Chronically Online? Crab Mentality? Kok Bisa?
Digitalisasi yang masif memengaruhi proses penyebaran informasi dan komunikasi yang semakin mudah diakses melalui internet. Kemudahan ini tentunya akan mempercepat pertumbuhan pengguna internet, terutama pengguna media sosial, ditambah dengan fakta bahwa penggunaan media sosial diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah pengguna internet di Indonesia.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memaparkan hasil survei penetrasi internet Indonesia 2024 yang meningkat 1,4% dari periode sebelumnya, atau sekitar 79,5% dari populasi Indonesia. Dari total tersebut, mayoritas kelompok masyarakat yang berselancar di media sosial berasal dari Gen Z (kelahiran 1997-2012), yaitu sebanyak 34,4%. Tren ini juga mendorong adanya fenomena chronically online. Menurut Urban Dictionary, istilah chronically online ditujukan kepada orang-orang yang larut dalam internet dan kehidupannya berputar hanya di internet. Bahayanya masif penggunaan media sosial secara jelas mendorong adanya transformasi norma, kebiasaan, dan sikap yang perlahan tergerus dan menggantikan dengan pola perilaku baru (Lisda, 2024).
Kebangkitan individualisme, salah satu dampak yang terlihat jelas adanya akibat dari fenomena tersebut. Mirisnya, kecenderungan individualisme menjadi pengantar sifat egois atau bahkan menggerus sikap suportif dan berujung pada iri hati. Kondisi ini pula membawa arus pada fenomena crab mentality (mental kepiting). Istilah ini menggambarkan reaksi negatif seseorang yang resah akan kesuksesan orang lain dan berusaha untuk menghalangi atas kesuksesannya, sederhananya, “Jika aku tidak bisa sukses, maka orang lain juga tidak boleh sukses.” (Narasi, 2024).
Hal ini diambil dari perilaku kumpulan kepiting, pada saat satu berusaha keluar tetapi kepiting lainnya yang berada pada satu tempat menghalangi upayanya dengan mencapit dan menariknya. Pernyataan parasit ini perlahan membunuh kata apresiatif dan hadir sebagai komponen racun yang bertebaran di media sosial. Bahkan, sangat dekat dengan fenomena yang baru-baru ini ramai diperbincangkan di media sosial.
Konten Edukatif, Respons Negatif?
Game show terbaru dari Ruangguru, Clash of Champions (CoC), baru-baru ini hadir membawakan angin segar dengan membuat konten edukatif yang mengundang mahasiswa-mahasiswi berprestasi dari berbagai perguruan tinggi terbaik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai angin segar yang berhembus lalu lalang, polusi udara pun tidak mau kalah.
Seiring dengan positifnya respon-respon terhadap hadirnya konten edukatif tersebut, lagi-lagi Indonesia tidak bisa menghindari polusi media sosial. Tentu saja, peserta CoC lah yang menjadi sasaran empuk netizen Indonesia untuk menebar polusi dan dampak-dampaknya. Bahkan arah dari komentar dan reaksi negatif tersebut tidak jarang mengandung mental kepiting. Hal ini dapat dilihat melalui komentar-komentar yang dilontarkan kepada mereka (dalam konteks ini ialah peserta CoC) melalui berbagai akun media sosial, seperti TikTok, Instagram, ataupun X. Adapun dua contoh di antaranya yang berupa komentar yang ditujukan untuk peserta yang berasal dari University of Oxford, yaitu Nabil, dan Nadia (Yaya) dari UGM.


Memang tidak diketahui dengan jelas apa alasan di balik komentar-komentar destruktif yang ditujukan kepada mereka. Akan tetapi, reaksi-reaksi negatif itu telah satu langkah mendukung sebuah kemunduran. Dengan lontaran reaksi negatif yang destruktif tersebut, siapa sangka akan sedalam apa menggores luka pada mereka. Hal inilah yang berindikasi mental kepiting. Umumnya hal ini didasari atas rasa iri dan kecemburuan terhadap pencapaian orang lain, tetapi diekspresikan dengan cara destruktif yang dapat berdampak untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Tidak berhenti sampai di situ, antusiasme para pelontar reaksi negatif pun semakin terjunjung ketika para peserta melakukan kesalahan sekecil apapun yang terlihat. Layaknya nila setitik, rusak susu sebelanga. Berbagai prestasi yang dimiliki para peserta CoC seakan terkubur hidup-hidup oleh kesalahan kecil yang mereka lakukan. Tidak ada yang salah atas suatu niat baik yang terselubung dalam sebuah kritikan, tetapi bagaimana jika alih-alih kritikan yang seharusnya membangun malah memukul mundur si pembuat kesalahan?

Ketika Anonimitas dan Desensitisasi Mengambil Peran
Adanya peran crab mentality dalam media sosial, di antara banyaknya isu yang terkait, anonimitas pun memberikan pengaruh dalam hal ini. Seringkali ditemui akun tanpa identitas diri yang jelas banyak menebar racun. Bahkan, anonimitas berperan besar dalam berbagai tindak kejahatan pada media sosial, termasuk cyberbullying (Izzah dkk, 2021). Maraknya isu anonimitas ini didasarkan atas kerahasiaan data pribadi yang terjaga sehingga membebas luaskan pelaku untuk berkomentar tanpa batas. Tidak jarang oknum-oknum anonim lah yang menjadi sang pemeran utama dalam tindakan destruktif pada media sosial.
Di sisi lain, atas berbagai paparan konten yang berulang atau disebut viral, juga berpengaruh pada pembentuk keadaan desensitisasi media sosial, yaitu di mana seseorang menjadi kurang responsif secara emosional terhadap paparan konten yang berulang kali di media sosial. Ketika paparan konten yang berkekuatan emosional terus membanjiri laman media sosialnya, ia akan merasa lelah bahkan sampai menarik diri dari apapun yang terkait dengan konten tersebut.
Keadaan ini bisa saja mengancam kesehatan mental seorang individu ketika keberadaannya menyebabkan sulit untuk berempati kepada orang lain, bahkan menyebabkan perasaan isolasi dari dunia sosial. Fenomena ini pun lagi-lagi dihangatkan oleh isu yang baru-baru ini dialami oleh salah satu peserta CoC, Nadia (Yaya). Ia memilih untuk menghapus saluran WhatsApp nya setelah berbagai speak up yang dia lakukan atas paparan konten yang destruktif tidak berhenti membanjiri lamannya.

Polusi media sosial ini tidak berhenti pada game show Clash of Champions saja. Pasalnya, juga menghinggapi laman media sosial salah seorang pemuda Indonesia yang baru saja menyelesaikan pendidikan magisternya di Columbia University dan berkesempatan untuk berpidato di acara wisudanya, Deris Nagara. Melalui media sosialnya pula, Deris aktif membagikan berbagai konten perihal pengalaman dan prestasinya yang ia dapatkan. Namun, kehadiran konten-kontennya tidak terlepas dari berbagai reaksi negatif dari netizen Indonesia.


Dampak Crab Mentality: Media Sosial Bukan Lagi Ruang Aman
Pada dasarnya, crab mentality sering kali diperburuk oleh penggunaan media sosial yang eksesif, terutama akibat mudahnya akses ke media sosial oleh publik untuk mengekspresikan pendapat, termasuk kritik dan kecemburuan yang memicu emosi negatif. Secara jangka panjang, mentalitas ini dapat berdampak negatif pada psikologis individu dan masyarakat.
Mentalitas kepiting ini dapat menyebabkan gangguan psikologis bagi para korban. Setiap kali mengunggah sesuatu, korban cenderung akan merasa cemas akan reaksi negatif yang mungkin muncul. Kecemasan ini dapat menghasilkan siklus ketakutan yang terus menerus, dimana korban cenderung menjadi terobsesi dengan pikiran bahwa mereka akan dibenci. Alhasil, para korban menekan diri dan tidak lagi mengekspresikan pendapat mereka secara bebas. Lingkaran ketakutan ini dapat mendorong korban untuk meragukan diri sendiri, menekan diri untuk berkembang, hingga mengalami depresi.
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2023 menunjukkan bahwa sebanyak 84,37% responden berusia 16 sampai 30 tahun mengakses internet untuk menggunakan media sosial. Namun, dilihat dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi tertinggi berasal dari kelompok umur 15 sampai 24 tahun, yaitu sebesar 2%. Memang tidak dapat langsung menuju pada kesimpulan, tetapi pemaparan data tersebut mengungkap fakta bahwa mayoritas pengguna media sosial, di sisi lain juga mengalami prevalensi tertinggi pada kasus depresi.
Kehadiran crab mentality akibat penggunaan media sosial yang eksesif mampu memperparah angka depresi pada generasi Z Indonesia yang sedang di umur 12-27, dimana generasi ini seharusnya diberikan dukungan untuk mencapai prestasi dalam kehidupan akademik dan karirnya. Gangguan kesehatan mental ini dapat menghilangkan motivasi untuk hidup, menimbulkan kesedihan yang mendalam, mengurangi rasa percaya diri, hingga dalam beberapa kasus dapat membawa korban pada mengakhiri hidupnya sendiri.
Tidak hanya bagi korban, crab mentality ini juga dapat menimbulkan depresi bagi pelaku. Pada awalnya, mentalitas ini hadir karena rasa cemburu terhadap orang lain. Rasa iri hati yang tidak kunjung berhenti ini juga dapat membawa mereka pada depresi akibat ketidakmampuan mereka untuk menjadi seperti orang lain yang mereka lihat di dunia maya (Maharani, 2021). Pelaku juga akan terjebak dalam perasaan-perasaan negatif dan rasa tidak tenang yang dapat memperburuk hubungan sosial mereka.
Akibat adanya mentalitas ini, media sosial tidak lagi menjadi ruang aman bagi masyarakat. Media sosial yang awalnya hadir sebagai wadah untuk berekspresi secara bebas pun sirna akibat penyalahgunaan platform dengan penyebaran komentar negatif dan ujaran kebencian. Alih-alih menjadi komunitas untuk berbagi pencapaian, prestasi, dan dukungan, media sosial berubah menjadi medan pertempuran di mana orang saling menjatuhkan satu sama lain. Akibatnya, para pengguna media sosial yang berprestasi pun menjadi jauh lebih berhati-hati dan takut untuk mengekspresikan diri mereka di jaringan sosial.
Solusi: Bagaimana Mengubah Mentalitas Kepiting Menjadi Mentalitas Positif?
Perlu diakui bahwa menghilangkan crab mentality dan menumbuhkan mentalitas yang positif merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Mengubah perilaku ini memerlukan komitmen dan kesadaran pribadi yang kuat dari individu dan masyarakat secara menyeluruh. Meski sulit, mengingat dampak negatif yang dapat muncul dari mentalitas ini, penting bagi kita untuk tetap menghindari crab mentality dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih suportif, yang dapat dimulai dari diri kita sendiri.
Crab mentality memang hadir dari rasa iri hati. Namun, banyak pelaku yang tidak menyadari bahwa perasaan cemburu ini sebenarnya berasal dari ketidakmampuan mereka untuk merasa bangga pada kemampuan yang mereka miliki. Oleh karena itu, perlu dibangunnya rasa optimis dan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri. Ketika individu menghargai kemampuannya, mereka cenderung tidak akan merasa tertekan oleh pencapaian orang lain. Sebaliknya, mereka dapat melihat kesuksesan orang lain sebagai motivasi untuk terus mengembangkan diri tanpa adanya persaingan tidak sehat. (Khairunnisa, 2024)
Masuk dalam kelompok pertemanan yang positif dan suportif juga merupakan kunci dalam menghindari mentalitas kepiting sekaligus membangun kesejahteraan mental yang berkelanjutan. Lingkungan yang sehat ini dapat hadir sebagai ruang yang aman di mana mereka dapat merasa dihargai dan didukung. Teman-teman yang positif juga mampu memberikan dukungan psikologis dan membangun kepercayaan diri untuk berkembang tanpa takut dijatuhkan oleh orang lain. Dengan adanya dukungan ini, individu dapat memiliki motivasi yang lebih besar untuk mencapai kesuksesan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Kesimpulan
Berbagai kasus nyata terkait fenomena crab mentality yang terjadi di Indonesia membuktikan bahwa masalah ini sudah merajalela di dunia maya dan tidak bisa lagi disepelekan, dimulai dari hujatan yang diterima oleh para peserta ajang Clash of Champions hingga ujaran kebencian pada Deris Nagara. Kasus-kasus ini menggambarkan bahwa masalah crab mentality bukan hanya sekadar tentang urgensi perlunya persaingan yang sehat, tetapi juga tentang cara masyarakat berinteraksi dan memberikan dukungan pada satu sama lain dalam dunia maya.
Dengan membangun kesadaran masing-masing individu, mengubah pola pikir kita menjadi lebih positif, dan menggunakan media sosial dengan lebih bijak, media sosial dapat kembali menjadi wadah masyarakat untuk saling mendukung tanpa merusak psikologis atau hubungan sosial masyarakat.
Referensi
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2024). APJII Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang. Retrieved July 22, 2024, from https://apjii.or.id/berita/d/apjii-jumlah-pengguna-internet-indonesia-tembus-221-juta-orang
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Dalam Angka. Retrieved July 22, 2024, from https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/
Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat (2023). Statistik Pemuda Indonesia 2023 (Vol. 21). Badan Pusat Statistik. Retrieved July 22, 2024, from https://www.bps.go.id/id/publication/2023/12/29/18781f394974f2cae5241318/statistics-of-indonesian-youth-2023.html
Khairunnisa, N. (2024). Mengenal Crab Mentality, Sindrom Iri Hati atas Prestasi Orang Lain. Narasi Tv. Retrieved July 22, 2024, from https://narasi.tv/read/narasi-daily/crab-mentality-adalah
Kurnia, I. T. (2024). Waspadai Chronically Online. Wacana Edukasi. Retrieved July 22, 2024, from https://www.wacana-edukasi.com/waspadai-chronically-online/
Maharani, A. C. (2021). The influence of excessive use of social media. Indonesian Journal of Social Sciences, 13(1), 11-20. https://doi.org/10.20473/ijss.v13i1.26351
Naja, T. S. (2023a). Tanda Kecanduan Media Sosial Akibat Chronically Online. Klasika Kompas. Retrieved July 22, 2024, from https://klasika.kompas.id/baca/kecanduan-media-sosial-tanda-chronically-online/
Tazkiyah, I., Fadillah, A. R., Kusuma, F. W., Siswantoro, M. F., & Cahyono, S. A. (2022). PERAN ANONIMITAS TERHADAP CYBERBULLYING PADA MEDIA SOSIAL. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Dan Sistem Informasi, 1(1), 77-83. https://doi.org/10.33005/sitasi.v1i1.74

