Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Mild Report

Menapaki Jalan Terjal: Tantangan dan Solusi Fenomena Penurunan Fertilitas di Indonesia

by Farhannur & Patricia Eunike Vanuela Simarmata
28 Juli 2024
in Umum

Fertilitas di Indonesia, bagaikan sebuah garis lengkung yang terus melandai. Berdasarkan laporan terkini, angka kelahiran menunjukkan tren penurunan yang cukup drastis dalam beberapa dekade terakhir. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) di Indonesia menurun dari 2,6 pada tahun 2010 menjadi 2,18 pada tahun 2020. Penurunan ini mencerminkan perubahan dalam berbagai aspek sosial dan ekonomi, termasuk peningkatan kualitas pendidikan, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, serta akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan dan program keluarga berencana. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan masa depan bangsa, sekaligus melahirkan kontroversi terkait target pemerintah yang mendorong peningkatan angka kelahiran.

Pernyataan Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), baru-baru ini, “Kami punya target 1 perempuan rata-rata melahirkan 1 anak perempuan. Oleh karena itu, BKKBN menargetkan anaknya kalau bisa 2,1 jangan hanya 2,” mengundang berbagai respons dan perdebatan. Di satu sisi, terdapat kekhawatiran akan krisis demografi dan angkatan kerja di masa depan. Di sisi lain, muncul pertanyaan terkait hak reproduksi perempuan dan kompleksitas faktor yang mempengaruhi fertilitas.

Lazim di Dunia, Gempar di Indonesia

Tren penurunan populasi dunia bukan lagi hal baru, terutama di negara-negara berpendapatan tinggi. Negara-negara seperti Jepang, Italia, dan Jerman telah lama mengalami penurunan angka kelahiran yang signifikan, yang berkontribusi pada populasi yang menua (ageing population). Namun, akhir-akhir ini, tren serupa juga mulai terlihat di negara-negara berkembang, termasuk di kawasan Asia Tengah dan Asia Tenggara. Indonesia adalah salah satu negara yang mulai merasakan dampak dari tren ini. Menurut data Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Indonesia kini digolongkan sebagai negara dengan populasi menua (ageing society), ditandai dengan persentase penduduk lanjut usia yang mencapai 10,48% dan rasio ketergantungan lansia yang mencapai 16%.

Beberapa indikator penting yang mencerminkan penurunan angka kelahiran di Indonesia dan banyak negara lainnya adalah angka kelahiran ideal dan perubahan dalam struktur demografi. Angka kelahiran ideal di banyak negara berpendapatan tinggi sering kali berada di bawah angka penggantian penduduk (replacement rate) yang sekitar 2,1 anak per perempuan. Hal ini juga mulai terjadi di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurunnya angka kelahiran ideal disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan dalam preferensi keluarga, peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja, dan penundaan pernikahan serta kelahiran anak.

Peningkatan ketersediaan makanan justru terjadi bersamaan dengan penurunan angka fertilitas (TFR), dengan tingkat fertilitas terendah ada di negara-negara terkaya di dunia, di mana makanan melimpah. Grafik fertilitas global terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) menunjukkan hubungan negatif yang jelas: pada tahap awal perkembangan sosial ekonomi, sedikit peningkatan pendapatan nasional dikaitkan dengan penurunan TFR yang tajam, namun grafik merata saat mendekati ambang penggantian. Penurunan ukuran keluarga seiring peningkatan kemakmuran disebut Transisi Demografis. Negara pada tahap awal perkembangan sosial ekonomi ditandai dengan tingkat kelahiran dan kematian bayi yang tinggi. Seiring meningkatnya kemakmuran nasional, TFR menurun merespons penurunan kematian bayi, terlihat di seluruh dunia dan dalam negara-negara termiskin serta terkaya. Dengan meningkatnya kemakmuran, TFR menurun, tetapi jumlah populasi sementara tersokong oleh peningkatan harapan hidup, menghasilkan masyarakat ‘super-aged‘ seperti Jepang, Finlandia, Italia, atau Jerman, di mana lebih dari 20% populasi berusia di atas 65 tahun. Peningkatan kemakmuran membalikkan piramida populasi, dari dasar lebar dengan tingkat kelahiran tinggi ke dasar sempit dengan penurunan TFR dan puncak luas mencerminkan populasi lanjut usia.

Peningkatan populasi lanjut usia di Indonesia dan banyak negara lainnya merupakan hasil dari beberapa faktor utama yang saling berkaitan. Salah satu faktor kunci adalah perbaikan dalam layanan kesehatan, yang telah meningkatkan angka harapan hidup secara signifikan. Di Indonesia, angka harapan hidup melonjak dari sekitar 68 tahun pada tahun 2000 menjadi sekitar 72 tahun pada tahun 2020, memungkinkan lebih banyak orang untuk hidup lebih lama. Di samping itu, tingginya biaya kelahiran dan perawatan anak turut memainkan peran penting. Kenaikan biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya menyebabkan banyak keluarga mempertimbangkan ulang keputusan untuk memiliki anak. Selain itu, perubahan dalam struktur sosial dan ekonomi, seperti meningkatnya partisipasi perempuan dalam pendidikan dan pekerjaan, mengarah pada penundaan pernikahan dan kelahiran anak. Wanita yang lebih terdidik cenderung menunda pernikahan dan memiliki anak dalam jumlah yang lebih sedikit, sehingga mengarah pada penurunan tingkat kelahiran.

John Aitken, profesor sains reproduksi dari University of Newcastle Australia, mengidentifikasi tiga faktor utama yang memengaruhi fertilitas dan berkontribusi pada fenomena ageing population. Faktor sosial-edukasi mencakup kemajuan pendidikan perempuan, yang menurunkan tingkat kelahiran karena perempuan terdidik lebih cenderung menunda pernikahan dan kelahiran anak. Faktor lingkungan-gaya hidup berhubungan dengan peningkatan kadar estrogen dari makanan, air, dan lingkungan, yang berdampak negatif pada kesehatan reproduksi pria dan wanita. Faktor evolusi, terlihat dari perbandingan antara suku !Kung Hunter Gatherers dan masyarakat Australia modern, menunjukkan perbedaan signifikan dalam pola kelahiran. Perempuan pada suku !Kung Hunter Gatherer melahirkan anak pertama pada usia 19,5 tahun dengan rata-rata lima anak, sedangkan perempuan Australia modern baru mulai melahirkan anak pertama mendekati usia 30 tahun dan rata-rata hanya memiliki dua anak yang hampir serupa dengan Indonesia.

Merunut Dampak Segi Ekonomi dan Sosial

Penurunan tingkat fertilitas di Indonesia mempunyai dampak yang signifikan terhadap aspek sosial dan ekonomi. Data dari World Bank menunjukkan bahwa tingkat fertilitas total (TFT) di Indonesia menurun dari 2,5 anak per wanita pada tahun 2000 menjadi 2,2 anak per wanita pada tahun 2020, dan diproyeksikan akan turun menjadi sekitar 1,9 anak per wanita pada tahun 2035. Penurunan populasi usia produktif ini dapat menyebabkan stagnasi ekonomi. Studi dari Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR) menunjukkan bahwa penurunan populasi dapat menyebabkan stagnasi ekonomi. Lebih lanjut, studi tersebut menjelaskan bahwa Penurunan jumlah penduduk usia produktif mengurangi tenaga kerja, yang berdampak pada penurunan tingkat inovasi dan produktivitas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya generasi muda yang dapat menghasilkan ide-ide baru yang penting untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang​. Selain itu, meningkatnya jumlah penduduk lansia menambah beban jaminan sosial. Populasi lansia yang tidak produktif membutuhkan dukungan pemerintah yang lebih besar, termasuk layanan kesehatan dan pensiun. Hal tersebut dapat menyebabkan peningkatan pengeluaran pemerintah secara signifikan dan menekan anggaran negara. Data dari Statista (2023) menunjukkan bahwa pada tahun 2020, populasi lansia di Indonesia mencapai 9,92% dari total populasi, dan diproyeksikan akan meningkat hingga 15,77% pada tahun 2035. OECD melaporkan bahwa peningkatan proporsi lansia ini akan menambah tekanan pada sistem jaminan sosial dan layanan kesehatan, serta menuntut reformasi kebijakan yang serius untuk mendukung populasi yang menua. Penelitian oleh Sergio Requena dan Miguel A. García dalam Economic Journal menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1% dalam proporsi lansia berkontribusi pada penurunan PDB per kapita sebesar 0,4% di negara-negara dengan tingkat produktivitas yang menurun.

Dari segi sosial, penurunan tingkat fertilitas menyebabkan peningkatan ketergantungan ekonomi. Oleh sebab itu, Generasi muda dihadapkan pada tekanan untuk mendukung populasi yang lebih tua, yang menciptakan beban finansial dan psikologis bagi keluarga dan masyarakat. Selain itu, kesenjangan sosial dapat semakin lebar, terutama bagi keluarga dengan sumber daya terbatas yang tidak mampu menyediakan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan bagi lansia untuk tetap produktif​. Jane Falkingham dalam penelitiannya berjudul The Implications of Population Aging for Health and Social Care Systems melaporkan bahwa biaya perawatan kesehatan untuk lansia diperkirakan meningkat sebesar 20% dalam 20 tahun mendatang, mencerminkan tekanan tambahan pada anggaran pemerintah khususnya dalam sistem jaminan sosial. Kemudian, studi yang dilakukan oleh Hyun-Hoon Lee dan Kwanho Shin dalam jurnal Nonlinear Effects of Population Aging on Economic Growth mengungkapkan bahwa efek populasi yang menua terhadap pertumbuhan ekonomi bersifat non-linear. Pada tahap awal, penurunan tingkat fertilitas dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dengan mengurangi jumlah anak yang perlu ditanggung oleh penduduk usia kerja. Namun, ketika jumlah lansia meningkat melebihi kapasitas angkatan kerja untuk mendukung mereka, dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi menjadi signifikan. Studi ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1% dalam proporsi penduduk usia 60 tahun ke atas mengurangi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita sekitar 0,5% .

Solusi

Penurunan tingkat fertilitas di Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya populasi lansia. Data menunjukkan bahwa total tingkat fertilitas di Indonesia terus menurun dalam beberapa dekade terakhir, dari sekitar 5 anak per wanita pada 1970-an menjadi 2,3 anak per wanita pada 2020. Hal ini juga diperkuat dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 mencatat bahwa populasi lansia mencapai sekitar 9,92% dari total populasi, dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan di tahun-tahun mendatang. Hal tersebut mengakibatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang menghadapi tantangan serius dari masalah aging population, yaitu peningkatan angka ketergantungan lansia dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi negara.

Salah satu solusi efektif untuk mengatasi tantangan tersebut adalah pemerataan pendidikan yang menungkinkan usia tua tetap produktif. Pendidikan berkelanjutan memungkinkan populasi lansia tetap produktif dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka, sehingga mengurangi ketergantungan ekonomi dan meningkatkan partisipasi mereka dalam pasar kerja. Penelitian oleh Anne B. Smith dalam jurnal Lifelong Learning and Productive Ageing (2017) menunjukkan bahwa lansia yang berpartisipasi dalam lifelong learning mengalami peningkatan produktivitas ekonomi sebesar 15% dibandingkan populasi lansia yang tidak terlibat dalam lifelong learning.

Selain itu, 70% peserta program lifelong learning melaporkan bahwa mereka merasa lebih terlibat dalam kegiatan sosial dan ekonomi. Selanjutnya, penelitian oleh Maria Eduarda Rosa dalam jurnal Education, Employment and Productivity Among Older Adults: A Comparative Analysis (2019) memberikan analisis lebih mendalam terkait hubungan antara pendidikan dengan produktivitas untuk kalangan lansia. Data menunjukkan bahwa di negara-negara dengan tingkat pendidikan tinggi khususnya bagi kalangan lansia menyebabkan partisipasi kerja meningkat sebesar 25% dan produktivitas meningkat sekitar 18% dibandingkan dengan negara-negara dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Solusi ini semakin diperkuat dengan pernyataan John P. Martin dalam artikelnya The Role of Education in Addressing the Challenges of an Ageing Population (2016) mengungkapkan bahwa investasi dalam pemerataan pendidikan dapat mengurangi beban ekonomi dari populasi lansia. Pernyataan ini didukung f’.vlb olrg dengan data yang menunjukkan bahwa lansia yang mengikuti pelatihan keterampilan baru mampu meningkatkan tingkat partisipasi kerja dalam pasar kerja hingga 20%. Hal ini berdampak pada pengurangan biaya jaminan sosial yang harus dikeluarkan oleh negara, yang tercatat turun sekitar 12% di negara-negara yang menerapkan program ini dengan skala luas.

Dalam menghadapi tantangan aging population, pendekatan kuratif dan restoratif juga sangat penting. Pendekatan kuratif meliputi penguatan sistem kesehatan yang terintegrasi dan berbasis komunitas untuk mendukung kesehatan lansia secara komprehensif. Penelitian oleh M. R. Rapp et al. dalam Journal of Aging & Social Policy (2021) menunjukkan bahwa model perawatan berbasis komunitas yang mengintegrasikan layanan kesehatan primer, kesehatan mental, dan dukungan sosial dapat mengurangi kebutuhan rawat inap sebesar 15% dan meningkatkan kepuasan pasien sebesar 25%. Sementara pendekatan restoratif adalah pendekatan yang berfokus pada rehabilitasi dan pengembangan keterampilan juga berperan penting. Program rehabilitasi seperti terapi fisik dan latihan khusus untuk lansia dapat meningkatkan kekuatan fisik dan keseimbangan sebesar 20% serta mengurangi risiko jatuh sebesar 30%, seperti yang dilaporkan oleh T. J. Brown et al. dalam Journal of Rehabilitation Research and Development (2020).

Selain itu, penggunaan teknologi inovatif seperti telemedicine dan perangkat wearable untuk memantau kesehatan secara real-time juga dapat berkontribusi pada perawatan lansia. Studi oleh M. C. Lee et al. dalam Health Affairs (2022) menunjukkan bahwa telemedicine dapat mengurangi kunjungan ke rumah sakit sebesar 18% dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan sebesar 22%. Dengan mengintegrasikan solusi kuratif dan restoratif ini, Indonesia dapat lebih efektif menghadapi tantangan dari aging population sambil terus memperkuat upaya preventif dan kebijakan keluarga yang mendukung.

Selain upaya preventif seperti pemerataan pendidikan, pemerintah Indonesia juga mendorong kebijakan keluarga yang menganjurkan setiap keluarga untuk memiliki setidaknya satu anak perempuan. Kebijakan ini didasarkan pada data dari BKKBN yang menunjukkan bahwa perempuan secara tradisional lebih terlibat dalam perawatan orang tua dan lansia. Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa memiliki anak perempuan dalam keluarga dapat membantu meringankan beban perawatan lansia di masa mendatang. Menurut Wardoyo, “Kami berharap setiap keluarga memiliki setidaknya satu anak perempuan untuk membantu mengurangi beban perawatan orang tua di masa mendatang.” Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan adanya dukungan yang konsisten bagi lansia, yang pada gilirannya dapat membantu mengurangi tekanan sosial dan ekonomi yang timbul akibat peningkatan populasi lansia. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya memperkuat struktur keluarga, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Menantang Masa Depan

Di tengah pergulatan Indonesia menjaga keseimbangan demografi, penurunan fertilitas menjadi tantangan besar. Angka kelahiran total (TFR) menurun dari 2,6 pada 2010 menjadi 2,18 pada 2020, dipicu oleh meningkatnya pendidikan, partisipasi perempuan dalam dunia kerja, dan akses yang lebih baik ke layanan kesehatan serta program keluarga berencana.

Berhadapan dengan masa depan yang penuh ketidakpastian, Indonesia harus mengatasi dampak penurunan fertilitas yang memicu kekhawatiran. Penurunan populasi usia produktif dan peningkatan jumlah lanjut usia berpotensi menyebabkan stagnasi ekonomi, penurunan produktivitas, serta peningkatan beban pada sistem jaminan sosial dan layanan kesehatan.

Kunci untuk mengatasi tantangan ini adalah melalui solusi yang cerdas dan berkelanjutan. Pemerataan pendidikan yang memungkinkan orang tua tetap produktif, serta penguatan sistem kesehatan dan inovasi teknologi, adalah langkah-langkah penting untuk menjaga kesejahteraan lansia dan stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan.

Referensi

Aitken, R. J. (2022). The changing tide of human fertility. Human Reproduction, 37(4), 629-638. https://doi.org/10.1093/humrep/deac011

Badan Pusat Statistik. (2020). Data populasi lansia. Retrieved from https://www.bps.go.id

Brown, T. J., et al. (2020). Physical therapy and balance training for the elderly. Journal of Rehabilitation Research and Development.

Dyson, T. (2010). Population and development: The demographic transition. Oxford University Press.

Davis, K. (1986). Low fertility in evolutionary perspective. Population and Development Review, 12(Supplement: Below-Replacement Fertility in Industrial Societies: Causes, Consequences, Policies), 48-65. https://doi.org/10.2307/2807892

Falkingham, J. (n.d.). The implications of population aging for health and social care systems.

Kanté, A. M., dkk. (2016). Trends in socioeconomic disparities in a rapid under-five mortality transition: A longitudinal study in the United Republic of Tanzania. Bulletin of the World  Health Organization, 94(4), 258-266. https://doi.org/10.2471/BLT.15.154658

Liu, D. H., & Raftery, A. E. (2020). How do education and family planning accelerate fertility decline? Population and Development Review, 46(3), 409-441. https://doi.org/10.1111/padr.12347

Martin, J. P. (2016). The role of education in addressing the challenges of an aging population.

Requena, S., & García, M. A. (n.d.). Economic impact of aging population on GDP per capita.

Rosa, M. E. (2019). Education, employment and productivity among older adults: A comparative analysis.

Rapp, M. R., et al. (2021). Community-based integrated care model for the elderly. Journal of Aging & Social Policy.

Smith, A. B. (2017). Lifelong learning and productive ageing.

Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR). (n.d.). Economic impact of declining population.

Related Posts

Tipsy to Healthy: Rekalibrasi Konsumsi dan Rasionalitas Gen Z dalam Redefinisi Identitas Sosial
Mild Report

Tipsy to Healthy: Rekalibrasi Konsumsi dan Rasionalitas Gen Z dalam Redefinisi Identitas Sosial

Mengapa Gen Z Susah Beli Rumah?
Mild Report

Mengapa Gen Z Susah Beli Rumah?

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide