Introduction
Meskipun manusia adalah makhluk sosial yang didorong untuk terus memperluas jaringan pertemanannya, kita tetap memiliki keterbatasan kapasitas. Keterbatasan sumber daya ini mendorong manusia untuk bertindak rasional dalam menjalin hubungan. Seseorang akan mengalokasikan usahanya berdasarkan potensi manfaat dari pertemanan yang berhasil, sekaligus merencanakan langkah antisipasi jika hubungan tersebut gagal. Pada dasarnya, dinamika ini merupakan upaya logis manusia untuk memaksimalkan keuntungan sosial di tengah keterbatasan yang ada.
Proses rasionalisasi tersebut pada akhirnya membentuk dua pola pertemanan dalam masyarakat, yaitu homofili (kelompok dengan minat serupa) dan heterofili (kelompok dengan minat berbeda). Untuk menjelaskan fenomena ini, sebuah penelitian berjudul “Making friends: The role of assortative interests and capacity constraints” menawarkan sebuah kerangka analisis. Melalui pemodelan matematika, penelitian tersebut mengkaji bagaimana manusia, dengan segala keterbatasan kapasitasnya, tetap mampu membentuk kedua struktur pertemanan yang berbeda tersebut di dalam masyarakat.
Premium of Mutual Efforts through Asymmetric Effort in Friendship
Ketidakseimbangan alokasi usaha dalam pertemanan sering kali terjadi. Sebagai contoh, ada situasi di mana suatu individu mendedikasikan 80% usahanya, seperti rutin menginisiasi komunikasi atau memberikan dukungan emosional, namun hanya menerima balasan sebesar 20% dari temannya. Pertanyaannya, apakah ketimpangan rasio ini selalu menjadi masalah dalam dinamika sosial?
Hasil penelitian ini justru membuktikan bahwa realitas tersebut sangat wajar karena dipengaruhi oleh capacity constraints. Individu yang hanya memberikan 20% balasan mungkin telah kehabisan energinya untuk kelompok pertemanan utamanya, sehingga ia hanya menginvestasikan sisa kapasitasnya pada hubungan tersebut. Menariknya, meskipun asimetris, kompromi semacam ini tetap menghasilkan nilai timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak dan justru mendorong stabilitas hubungan dalam jangka panjang.
External Intervention in An Exclusive Friend Group
Berangkat dari pemahaman mengenai keterbatasan kapasitas individu, muncul pertanyaan menarik tentang nasib kelompok pertemanan yang sangat eksklusif (homofili ekstrem). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang sepenuhnya tertutup justru sangat rentan bubar. Kerentanan ini dipicu oleh tingginya insentif bagi setidaknya dua anggota untuk memisahkan diri dan membentuk pertemanan yang lebih intim. Secara rasional, berinteraksi dalam lingkup yang lebih kecil memungkinkan efisiensi dan penerimaan usaha yang lebih maksimal.
Untuk mencegah perpecahan tersebut, penelitian ini merumuskan sebuah mekanisme adaptasi. Para agen di dalam kelompok eksklusif harus mengalokasikan sebagian usaha mereka untuk menjalin hubungan lintas kelompok (heterofili) yang berkualitas memadai. Dalam konteks ini, memiliki teman di luar kelompok utama bukanlah sebuah pengkhianatan, melainkan strategi kompromis yang justru berfungsi sebagai jembatan penyeimbang stabilitas struktur sosial masyarakat.
There are Structured Diversity In a Moderate Level of Assortative Interest
Penelitian ini membuktikan bahwa dua kelompok dengan tingkat ketertarikan atau assortative interest yang sama, khususnya pada level moderat, dapat menghasilkan bentuk pertemanan yang berbeda. Meskipun demikian, perlu digarisbawahi bahwa kedua bentuk tersebut sama-sama mencapai titik kestabilan di tingkat masyarakat.
Sebagai ilustrasi, terdapat dua kelompok masyarakat, Universitas A dan Universitas B, yang sama-sama memiliki tingkat assortative interest moderat pada skala populasi. Walaupun memiliki parameter ketertarikan yang identik, hasil pengujian terhadap realitas pertemanan yang terbentuk di masing-masing institusi menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan di mana Universitas A cenderung membentuk jaringan homofili, sementara Universitas B membentuk jaringan heterofili. Akan tetapi, perbedaan pola relasional yang mendasar ini ternyata tidak menghalangi kedua institusi tersebut untuk tetap dapat berkoeksistensi secara stabil dalam satu lingkup tatanan sosial yang lebih besar.
The Illusion of Welfare Efficiency in Network Stability
Dalam teori ekonomi, pengukuran tingkat kesejahteraan sosial mensyaratkan adanya pemerataan kualitas hubungan sosial yang bersifat seragam bagi seluruh individu dalam suatu populasi. Namun, realitas menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial antarindividu nyatanya tidak seragam sehingga menimbulkan inefisiensi dalam pencapaian kesejahteraan sosial. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa inefisiensi ini tetap terjadi meskipun jaringan pertemanan telah mencapai titik stabil?
Jawabannya terletak pada model matematika dasar dari capacity constraint berikut:

Model ini menegaskan bahwa total akumulasi usaha (e) yang sanggup diinvestasikan oleh seseorang (individu i) kepada teman-temannya (individu j) tidak akan pernah bisa melampaui batas kapasitas maksimal (Ci) yang dimilikinya. Keterbatasan waktu, tenaga, dan kapasitas memori manusia membuat nilai Ci ini bersifat mutlak.
Inefisiensi ini berakar pada tuntutan bagi setiap agen untuk melakukan investasi penuh kepada pihak-pihak tertentu di dalam kelompok pertemanannya semata-mata untuk menghindari efek premium of mutual efforts. Padahal, dari perspektif ekonomi makro, efisiensi kesejahteraan sosial masyarakat (W) baru dapat tercapai secara optimal apabila utilitas atau kepuasan agregat (U) dirasakan secara merata oleh seluruh populasi, seperti yang ditunjukkan pada kalkulasi kesejahteraan berikut:

Namun, karena setiap individu terpaksa menghabiskan sisa kapasitas (Ci)-nya untuk “mengunci” relasi dengan segelintir orang secara maksimal, pemerataan kualitas kebahagiaan sosial (W) gagal tercapai. Peneliti mencatat bahwa stabilitas pertemanan dan efisiensi sosial hanya dapat berjalan beriringan pada kondisi-kondisi yang sangat spesifik. Bahkan, kestabilan tersebut berpotensi terganggu apabila suatu lingkungan menghadapi ketimpangan ukuran populasi antarkelompok.
Critical Review and Methodology
Kerangka penelitian yang ditawarkan oleh Jiménez-Martínez dan Melguizo-López berhasil menghadirkan perspektif segar dalam literatur tentang jaringan hubungan sosial dengan menjadikan capacity constraints sebagai variabel utama, meskipun telah terdapat asumsi tentang strategic complementarities bahwa perbedaan karakteristik akan secara otomatis memberikan keuntungan. Dengan demikian, pendekatan ini membuktikan bahwa keberagaman fenomena pertemanan di masyarakat, yakni asymmetrical effort dan external intervention, berasal dari rasionalitas murni manusia tanpa melibatkan unsur kualitatif seperti selera dan perasaan.
Akan tetapi, sebagai konsekuensi logis dari pengabaian faktor-faktor emosional dan bias psikologis, framework ini mengasumsikan bahwa setiap individu mampu mengkalkulasi kepuasan sosialnya secara sempurna. Padahal, kenyataannya, aspek emosi dan psikologi memegang peranan yang sangat penting dalam proses membangun pertemanan, setidaknya sebanding dengan prediksi matematis antara assortative interest dan capacity constraint.
Terlepas dari keterbatasan tersebut, penelitian ini telah menggunakan asumsi serta metode pembuktian yang selaras dengan kondisi struktur sosial yang terjadi di masyarakat. Alhasil, kerangka yang ditawarkan telah teruji secara konkret dan dapat dijadikan acuan dalam menyimpulkan hasil perdebatan mengenai idealisme dalam dinamika hubungan pertemanan.
Diulas dari:
Jiménez-Martínez, A., & Melguizo-López, I. (2022). Making friends: The role of assortative interests and capacity constraints. Journal of Economic Behavior & Organization, 198, 552-570. https://doi.org/10.1016/j.jebo.2022.04.011

