Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Mild Report

Merayakan dan Menghidupkan Kembali Kejayaan Musik ‘60an Melalui “Those Shocking Shaking Days”

by Aribho Rahman
30 Juni 2024
in Mild Report

Industri musik Indonesia wajib bersyukur kepada Tuhan karena menghadirkan musisi cadas, psikedelik, dan funk yang dirangkum dalam satu kitab yaitu Those Shocking Shaking Days.

Pada tahun ‘60an, musik bernuansa psikedelik, cadas, dan funk dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah dan terkesan memihak kesenian barat. Eksistensi musisi ataupun seniman pada saat itu terancam karena kebebasan berekspresi dikekang dan ditahan oleh pihak penguasa. Meskipun dihadapkan dengan ancaman dan pembatasan, mereka tetap berusaha untuk berkarya sampai akhirnya rezim orde baru lahir dan membukakan jendela kesenian barat masuk ke tanah air.

Hal ini bisa kita lihat melalui festival musik yang beredar para era tersebut. Salah satunya adalah “Panggung Prajurit“, merupakan acara yang dibuat melalui kerja sama dengan ABRI yang menampilkan musik pop dan rock barat. Acara ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa pemerintah Demokrasi Pancasila era Orde Baru tidak anti terhadap kesenian barat. Selain itu, ada juga beberapa arena yang menyelenggarakan pertunjukkan musik barat seperti “Ganesha Open Air Pop Festival”, “Summer 28”, dan “Parade Band Top Kota Medan 73”.

Genre psikedelik, cadas, dan funk menjadi ciri khas musik pada era tersebut yang diprakarsai oleh band seperti The Beatles, Pink Floyd, Cream, dan masih banyak lagi. Sebenarnya sulit untuk mendeskripsikan apa itu genre psikedelik karena definisinya pun sangat general dan rasanya berbeda ketika sudah mendengarkan. Namun, psikedelik juga dapat diartikan sebagai tren pada tahun 1960-an yang dipopulerkan oleh orang yang menggunakan obat-obatan sehingga mengubah persepsi dan cara berekspresi. Di lain sisi, funk merupakan genre musik yang muncul dari komunitas Afrika-Amerika pada pertengahan 1960-an dengan memadukan elemen soul, jazz, dan rhythm and blues (R&B). Nampaknya genre tersebut juga diadaptasi oleh musisi tanah air yang dikemas dengan balutan melayu dan menghasilkan distorsi yang ciamik.

Namun, sangat disayangkan karena pengarsipan kesenian di tanah air kurang mendapat perhatian yang baik sehingga banyak yang belum mengetahui musisi Indonesia pada era tersebut. Musik tidak akan bisa berjalan dengan sendirinya, tanpa adanya pendengar musik hanyalah sebuah nada yang tidak ada artinya atau paling tidak sekadar memuaskan diri sendiri dengan lagu yang dibuatnya. Kehadiran pendengar menghidupkan musik, menghubungkan emosi, dan menciptakan pengalaman yang berharga. Rekam jejak ini memainkan peran penting dalam mengarsipkan warisan seni dan budaya kita, serta memberikan wawasan tentang perkembangan musik di Indonesia.

Dalam upaya mengembalikan kejayaan musik Indonesia Eothen “Egon” Alapatt, yang merupakan maniak musik dan juga pemilik label independen yaitu Now We Records membuat album kompilasi yang bertajuk Those Shocking Shaking Days: Indonesia Hard, Psychedelic, Progressive and Funk 1970-1978. Pembuatan album kompilasi ini juga mengikutsertakan seorang bumiputera bernama Winbert Hutahaean seorang diplomat yang bekerja di Toronto. Album yang berisikan 20 lagu ini dibawakan oleh musisi cadas seperti Panbers, AKA, Duo Kribo, Shark Move, dan masih banyak lagi.

Nostalgia Psychedelic: Dari Panbers hingga Duo Kribo

Cara menikmati album ini tentunya memiliki pendekatan yang berbeda dengan lagu-lagu yang biasa kita dengar. Terutama untuk generasi yang hidup dan besar dengan platform musik digital. Hal ini dikarenakan musik pada era tersebut mengandalkan suara-suara yang bersifat raw serta irit bicara dan lebih berfokus pada permainan instrumen daripada mengutarakan perasaan melalui nyanyian. Selain itu, lirik-lirik yang lugas dan vulgar dapat membuat pendengar menjadi tidak nyaman.

Lagu pertama dari album ini dimulai dengan ciri khas Panbers yaitu alunan melayunya, tetapi kali ini dibalut dengan psikedelik rock yang menghasilkan lagu berjudul Haai. Lagu tersebut di bagian akhirnya tiba-tiba menyisipkan bunyi sitar yang selalu identik dengan kaum hippie atau gerakan psikedelik. Mungkin saja, saat itu Panbers terinspirasi oleh penggunaan sitar oleh George Harrison dalam The Beatles, atau oleh sitar yang terdengar dalam musik kelompok Shocking Blue dari Belanda. Pengaruh Bee Gees dan Koes Plus juga mudah dikenali dalam album ini.

Jauh sebelum Slank mengangkat simbol V dengan jari telunjuk dan jari tengah sambil meneriakkan ‘Piss!’, empat bersaudara Hans, Benny, Doan, dan Asido Pandjaitan yang tergabung dalam grup musik Panbers telah mempopulerkan simbol tersebut di sampul album mereka yang bernuansa rock. Pada sampul depan album, mereka tampil tanpa baju dengan kaki berbalut jeans. Di sampul belakang, Panbers tampak sedang memainkan sitar, alat musik petik dari India yang identik dengan gerakan psikedelik di akhir era ‘60-an.

 

Gambar 1.1 Cover Album Panbers Kami Tjinta Perdamaia
Gambar 1.1 Cover Album Panbers Kami Tjinta Perdamaian

Selanjutnya, lagu kedua dalam album ini dimainkan oleh The Brims, sebuah band milik unit Brimob Republik Indonesia yang beraliran rock dengan sentuhan psikedelik freakbeat. Lagu yang paling terkenal dari The Brims dan juga berada di kompilasi Those Shocking Shaking Days yang bertajuk “Anti Gandja”. Dengan berbagai spekulasi dan kesan janggal yang muncul seputar lagu tersebut, lagu yang iramanya terdengar seperti menginduksi efek halusinasi bagi pendengarnya ini justru disampaikan dengan lirik moralistik dan penyuluhan tentang bahaya narkotika.

 

Gambar 1.2 Cover Album Anti Gandja by The Brims

Lagu ini termasuk lagu trippy yang menyuarakan semangat anti-narkoba. Meskipun dinyanyikan untuk kampanye anti-narkotika, musik “Anti Gandja” justru membuat pendengarnya merasa mabuk dan teler. Dimulai dengan lirik “Jangan suka coba-coba menghisap gandja”. Meskipun liriknya benar, anehnya lagu tersebut justru memiliki nada-nada yang memabukkan dan membuat teler serta musiknya bertentangan dengan tujuan pembuatannya, “Anti Gandja” tetap menjadi salah satu lagu yang banyak dipuji oleh penikmat musik tanah air.

Bagi yang mengenal musisi Indonesia bernama BAP dan lagunya berjudul “Painting with Suwage”, terdapat kesamaan dengan lagu keempat dari album Those Shocking Shaking Days milik Shark Move yang berjudul “Evil War”. Hal ini menunjukkan bahwa musik pada era 70-an, khususnya dari musisi Indonesia, masih memberi pengaruh terhadap perkembangan musik saat ini. Pengaruh tersebut meliputi gaya musik, tema, dan teknik kreatif yang terus mengilhami generasi musisi berikutnya untuk mengeksplorasi dan memperkaya ekspresi mereka dalam berbagai lanskap musik modern.

Tak hanya itu, musisi terkenal Achmad Albar juga ikut tergabung dalam perayaan musik psikedelik rock di era tersebut. Pada lagu ke-19, Achmad Albar dan Ucok Harahap berkolaborasi dalam proyek bernama Duo Kribo dan menghasilkan lagu yang berjudul “Uang”. Keberhasilan Duo Kribo tidak hanya ditunjukkan dalam kompilasi album Those Shocking Shaking Days. Duo Kribo juga meluas ke negeri seberang, yaitu Malaysia dan Singapura karena musiknya yang relatif lebih sederhana dan mudah dicerna. Terlebih lagi, musik yang dibuat oleh Achmad Albar sangat cocok untuk kawula muda era ‘70-an dan mungkin masih relevan hingga kini.

 

Gambar 1.3 Cover Duo Kribo
Gambar 1.3 Cover Duo Kribo

Nyatanya, proyek Duo Kribo hanya didasarkan pada unsur kesamaan fisik, yaitu rambut kribo mereka. Sayangnya, kolaborasi mereka hanya menghasilkan beberapa lagu karena bagian vokal lebih banyak diisi oleh Achmad Albar, sementara Ucok hanya menyesuaikan, terutama karena Ucok saat itu harus sering bolak-balik antara Jakarta dan Surabaya. Proyek Duo Kribo sebenarnya bisa menghasilkan kesuksesan yang lebih masif, tetapi itu semua hanya menjadi angan-angan karena Achmad Albar lebih mengutamakan grup musiknya,  God Bless, dibandingkan Duo Kribo.

Sebuah Teguran: Mengembalikan Jati Diri Musik Indonesia

Apa yang telah dilakukan oleh Eothen Alapatt bersama label rekamannya seharusnya menjadi teguran bagi para pelaku industri musik di Indonesia saat ini. Industri musik Indonesia tampaknya telah kehilangan identitas karena terjebak dalam pola industri pasar, para musisi yang ingin sukses tidak cukup hanya memiliki bakat tetapi juga harus memiliki penampilan yang menarik. Fenomena berkembangnya boyband dan girlband di Indonesia menunjukkan bahwa premis tersebut adalah kenyataan yang nyata.

Di sini kita bisa mendengar dengan khidmat bagaimana musisi Indonesia memainkan musik yang sesurealis musik psikedelik, sekompleks rock progresif, dan tentunya seceria musik funk yang membumi. Namun, muncul tanda tanya besar di benak pendengar, mengapa perhatian terhadap harta karun musik di negeri sendiri justru lebih besar dari orang luar?

 

Referensi

DCDC. (2014, June 12). Anti Klimaks-Duo Kribo Part IV. http://Www.dcdc.id. https://www.m.djarumcoklat.com/article/anti-klimaksduo-kribo-part-iv?page=18

penakota. (2017, September 10). Penakota.id. Penakota.id. https://penakota.id/camilan/23/selintas-membaca-kembali-the-brims

Prayoga, A. R. (2022, September 29). Cerita di Balik Lagu Anti Gandja (The Brims – “Vol. 1: Let Me Show My Way – Anti Gandja”, Mesra 1972). Irama Nusantara. https://www.iramanusantara.org/blog/article/26

Team, S. T. (2017). Those Shocking Shaking Days, Harta Karun Rock Indonesia. Superlive.id. https://superlive.id/supermusic/artikel/super-buzz/menilik-lebih-dalam-harta-karun-eksotis-rock-indonesia-bernama-those-shocking-shaking-days

Related Posts

Tipsy to Healthy: Rekalibrasi Konsumsi dan Rasionalitas Gen Z dalam Redefinisi Identitas Sosial
Mild Report

Tipsy to Healthy: Rekalibrasi Konsumsi dan Rasionalitas Gen Z dalam Redefinisi Identitas Sosial

Mengapa Gen Z Susah Beli Rumah?
Mild Report

Mengapa Gen Z Susah Beli Rumah?

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide