Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kajian

400 Hari Genosida Palestina, Dunia Telah Berbuat Apa?

by Rania Talitha Amaira
4 Februari 2025
in Kajian

Zionisme: Dari Desakan Agama hingga Politik


“You don’t have to be a Jew to be a Zionist,”
begitulah kutipan yang diucapkan oleh Joe Biden beberapa bulan lalu. Kutipan yang diucapkan oleh mantan Presiden Negeri Paman Sam ini memicu kemarahan para pendukung Palestina, seperti yang dilakukan oleh para sesepuh Yahudi di depan White House yang menyerukan bahwa genosida adalah kejahatan yang harus segera diberhentikan1Anderson, B. (n.d.). Jewish elders chain selves to White House for Gaza ceasefire. The New Arab. https://www.newarab.com/news/jewish-elders-chain-selves-white-house-gaza-ceasefire?amp.

Konon, zionisme lahir atas desakan agama untuk memberikan perlindungan kepada umat Yahudi. Semuanya bermula dari isi pikiran seorang umat Yahudi bernama Theodor Herzl. Herzl yang kala itu berprofesi sebagai jurnalis kerap merasakan fenomena antisemitisme. Antisemitisme sendiri merujuk pada sebuah paham yang dianut oleh sekelompok orang yang tidak suka pada segala sesuatu yang berkaitan dengan umat Yahudi. Ia menyebut di mana pun orang Yahudi berada, di situlah antisemitisme muncul. Dari situ, muncul niat dalam diri Herzl untuk segera mengakhiri permasalahan ini dengan mendirikan sebuah negara Yahudi. Tonggak awal Herzl dalam perealisasian tujuannya adalah dengan menerbitkan sebuah buku berjudul Der Judenstaat: Versuch einer modernen Lösung der Judenfrage atau Negara Yahudi: Proposal untuk Solusi Modern bagi Masalah Yahudi. (1896)2Historia, Media Sejarah Populer. (2021, May 21). Theodor Herzl, Orang di Balik Negeri Zionis. Historia – Majalah Sejarah Populer Pertama Di Indonesia. https://historia.id/politik/articles/theodor-herzl-orang-di-balik-negeri-zionis-PdbXZ/page/1.

Segala hal Herzl lakukan demi merealisasikan mimpi besarnya, mulai dari melobi Kerajaan Konstantinopel untuk pembagian tanah hingga melakukan Kongres Yahudi Pertama di 1897. Di akhir kongres, Herzl menyebut, “Jika saya mengatakan dengan lantang hari ini  (pendirian negara Yahudi), semua orang akan menertawakan saya. Mungkin dalam lima tahun, tetapi yang pasti dalam lima puluh tahun orang akan setuju.” Nahasnya, Herzl wafat pada 3 Juli 1904. Negara impiannya memang tidak berdiri lima tahun kemudian, tetapi prediksinya nyaris sempurna. Sekitar 56 tahun kemudian, pada 14 Mei 1948, Israel dideklarasikan sebagai negara Yahudi. 

Awalnya, zionisme memang didirikan atas desakan agama. Namun, seiring perkembangan waktu, zionisme banyak berubah dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan politik yang hadir dalam sisi internal mereka. Dalam pandangan Herzl, zionisme memiliki ambisi dalam mendirikan negara Yahudi yang liberal dan demokratis di mana non-Yahudi akan tetap memiliki hak yang setara dengan Yahudi. Ideologi ini lebih berfokus pada pembentukan tanah air Yahudi, tetapi dengan prinsip-prinsip yang tidak mengabaikan hak-hak orang Non-Yahudi di wilayah tersebut. Namun, anggota Zionis sekarang yang kebanyakan diwakili oleh nasionalis konservatif seperti Benjamin Netanyahu memiliki pandangan yang berbeda. Kaum zionis sekarang sangat menentang kemerdekaan Palestina yang mana sangat mempertahankan Israel sebagai negara eksklusif Yahudi. Eksklusivitas ini tercermin dalam kebijakan-kebijakan yang mendukung blokade, pengusiran, dan tindakan militer terhadap Palestina. Kemerdekaan Palestina adalah ancaman besar terhadap eksistensi negara Israel.

 

Propaganda  yang Hampir Mengubur Sejarah

Sekitar 490 hari yang lalu yaitu pada 7 Oktober 2023, konflik antara Palestina dan Israel kembali memecah. Hamas diketahui melepaskan tembakan sebanyak 5.000 roket untuk menyerang sejumlah kota di Israel. Di saat yang bersamaan, warga Israel sedang merayakan festival yang telah mereka laksanakan selama berhari-hari. Serangan yang dilontarkan Hamas memicu kemarahan Israel dan beberapa warga dari belahan dunia. Bagi yang tidak mengetahui, hal ini merupakan sebuah ancaman bahwa Hamas merupakan pemicu konflik. Namun, bagi yang mengetahui, hal ini merupakan bentuk respons atas kekejaman yang telah dirasakan rakyat Palestina selama berpuluh-puluh tahun lamanya sejak 1948. 

 

Kenyataannya, warga dari berbagai belahan dunia berhasil di-brainwashed oleh doktrin media Barat akan isu yang terjadi di Palestina. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa Israel merupakan korban dan jikalau Israel ingin membalas adalah hal yang sah-sah saja. Hal ini tentunya membuat Israel semakin leluasa dalam menyerang Palestina. Bahkan, Momen 7 Oktober dijadikan Israel sebagai propaganda untuk melakukan genosida kepada warga sipil Palestina dengan dalih sebagai bentuk self-defense mereka. Hingga sekarang, genosida yang dilakukan Israel dilaporkan telah memakan korban jiwa kurang lebih sebanyak 46.000 warga sipil Palestina3Reuters. (2025, January 11). Studi: Korban tewas Perang Gaza bisa tembus 40% lebih banyak. VOA Indonesia. https://www.voaindonesia.com/a/studi-korban-tewas-perang-gaza-bisa-tembus-40-lebih-banyak/7933189.html. Bayangkan, 46.000 nyawa itu bukanlah korban dari suatu bencana alam ataupun perang sipil, melainkan dibunuh dengan sengaja hanya karena identitas mereka sebagai warga sipil Palestina. Hati mana yang tidak terluka melihat para manusia tidak berdosa dibunuh hanya karena identitas mereka. Lambat laun, berbagai gerakan solidaritas dilakukan untuk menyuarakan Palestina. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter juga dijadikan media untuk mengedukasi khalayak ramai akan kebenaran sejarah di balik konflik Palestina-Israel. Sekarang, demonstrasi tidak hanya dilakukan oleh para warga negara muslim lagi. Warga Inggris, Prancis, China, AS, dan beberapa negara lainnya yang dahulu tidak pro terhadap Palestina sekarang telah aktif berpartisipasi dalam menyuarakan hak kemanusiaan untuk para masyarakat Palestina. 

 

Hamas: Lahir Karena Pengkhianatan, Bukan Balas Dendam

Sejak meletusnya kejadian di tanggal 7 Oktober 2023, istilah Hamas mulai membanjiri pencarian internet. Media-media Barat memberitakan bahwa Hamas merupakan kelompok teroris asal Palestina yang memiliki tujuan untuk membunuh masyarakat sipil Israel. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana. Perbedaan dapat dilihat dalam pelepasan sandera Hamas dan Israel. Pelepasan sandera Hamas berjalan dengan penuh sukacita: para sandera melambaikan tangan pada tentara Hamas dan wajah mereka tak menunjukkan ekspresi takut sama sekali.  Sementara itu, sejumlah kerusuhan terjadi di Tepi Barat ketika Israel melepaskan warga Palestina yang disandera. Di sini, kita dapat menyimpulkan siapa yang biadab dan siapa yang tidak 4Rosdalina, I. (2023, December 5). Perang Propaganda: Hamas vs Israel, Siapa Pemenangnya? Tempo. https://fokus.tempo.co/read/1805509/perang-propaganda-hamas-vs-israel-siapa-pemenangnya

Gambar 1. Potret Pelepasan Sandera Hamas (Sumber:  Tempo, 2024)

Harakah al-Muqawwamah al-Islamiyyah (Gerakan Perlawanan Islam) atau yang dikenal sebagai Hamas didirikan pada tahun 1987. Salah satu pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, dalam Piagam Hamas 1988 menyatakan bahwa tujuan Hamas adalah untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel dan mendeklarasikan bahwa Palestina adalah tanah Islam yang tidak boleh diserahkan kepada nonmuslim5Purwaramdhona, A. B., & Nurhadi. (2023, October 11). Berdiri sejak 1987, Apa Tujuan Perjuangan Hamas? Tempo. https://dunia.tempo.co/read/1782516/berdiri-sejak-1987-apa-tujuan-perjuangan-hamas. Hamas memang dilaporkan menembakkan serangan pada Israel pada 7 Oktober silam. Namun, hal tersebut tidak terjadi tanpa sebab. ‘Muaknya’ Hamas akan Israel yang terus-terusan mengambil alih wilayah Palestina dan indikasi perlakuan ethnic cleansing selama puluhan tahun menjadi salah dua alasan penyerangan Hamas. 

Semuanya berlanjut ketika Uni Emirat Arab (UEA) resmi menandatangani Abraham Accords pada 13 Agustus 2020. Israel dan UEA yang diperantarai AS menandatangani kesepakatan akan dijalinnya hubungan diplomatik kedua negara. Kesepakatan dicapai setelah Israel dan UEA setuju membangun hubungan diplomatik secara normal, termasuk bisnis, turisme, penerbangan langsung, kerja sama sains, dan, pada waktunya, hubungan diplomasi secara penuh pada tingkat duta besar6Kuncahyono, T. (2020, September 13). Abraham Accord dan Palestina. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/opini/2020/09/14/abraham-accord-dan-palestina. Abraham Accords dan diskusi panjang Arab Saudi dengan Israel dan AS yang mengarah ke normalisasi hubungan diplomatik negara-negara Arab dengan Israel seakan melupakan nasib kemerdekaan Palestina7Wardoyo, B. (2023, October 10). Memikirkan nasib Palestina. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/opini/2023/10/10/memikirkan-nasib-palestina. Hati mana yang tidak sakit ketika saudara sebangsa lebih memilih untuk berpihak pada musuh hanya karena kepentingan politik? Imbasnya, Otoritas Palestina bahkan menolak untuk menerima bantuan penanganan Covid-19 yang diberikan oleh UEA. Langkah normalisasi yang dijajaki oleh salah satu negara Arab ini dinilai sebagai pengkhianatan terhadap Palestina. 

 

Gambar 2. Potret Peresmian Hubungan Diplomatik UAE dan Israel (Sumber: Kompas.id)

Dari sinilah, beberapa teori bermunculan. Konon, serangan yang dilepaskan Hamas bertujuan untuk memberi peringatan pada dunia bahwa isu Palestina belum selesai, dan ini harus diselesaikan. 

 

Gencatan Senjata Tak Pernah Terjadi, HHI Terus Dilanggar

Perang merupakan suatu kondisi yang sangat merugikan umat manusia. Sebab pada akhirnya perang hanya akan menciptakan kehancuran dan kedukaan. Namun, pada pelaksanaannya, seiring perkembangan waktu, perang telah didesain untuk seminim mungkin tidak menciptakan kerugian di antara negara-negara yang terlibat. Oleh karena itu, dunia memiliki PBB serta regulasi-regulasi di dalamnya yang mengatur berbagai hal, terutama menyangkut dengan perdamaian dan hak makhluk hidup. Akan tetapi, selama 79 tahun PBB berdiri, selama itu juga mereka tidak memiliki kontribusi apa pun terhadap isu kemanusiaan di Palestina. Bahkan, untuk sekadar menyebut nama Palestina saja awalnya mereka ogah-ogahan dan Timur Tengah adalah istilah yang sering dipakai oleh mereka. Namun, atas desakan beberapa pihak, PBB mulai sedikit menunjukkan pergerakan. 

Berbagai kecaman internasional dilantunkan pada Israel, mulai dari desakan untuk gencatan senjata (cease fire) hingga konsep two-state solution. Namun, dalam perjalanannya, Dewan Keamanan PBB kerap mengalami kegagalan dalam merumuskan resolusi untuk keberlangsungan nasib Palestina. Terhitung sejak 7 Oktober 2023, AS telah tiga kali menggunakan hak veto terhadap resolusi yang menuntut gencatan senjata. Duta Besar (Dubes) AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield menyebut draf resolusi Dewan Keamanan tidak akan menghasilkan perdamaian jangka panjang, justru memperpanjang masa penyanderaan dan krisis kemanusiaan. Menurutnya, resolusi tersebut akan merusak proses perundingan gencatan senjata yang sedang diupayakan Israel dan Hamas saat ini8Setiawan, K. (2025, February 2). 3 Kali Veto, Amerika Kembali Gagalkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza Palestina. NU Online. https://nu.or.id/internasional/3-kali-veto-amerika-kembali-gagalkan-resolusi-gencatan-senjata-di-gaza-palestina-4MXRQ. Hal ini memicu kemarahan pihak Palestina. Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad H. Mansour mengecam kelambanan dewan dalam mengambil tindakan terhadap serangan terus-menerus Israel di Jalur Gaza, meskipun telah ada seruan internasional untuk gencatan senjata. Beliau juga menyebut bahwa veto merupakan tindakan yang berbahaya sebab hak tersebut seakan-akan melindungi Israel dan menormalisasi penderitaan jutaan orang Palestina yang tidak bersalah.

Israel tentunya semakin leluasa memperlakukan masyarakat Palestina dengan semena-mena karena hak veto milik AS. Maka dari itu, Israel juga tidak takut dalam melanggar Hukum Humaniter Internasional (HHI). Hukum Humaniter Internasional atau HHI ini juga dikenal dengan sebutan hukum perang. Menurut para ahli, hukum perang merupakan bagian paling tua dari hukum internasional. Artinya, HHI atau hukum perang adalah cabang atau bagian dari hukum internasional9Melzer, N. (n.d.). Hukum humaniter internasional. ICRC. https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2021/08/4231_IDN_IHL-Comprehensive_Rev-3.pdf. Dalam perjalanannya, terdapat beberapa pelanggaran HHI yang telah Israel lakukan kepada Palestina, di antaranya penyerangan terhadap warga sipil, serangan terhadap Rumah Sakit Al-Ahli di Jalur Gaza, dan blokade makanan yang menyebabkan kelaparan. Jika Israel saja tidak menghiraukan ‘hukum perang’ yang berlaku, apakah layak konflik ini disebut dengan Perang Palestina-Israel?

 

Ini Bukan Pasal Agama, Tetapi Kemanusiaan!

Palestina adalah satu-satunya negara peserta Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang hingga kini belum merdeka. Pendudukan Israel atas Palestina masih berlangsung dan berbagai pelanggaran terhadap warga Palestina masih dilakukan.  Sejak 1946, Israel terus menerus membombardir Palestina. Ribuan rakyat Palestina, mulai dari anak-anak hingga orang tua tidak berdosa tewas akibat kebiadaban zionis Israel. Selain membunuh rakyat sipil, Israel juga berusaha untuk mengusir rakyat Palestina dari tanahnya sendiri. Indikasi ethnic cleansing sudah jelas terpampang dari apa yang dilakukan zionis, tetapi doktrin islamofobia dan perang agama sudah melekat di mata masyarakat global sehingga hati mereka tertutup selama beberapa dekade lamanya. 

Presiden Turki, Erdogan, pada tahun 2017 menyebutkan, “Anda tidak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina, cukup menjadi manusia.” Kutipan lama ini perlahan mulai direalisasikan sekarang. Perlahan-lahan suara dari masyarakat internasional mulai menguat. Banyak organisasi hak asasi manusia dan lembaga internasional yang menyerukan perhatian terhadap penderitaan rakyat Palestina. Aksi-aksi solidaritas mulai dilakukan di AS dan beberapa negara Eropa. Mahasiswa internasional juga menyuarakan kebebasan untuk Palestina, seperti sivitas akademika Harvard University, Columbia University, University of California, dan  masih banyak lagi. Dikutip dari Reuters, pendemo pro-Palestina menginterupsi acara wisuda University of Michigan pada akhir pekan lalu. Puluhan mahasiswa yang memakai pakaian toga tiba-tiba mengibarkan bendera Palestina di tengah-tengah acara wisuda. Sebagian besar demonstran yang berlangsung di seluruh negeri ini menyerukan agar kampus-kampus mereka memutus kerja sama dengan seluruh entitas yang berhubungan atau mendukung agresi brutal Israel ke Jalur Gaza Palestina sejak 7 Oktober 2023 lalu10Rds. (2024, May 7). Kenapa Demo Pro-Palestina di Kampus AS Menjalar ke Sejumlah Negara? Internasional. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240506182703-134-1094655/kenapa-demo-pro-palestina-di-kampus-as-menjalar-ke-sejumlah-negara.

Indonesia diwakili oleh Menlu Retno Marsudi dengan lantang membela Palestina dan mendesak agar kemerdekaan Palestina segera dideklarasikan. Terbaru, pada Sidang Majelis Umum PBB ke-79 pada 28 September 2024 lalu, Retno Marsudi mewakili Indonesia  mendorong negara-negara anggota PBB untuk mengakui negara Palestina sebagai investasi untuk dunia yang lebih damai dan adil. Indonesia telah aktif dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina sedari dulu. Bagaimana bisa kita menghiraukan nasib kemanusiaan di Palestina sementara Palestina menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan kita kala itu? Apakah ketidakpedulian menjadi opsi yang tepat?

 

Aksi Kita sebagai Sesama Manusia

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan mendesak Israel untuk mundur. Namun, jika membandingkan aksi solidaritas yang dilakukan oleh masyarakat internasional dengan aksi yang masyarakat Indonesia lakukan, kesadaran masyarakat kita terbilang masih cukup minim. Merujuk pada kalimat di awal, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memperjuangkan hak kemanusiaan Palestina. Namun, di sini kita hanya akan berfokus pada hal yang paling sederhana, yaitu aksi boikot terhadap output yang berafiliasi dengan Israel. Beberapa brand produk ternama dikabarkan menyumbangkan pendapatannya kepada Israel untuk melakukan penyerangan ke Palestina. Dalam pelaksanaannya, kita bisa merujuk pada gerakan bernama boycott, divestment, and sanction (BDS) dalam memilah-milah produk yang akan kita beli.

Sebenarnya, apa dampak yang akan diciptakan jika kita melakukan aksi boikot? Pertanyaan ini kerap muncul di benak masyarakat luas. Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Yusuf Wibisono, menjelaskan bahwa logika dari gerakan boikot bertujuan memberikan tekanan secara ekonomi agar negara yang diboikot dapat mengubah putusan atau tindakan yang dinilai konsensus tidak adil dan tidak benar11Nugraha, D. W. (2023, November 15). Boikot Produk Israel: Antara Solidaritas Kemanusiaan dan Dampak Ekonomi Lokal. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2023/11/15/boikot-produk-israel-antara-solidaritas-kemanusiaan-dan-dampak-ekonomi-lokal. Pemerintah Indonesia, dalam menjawab aksi boikot, juga mengambil langkah strategis dengan mendorong konsumen untuk beralih ke produk lokal. Menurut Koko Haryono, Sekretaris Deputi Bidang UKM Kemenkop, aksi boikot ini dapat memberi peluang pada UMKM dalam mengisi kekosongan produk terafiliasi yang dibutuhkan masyarakat12<Noor, A. F. (2023, November 29). Kemenkop: UMKM Bisa Ambil Peluang dari Momentum Boikot Produk Pro Israel. Republika Online. https://ekonomi.republika.co.id/berita/s4vtb0490/kemenkop-umkm-bisa-ambil-peluang-dari-momentum-boikot-produk-pro-israel.

Dari sekian banyak opsi yang ada dalam pembelaan Palestina, aksi boikot merupakan opsi yang paling mungkin kita lakukan sebagai masyarakat Indonesia. Dengan berpartisipasi dalam kegiatan boikot produk BDS, setidaknya kita tidak menyumbangkan uang kita untuk pembunuhan manusia tidak bersalah di Palestina sana. Beberapa dari kita mungkin beralasan bahwa setiap orang memiliki pilihan masing-masing dalam menentukan keputusan untuk memboikot atau tidak. Namun, sepanjang diri ini masih memiliki hati nurani, seharusnya dorongan untuk memboikot produk terafiliasi dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita semua sesungguhnya pasti masih memiliki hati nurani yang berfungsi dengan baik. From river to the sea, Palestine will be free! 

 

 

 

 

Referensi[+]

Referensi
↵1 Anderson, B. (n.d.). Jewish elders chain selves to White House for Gaza ceasefire. The New Arab. https://www.newarab.com/news/jewish-elders-chain-selves-white-house-gaza-ceasefire?amp
↵2 Historia, Media Sejarah Populer. (2021, May 21). Theodor Herzl, Orang di Balik Negeri Zionis. Historia – Majalah Sejarah Populer Pertama Di Indonesia. https://historia.id/politik/articles/theodor-herzl-orang-di-balik-negeri-zionis-PdbXZ/page/1.
↵3 Reuters. (2025, January 11). Studi: Korban tewas Perang Gaza bisa tembus 40% lebih banyak. VOA Indonesia. https://www.voaindonesia.com/a/studi-korban-tewas-perang-gaza-bisa-tembus-40-lebih-banyak/7933189.html
↵4 Rosdalina, I. (2023, December 5). Perang Propaganda: Hamas vs Israel, Siapa Pemenangnya? Tempo. https://fokus.tempo.co/read/1805509/perang-propaganda-hamas-vs-israel-siapa-pemenangnya
↵5 Purwaramdhona, A. B., & Nurhadi. (2023, October 11). Berdiri sejak 1987, Apa Tujuan Perjuangan Hamas? Tempo. https://dunia.tempo.co/read/1782516/berdiri-sejak-1987-apa-tujuan-perjuangan-hamas
↵6 Kuncahyono, T. (2020, September 13). Abraham Accord dan Palestina. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/opini/2020/09/14/abraham-accord-dan-palestina
↵7 Wardoyo, B. (2023, October 10). Memikirkan nasib Palestina. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/opini/2023/10/10/memikirkan-nasib-palestina
↵8 Setiawan, K. (2025, February 2). 3 Kali Veto, Amerika Kembali Gagalkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza Palestina. NU Online. https://nu.or.id/internasional/3-kali-veto-amerika-kembali-gagalkan-resolusi-gencatan-senjata-di-gaza-palestina-4MXRQ
↵9 Melzer, N. (n.d.). Hukum humaniter internasional. ICRC. https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2021/08/4231_IDN_IHL-Comprehensive_Rev-3.pdf
↵10 Rds. (2024, May 7). Kenapa Demo Pro-Palestina di Kampus AS Menjalar ke Sejumlah Negara? Internasional. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240506182703-134-1094655/kenapa-demo-pro-palestina-di-kampus-as-menjalar-ke-sejumlah-negara
↵11 Nugraha, D. W. (2023, November 15). Boikot Produk Israel: Antara Solidaritas Kemanusiaan dan Dampak Ekonomi Lokal. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2023/11/15/boikot-produk-israel-antara-solidaritas-kemanusiaan-dan-dampak-ekonomi-lokal
↵12 <Noor, A. F. (2023, November 29). Kemenkop: UMKM Bisa Ambil Peluang dari Momentum Boikot Produk Pro Israel. Republika Online. https://ekonomi.republika.co.id/berita/s4vtb0490/kemenkop-umkm-bisa-ambil-peluang-dari-momentum-boikot-produk-pro-israel

Related Posts

INTERUPSI! BOARD OF PEACE (OF SH*T)
Mild Report

INTERUPSI! BOARD OF PEACE (OF SH*T)

Gencarnya Pro Palestina: Bersikap Netral Ancam Keuntungan Perusahaan
Mild Report

Gencarnya Pro Palestina: Bersikap Netral Ancam Keuntungan Perusahaan

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide