Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Mild Report

Ngopi, Nugas, Repeat: Tren Kopi dan Produktivitas Mahasiswa FE UI, Benarkah Tingkatkan Performa Akademik?

by Khansa Khansa & Ratu Nurlita R.
25 April 2025
in Mild Report

“Pernahkah kamu merasa lebih fokus setelah menyeruput segelas kopi sebelum belajar? Atau justru merasa cemas dan sulit tidur setelahnya?”

Di tengah jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik yang tinggi, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) kini makin akrab dengan kebiasaan ngopi. Hal ini terlihat dari menjamurnya kedai-kedai kopi di lingkungan fakultas, mulai dari Sociallspace, Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Smartfolks, E+E Coffee Kitchen, hingga Seramu – pendatang baru dengan konsep self-service yang membebaskan mahasiswa meramu kopi mereka sendiri sesuai selera. Semua kedai ini selalu ramai, terutama menjelang masa-masa ujian, menjadi tempat favorit untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, atau sekadar melepas penat.

Tren ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah kopi benar-benar membantu meningkatkan produktivitas akademik mahasiswa? Dan sejauh mana mahasiswa FE UI merasakan manfaat dari kebiasaan ngopi yang kini seolah jadi bagian dari gaya hidup kampus? Melalui Mild Report ini, Economica akan menggali lebih dalam tentang hubungan antara kopi dan performa belajar mahasiswa, baik dari sudut pandang ilmiah maupun pengalaman langsung para penikmatnya di FEB UI.

 

Kiprah dalam Sejarah

Menilik singkat dari National Coffee Association terkait sejarah kopi, berdasarkan sejarah dan legenda, buah kopi pertama kali dikonsumsi oleh kambing yang digembalai Kaldi di wilayah Ethiopia. Singkat cerita, biji kopi kemudian menyebar ke Yaman, Jazirah Arab, Sri Lanka. Singkat cerita, sampai akhirnya Belanda membawanya dari Sri Lanka ke Nusantara. Sejak kedatangannya dan ditanam di tanah air, kopi tidak langsung menemukan pamornya. Ia menemukan kegagalan dan pada akhirnya, jenis robusta berhasil beradaptasi dan berkembang dengan baik di Nusantara. 

Dewasa ini, kalcer atau budaya dari kegiatan menikmati kopi (baca: mengopi) sudah bukan pemandangan yang baru di Indonesia, mengingat ketersebaran kedai kopi pada 2023 saja sudah mencapai 10.000 (Kompas.com). Budaya tersebut merambah di kota besar, kota kecil, bahkan daerah (desa), tak terkecuali di FEB UI. Sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga FEB, terlebih di fakultas ini sendiri tersedia lima jenama kopi seperti yang telah disebutkan di paragraf permulaan, mulai dari jenama unicorn hingga jenama indi.

Dahulu, persepsi dan identitas yang melekat untuk mengopi di Indonesia ialah saat bersantai, dikonsumsi hanya oleh bapak-bapak sambil membaca koran, pahit, hitam, dan lain sebagainya. Namun, persepsi tersebut bergeser semenjak kedai kopi kekinian mulai dipelopori Kopi Tuku sekitar tahun 2015 dan diikuti oleh jenama lokal lain yang bermunculan. Kopi tak hanya sekadar untuk dikonsumsi semata, tetapi juga mengikuti fitrahnya seperti peradaban dahulu. Memangnya bagaimana budaya ngopi di zaman dahulu?

 

Penolakan dan Pelarangan akan Kopi

Usut punya usut, ternyata, budaya kedai kopi sudah ada sejak Abad ke-15-16 di Jazirah Arab hingga kedai kopi juga disebut ‘Sekolah Orang Bijak’ lantaran merupakan tempat pertukaran informasi terjadi di zaman itu. Bahkan di Inggris, King George II menentang konsumsi kopi dan Raja Inggris Charles II menurunkan Pelarangan Kedai Kopi (Historia.id). Posisi kopi untuk dikonsumsi dan digantikan dengan teh sehingga membentuk budaya minum teh hingga saat ini. Hal tersebut untuk mencegah berlangsungnya diskusi masif masyarakat yang mengarah pada pemberontakan. Dari fenomena di atas, ternyata seberpengaruh itu, ya, eksistensi kedai kopi. Namun, apakah benar efektivitas kopi sekuat itu hingga meningkatkan produktivitas penikmatnya? Sesignifikan apa? Apakah efek tersebut benar-benar nyata? 

 

Sugesti Belaka atau Semu Semata?

Efek plasebo – atau yang dikenal efek psikologis akan kinerja suatu hal – dalam pengaruhnya pada reaksi fisiologis, yakni performa fisik (bench press dan squat), tidak ditemukan pengaruhnya, melainkan hanya pada reaksi psikologis seperti kegugupan dan reaksi ekskresi seperti peningkatan intensitas buang air kecil. Artinya, tubuh tetap dapat membedakan dan efek kafein kopi memberikan pengaruh nyata terhadap performa fisik tersebut. 

Di sisi lain, temuan yang hampir serupa bekerja pada orang yang mengantuk. Efek plasebo dalam hal persepsi rupanya berpengaruh pada karakteristik orang tersebut. Namun, yang perlu menjadi catatan ialah otentisitas pada efek biologis tetap membatasi efek persepsi yang dihasilkan lantaran terdapat reaksi farmakologis yang nyata. 

Efek nyatanya ke tubuh pun didukung oleh Andrew P. Smith dalam penelitiannya Caffeine at Work yang menyajikan hasil bahwa tingkat konsumsi kopi berbanding lurus dengan tingkat kewaspadaan. Artinya, semakin tinggi tingkat kopi yang dikonsumsi, maka akan semakin tinggi pula tingkat kewaspadaan seseorang. Selain itu, konsumsi kopi pun secara signifikan dapat memengaruhi penurunan tingkat kegagalan kognitif dan kecelakaan kerja. Hal ini sejalan dengan penelitian dari National Coffee Association USA yang mengungkapkan bahwa kopi memiliki benefit, beberapa di antaranya ialah untuk meningkatkan daya ingat, kognisi, dan suasana hati serta meningkatkan energi dan daya tahan tubuh.

 

Dari Pengecap ke Performa

Lalu, bagaimana kinerja kafein dalam kopi sehingga dapat memengaruhi kinerja seseorang dalam pekerjaannya? Dapat dikatakan kafein yang merupakan senyawa kimia memiliki efek interaksi ke tubuh pengonsumsinya atau bahasa kerennya ialah efek farmakologis. Ternyata, efek tersebut memiliki pengaruh ke sistem saraf pusat, kewaspadaan, memori, dan kemampuan kognitif. Bagaimana bisa? 

Singkatnya, dengan kehadiran cairan kopi yang mengandung kafein di tubuh manusia, sisa hasil yang dicerna dan bermanfaat (telah terpisah dari limbah alias urin) bernama paraxantin, akan diserap oleh sel otak. Di otak, paraxantin akan memuluskan konektivitas jaringan kontrol eksekutif di otak yang sangat berperan dalam hal memori, membuat keputusan, mengontrol diri, hingga fungsi kognitif dan intelektualitas. Namun, apakah berarti jika mengonsumsi kopi akan meningkatkan nilai ujian kita?

Jika ditinjau dari sisi pengaruh performa akademik – dalam hal ini performa ujian – temuan sebuah jurnal mengungkap bahwa konsumsi kopi dan nilai ujian dari mahasiswa kesehatan yang diteliti memiliki hubungan lemah yang negatif. Hal ini mengindikasikan jika mengonsumsi kopi tidak menyebabkan nilai ujian menjadi tinggi dan tidak dapat dikatakan memengaruhi performa akademik secara langsung. Temuan dalam jurnal lain pun mengungkapkan hal yang serupa bahwa mengonsumsi kopi pada masa ujian hanya akan memengaruhi ketahanan pelajar lantaran jam tidur yang mundur. 

 

Fakta Lapangan Sesuai Dugaan?

Untuk mengamati kondisi empiris, Tim Economica mengumpulkan data secara daring dalam kurun waktu 18–26 Maret 2025 dengan merujuk pada segmentasi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI dalam lingkup angkatan 2021 hingga angkatan 2024. Adapun waktu pengambilan sampel tersebut bertepatan dengan masa Ujian Tengah Semester fakultas sehingga diharapkan situasi dan kondisi tersebut – yang disinyalir terjadi peningkatan jumlah konsumsi kopi bagi individu –  dapat membantu responden dalam menuangkan jawabannya. 

Dari total sebanyak 44 responden yang berpartisipasi, mayoritas mahasiswa FEB UI merupakan penikmat (90,9%) dan menikmati (47,7%) kopi lantaran dapat menjaga energi dan dapat meningkatkan fokus. Mereka biasanya mengonsumsi kopi minimal 1–3 kali per pekan. Adapun merek kopi yang paling digemari ialah Kopi Kenangan, disusul merek lainnya, dan kopi kemasan paling sedikit dipilih. 

Grafik 1. Jenama kopi yang paling sering dinikmati

 

Berdasarkan temuan data yang kami kumpulkan, responden yang mengonsumsi kopi setiap hari dalam sepekan menunjukkan IPK – sebagai indikator terbatas untuk performa kognitif dan produktivitas – yang bervariatif namun tetap dalam skor yang memuaskan, yakni di atas poin 3 bahkan terdapat yang hampir menyentuh skor sempurna, 4. Sejalan dengan hal tersebut, mayoritas mahasiswa FEB UI merasa mengalami peningkatan setidaknya sejumlah satu tugas yang dapat diselesaikan dibandingkan jika tidak mengonsumsi kopi. Juga, umumnya mengalami peningkatan waktu belajar. 

Grafik 2. Rata-rata tugas yang berhasil diselesaikan dalam satu hari

 

Lalu, apakah kopi dijadikan senjata bagi mahasiswa FEB UI untuk menorehkan prestasi seperti halnya pemantik diskusi-diskusi di masa lampau? Kenyataannya, tidak selalu. Mayoritas dari responden memang sering menjadikan kopi sebagai senjata untuk menerjang berbagai tuntutan baik akademik dan non-akademik, namun tidak selamanya begitu. Hal tersebut diperkuat dengan 9/15 responden yang hanya memiliki frekuensi mengonsumsi kopi maksimal 0–1 kali per pekan memperoleh IPK di atas 3,5. Hal ini menandakan bahwa mayoritas mahasiswa FEB tidak begitu menggantungkan proses belajarnya pada kopi. 

Adapun pengaruh kopi pada hal yang menunjang produktivitas seperti tinjauan untuk kualitas hasil tugas yang dikerjakan jika mengonsumsi kopi; efek gangguan tidur pasca mengonsumsi kopi; dan efek ketahanan kopi pada keesokan hari, tidak ditemukannya pengaruh yang signifikan atas pengonsumsian kopi.

 

Kopi sebagai Alat, bukan Jalan Pintas

Kopi memang bukan sekadar minuman, ia telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan, keberadaannya telah menjadi “ritual akademik” bagi sebagian besar mahasiswa FEB UI. Temuan dalam laporan ini menunjukkan bahwa meskipun kopi mengandung zat aktif seperti kafein yang secara ilmiah terbukti memiliki efek biologis terhadap peningkatan fokus dan kewaspadaan, manfaat tersebut tidak secara langsung berpengaruh signifikan terhadap performa akademik, seperti nilai ujian atau IPK.

Alih-alih menjadi faktor penentu keberhasilan akademik, kopi lebih berperan sebagai booster sesaat, seperti menambah energi, menemani begadang, atau sekadar menumbuhkan atmosfer produktif. Data juga menunjukkan bahwa mahasiswa dengan frekuensi konsumsi kopi yang rendah tetap mampu meraih IPK tinggi, yang artinya produktivitas tidak hanya ditentukan oleh secangkir kopi, tetapi oleh berbagai faktor lain seperti manajemen waktu, strategi belajar, hingga kondisi fisik dan mental secara keseluruhan.

Dengan demikian, kopi tetap punya tempatnya. Ia bisa menjadi teman baik saat dikejar tenggat atau kehilangan fokus. Tapi menjadikannya sebagai andalan utama untuk mencapai performa akademik yang optimal? Mungkin kita perlu berpikir dua kali. Seperti halnya segala sesuatu, kunci utamanya adalah bijak dalam konsumsi. Karena pada akhirnya, bukan kopi yang membuatmu lulus cumlaude, tapi dirimu sendiri.

 

REFERENSI 

AEKI-AICE – Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://www.aeki-aice.org/

Health benefits of coffee – NCA – About Coffee. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://www.aboutcoffee.org/health/health-benefits-of-coffee/

History of coffee – NCA – About Coffee. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://www.aboutcoffee.org/origins/history-of-coffee/

Kim, H., Kang, S. H., Kim, S. H., Kim, S. H., Hwang, J., Kim, J. G., Han, K., & Kim, J. bin. (2021). Drinking coffee enhances neurocognitive function by reorganizing brain functional connectivity. Scientific Reports 2021 11:1, 11(1), 1–11. https://doi.org/10.1038/s41598-021-93849-7

Kopi yang Mengubah Eropa – Historia. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://historia.id/kultur/articles/kopi-yang-mengubah-eropa-PddlP/page/1

Mengapa Kafe dan Kedai Kopi Kian Marak di Indonesia? – Kompas.id. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://www.kompas.id/baca/riset/2024/08/15/mengapa-kafe-dan-kedai-kopi-kian-marak-di-indonesia

Pharmacology of Caffeine – Caffeine for the Sustainment of Mental Task Performance – NCBI Bookshelf. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK223808/

Raise-Abdullahi, P., Raeis-Abdollahi, E., Meamar, M., & Rashidy-Pour, A. (2024). Effects of coffee on cognitive function. Progress in Brain Research, 288, 133–166. https://doi.org/10.1016/BS.PBR.2024.06.016

Search – Find the information you need – Harvard Health. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://www.health.harvard.edu/search?content%5Bquery%5D=coffee%20benefits

Shukitt-Hale, B., Miller, M. G., Chu, Y. F., Lyle, B. J., & Joseph, J. A. (2013). Coffee, but not caffeine, has positive effects on cognition and psychomotor behavior in aging. Age, 35(6), 2183. https://doi.org/10.1007/S11357-012-9509-4

Survei GoodStats: Kopi Jadi Bagian dari Kehidupan Masyarakat Indonesia – GoodStats. (n.d.). Retrieved April 14, 2025, from https://goodstats.id/article/survei-goodstats-kopi-jadi-bagian-dari-kehidupan-masyarakat-indonesia-D5iBT

Related Posts

144 atau 145 SKS? Informasi Syarat Kelulusan yang Sempat Tidak Merata
Hard News

144 atau 145 SKS? Informasi Syarat Kelulusan yang Sempat Tidak Merata

Kenapa Semua Orang Mendadak Berburu Pop Mart? Unboxing the Pop Mart Phenomenon
Mild Report

Kenapa Semua Orang Mendadak Berburu Pop Mart? Unboxing the Pop Mart Phenomenon

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide