saya tengadah ke matahari
dunia terbang, akhirat pergi
sudah masanya mencari budi
di tanah bako sebrang bahari
ciptaan keindahan alam
lambaian gunung merapi
indah bunga duhai hayati
tiada bersedih serantih hati
ada yang lain di menungku
hati nan renggang telah berlabuh
ku genggam pena, hilang akalku
sayang dia orang jauh
alim diri tak kenal lepau
hanya kenal surau
pula kenal buku
namun tak kenal suku
lumrah saja daku tak tepat
hati keluarga pun belum dapat
datang pula tuan beradat
pula tampan restu pun padat
haram saya menyentuh tanganmu
yang seorang anak terbuang
yang telah kalah dalam hidup
yang mati lantaran dibunuhnya
saya mesti tegak kembali
dari yang dipertali kudrat ilahi
tak perlu menyala setanggi
rengganglah kapal berpindah bumi
lama sudah saya bermula
peraduan di negeri jawa
nestapa rindu gundah gulana
sangat inginku hendak mendengarnya
cahaya berbinar tiada ratap
dipertemu tuan beradat
sekarang sudah beradab
maka itu jadi sahabat
kehidupan laksana roda pedati
yang dipertuan pun akan tumbang
adinda telah kembali ke pelukan
rangkayo dengan thalak yang rumpang
kulepasnya kembali ke andalas
seorang istri dari sahabat
sial maut datang menatap
dibarutnyalah mata meratap
laksana termenung mengenang adinda
terurai gelanggang air mata
bertepi hikayat dengan duka
separo hati pada pusara

