Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

Necessity or Identity? A Conceptual History of Hustle

by Cathliniyah Indah M. & Ratu Nurlita R.
26 Juli 2026
in Kilas Riset, Penelitian

Pendahuluan

Istilah hustle telah menjadi bagian dari kosakata sehari-hari masyarakat, khususnya mahasiswa dan pekerja. Istilah ini sering membawa konotasi positif, seperti produktivitas, ketekunan, dan orientasi masa depan yang cerah. Namun, jarang ada yang bertanya dari mana istilah ini berasal dan mengapa maknanya bisa berubah-ubah sesuai konteks.

Pertanyaan inilah yang mendorong peneliti asal Copenhagen Business School, Jepsen dan Eaton (2025), menelusuri perjalanan panjang kata hustle di Amerika Serikat sejak akhir abad ke-19 hingga sekarang. Mereka menemukan bahwa kata yang terdengar keren ini pernah dianggap sebagai label kriminal ringan hingga simbol perlawanan, sebelum akhirnya menjadi identitas yang dibanggakan. Penelitian ini menjawab bagaimana konsep hustle membentuk legitimasi berbagai jenis pekerjaan. Selain itu, penelitian ini juga menjelaskan bagaimana perubahan persepsi tentang “pekerjaan yang baik” ikut membentuk ulang makna dan praktik hustle itu sendiri.

Tinjauan Pustaka

Untuk memahami asal-usul hustle sebagai bahan kajian akademis, para peneliti menelusuri perdebatan yang lebih besar mengenai penyebab bahasa kewirausahaan ikut membentuk cara kita menilai pekerjaan. Waterhouse (2024) menunjukkan bahwa sejak periode 1970-an, globalisasi dan deindustrialisasi mengikis stabilitas pekerjaan formal di Amerika Serikat. Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul frasa-frasa seperti “jadilah bos bagi dirimu sendiri” dan “bekerjalah untuk dirimu sendiri”. Frasa ini perlahan melegitimasi wirausaha, sekaligus secara implisit merendahkan pekerjaan formal sebagai sesuatu yang kaku dan tidak menarik.

Dari sini, muncul pilar kedua, yakni kajian kewirausahaan sebagai ideologi (Eberhart et al., 2022; Lee, 2024; Weiss et al., 2023). Mayoritas studi tersebut menghubungkan kewirausahaan dengan neoliberalisme yang muncul pada era 1970–1980-an. Pada titik inilah, Jepsen dan Eaton mengambil sikap berbeda dan mempertanyakan asumsi tersebut.

Sementara itu, dalam perspektif akademik di bidang manajemen, Fisher et al. (2020) mendefinisikan hustle sebagai tindakan mendesak dan tidak lazim dari seorang pengusaha untuk mengatasi tantangan di tengah ketidakpastian. Definisi ini populer, tetapi dianggap terlalu individualistis karena memandang hustle murni sebagai keputusan pribadi. Padahal, praktik ini juga dibentuk oleh struktur sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, Steedman & Brydges (2023) menawarkan sudut pandang alternatif bahwa hustling adalah praktik kreatif untuk melawan kerapuhan ekonomi demi membangun kehidupan dan karier yang baik. Dengan kata lain, hustle bukan sekadar perilaku individual, melainkan fenomena sistemik.

Metode Penelitian

Untuk menjawab pertanyaan penelitiannya, Jepsen dan Eaton tidak melakukan survei atau wawancara. Mereka menggunakan metode sejarah konseptual yang digagas dan dikembangkan oleh sejarawan Reinhart Koselleck. Pendekatan ini tidak hanya melacak waktu pertama kali kata hustle dipakai, tetapi juga menafsirkan perubahan maknanya sesuai konteks sosio-politik zamannya.

Data yang dikumpulkan sangat beragam. Sumber data tersebut meliputi 7 kamus umum bahasa Inggris (abad ke-17–awal abad ke-20), 1 naskah drama teater (1684), 16 monograf dan glosarium khusus (1910-an–1980-an), serta 8 lirik musik populer disko dan hip-hop (1970-an–2000-an). Selain itu, terdapat 19 artikel majalah dan surat kabar via EBSCOhost dan Factiva (1980-an–2020-an), 17 sumber akademis (1970-an–2020-an), 1 presentasi konferensi (2011), dan 3 materi iklan serta pemasaran (2010-an–2020-an).

Dari berbagai data tersebut, mereka menganalisis hubungan antara pergeseran makna hustle dan upaya legitimasi atau stigmatisasi kelompok pekerja tertentu di setiap zaman. Hasilnya, tersusun tiga periode kunci: legitimasi awal (Zaman Berlapis Emas/Gilded Age), stigmatisasi (pertengahan abad ke-20), dan valorisasi (akhir abad ke-20 hingga kini).

Hasil Penelitian

1. Abad ke-17–ke-19: Asal-Usul Hustle sebagai Upaya Bertahan Hidup

Kata hustle berasal dari bahasa Belanda hutselen yang berarti mengguncang uang dalam permainan hustle-cap. Memasuki abad ke-19, makna ini berkembang menjadi penggambaran tentang penjualan agresif dan spekulasi ekonomi. Tindakan ini lahir dari kebutuhan dan keputusasaan, bukan dari niat jahat. Pada periode ini, hustle murni merupakan upaya bertahan hidup, seperti yang dilakukan oleh J. P. Johnston dan P. T. Barnum.

2. Pertengahan Abad ke-20: Hustle sebagai Penanda Batas Sosial

Memasuki pertengahan abad ke-20, makna hustle bergeser menjadi istilah untuk membedakan pihak yang memperoleh pekerjaan “layak” dan pihak yang tersingkir. Cerita Langston Hughes tentang Harlem, pemukiman warga kulit hitam di New York, menggambarkan hustling sebagai pekerjaan fleksibel namun kurang terorganisasi. Pekerjaan ini muncul akibat sempitnya peluang kerja formal. Ketimpangan tersebut dipertegas oleh Perjanjian Detroit tahun 1950 yang mendefinisikan “pekerjaan yang baik” didominasi oleh pekerja kulit putih. Sebaliknya, pekerja kulit hitam dan perempuan tersingkir sehingga terpaksa melakukan hustling di sektor ekonomi informal. Istilah ini juga memunculkan konotasi gender, di mana hustling bagi perempuan hampir secara khusus merujuk pada pekerja seks.

3. 1970-an–2000-an: Legitimasi Melalui Seni dan Hiburan

Titik balik besar terjadi melalui industri musik. Istilah hustle yang semula merupakan label pinggiran berubah menjadi sesuatu yang layak dirayakan. Lagu “The Hustle” karya Van McCoy pada tahun 1975 berhasil mendorong musik disko ke arus utama. Selanjutnya, musisi hip-hop seperti The Notorious B.I.G. dan Jay-Z mengangkat hustle sebagai simbol perlawanan sekaligus kritik struktural. Pada periode ini, muncul dua motif utama yang mendorong seseorang menyebut dirinya sebagai hustler. Motif pertama adalah kebutuhan, yaitu hustling sebagai alat bertahan hidup. Motif kedua adalah membangun merek pribadi yang autentik atau menampilkan citra keren yang berfungsi sebagai identitas. Sebagai contoh, Jay-Z dan Travis Kalanick tetap mengidentifikasi diri sebagai hustler bahkan setelah meraih kesuksesan finansial dan bisnis.

4. 2010-an–Kini: Budaya Hustle dan Perlawanan Terhadapnya

Fase terbaru menunjukkan sisi lain dari valorisasi hustle, yaitu penggunaannya sebagai alat mobilisasi korporasi. Sebagai CEO Uber, Travis Kalanick menggaungkan slogan “fear is the disease, hustle is the antidote”. Ia memanfaatkan slogan ini untuk memobilisasi pekerja ekonomi gig. Dalam prosesnya, makna hustle berubah dari identitas personal menjadi instrumen perusahaan untuk menormalkan jam kerja yang panjang. Ketika janji kebebasan ini gagal terwujud, muncul berbagai bentuk resistensi, seperti bekerja secukupnya dan bekerja sesuai gaji. Konsep-konsep resistensi ini mencerminkan penolakan terhadap budaya kerja tanpa henti dan mengutamakan kesejahteraan pribadi.

Kesimpulan

Jepsen dan Eaton menyimpulkan bahwa hustle bukan sekadar kebiasaan kerja individu, melainkan bagian penting dari cara berpikir kewirausahaan. Hustle digunakan untuk membingkai ulang makna kehidupan yang baik. Istilah ini menjadikan pekerjaan di luar jalur formal terasa sebagai jalan keluar dari kesulitan. Selain itu, hustle juga menghapus kesan negatif dari pekerjaan yang dahulu dianggap rendah serta menormalkan dan memuliakan semangat kerja keras dalam konteks kewirausahaan.

Temuan penting lainnya adalah bantahan terhadap anggapan umum bahwa semangat kewirausahaan baru muncul akibat kebijakan neoliberal pada era 1970–1980-an. Mereka menunjukkan bahwa akar konsep ini jauh lebih tua dan terus dihidupkan kembali melalui gerakan budaya, mulai dari sastra Harlem hingga musik hip-hop. Di satu sisi, hustle membuat pekerjaan terasa sebagai ruang untuk mengekspresikan diri dan meraih kebebasan. Namun pada kenyataannya, pengalaman banyak pekerja sering kali jauh dari janji tersebut sehingga memicu berbagai bentuk penolakan.

 

Diulas dari: 

Jepsen, N. C., & Eaton, L. (2025). Hustle: A conceptual exploration of work at the margins. Management & Organizational History, 20(3). https://doi.org/10.1080/17449359.2025.2503154 

Related Posts

Hustle Culture di FEB UI: Perkembangan Karier atau Toxic Productivity?
Soft News

Hustle Culture di FEB UI: Perkembangan Karier atau Toxic Productivity?

Hustle Culture: Tren bagi si Penggiat Kerja
Feature

Hustle Culture: Tren bagi si Penggiat Kerja

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide