Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Sastra

Kilas Balik Kenangan 18 Tahun Lampau: Resensi Film “18×2 Beyond Youthful Days”

by Yasmine Nathifa Zahira
3 September 2024
in Sastra, Umum

Jika kalian menyukai genre romansa yang nostalgik dan melodramatis yang mampu menitikkan air mata, film terbaru yang ditulis dan disutradarai oleh Michihito Fujii ini merupakan salah satu pilihan yang dapat dikonsiderasi. Film crosscultural Taiwan-Jepang terbaru ini menyajikan narasi romansa yang cukup klise khas Jepang, namun dieksekusi dengan baik dengan alur yang well-paced. Suasana coming-of-age dibangun dengan apik dan alurnya dibentuk mengalun, dengan narasi bergantian antara masa lalu dan kini. 

Kisah bermula dari Jimmy (Greg Hsu), seorang pendiri perusahaan video game terkenal yang dipecat oleh dewan direksi perusahaannya sendiri saat berusia 36 tahun. Nelangsa, ia memutuskan untuk menenangkan diri, kembali ke rumah orangtuanya di Tainan, Taiwan. Saat merapikan kamarnya, ia menemukan sebuah kartu pos yang berasal dari Ami (Kaya Kiyohara), seorang pelancong asal Jepang yang bekerja di karaoke tempat Jimmy bekerja karena kehilangan dompetnya, 18 tahun silam. Kartu pos tersebut membangkitkan kenangan saat Jimmy dan Ami bekerja paruh waktu di Karaoke Kobe dan menghabiskan musim panas bersama. Di hari terakhir perjalanan bisnisnya di Jepang, Jimmy memutuskan untuk melancong, dan mengutip kata Ami, “Traveling is fun because you never know what will happen.” Jimmy pun melanglang buana ke arah utara Jepang, menuju kampung halaman Ami.

 

Musim Panas, Karaoke Kobe, dan Ami

Penonton kemudian diajak untuk berkilas balik, melihat Jimmy remaja berusia 18 tahun yang bekerja di Karaoke Kobe selama musim panas sembari menunggu pengumuman hasil penerimaan universitas. Suatu hari, Karaoke Kobe kedatangan seorang pelancong asal Jepang bernama Ami, yang melamar pekerjaan karena kehilangan dompetnya dan ingin menabung untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Diminta oleh bosnya untuk menemani Ami berkeliling, Jimmy dan Ami mulai bercengkrama. Seiring waktu berjalan, Jimmy pun mulai jatuh hati pada Ami.

Tak hanya membangun kemistri dengan Jimmy, Ami pun menjadi akrab dengan para karyawan Karaoke Kobe lainnya. Ami pun menjadi buah bibir para warga Tainan karena parasnya dan bakat melukisnya yang baik. Bahkan, Ami diminta untuk melukis di salah satu sudut Karaoke Kobe, yang kemudian menjadi spot foto populer. Jimmy dan Ami menghabiskan musim panas bersama dan melakukan banyak kenangan bersama, seperti melepaskan lampion kertas dan juga menonton film “Love Story” yang latarnya yang merupakan kampung halaman Ami—yang nantinya akan Jimmy kunjungi di masa depan.

Saat Jimmy di masa kini melakukan perjalanan dan bertemu dengan orang-orang baru, kenangan tentang musim panas yang cerah itu kembali muncul—hingga momen ketika mereka berpisah dan Amy meninggalkan Taiwan. Musim panas itu sangat memengaruhi pilihan hidup Jimmy dan masa depannya.

 

Komposisi Visual yang Kontras Antardimensi

Film ini menonjol dalam penggambaran dua dunia yang kontras, baik dari segi visual maupun emosi. Masa lalu Jimmy di Taiwan, saat berusia 18 tahun, diwarnai dengan cahaya kuning cerah yang menyimbolkan kebahagiaan dan optimisme masa muda. Di sisi lain, masa kini Jimmy yang suram digambarkan dengan palet warna abu-abu dan biru yang mencerminkan kesedihan dan nuansa melankolis yang dialaminya saat ini. Pendekatan visual ini tidak hanya memisahkan dua garis waktu, tetapi juga memperdalam nuansa emosional yang dialami oleh sang karakter utama​.

 

Penutup dan Refleksi Penulis

Film “18×2 Beyond Youthful Days” merupakan film yang cukup ringan, walaupun begitu, tetap membuat air mata bercucuran. Struktur film berulang kali beralih antara masa kini dan masa lalu, perlahan menguntai jalan cerita. Di akhir cerita, potongan-potongan narasi ini berhasil disatukan dengan mulus, menciptakan akhir yang memuaskan.

Film ini mendapatkan respons yang cukup beragam. Beberapa menyukai bagaimana Michihito Fujii mengemas film romance dengan sederhana, namun tetap apik dan menyentuh. Beberapa mengeluhkan jalan ceritanya yang terlalu klise dan alurnya yang mudah ditebak. Penulis secara pribadi memberikan skor 4 dari 5 poin untuk film ini. Bagi kalian yang menyukai film coming-of-age yang serupa dengan “18×2 Beyond Youthful Days”, penulis merekomendasikan “Our Times” yang disutradarai oleh Chen Yu-Shan dan “You Are The Apple of My Eye” yang disutradarai oleh Giddens Ko.

Related Posts

Resensi Nine Puzzles: Profiling, Trauma, dan Kebenaran Pahit di Baliknya
Sastra

Resensi Nine Puzzles: Profiling, Trauma, dan Kebenaran Pahit di Baliknya

Monster…
Resensi

Monster…

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide