Background
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dikenal sebagai salah satu fakultas dengan kegiatan kemahasiswaan yang sangat aktif. Terdapat berbagai organisasi, unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan kepanitiaan yang secara keseluruhan jumlahnya lebih dari 30, mencakup berbagai bidang seperti akademik, olahraga, seni, dan sosial. Mahasiswa FEB UI, terutama mereka yang baru saja memulai perkuliahan, menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan tersebut. Partisipasi dalam organisasi dan kepanitiaan ini seringkali dianggap sebagai bagian penting dari pengembangan diri di luar kelas, memberikan mahasiswa kesempatan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, jaringan, dan soft skills lainnya.
Penelitian ini dilakukan untuk membahas mengenai dampak dari partisipasi aktif dalam organisasi dan kepanitiaan terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa. Terdapat anggapan bahwa keterlibatan dalam kegiatan non-akademik dapat mempengaruhi performa akademik, baik secara positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis tersebut dan memberikan wawasan mendalam tentang apakah aktivitas organisasi memiliki korelasi dengan pencapaian akademik mahasiswa.
Cerita Data adalah salah satu program kerja dari divisi penelitian Badan Otonom Economica FEB UI. Melalui program kerja ini, telah diterbitkan berbagai output penelitian yang bisa dimanfaatkan oleh banyak pihak. Dalam seri cerita data kali ini, kami ingin memberikan gambaran tentang pengaruh dari keaktifan mahasiswa dalam mengikuti organisasi atau kepanitian di FEB UI terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), diharapkan akan diperoleh data yang komprehensif untuk mengidentifikasi pola dan hubungan antara partisipasi organisasi dengan IPK mahasiswa, serta memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keseimbangan antara kegiatan akademik dan non-akademik di kalangan mahasiswa FEB UI.
Mahasiswa dan Kesibukan Non-Akademik

Pada penelitian kali ini, kami berhasil mengumpulkan responden mahasiswa FEB UI sebanyak 120 responden yang berasal dari angkatan 2020–2023 dan mewakili kelima prodi yang berada di FEB UI. Berdasarkan data sampel yang kami peroleh, mayoritas mahasiswa bergabung dalam kepanitiaan atau organisasi dengan tujuan untuk menambah jaringan pertemanan, meningkatkan keterampilan soft skill, mencari pengalaman baru, hingga melatih kemampuan leadership. Secara rata rata, mahasiswa FEB UI tergabung dalam 1 organisasi dan 1–2 kepanitiaan pada semester genap tahun ajaran 2023/2024 lalu. Meskipun disibukkan dengan kegiatan kepanitiaan dan organisasi, sebagian besar dari mereka masih dapat mengalokasikan waktunya untuk keperluan akademisnya. Bahkan, sebanyak 62,1% mahasiswa FEB UI cenderung mengalokasikan lebih banyak waktu untuk belajar dibandingkan untuk kegiatan kepanitiaan maupun organisasi.

Hal ini dibuktikan dari data yang kami peroleh, mayoritas mahasiswa mengalokasikan waktunya untuk kegiatan akademis sebanyak 9–11 jam setiap minggunya dan juga mayoritas dari mereka masih dapat memperoleh IPK >3,5 meskipun memiliki kesibukan dalam kegiatan kepanitiaan maupun keorganisasian yang mengharuskan mereka untuk mengalokasikan waktu sebanyak 6-8 jam setiap minggunya untuk kegiatan kepanitiaan maupun keorganisasian. Tentu saja kepadatan jadwal yang dimiliki menjadikan kemampuan manajemen waktu sebagai soft skill yang sangat penting. Berdasarkan survei, 80.1% mahasiswa FEB UI menilai diri mereka baik dalam kemampuan manajemen waktu untuk mengelola kesibukkan yang mereka miliki.

Berikutnya, dari sisi workload pekerjaan kepanitiaan dan organisasi, didapati bahwa 58,7% mahasiswa merasa workload kesibukkan non-akademik yang dimiliki tidak mengganggu waktu belajar mereka. Di sisi lain, terdapat 41,3% mahasiswa yang merasa harus mengorbankan waktu belajarnya dikarenakan adanya berbagai kesibukkan non-akademik. Meskipun begitu, 74,9% responden memberikan reaksi positif mengenai kepuasannya atas performa akademik yang dicapai selama semester genap lalu.
Secara keseluruhan, sebagian besar responden merasa bahwa partisipasi dalam organisasi atau kepanitiaan tidak memengaruhi prestasi akademik yang mereka capai. Walaupun tidak terdapat pengaruh langsung yang dirasakan, terdapat banyak pengaruh positif dirasakan mahasiswa yang secara tidak langsung juga mendukung performa akademik mereka. Beberapa contoh manfaat yang dirasakan oleh responden adalah terbangunnya kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, meningkatkan keterampilan public speaking, serta mengasah berbagai soft skill lainnya.
Uji Statistik
Penelitian ini menggunakan beberapa variabel utama yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Variabel-variabel tersebut meliputi variabel jumlah kesibukan, variabel alokasi waktu organisasi, serta variabel Indeks Prestasi Semester (IPS) mahasiswa. Untuk variabel jumlah kesibukan, yaitu jumlah kesibukan nonakademik, diukur berdasarkan berapa banyak jumlah organisasi dan kepanitiaan yang diikuti oleh mahasiswa pada semester genap yang lalu. Sementara itu, variabel alokasi waktu organisasi diukur berdasarkan berapa lama seseorang mengalokasikan waktunya untuk kegiatan organisasi/kepanitiaan setiap minggunya, dengan satuan waktu yang digunakan ialah jam/minggu.

Dengan data yang bersifat kontinu, untuk menguji korelasi antara variabel jumlah kesibukan dengan IPS dan alokasi waktu kesibukan dengan IPS, dilakukan uji Pearson Correlation. Salah satu asumsi yang perlu dipenuhi untuk uji korelasi tersebut adalah data yang terdistribusi normal sehingga dilakukan tes normalitas yang disebut shapiro wilk test terlebih dahulu untuk mengidentifikasi distribusi data yang dimiliki. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa sampel tidak terdistribusi secara normal, hal ini dapat disimpulkan karena probabilitas pada variabel jumlah kesibukan, alokasi waktu kesibukan, dan IPS yang ditunjukkan dalam tabel lebih kecil dari alpha 0,05 yang artinya secara statistik terdapat cukup bukti untuk melakukan penolakan pada null hypothesis. Karena data tidak terdistribusi secara normal, maka akan digunakan non-parametric test. Dalam Cerita Data kali ini, uji non-parametrik yang digunakan adalah Spearman Correlation Test dan Kruskal Wallis Test.

Pertama, uji Spearman Correlation dilakukan untuk mengetahui bagaimana tingkat kekuatan hubungan antara 2 variabel beserta arah hubungannya, apakah bersifat negatif, positif, atau tidak berhubungan. Uji Spearman Correlation yang pertama dilakukan untuk menguji korelasi antara variabel jumlah kesibukan dengan variabel IPS mahasiswa. Diperoleh hasil Spearman Coefficient sebesar -0,1065, yang dapat diartikan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan negatif dengan korelasi yang sangat lemah. Lebih lanjut, dari uji hipotesis yang dilakukan, didapat bahwa kedua variabel tersebut bersifat independen satu sama lain, yang artinya tidak ada hubungan antara jumlah kesibukan dan IPS mahasiswa. Hal ini terbukti secara statistik yang dapat dilihat dari probabilitas dari nilai p-value = 0,2467, yaitu lebih besar dari alpha 0,05. Maka dari itu, kesimpulan yang didapat adalah menerima H0, yang berarti kedua variabel bersifat independen.
Selanjutnya, uji Spearman Correlation kedua dilakukan antara variabel alokasi waktu kesibukan dengan variabel IPS mahasiswa, untuk mengetahui apakah banyaknya waktu yang terbuang untuk kesibukkan non-akademik memengaruhi tingkat IPS mahasiswa. Dari uji ini, diperoleh hasil Spearman Coefficient sebesar -0,1307, yang dapat diartikan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan negatif dengan tingkat korelasi yang sangat lemah. Untuk hasil uji hipotesisnya, didapat hasil bahwa kedua variabel ini juga bersifat independen. Dimana nilai p-value = 0,1547, yaitu lebih besar dari alpha 0,05, yang artinya tidak terdapat cukup bukti untuk menolak hipotesis nol. Maka didapat kesimpulan yang sama, yaitu kedua variabel ini bersifat independen.

Terakhir, untuk mengonfirmasi independensi variabel jumlah kesibukan dengan variabel IPS mahasiswa, kami melakukan Kruskal Wallis Test, di mana melalui tes ini, kami menguji apakah secara statistik terdapat perbedaan median IPS yang signifikan antara mahasiswa dengan jumlah kesibukan hanya 1, 2, 3, dan 4 kegiatan atau lebih. Dikarenakan terdapat banyak nilai yang sama pada variabel IPS (ties) maka yang akan digunakan adalah hasil chi2(3) with ties. Berdasarkan hasil uji, didapatkan nilai p-value sebesar 0,5698 yang mana lebih besar dari alpha 0,05, artinya keputusan yang harus diambil adalah menerima H0. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan IPS yang signifikan antara mahasiswa yang memiliki jumlah kesibukan 1, 2, 3, maupun 4 kegiatan atau selebihnya. Hasil ini mendukung hasil uji Spearman Correlation yang telah dilakukan sebelumnya, di mana partisipasi dalam organisasi dan kepanitiaan tidak memengaruhi tingkat pencapaian prestasi akademik mahasiswa yang dalam konteks ini adalah indeks prestasi semester.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai dampak partisipasi mahasiswa FEB UI dalam organisasi dan kepanitiaan terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), dapat disimpulkan bahwa keterlibatan dalam kegiatan non-akademik tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap performa akademik mahasiswa. Melalui analisis statistik, termasuk tes Spearman dan Kruskal Wallis, mengindikasikan bahwa tidak ada hubungan yang kuat antara jumlah atau alokasi waktu kesibukan kepanitiaan dan organisasi dengan IPS mahasiswa. Mayoritas mahasiswa, meski aktif dalam berbagai organisasi dan kepanitiaan, masih mampu menjaga IPK mereka di atas 3,5 dan merasa puas dengan performa akademik mereka.
Mayoritas mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan non-akademik mampu mempertahankan IPK yang memuaskan, dengan lebih dari 62% mengalokasikan lebih banyak waktu untuk belajar daripada kegiatan non-akademik. Hampir 75% dari responden merasa puas dengan performa akademik mereka, meskipun waktu mereka terbagi dengan kegiatan luar kelas. Keterlibatan dalam organisasi dan kepanitiaan umumnya memberikan manfaat tambahan bagi mahasiswa, seperti peningkatan keterampilan soft skill, kepercayaan diri, dan kemampuan berpikir kritis, yang dianggap sebagai nilai tambah meskipun tidak memiliki dampak langsung yang jelas terhadap IPK.
Dengan kemampuan manajemen waktu yang baik, mahasiswa FEB UI dapat menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan non-akademik secara efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun tidak ada hubungan signifikan antara partisipasi dalam kegiatan non-akademik dengan capaian IPS, keterlibatan dalam kegiatan tersebut tetap bermanfaat untuk pengembangan diri dan keterampilan yang berharga di luar konteks akademik, sekaligus mendukung performa akademik secara tidak langsung.
![[HARD NEWS] OPK FEB UI 2026: Membentuk Karakter, Merajut Solidaritas](https://economica.id/wp-content/uploads/Template-Penerb-2026-12.png)
