Selasa (1/6), melalui pengumuman dari akun media sosial Economics International Society (EIS), telah diumumkan bahwa Carin Andini, mahasiswa Akuntansi Kelas Khusus Internasional angkatan 2020, terpilih sebagai presiden EIS untuk periode 2021–2022.
Setelah melewati proses kampanye dan debat calon presiden, pada hari Selasa (1/6) lalu, terpilihlah Carin Andini, mahasiswa Akuntansi KKI angkatan 2020 sebagai presiden Economics International Society (EIS) periode 2021–2022 melalui voting yang dibuka selama empat belas hari tertanggal 17–31 Mei 2021. Hal ini sekaligus menjadi tanda bahwa Reza Raharjo telah menyelesaikan tanggung jawabnya selaku presiden EIS periode 2020–2021. Kali ini, Economica berkesempatan mewawancarai keduanya terkait regenerasi yang telah dilaksanakan tersebut.
Aktualisasi dari Nilai Kepengurusan EIS 2020
“Strong internal, benefiting external, and inclusive” merupakan tiga nilai yang dibawa oleh Reza Raharjo. Menurut Reza, tiga nilai yang ia bawa itu telah berhasil diaktualisasikan dengan baik. Melalui berbagai program kerja seperti Giving Back to Society, Creative Industry, tutor EIS, serta berkolaborasi dengan FEB UI Cup, EIS telah berkontribusi dalam memberikan manfaatnya bagi pihak eksternal.
Pada masa awal kampanye, Reza mengatakan keinginannya untuk meminimalisasi unsur nepotisme dalam proses rekrutmen anggota EIS. Berbeda dari periode sebelumnya, seleksi calon anggota EIS dilakukan dengan menulis esai serta studi kasus sehingga kapabilitasnya dapat terlihat. Setelah langkah tersebut diterapkan, anggota EIS periode ini dinilai lebih beragam dan telah mewakili berbagai kalangan. “Berdasar evaluation RNI yang kita buka, tahun lalu kita baca dari review dari orang-orang kalau EIS tuh masih eksklusif banget. Tapi, tahun ini review-nya sudah tinggal masalah akademis dan dosen sih walaupun topik eksklusif masih kebawa juga,” tuturnya.
Reza menjabarkan bahwa program kerja yang dilaksanakan selama periode 2020–2021 sudah berjalan sesuai rencana, bahkan melewati target, “Misalnya, tahun lalu target di bawah 15 program kerja, tapi ternyata selama kepengurusan kita bisa ngehasilin 38 proker. Contoh lainnya pas creative industry participants-nya lumayan banyak.” Namun, Reza menambahkan terdapat satu aspek yang dapat ditingkatkan untuk kepengurusan EIS periode berikutnya, yaitu hubungan internal EIS. Menurutnya, kepengurusan periode lalu terlalu terfokus kepada eksternal sehingga kedekatan internal belum terbangun secara sempurna. Hal lain yang dapat dilakukan oleh periode EIS berikutnya adalah membuat training yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas para anggotanya. “I believe Carin bisa menekankan hal-hal tersebut. Carin peka melihat EIS tahun ini yang kurang di bidang internalnya, seperti kurang dalam hal training dan bonding,” ujarnya.
Terpilihnya Carin sebagai Presiden EIS 2021
Regenerasi serta terpilihnya Carin Andini selaku presiden terpilih EIS FEB UI untuk periode 2021–2022 ini tentu membawa harapan baru bagi EIS FEB UI kedepannya. Nilai yang ingin Carin bawa di bawah kepemimpinannya adalah Open, Stronger, dan Inclusive environment. “Cara untuk meraih visi itu tersebut melalui CARE – Communicate, Assist, Recognise, Evolve, and Equality,” ujarnya pada Economica melalui aplikasi pesan Line.
Carin kemudian menjabarkan lebih lanjut terkait misi tersebut. Ia ingin membuat lingkungan yang terbuka terhadap opini dan pandangan setiap orang, mampu membantu mahasiswa Kelas Khusus Internasional baik dalam bidang akademis maupun non-akademis melalui berbagai program kerja, mengapresiasi setiap opini dan kritik, serta memungkinkan setiap orang untuk memiliki kesempatan yang sama melalui rekrutmen terbuka. Menurutnya, keempat misi tersebut sangat penting dan saling melengkapi dalam membangun EIS, “When one is being implemented and achieved, hence we are also indirectly implementing the other core values of CARE.”
Carin berharap agar ia mampu membawa EIS ke arah yang lebih baik, “Ke arah dimana kita akan menjadi sesuatu organisasi yang bisa menjadi safe place untuk anak anak KKI dan terus membantu serta mendengarkan the student body. To make everyone feel like home, to be heard and included. Menjadi salah satu organisasi yang bisa diandalkan, di mana semua bisa bertumbuh bersama EIS,” tuturnya. Sebagai penutup, Carin menyampaikan ungkapan terima kasihnya kepada mahasiswa Kelas Khusus Internasional yang telah mempercayainya untuk berada di posisi tersebut. “Gue akan try my best untuk tidak mengecewakan semuanya.” tutup Carin di akhir wawancara.
Editor: Tahtia Sazwara, Nismara Paramayoga, Hafsha Pia Sheridan

Discussion about this post