“If everyone is thinking alike, then no one is thinking.” – Benjamin Franklin
Pertengahan tahun 2019, dunia kecantikan YouTube dihebohkan drama antardua youtuber terkenal, James Charles dan Tati Westbrook. Drama ini kemudian memanas setelah sebuah video yang diunggah Tati mengakibatkan James kehilangan tiga juta subscribers[1]. Dalam video tersebut, Tati menyebutkan bagaimana ia merasa terkhianati oleh James. Tati merasa telah mendukung James sejak awal sebagai seorang senior di dunia kecantikan sampai sekarang James memiliki pengaruh yang lebih luas darinya. Rasa terkhianati ini muncul karena James mempromosikan sebuah produk vitamin rambut (Sugar Bear Hair) yang merupakan rival dari produk Tati (Halo Beauty).
Ungkapan rasa ini kemudian dilanjutkan Tati dengan mengungkapkan semua kesalahan James yang pernah dilakukannya, seberapa sepele pun permasalahannya, dan membesar-besarkannya. Didukung oleh beberapa artis terkenal lainnya, masyarakat dunia menikmati kemalangan James dengan bersama-sama menonton jumlah subscribers-nya menurun dengan cepat dan mengunggah berbagai cuitan dengan tagar #JamesCharlesIsOverParty.
Yang kita lihat dari kejadian yang dialami James Charles merupakan contoh dari budaya yang disebut cancel culture. Cancel culture atau call-out-culture adalah sebuah fenomena berbentuk public shaming yang diarahkan kepada seorang individu (biasanya seseorang yang terkenal) karena kelakukan “problematis”-nya atau karena opininya yang berbeda dengan opini mayoritas[2]. Budaya ini membuat seseorang berpikir lebih dalam saat memutuskan sesuatu, apakah tindakannya dapat diterima masyarakat atau tidak. Fenomena cancel culture yang dirasakan James bukanlah yang pertama. Kanye West setelah menyatakan ‘slavery is a choice’, Drake setelah video yang menunjukkan dirinya menyentuh perempuan di bawah umur secara tidak sopan di panggung, Chris Pratt dengan hobi memburu dan memakan hasil buruannya, adalah 3 contoh dari banyak cancelled celebrities yang mengalami para pengikutnya seketika berbalik menusuk karena satu kesalahan, minor maupun major.
Mulanya, budaya ini bertujuan agar orang-orang yang dianggap bersalah oleh masyarakat dapat bertanggung jawab dengan menanggung sebuah sanksi sosial. Namun, budaya ini lama kelamaan digunakan seseorang yang biasanya memiliki pengaruh kuat dalam masyarakat untuk memojokkan orang yang tidak ia sukai. Masalah utama yang dilahirkan budaya ini adalah masyarakat yang malas berpikir dan mencari tahu [3]. Saat satu orang mengatakan ada seseorang yang salah, masyarakat dengan mudahnya mengejek dan memojokkan orang itu tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi dan mengapa orang itu melakukan kesalahan tersebut.
“There are going to be a group of 13-year-old girls who go to school and are like ‘Did you unsubscribe from James? Same.’, and really, if I sat down with any of them and asked ‘What was the real problem here?’, none of them would have a real answer.”– Logan Paul, dalam podcast-nya, Impaulsive, episode “Dear James Charles”. [4]
Kembali ke drama James dan Tati, setelah berbagai perdebatan online drama ini diakhiri oleh video dari James berusaha meluruskan fakta, sehingga fans kembali mengikuti James sementara Tati kehilangan pengikutnya[5]. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat dalam hitungan detik dapat memutar balikkan opininya karena mayoritas suara berubah, bahkan tanpa tahu masalah yang terjadi dan penjelasannya.
Fenomena sosial ini mirip dengan yang terjadi pada sebuah eksperimen sosial yang dilakukan pada seorang perempuan yang sedang menunggu dalam sebuah klinik, dimana semua orang lain berdiri saat sebuah bunyi terdengar[6]. Setelah beberapa kali bunyian terdengar, perempuan tersebut ikut berdiri saat orang lain berdiri tanpa mengetahui mengapa sebenarnya mereka semua berdiri.
Kecenderungan seorang individu mengadopsi perilaku dan pemikiran mayoritas orang di sekitar mereka yang mempengaruhi mereka disebut mob/herd mentality[7]. Teori ini menjelaskan bagaimana pandangan seseorang dapat dipengaruhi secara mudah oleh circle of influenceorang tersebut. Seorang manusia memiliki kecenderungan untuk mengikuti arus pemikiran orang-orang di sekitarnya, terlepas dari pemikiran dan perasaannya sendiri. Salah satu faktor utama terbentuknya mentalitas massa ini adalah karena manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk membentuk konformitas[8]. Sebagai makhluk sosial, manusia merasa memiliki kebutuhan untuk membangun koneksi dengan kelompok sosialnya dan akhirnya menjadi bagian dari kelompok tersebut. Karena kebutuhannya untuk membentuk konformitas, manusia didorong untuk menyesuaikan diri. Perdebatan dan pertengkaran karena pendapat atau pandangan yang berbeda menjadi sesuatu yang dihindari manusia pada umumnya.
Mentalitas massa semacam ini dapat dijelaskan dengan beberapa teori psikologis[9]. Contagion Theory menjelaskan bagaimana massa sangat mudah menjadi liar dan tidak terkendali. Dalam keadaan ini, hipnosis mempengaruhi mereka dan menghasilkan perilaku yang tidak masuk akal dan emosional. Misalnya, dengan mentalitas massa, takhayul dapat berkembang dari kesalahpahaman atau desas-desus antara sekelompok kecil orang dan meningkat dengan cepat.
Selanjutnya, dalam teori Convergence, individu yang berpikiran sama berkumpul dengan memfokuskan pemikiran pada sejumlah pilihan perilakunya dan memilih jawaban yang dianggap benar.
Terakhir pada Emergent-Norm Theory, beberapa individu yang berpikiran sama berbagi anonimitas dan emosi yang mengarah pada perilaku kelompok secara keseluruhan. Teori ini menjelaskan collective behaviour, dimana norma yang dipegang kelompok bertumbuh dari interaksi sosial antar kelompok.
Ketiga teori ini menggambarkan pembentukan pemikiran kelompok secara umum. Saat sekelompok manusia berkumpul untuk memutuskan tindakan atau pemikiran yang dianggap benar, mereka akan berkumpul sesuai pendapat mereka (Convergence). Pendapat yang paling populer akan diikuti mayoritas, mereka yang di dalam sub kelompok itu kemudian menyampaikan aspirasi dan emosinya yang lalu mempengaruhi pemikiran anggota kelompok besar secara keseluruhan (Emergent-Norm). Dan pada akhirnya, setelah emosi dilibatkan dalam keputusan kelompok, perilaku kelompok menjadi tidak terkendali (Contagion). Seperti yang terlihat pada kasus James Charles. Mayoritas penonton menganggap James salah dan perlu mendapatkan balasan yang setimpal. Mereka membagikan aspirasinya lewat sosial media yang dibaca hampir seluruh pengguna internet di dunia. Emosi yang mereka gunakan dalam setiap postingan atau cuitan mempengaruhi pengguna internet secara kolektif. Tanpa berpikir panjang, semua orang mengikuti suara mayoritas dan bersama-sama meng-unsubscribe James.
Mentalitas massa seringkali menghasilkan tekanan sosial terhadap seorang individu dan mendorong perilaku negatif dari setiap anggota kelompok, tanpa benar-benar merefleksikan karakter individu. Sejarah dan eksperimen psikologis menunjukkan bahwa hanya seperempat (75%) orang memiliki keberanian untuk berdiri dan menyatakan opininya yang berbeda dengan opini mayoritas kelompok dan sisanya akan berpartisipasi dalam tindakan kriminal yang dilakukan mayoritas lingkaran pengaruhnya[10].
Sebuah eksperimen yang menunjukkan hasil ini adalah Asch Conformity Experiment. Eksperimen ini dilakukan Solomon Asch untuk melihat sejauh mana tekanan sosial dari kelompok mayoritas dapat mendorong seorang individu untuk menyesuaikan diri[11]. Asch mengukur berapa kali setiap peserta menyesuaikan diri dengan pandangan mayoritas. Rata-rata, sekitar sepertiga (32%) dari peserta yang ditempatkan dalam situasi ini setuju dan sesuai dengan mayoritas yang jelas salah. Setelah 12 percobaan, sekitar 75% peserta setidaknya satu kali mengikuti suara mayoritas yang sebenarnya salah, dan 25% peserta tetap memegang jawaban benarnya. Mengingat fakta bahwa manusia adalah makhluk sosial, manusia cenderung mengikuti norma sosial dan apa yang diterima secara sosial.
Terlihat jelas bahwa mentalitas massa berdampak pada hilangnya pemikiran individu dalam kelompok. Maka, bolehkah kita mengambil kesimpulan bahwa mentalitas massa merupakan sesuatu yang buruk dan perlu dihilangkan? Jika setiap orang berpegang pada opini pribadinya dan tidak membentuk kelompok kecil dengan orang-orang yang memiliki opini yang sama, dapatkan mentalitas massa hilang? Dan apakah setiap anggota dalam sebuah kelompok sosial dapat 100% berdiri sendiri pada pendirian dan pemikirannya tanpa terpengaruhi pemikiran orang lain?
Dalam keadaan sadar, seorang manusia mungkin mengatakan bahwa ia akan berpegang teguh pada prinsipnya dan menolak untuk mengikuti opini mayoritas di sekitarnya. Namun, pada kenyataannya, manusia memiliki tendensi untuk melakukan apa yang orang lain lakukan atau mirroring. Perkembangan terbaru dalam ilmu saraf (neuroscience) menunjukkan bahwa ada sebuah sistem dalam otak manusia, dinamakan mirror neurons, yang membuat manusia mencerminkan tindakan manusia lain[12]. Selain itu, kebiasaan mirroring sudah menjadi sistem yang dipelajari manusia sejak lahir[13]. Seorang bayi belajar berjalan, berbicara, makan, dll dengan mencerminkan tindakan orang dewasa di sekitarnya. Meniru perilaku orang lain terbukti merupakan alat pembelajaran yang efektif bagi manusia. Kebiasaan ini tertanam pada otak manusia dan membuat mereka cenderung selalu mengikuti tindakan atau pemikiran orang yang mereka anggap lebih memiliki kedudukan atau pengaruh dari mereka.
Sebagai alat pembelajaran yang efektif bagi manusia, mentalitas massa dapat membawa dampak yang positif bagi kelompok massa. Sebuah penelitian menunjukkan penurunan 72% dalam terorisme berskala internasional menggunakan Invincible Defense Technology yang dikembangkan oleh Mahatishi Mahesh Yogi[14]. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meditasi yang dilakukan secara kelompok dapat membawa dampak yang positif pada berkurangnya angka terorisme. Saat seseorang melakukan meditasi dan mencapai kondisi pikiran dan emosi yang stabil positif, orang lain mengikuti tindakan orang tersebut dan mencapai kondisi pikiran dan emosi yang positif pula sehingga menghasilkan keadaan masyarakat dunia yang lebih tenang dan stabil.
Akademisi asal Inggris, Stephen Reicher, Clifford Stott, dan John Drury, menemukan hasil penelitian bahwa perilaku massa berbeda dari apa yang terlihat di luar[15]. Karena tindakan yang tersinkronisasi, terlihat dari luar bahwa individu mengesampingkan rasionalitasnya dan tidak berpikir dalam kelompok. Namun sebenarnya, individu tidak kehilangan identitasnya dalam kelompok, melainkan beradaptasi menjadi lebih sensitif kepada lingkungan sosialnya sehingga menjadi lebih kooperatif. Hasil penelitian ini kemudian menyimpulkan bahwa pengalaman berada di bawah pengaruh mentalitas massa dapat meningkatkan kesehatan psikis dan keberadaan seorang manusia.
Sebagai kesimpulan, mentalitas massa tidak mungkin dihilangkan dan tidak selalu membawa dampak negatif. Sebuah kelompok, dalam usaha konformitasnya, memaksa individu yang di dalamnya untuk mengadopsi perilaku yang dianut mayoritas anggotanya agar dapat diterima dan diakui sebagai anggota kelompok. Mentalitas massa semacam ini dapat menghasilkan tindakan irasional yang dipengaruhi oleh emosi kelompok, salah satu dampaknya adalah lahirnya cancel culture. Namun perlu diingat bahwa mentalitas massa merupakan hasil dari evolusi panjang dari pembelajaran yang dialami oleh manusia, sehingga telah tertanam sejak lahir tanpa disadari. Sistem mirroring atau mengikuti tindakan orang di sekitarnya menjadi alat pembelajaran manusia yang paling efektif dan alami sejak kecil. Mekanisme inilah yang kemudian digunakan manusia untuk beradaptasi dalam kelompok. Selain itu, manusia sebagai makhluk sosial juga berarti manusia tidak dapat berkembang sendiri. Memiliki perasaan menjadi bagian dari suatu kelompok sosial dan bertindak seperti mayoritas anggotanya dapat membantu manusia secara praktis untuk memenuhi kebutuhannya.
Kontributor: Erika Tanudjaya
Editor: Miftah Rasheed Amir
Ilustrator: Alisha Farizka N.
Catatan Kaki
[1] Alexander, Julia. (Mei 19, 2019). Tati Westbrook and James Charles’ new videos are a lesson on how to placate YouTube’s wildest fans.[online] Available at : https://www.theverge.com/2019/5/19/18629183/tati-westbrook-james-charles-youtube-fans-drama
[2] Wikipedia. Call-out Culture. https://en.wikipedia.org/wiki/Call-out_culture
[3] Achieng, Garnett. (Desember 19, 2018). The problem with “cancel culture”. [online] Available at: http://www.womensmediacenter.com/fbomb/the-problem-with-cancel-culture
[4] Impaulsive. (May 15, 2019). Dear James Charles – Impaulsive Ep. 75(video). https://www.youtube.com/watch?v=CIiSVWxp-_o
[5] Rodulfo, Kristina. (June 19,2019). An Extremely Detailed Timeline of the James Charles and Tati Westbrook Drama.[online] Available at : https://www.elle.com/beauty/makeup-skin-care/a27453234/james-charles-tati-westbrook-youtube-drama-timeline/
[6] Dehli Talks. (September 6, 2016). Social Experiment On Mob Mentality(video). https://www.youtube.com/watch?v=Ia9aE3RH1Uc&t=17s
[7] Polito, Kristen. (Maret 8, 2017). What is “Mob Mentality”?. [online] Available at : http://inpathybulletin.com/what-is-mob-mentality/
[8] Lee, Rebecca. (Juli 8, 2018). The Acceptance of Group Mentality. [online] Available at : https://psychcentral.com/blog/the-acceptance-of-group-mentality/
[9] James, Dr. Wendy. The Psychology of Mob Mentality and Violence. [online] Available at : http://drwendyjames.com/the-psychology-of-mob-mentality-and-violence/
[10] Rose, Pete. (Agustus 6, 2017). Think You Wouldn’t Do Evil? Think Again. [online] Available at : https://observer.com/2017/06/mob-mentality-digital-age-twitter/
[11] McLeod, Saul. (Desember 28, 2018). Solomon Asch – Conformity Experiment. [online] Available at: https://www.simplypsychology.org/asch-conformity.html
[12] Kameda, Tatsuya, Keigo Inukai, Thomas Wisdom, Wataru Toyokawa. (2014). The Concept of Herd Behaviour: Its Psychological and Neural Underpinnings. [online] Available at: http://www.tatsuyakameda.com/_src/1144/chapter-2.pdf
[13] ObserveDeCoder. Herd Mentality – Bad or Good?. [online] Available at : https://observedecoder.wordpress.com/2014/12/20/herd-mentality-bad-or-good/
[14] Rees, Brian. (2003). Terrorism, Retaliation, and Victory: Awaken the Soul of America to Defeat Terrorism Without Casualities.
[15] Bond, Michael. (2015). Mob Mentality : Crowds are Surprisingly Friendly, Fun Places to be.[online] Available at : https://slate.com/technology/2015/03/crowd-psychology-people-are-friendly-altruistic-happy-in-large-gatherings.html

