Pendahuluan
Hubungan sosial informal seperti pertemanan merupakan salah satu isu menarik untuk dibahas dalam dunia akademik. Berbagai penelitian mengungkapkan bagaimana pertemanan bisa terbentuk antar individu. Salah satu kajian dalam pertemanan yang menarik untuk ditelaah adalah perbedaan pola pertemanan berdasarkan gender.
Penelitian ini mencoba mencari jawaban mengenai perbedaan pola pertemanan laki-laki dan perempuan. Hipotesis dari penelitian ini adalah, laki-laki cenderung berteman berdasarkan kesamaan yang mereka miliki, sementara itu, perempuan lebih inklusif dan cenderung berteman berdasarkan perbedaan.
Penelitian ini mengukur perbedaan pola tersebut berdasarkan pada perilaku pengambilan keputusan peserta penelitian. Penelitian ini menggunakan behavioral experiment yang mengharuskan setiap peserta untuk terlibat dalam berbagai permainan tertentu yang dirancang untuk melihat bagaimana peserta mengambil keputusan.
Landasan Teori
Penelitian ini berpijak pada 1 teori utama dan 3 teori pendukung untuk menjelaskan perbedaan pola pertemanan antara laki-laki dan perempuan, yaitu homophily dan differential socialization, psychological needs dan motivations, dan evolutionary psychology. Teori-teori tersebut merupakan landasan dalam menjelaskan pola pertemanan. Homophily menerangkan bahwa pertemanan antar individu terjadi karena adanya kesamaan di antara mereka. Mereka yang seumuran, se-ras, atau se-gender cenderung akan membentuk hubungan pertemanan.
Teori differential socialization menjelaskan bagaimana laki-laki dan perempuan memiliki pola pertemanan yang berbeda. Laki-laki dianggap memiliki nilai-nilai kemandirian, kompetitif, dan risk taker, sehingga dengan label tersebut laki-laki akan berteman dengan mereka yang memiliki nilai-nilai yang sama. Sementara itu, perempuan dianggap lebih menyukai hubungan pertemanan yang intim, artinya lebih emosional, dengan sesama perempuan.
Teori berikutnya, psychological needs and motivations, menjelaskan bahwa perempuan menganggap hubungan pertemanan sebagai sesuatu yang sangat emosional, sehingga mereka berupaya untuk selalu menjaga hubungan tersebut dan menjaga agar hubungan tersebut tetap intim. Sementara itu, laki-laki tidak begitu. Laki-laki cenderung tidak mempertahankan hubungan pertemanan mereka.
Teori evolutionary psychology memberikan gambaran yang cukup menarik mengenai pola pertemanan. Teori ini menelisik jauh ke masa lalu untuk menjelaskan mengapa laki-laki dan perempuan memiliki pola pertemanan yang berbeda. Laki-laki dan perempuan pada zaman purba memiliki peran sosial yang berbeda. Laki-laki bertugas untuk berburu hewan buruan untuk dimakan. Berburu merupakan kegiatan yang sangat berisiko. Oleh karena itu, laki-laki membentuk kelompok berdasarkan pada sifat-sifat yang dapat menurunkan risiko kegagalan dalam berburu, seperti keberanian dalam mengambil risiko. Sementara itu, perempuan yang bertugas melakukan tugas-tugas domestik, seperti menjaga anak-anak, membentuk sifat yang berbeda dibanding laki-laki. Perempuan memiliki sifat yang lebih terbuka secara sosial untuk menjaga hubungan sosial dengan masyarakat. Sifat tersebut lebih menguntungkan bagi perempuan dalam menjalankan tugas-tugas domestik.
Model dan Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan field laboratory experimental design untuk mendapatkan informasi dari objek yang diteliti. Penelitian ini melibatkan 200 orang mahasiswa baru Universitas Wuhan dari tahun 2019 hingga 2023. Mahasiswa dipilih secara acak untuk menjaga kualitas hasil penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggali bagaimana perbedaan pola pertemanan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan individual decision making dan social decision making. Individual decision making bertujuan untuk melihat bagaimana seseorang bertindak dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian. Social decision making digunakan untuk melihat bagaimana tindakan seorang individu berdasarkan pada tindakan atau keadaan orang lain. Ada 6 permainan yang digunakan untuk melihat social decision making peserta penelitian.
Permainan pertama adalah Dictator Game (DG). Dalam permainan ini, salah satu peserta akan diberikan sejumlah uang, sementara yang lain tidak. Peserta yang memiliki uang disebut sebagai diktator dan yang lainnya sebagai penerima. Diktator akan diminta memberikan sejumlah uang kepada penerima. Penerima harus menerima uang tersebut, berapapun besarnya, tergantung berapa yang ingin diberi oleh dictator.
Permainan kedua adalah Trust Game (TG). Seorang peserta akan memberikan sebagian uang yang mereka miliki kepada pasangan mereka. Besaran uang tersebut akan dikali tiga. Setelah menerima besaran tersebut, pasangan yang menerima uang harus mengembalikan uang tersebut kepada si pemberi uang di awal. Dalam permainan ini, setiap peserta harus memberitahukan berapa jumlah uang yang ingin mereka berikan dan berapa yang ingin dikembalikan.
Permainan ketiga adalah Jealousy Game (JG). Permainan ini mengharuskan salah seorang peserta untuk memberikan sejumlah uang pada pasangannya tanpa adanya pengembalian kepada mereka sendiri.
Permainan keempat adalah Ultimatum Game (UG). Salah satu peserta memberikan sejumlah uang kepada peserta lain. Jika besaran uang tersebut tidak sesuai dengan besaran minimal yang diinginkan oleh peserta lain, maka kedua peserta sama-sama tidak mendapatkan uang.
Permainan kelima adalah Public Goods Game (PGG). Permainan ini mengharuskan setiap pemain untuk mendepositkan uang yang mereka miliki dalam suatu common pool serentak dan tanpa adanya koordinasi di antara mereka. Uang tersebut akan dikalikan dengan sejumlah angka tertentu, besar dari 1 dan nantinya akan dibagi rata sesame mereka.
Perrmainan keenam atau terakhir adalah Sequential prisoner’s dilemma (SPD). Permainan ini ingin melihat bagaimana satu peserta memutuskan pilihannya berdasarkan pilihan peserta lain. Jika satu pemain memilih pilihan yang berbeda dengan pemain lainnya, maka pemain tersebut tidak kooperatif dengan yang lainnya. Begitu sebaliknya, jika pilihan sama, maka setiap pemain kooperatif.
Hasil dan Kesimpulan
Penelitian ini memberikan kesimpulan yang tidak jauh berbeda dari teori yang telah dijelaskan sebelumnya. Terbukti bahwa laki-laki cenderung berkawan dengan yang memiliki kesamaan dengannya, homophily. Sementara itu, perempuan lebih terbuka dan lebih beragam. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tersebut diukur berdasarkan pada kecenderungan mereka dalam individual dan social decision making, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Dalam individual decision making, baik laki-laki ataupun perempuan menunjukkan kecenderungan untuk menghindari risiko atau risk aversion. Namun, perempuan lebih enggan terhadap risiko dibanding laki-laki. Dalam permainan Dictator Game (DG), perempuan secara rata-rata bersedia untuk mengorbankan lebih banyak uang dibanding laki-laki. Sementara itu, dalam permainan Ultimatum Game (UG), laki-laki berkorban lebih banyak dan meminta lebih sedikit dibandingkan perempuan. Dalam permainan Jealousy Game (JG), Trust Game (TG) dan Public Goods Game (PGG), laki-laki juga menunjukkan keinginan untuk berkorban dan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibanding perempuan. Terakhir, dalam permainan Sequential Prisoner’s Dilemma (SPD), dalam mengambil keputusan, laki-laki lebih kooperatif dibanding perempuan.
Reviewed From
Alm, James, et al. “Birds of a Feather Flock Together? Gender Differences in Decision-Making Homophily of Friendships.” China Economic Review, Elsevier BV, Feb. 2025, p. 102332. Crossref, doi:10.1016/j.chieco.2024.102332.
Editor: Amira Nisa Adli, Omar Rasheed S. K
Ilustartor: Rally Salsabila A

