Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

“We Don’t Need No (Higher) Education” – How The Gig Economy Challenges The Education-Income Paradigm

by Patricia Eunike Vanuela Simarmata
19 September 2024
in Kilas Riset, Penelitian, Umum

Introduction

Dalam beberapa dekade, teori ekonomi tenaga kerja dan sosiologi telah menggarisbawahi terkait pentingnya pendidikan formal sebagai jalur utama menuju kesuksesan karir dan peningkatan pendapatan. Konsep ini berakar pada keyakinan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin banyak keterampilan yang mereka kuasai, dengan demikian, semakin tinggi nilai mereka di pasar tenaga kerja. Prinsip ini didukung oleh teori-teori seperti human capital dan signaling, yang mengklaim bahwa pendidikan formal tidak hanya meningkatkan keterampilan yang dapat dipasarkan tetapi juga berfungsi sebagai sinyal kualitas kepada pemberi kerja.

Namun, dengan munculnya ekonomi gig yang memiliki makna di mana pekerjaan disalurkan melalui platform online seperti Fiverr, Upwork, dan TaskRabbit, hubungan antara pendidikan dan pendapatan mulai dipertanyakan. Ekonomi gig merujuk pada sistem kerja yang mengandalkan proyek atau tugas pendek yang sering kali diatur melalui platform digital. Dalam model ini, individu dapat mengakses pekerjaan tanpa memerlukan sertifikasi pendidikan formal. Mereka hanya perlu membuka akun di platform dan membangun reputasi melalui ulasan positif dari klien sebelumnya. Dalam konteks ini, pengalaman praktis dan ulasan dari pengguna menjadi indikator utama kemampuan dan kualitas kerja, menggantikan peran ijazah atau gelar akademis yang biasanya menjadi acuan dalam pasar tenaga kerja tradisional.

Penelitian ini mengevaluasi bagaimana pendidikan, pengalaman kerja, ulasan pengguna, dan tingkat pendapatan memengaruhi pekerja gig di 14 negara Barat, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, dan Prancis. Hasil dari penelitian ini telah menunjukkan bahwa meskipun pendidikan formal masih penting dalam pekerjaan tradisional, dalam ekonomi gig, pengalaman kerja langsung dan ulasan positif dari klien sering kali lebih menentukan kesuksesan dan pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa teori-teori lama seperti human capital dan signaling perlu diperbarui untuk mencerminkan perubahan dalam ekonomi gig yang lebih menekankan keterampilan praktis dan reputasi online daripada ijazah atau gelar akademis.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods yang terdiri dari analisis kuantitatif dan kualitatif untuk mengeksplorasi hubungan antara pendidikan formal dan pendapatan dalam ekonomi gig. 

Tahap Kuantitatif

Analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) diterapkan pada data 1.607 pekerja gig dari 14 negara Barat yang bekerja di platform online seperti pemrograman, desain, penerjemahan, dan penulisan. Variabel-variabel yang diukur meliputi tingkat pendidikan, pengalaman kerja, skor ulasan dari klien, dan jenis kelamin. Data dikumpulkan melalui scraping dari profil pekerja di platform. Variabel kontrol yang digunakan meliputi negara asal, industri tempat bekerja, dan lamanya waktu pekerja terdaftar di platform. Berikut merupakan variabel-variabel operasional yang digunakan dalam analisis kuantitatif.

Tahap Kualitatif

Wawancara mendalam dilakukan dengan delapan pekerja gig untuk menggali lebih jauh mekanisme kausal di balik hasil kuantitatif. Wawancara ini berfokus pada bagaimana pendidikan, pengalaman kerja, dan ulasan klien memengaruhi peluang mendapatkan pekerjaan dengan bayaran tinggi. Studi kasus komparatif digunakan untuk menemukan pola umum dari berbagai pengalaman pekerja gig. 

Hasil Penelitian

Hasil Kuantitatif

Berdasarkan hasil regresi Ordinary Least Squares (OLS), pendidikan formal tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan pekerja gig. Pekerja dengan gelar master atau PhD tidak mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan pekerja dengan gelar sarjana. Sebaliknya, pengalaman kerja dan ulasan dari klien lebih memengaruhi pendapatan. Setiap peningkatan 1% dalam pengalaman kerja meningkatkan pendapatan sebesar 0,165%, dan peningkatan 1% dalam skor ulasan berhubungan dengan peningkatan pendapatan sebesar 0,288%. Lebih lanjut, perbedaan pendapatan antara laki-laki dan perempuan juga ditemukan, di mana pekerja laki-laki cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi dibandingkan perempuan, dengan koefisien 0,088.

Analisis Korelasi

Hasil korelasi menunjukkan bahwa pekerja gig berkorelasi positif dengan variabel-variabel, seperti pengalaman (0,243), waktu di platform (0,077), dan jenis kelamin (0,147). Namun, pendidikan formal tidak berkorelasi signifikan dengan pendapatan sehingga hal ini mendukung temuan bahwa pendidikan formal tidak memengaruhi pendapatan di ekonomi gig.

Hasil Kualitatif

Hasil wawancara mengungkapkan bahwa sebagian besar pekerja gig memperoleh pembelajaran mandiri dan pengalaman langsung, bukan dari pendidikan formal. Mereka sering kali menawarkan jasa dengan harga lebih murah pada awal karir gig untuk mendapatkan ulasan positif yang nantinya memungkinkan mereka menaikkan tarif. Ulasan dari klien juga terbukti menjadi faktor utama dalam menentukan pendapatan.

Penemuan

Human Capital dan Peran Pendidikan dalam Ekonomi Gig

Teori human capital mengklaim bahwa pendidikan formal meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang berkontribusi pada produktivitas pekerja, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan mereka. Namun, dalam ekonomi gig, data menunjukkan bahwa pendidikan formal tidak memiliki dampak signifikan terhadap pendapatan. Hal ini bisa disebabkan oleh sifat ekonomi gig yang lebih mengutamakan keterampilan praktis dan hasil kerja nyata daripada kualifikasi akademis. Pekerja gig sering kali memperoleh keterampilan melalui metode informal seperti tutorial online, pelatihan mandiri, dan pengalaman praktis. Dalam konteks ini, nilai pendidikan formal berkurang karena keterampilan yang langsung dapat diaplikasikan lebih penting daripada ijazah pendidikan formal yang mungkin tidak relevan dengan kebutuhan spesifik pekerjaan gig.

Signaling dan Ulasan Pengguna sebagai Penentu Utama Pendapatan

Teori signaling menganggap pendidikan sebagai indikator kualitas yang memberi sinyal kepada pemberi kerja tentang kompetensi seseorang. Namun, dalam ekonomi gig, ulasan pengguna dari klien berfungsi sebagai sinyal kualitas yang lebih kuat dan lebih relevan daripada sertifikasi pendidikan formal. Sistem ulasan di platform gig menjadi alat utama untuk menilai kualitas pekerjaan dan kepercayaan klien terhadap pekerja. Pekerja dengan ulasan tinggi biasanya mendapatkan pekerjaan dengan bayaran lebih tinggi, karena ulasan positif menunjukkan kepuasan klien dan keandalan, yang lebih mudah diukur daripada pendidikan formal. Ini menggantikan peran pendidikan sebagai sinyal kualitas dalam konteks ekonomi gig.

Pengalaman Kerja Mengungguli Pendidikan 

Pengalaman kerja menunjukkan korelasi positif yang signifikan dengan pendapatan dalam ekonomi gig. Setiap peningkatan 1% dalam pengalaman kerja berhubungan dengan kenaikan pendapatan sebesar 0.165%. Ini mencerminkan pentingnya pengalaman langsung dan rekam jejak kerja yang terbukti dalam menentukan kesuksesan pendapatan pekerja gig. Pengalaman praktis yang diperoleh dari pekerjaan sebelumnya dan proyek yang telah diselesaikan lebih dihargai daripada pendidikan formal. Hal ini menunjukkan bahwa pemberi kerja dalam ekonomi gig lebih fokus pada hasil kerja dan bukti keterampilan daripada pada kualifikasi pendidikan yang mungkin sudah lama berlalu.

Kesimpulan

Pendidikan formal tidak lagi menjadi penentu utama pendapatan dalam ekonomi gig. Sebaliknya, pengalaman kerja serta ulasan dari klien memiliki pengaruh yang lebih signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan praktis yang diperoleh melalui pembelajaran mandiri dan pengalaman langsung lebih dihargai juga dalam ekonomi gig. Sistem pendidikan perlu beradaptasi untuk mempersiapkan tenaga kerja masa depan yang lebih fokus pada keterampilan praktis yang relevan dengan tren pasar kerja modern.

 

Reviewed From

Herrmann, A. M., Zaal, P. M., Chappin, M. M., Schemmann, B., & Lühmann, A. (2023). “We don’t need no (higher) education” – How the gig economy challenges the education-income paradigm. Technological Forecasting and Social Change, 186, 122136.

https://doi.org/10.1016/j.techfore.2022.122136

 

Editor: Kornelius Pardosi, Amira Nisa Adli

Ilustrasi oleh: Syifa Carla

 

Related Posts

Mentari di Dunia Kelam
Sastra

Mentari di Dunia Kelam

Riak yang Tidak Pernah Pulang
Sastra

Riak yang Tidak Pernah Pulang

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide