Untuk belajar, diskusi, atau sekadar menunggu kelas selanjutnya, study space atau ruang belajar merupakan salah satu fasilitas yang disediakan Universitas Indonesia. Idealnya, setiap fakultas memiliki study space untuk menunjang kegiatan mahasiswa. Dalam kampus, sudah banyak lokasi umum yang dapat dipakai bersama-sama, salah satunya Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Namun realitanya, banyak mahasiswa yang kesulitan mencari spot belajar. Tentunya hal tersebut wajar saja jika fasilitas yang dipakai memang dipakai bersama-sama. Namun, akan berbeda apabila mahasiswa justru sulit menggunakan fasilitas yang memang untuk fakultasnya sendiri.
Beberapa mengeluh study space fakultasnya selalu ramai karena justru dipakai oleh fakultas lain. Ada juga yang berpendapat bahwa fasilitas study space dalam fakultas kurang memadai. Banyak mahasiswa juga akhirnya memilih untuk belajar di kafe karena suasana belajar dan fasilitas yang lebih baik. Padahal, fasilitas kampus yang memadai terbukti dapat meningkatkan produktivitas pembelajaran mahasiswa (Maharani & Indriyani, 2024). Oleh sebab itu, Mild Report ini akan menilik realita urgensi study space bagi mahasiswa, sudut pandang dari kemahasiswaan fakultas, dan memberikan input bagi Universitas Indonesia.
Ketimpangan Ruang Belajar: Study Space Terbatas, Coffee Shop Bertambah
Universitas Indonesia memiliki beragam study space yang tersebar di berbagai fakultas. Beberapa di antaranya adalah Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia yang bersebelahan dengan Masjid UI dan Fakultas Hukum (FH), Pusat Sumber Belajar (PSB) milik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC) kepunyaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dan Ruang Baca milik Fakultas Psikologi (FPsi). Tempat-tempat tersebut merupakan sebagian study space yang selama ini cukup populer di lingkungan UI.

Namun, ada kegundahan yang menyelimuti keberadaan study space di UI, terutama mengenai ketersediaan dan kenyamanan. Isu ini tersingkap melalui kicauan salah seorang mahasiswa FISIP UI. Pengguna media sosial X, @shizzle_skizzle, mengungkapkan keluhannya mengenai ketersediaan dan kenyamanan study space di FISIP UI. Ia mengeluhkan betapa tidak nyamannya Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC), perpustakaan FISIP. Di sisi lain, keberadaan coffee shop ternama terus bertambah di fakultasnya, justru berbanding terbalik dengan ketersediaan study space, seperti perpustakaan atau ruang diskusi.
Mengapa Mahasiswa UI Memilih Study Space?
Di antara banyaknya pilihan tempat belajar di lingkungan sekitar UI, study space masih menjadi primadona bagi mahasiswa untuk belajar atau berdiskusi. Aksesnya yang non-excludable dan gratis menjadi daya tarik tersendiri bagi kebanyakan mahasiswa. Selain itu, aturan main yang berlaku di dalamnya, seperti larangan mengganggu ketenangan, mampu menjamin kelancaran bagi mahasiswa yang ingin fokus dalam belajar.
Vieri, mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2023, berbagi pengalamannya dalam menggunakan study space di fakultasnya. Selama menjadi mahasiswa, ia sering menggunakan study space yang disediakan oleh kampus. Tuntutan akademik dan tempat tinggal yang cukup jauh mengharuskannya tetap di kampus setelah kelas untuk belajar.
“Menurut gue study space itu penting, apalagi bagi gue yang pulang-pergi Depok-Jakbar. Biasanya habis kelas, gue maksimalkan waktu di kampus buat bikin tugas atau belajar, karena rumah gue jauh dan pasti banyak waktu terbuang kalau pulang dulu,” ungkap Vieri.
Cerita serupa datang dari Nina, mahasiswa Kedokteran Gigi angkatan 2023. Baginya, lingkungan study space yang produktif mendorong orang-orang untuk bekerja lebih produktif. “Gue merasa belajar di study space itu lebih efektif dan produktif. Lihat orang-orang pada belajar atau ngerjain sesuatu secara tidak langsung mendorong gue untuk ngerjain kerjaan gue dengan serius,” ujarnya.
Mahasiswa Harus Berburu Study Space Akibat Keterbatasan Ruang Belajar
Terbatasnya ketersediaan study space di lingkungan UI menjadi perhatian bagi mahasiswa. Nina, mahasiswa FKG, menuangkan kesahnya selama menjadi mahasiswa. Untuk belajar atau mengerjakan tugas di luar waktu perkuliahan, tak jarang ia harus ke fakultas lain hanya untuk mencari tempat belajar.
“Gue merasa study space di UI tidak merata. Di fakultas gue sendiri (FKG) bisa dibilang nggak ada. Gue sering ke fakultas lain, salah satunya FEB, untuk belajar dan ngerjain tugas-tugas yang harus gue selesaiin,” ujar Nina mengakui.
Senada dengan Nina, Vieri juga menuangkan keluhan yang sama. Menurutnya, ketersediaan study space masih kurang, terutama di fakultas tempat ia menimba ilmu. “MBRC menurut gue itu nggak terlalu luas, jadi kalo penuh gue harus mencari tempat lain untuk belajar. Biasanya di tempat belajar luar ruangan yang nggak ada colokan listrik,” keluh Vieri.
Keluhan serupa datang dari Nashwa, mahasiswa Ilmu Ekonomi angkatan 2023. “Menurut gue, (study space di UI) nggak merata, sih, soalnya masih banyak mahasiswa yang suka ke fakultas lain buat make ruang belajar di fakultas itu,” ujarnya.
Panas, Bising, dan Waktu Operasional Terbatas: Keluhan Mahasiswa tentang Study Space
Keluhan tidak hanya menjurus pada ketersediaan, tetapi juga kenyamanan dan fasilitas pendukung. Mahasiswa sendiri membutuhkan suatu ruang atau tempat yang bisa mendukung kebutuhan mereka untuk belajar secara efektif.
Terkait dengan hal itu, Rahmi, mahasiswa Ilmu Hukum angkatan 2023, mencurahkan keluhannya. Mahasiswi yang biasa menggunakan Perpustakaan Pusat (Perpusat) ini merasa terganggu dengan suhu ruangan yang cukup panas selama belajar di Perpusat. “Kadang-kadang gue harus ke Perpusat buat belajar atau zoom, tapi males-nya Perpusat itu panas banget,” keluh Rahmi.
Selain kenyamanan, jam operasional study space juga menjadi perhatian. Vieri, sebagai mahasiswa yang sering menggunakan study space, merasa bahwa waktu operasional perpustakaan fakultasnya singkat. “Menurut gue salah satu kekurangan MBRC adalah waktu operasionalnya terlalu singkat, cuman sampai jam 5 sore dan paling lama jam 8 malam,” ujar Vieri.
Tanggapan Kemahasiswaan: Fokus Utama Fakultas Masih pada Kegiatan Perkuliahan
Saat ini, beberapa fakultas di Universitas Indonesia belum merumuskan rencana untuk membangun study space atau ruang belajar. Perwakilan kemahasiswaan yang telah diwawancarai juga setuju bahwa prioritas utama fasilitas kampus diperuntukkan kegiatan perkuliahan. Namun, jika fakultas berencana membangun study space, pertimbangan utama yang dilakukan adalah ketersediaan ruangan serta perhitungan dana yang diperlukan. Alumni juga biasanya dapat berkontribusi menyumbang dana untuk pembangunan fasilitas.
Study Space dalam Rumpun Ilmu Kesehatan
Fakultas dalam Rumpun Ilmu Kesehatan cenderung menampung lebih sedikit mahasiswa. Kegiatan perkuliahan juga sering diadakan bersama dari fakultas lain dalam satu rumpun. Maka, ruang kelas dalam RIK sering digunakan dan tentunya dijaga bersama. Apabila RIK ingin membuat ruangan bersama, ide tersebut perlu dirembukkan oleh kelima dekan dari tiap fakultas.
Menurut Prof. Ari, manajer kemahasiswaan FKG, mahasiswa RIK biasanya belajar di selasar kampus. “Meja dan kursi sepanjang jalan bisa dipakai untuk belajar atau diskusi,” ujar Prof. Ari. Mahasiswa RIK juga biasanya belajar dengan kelompok kecil dari masing-masing fakultas. Jadi, RIK belum ada rencana untuk membangun study space khusus karena dirasa kurang urgen.
Prof. Ari kembali menjelaskan bahwa FKG sendiri memiliki ruangan-ruangan khusus untuk belajar dan diskusi. Namun, ruangan tersebut juga biasanya dipakai untuk perkuliahan dan terdapat prosedur peminjaman ruangan yang perlu diperhatikan. “Mahasiswa bisa pinjam ruangan seminggu sebelum pemakaian,” jelas Prof. Ari.
Study Space Fakultas Soshum: FH dan FEB
FH dan FEB identik dengan study space-nya, seperti perpustakaan fakultas dan ruang diskusi. Akses untuk belajar mandiri menjadi lebih mudah bagi mahasiswa dalam fakultas tersebut, bahkan sering dikunjungi oleh fakultas lain. FEB baru-baru ini mendirikan Permata Lounge, tempat belajar baru yang disponsori oleh Permata Bank. Sedangkan, FH terdapat gedung baru yang selesai dibangun. Walaupun belum ada rencana pasti untuk saat ini, tetapi FH berencana untuk menambah ruang belajar bagi mahasiswanya.
“Sekarang sih belum ada (rencana menambah study space), tapi harapannya mau diperbanyak, apalagi ada gedung baru selesai dibangun,” ujar Pak Slamet selaku perwakilan kemahasiswaan FH.
Alur Komunikasi dan Layanan Pengaduan di FEB UI
Mahasiswa FEB UI memiliki tiga jalur utama untuk menyampaikan saran atau keluhan terkait fasilitas kampus kepada pihak kemahasiswaan. Pertama, melalui Adkesma BEM FEB UI. “Kita ada WA group sama Adkesma untuk ngasih masukan ke FOrSE,” jelas Pak Undang selaku manajer FOrSE FEB UI. Masukan dari Adkesma akan dibahas lebih lanjut dalam forum Dialog Interaktif (DIARI). “Kalo yang besar itu sampaikan saja berulang-ulang gapapa, kita istilahnya sampai bosen tuh fakultas juga gapapa, diingatkan,” tambahnya.
Kedua, melalui barcode atau tautan FOrSE FEB UI (s.id/FOrSE) yang tersedia di berbagai lokasi. “Saking pengennya kita dapat masukan, kita bikin barcode, cuma juga kurang maksimal (penggunaannya),” ujar Pak Undang.
Ketiga, mahasiswa dapat langsung menghubungi Pak Undang melalui WhatsApp di nomor +62 812-8805-5558. “Kita butuh masukan, karena fasilitas kan ditujukan utamanya untuk mahasiswa, yang paling tahu kebutuhannya ya mahasiswa juga,” tegasnya.
Refleksi dan Harapan ke Depan untuk Study Space UI
Melalui Mild Report ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat ketimpangan fasilitas study space antar fakultas karena perbedaan metode belajar dan ketersediaan ruangan. Namun, apabila memang muncul sebuah keresahan untuk menambah ruangan study space, mahasiswa dapat mengajukan kepada kemahasiswaan untuk mencari solusi bersama.
Harapannya, mahasiswa di Universitas Indonesia dapat lebih nyaman belajar di lingkungan fakultas dan kemahasiswaan dapat cepat tanggap dalam menyediakan fasilitas untuk meningkatkan produktivitas belajar mahasiswanya. “Gue berharap study space ataupun workspace di UI ditambah,” harap Vieri, mewakili suara banyak mahasiswa.
Tuntutan akan ruang belajar yang memadai juga disampaikan Nina. “Aku pengen ada study space yang benar-benar study space di RIK (Rumpun Ilmu Kesehatan),” ungkap Nina. Sementara itu, Rahmi menyoroti kondisi Perpustakaan Pusat UI, ”Perpusat itu kayak neraka, pengap dan gerah! Tolong dong, dibenahin lagi, UI!” Keluh Rahmi.
Ke depan, diperlukan komitmen serius dari seluruh pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mendukung produktivitas mahasiswa di seluruh fakultas.
Referensi
Ervia Mustika Maharani, & Dian Indriyani. (2024). PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR KAMPUS TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA. Cendikia: Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, 2(6), 435–441. https://doi.org/10.572349/cendikia.v2i6.1777


Discussion about this post