“Matilah engkau mati, Engkau akan lahir berkali-kali.”
“Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya.”
Berlatar masa Orde Baru, buku ini terbagi menjadi dua sudut pandang tokoh. Pertama, pembaca diajak melihat dari sudut pandang Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada. Keinginannya untuk menegakkan hak-hak masyarakat mendorongnya untuk fokus bergerak sebagai aktivis dan tergabung dalam organisasi Winatra. Dalam organisasi inilah, Laut bertemu dengan teman-temannya, yakni Sunu, Alex, Bram, Kinan, dan Daniel. Melalui sudut pandang Laut, pembaca dapat mengikuti kegiatan aktivis Laut dan kawan-kawan, sampai akhirnya diculik dan disiksa. Kehangatan kehidupan romansa, persahabatan, dan kekeluargaan hadir secara berselingan dengan hiruk-pikuk, keputusasaan, dan pengkhianatan dalam kehidupan Laut sebagai aktivis.
Kedua, Asmara Jati, adik Laut. Bagian Asmara Jati berkisah dalam waktu setelah Laut dihilangkan. Mengajak pembaca untuk ikut berjuang mencari keberadaan Laut dan menghadapi keluarga yang hidup dalam penyangkalan.
Penulis buku Laut bercerita, Leila Salikha Chudori, mengajak pembaca menyelami sejarah kelam Indonesia, terkhususnya peristiwa penculikan aktivis pada Mei 1998. Aksi-aksi demonstrasi oleh organisasi Winatra juga banyak diangkat dari peristiwa nyata, contohnya Aksi Blangguan. Melalui wawancara yang mendalam dengan para korban peristiwa ini, penulis mampu menghasilkan karya yang “hidup” bagi para pembaca. Menyajikannya dalam bentuk buku fiksi yang digemari oleh anak-anak muda merupakan gerakan yang kuat untuk membukakan mata generasi Z terhadap peristiwa-peristiwa pada era Orde Baru.
Buku fiksi yang dinarasikan sesuai dengan kejadian nyata ini menjadi populer di kalangan anak muda. Gaya bahasa yang mudah diikuti, tokoh-tokoh yang ditonjolkan dengan ciri khas masing-masing, dan alur yang well-paced turut menjadi alasan buku ini menduduki posisi best seller di toko-toko buku.
Desain dari sampul buku Laut bercerita juga mampu menggambarkan isi cerita dengan sangat baik dan turut menggugah perhatian para pembaca. Ilustrasi kaki terbelenggu dan tenggelam di dasar laut menggambarkan para korban yang dihilangkan. Diikuti dengan warna dan cerahnya laut yang memanjakan mata.
Tidak sedikit pembaca yang menutup buku ini dengan tangisan. Merasakan perasaan orang tua Laut yang ditinggalkan tanpa kepastian dan hidup dalam bayangan bahwa anak sulungnya akan pulang ke rumah, Asmara yang tidak berhenti berjuang mencari kakaknya, juga teman-teman Laut yang dipenuhi rasa bersalah dan mempertanyakan alasan mereka dibiarkan hidup sementara beberapa dibiarkan menghilang.
Kendati demikian, perlu dicatat bahwa buku ini mengandung beberapa trigger warning yang membuatnya lebih cocok untuk dibaca di atas umur 18 tahun, seperti kekerasan dan deskripsi penyiksaan yang cenderung sadis.
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.

