Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Sastra

Kartografi Kehampaan:

Risalah tentang Dunia yang Kehilangan Makna namun Terus Bernapas

by Firman HP Munthe
27 Juni 2026
in Sastra

Aku tiba di sebuah dunia yang tidak runtuh—

melainkan perlahan dikosongkan dari dalam,

seperti kitab suci yang huruf-hurufnya

ditarik satu per satu oleh waktu

yang lupa cara berdoa.

 

Di sini, makna tidak mati—

ia ditunda tanpa batas,

menggantung di antara kesadaran dan kebiasaan,

seperti pertanyaan yang terlalu lama disimpan

hingga kehilangan keberanian untuk dilahirkan.

 

Katakan padaku—

apakah kehampaan adalah ketiadaan,

atau justru kepenuhan yang kehilangan penafsirnya?

 

Langit tidak lagi biru,

ia hanya kesepakatan visual yang diterima tanpa perlawanan.

Bumi tidak lagi dipijak,

melainkan dinegosiasikan oleh langkah-langkah yang lupa tujuan.

oleh langkah-langkah yang lupa tujuan.

 

Segala yang dahulu bernama “ada”

kini menjelma arsip

dari sesuatu yang tak pernah sungguh hadir.

 

Manusia berjalan sebagai bayangan dari intensi yang pudar—

mereka berbicara,

namun kata-kata mereka seperti cermin buram

yang hanya memantulkan bentuk tanpa substansi.

Adakah suara yang masih jujur,

atau semua telah menjadi gema

dari kehendak yang ditunda?

 

Aku menyaksikan waktu kehilangan arah alirnya—

ia tidak lagi bergerak maju atau mundur,

melainkan berputar dalam lingkaran

yang terlalu halus untuk disadari.

Detik-detik menjadi abstraksi,

dan masa depan hanyalah metafora yang kehilangan tubuhnya.

 

Dalam dunia ini,

sunyi bukan ketiadaan bunyi,

melainkan keruntuhan relasi

antara makna dan penerimaannya.

Segala terasa penuh—

namun tidak ada yang benar-benar sampai.

Seperti surat yang ditulis dengan kesungguhan,

namun tidak pernah memiliki alamat.

 

Lalu aku bertanya,

dengan kesadaran yang hampir menyerah:

jika segala sesuatu masih berlangsung,

namun tidak lagi bermakna,

apakah eksistensi masih dapat disebut hidup,

atau hanya perpanjangan dari kehampaan yang terorganisir?

 

Barangkali dunia ini tidak pernah hampa—

barangkali kita yang kehilangan kemampuan untuk mengisi.

Sebab kehampaan bukan ruang kosong,

melainkan kegagalan manusia dalam memberi arti

pada apa yang tak pernah berhenti ada.

 

Maka aku berdiri di antara reruntuhan yang tak terlihat,

dan untuk pertama kalinya tidak mencoba memahami—

hanya mengakui bahwa dunia tetap berdenyut,

meski makna telah lama meninggalkan tubuhnya.

 

 

Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id. 

Related Posts

Alamat Retak
Sastra

Alamat Retak

Tentang Punggung
Sastra

Tentang Punggung

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide