi kini pandai bicara
ia menanyakan kabarmu
dengan suara yang mirip
dengan suaraku sendiri
aku tidak membencimu
itu terlalu sederhana
aku hanya belajar
mengikhlaskan tanpa pahlawan
malam sering lupa pulang
meninggalkanku dengan jam dinding
yang berdetak
seperti menyebut namamu
cinta tidak mati
ia hanya berpindah tempat
dari dada ke ingatan
dari hangat ke perih
aku berdamai
dengan kehilangan yang rapi
tanpa dramatika
tanpa pengakuan
sunyi akhirnya mengerti
bahwa aku sudah selesai
meski sesekali
ia masih menyebut namamu
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

