Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Sastra

When Life Gives You Tangerines: Tentang Cinta yang Bertahan dan Mimpi yang Terkubur

by Angeline Novita Anggriyani
2 Mei 2025
in Sastra

“If things go wrong, back down. Just run straight to me, okay?” – Yang Gwan-sik

Berlatar era 1950-an dan 1970-an, When Life Gives You Tangerines mengikuti perjalanan hidup Oh Ae-sun dan Yang Gwan-sik—dua sejoli dari Pulau Jeju, Korea Selatan—mulai dari masa muda hingga tua.

Ae-sun, si “Gadis Sastra” yang dikenal sebagai gadis keras kepala, pemberani, rebel, namun tegar dan cerdas. Sifat Ae-sun yang keras kepala dan pemberani tersebut ia dapatkan dari ibunya, Jeon Gwang-rye, sosok wanita tegas namun penyayang. Meski hidup dalam kondisi finansial yang tidak stabil, ibunya selalu mendorong Ae-sun untuk meraih mimpinya menjadi seorang penyair dan berpendidikan tinggi.

Di sisi lain, Gwan-sik—yang dijuluki sebagai “Hati Baja”—adalah laki-laki yang pendiam, pekerja keras, dan penuh kasih. Sejak kecil, ia selalu berada di sisi Ae-sun dalam suka maupun duka.

Keduanya saling melindungi dan mencintai dengan cara mereka masing-masing. Ae-sun yang tidak segan membela dan melindungi Gwan-sik setiap ia di-bully dan Gwan-sik yang tak pernah lelah menjaga dan menemani Ae-sun dalam segala kondisi. Namun, seperti kehidupan yang sesungguhnya, hubungan mereka tidak terlepas dari tantangan dan kepedihan.

Cerita ini tidak hanya berfokus pada kisah cinta Ae-sun dan Gwan-sik, tetapi juga hubungan mereka dengan ketiga anaknya, yaitu Geum-myeong, Eun-myeong, dan Dong-myeong. Dari cara mereka mendidik dan melindungi anak-anaknya hingga cara anak-anak mereka menghadapi dunia saat dewasa, semuanya disuguhkan dengan mendalam dalam serial ini.

Mengusung tema kekeluargaan yang kuat, When Life Gives You Tangerines menjadi sebuah karya yang life changing yang mampu mengubah perspektif setiap penonton dalam melihat dunia, dimulai dari pandangan terhadap pasangan, orang tua, anak, hingga diri sendiri.

Eksekusi cerita yang merentang dari tiga generasi—Gwang-rye dan Ae-sun, Ae-sun dan Gwan-sik, serta anak-anak mereka—memberikan nilai lebih pada serial ini. Ini bukan sekadar drama romansa, melainkan potret kehidupan dengan manis dan pahit yang datang silih berganti.

Kebudayaan Jeju yang ditampilkan secara autentik dengan sinematografi yang indah pun membuat serial ini terasa lebih hidup. Salah satunya adalah kehidupan haenyeo—penyelam wanita yang bekerja mencari hasil laut tanpa alat bantu—yang terkenal di Jeju turut ditonjolkan dalam drama ini.

 

Orang Tua: Anak Remaja yang Penuh dengan Mimpi

“I swallowed their dreams and spread my wings, embracing my mom’s dream like a seed in my heart.” – Yang Geum-myeong

Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah, sebagaimana yang dialami Ae-sun dan Gwan-sik muda. Ae-sun diperhadapkan pada dua pilihan besar: menikah dengan lelaki kaya dari Seoul sebagai istri kedua atau membangun hidup bersama Gwan-sik, sahabatnya, dengan penuh keterbatasan. Kehidupan dan cita-citanya yang terjamin di Seoul atau mimpinya yang dikorbankan di Jeju. Akan tetapi, Ae-sun memilih cinta, meski itu berarti ia harus mengorbankan mimpinya untuk menjadi seorang penyair demi menjadi ibu rumah tangga.

Di sisi lain, Gwan-sik pun tak kalah berkorban. Di usia yang masih belia, ia harus memikul tanggung jawab yang besar sebagai seorang kepala keluarga. Ia harus memendam cita-citanya untuk menjadi atlet dan mendedikasikan seluruh hidupnya dengan bekerja keras tanpa hari libur demi menghidupi keluarga.

Ae-sun dan Gwan-sik selalu hadir sebagai dua sosok yang kuat dan teguh di hadapan ketiga anak mereka. Namun di balik setiap senyuman, tersembunyi mimpi-mimpi yang tenggelam demi sesuap nasi kacang polong.

 

Berpegangan Tangan, Melawan Patriarki

“We may have hungry days, but you’ll never break my heart.” – Oh Ae-sun

Salah satu isu sosial yang disoroti dalam serial ini adalah budaya patriarki yang memandang posisi laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Ketika Ae-sun dan Gwan-sik melarikan diri ke Busan, pandangan publik memperlakukan mereka berbeda. Perempuan yang melarikan diri dianggap sebagai perbuatan yang memalukan dan tidak bermoral sementara laki-laki yang berbuat sama dipandang sebagai sosok yang jantan dan gagah.

Tidak berhenti di sana, peluang perempuan sangat terbatas, entah menjadi haenyeo atau ibu rumah tangga. Nenek Gwan-sik bahkan berharap Geum-myeong kelak menjadi haenyeo, karena baginya perempuan tidak mungkin menjadi presiden, hakim, ataupun pengacara. Tentu Ae-sun menolak pemikiran ini. Sebagai seorang ibu, ia ingin Geum-myeong bermimpi tinggi dan menjalani kehidupan yang lebih baik dari dirinya.

Dalam hal ini, Ae-sun tidak sendirian. Gwan-sik sebagai pasangannya selalu berdiri di sisinya, membela segala keputusan dan martabat istrinya, bahkan ia berani membela Ae-sun di hadapan keluarganya sendiri. Gwan-sik terang-terangan menunjukkan ketidaksetujuannya atas hukuman pengeluaran Ae-sun dari sekolah, serta memutuskan untuk pindah dari rumah keluarganya untuk melindungi Ae-sun dan Geum-myeong dari neneknya. Baginya, prioritas utamanya selalu istrinya.

 

Realitas Kehidupan Keluarga yang Penuh Suka Duka

“I had a loving dad. But my dad didn’t have a loving daughter.” – Yang Geum-myeong

Kisah ini tidak memoles kehidupan agar terlihat indah, justru dengan berani menyajikan realita kehidupan. Hubungan yang tidak sempurna, perekonomian keluarga yang tidak stabil, orang tua yang tidak selalu tahu harus bagaimana, dan anak-anak yang bergumul dengan luka batin.

Geum-myeong, anak sulung perempuan yang selalu merasa terbebani dengan segala ekspektasi dari orang tuanya. Eun-myeong, anak tengah laki-laki yang pemberontak dan sering mencari masalah, tetapi ia merasa tidak pernah menjadi nomor satu di hati orang tuanya.

Ae-sun dan Gwan-sik hadir sebagai role model bagi anak-anaknya. Geum-myeong yang memiliki prinsip hidup yang kuat dan menetapkan standar tinggi, yaitu sosok ayahnya, yang selalu ia tanamkan hingga pemilihan pasangan hidup. Begitu pula dengan Eun-myeong, si anak kedua yang ingin tampil kuat layaknya sang Ayah, mencoba untuk memberikan lebih dari yang ia bisa.

Keduanya mencintai orang tuanya dalam diam, namun tidak selalu mampu menunjukkannya. Dalam keinginan mereka untuk terlihat kuat dan tegar di hadapan orang tua, terkadang tanpa disengaja, terucap kata-kata yang melukai.

Di tengah kondisi finansial mereka, Ae-sun dan Gwan-sik terus berjuang. Mereka memberikan segalanya, bahkan ketika mereka harus mengorbankan kebahagiaan pribadi. Akan tetapi, rasa bersalah pun tumbuh dalam diri anak-anak mereka, menyadari betapa besar harga yang dibayar orang tua demi mereka.

“I was mad at my mom for being poor. I knew she was poor because of me.” – Yang Geum-myeong

 

Untuk Mereka yang Telah Bekerja Keras

“Don’t ever bring up ‘rich dad’. I wouldn’t trade you for the richest man in the world.” – Yang Geum-myeong

Dari Ae-sun, kita belajar tentang mimpi, pengorbanan, dan cinta seorang ibu. Dari Gwan-sik, kita belajar apa arti ketulusan, kesetiaan, dan pengabdian sebagai suami dan ayah. Dari Geum-myeong, kita belajar apa makna prinsip hidup, pendirian, dan keteguhan. Terakhir, dari Eun-myeong, kita belajar tentang pencarian jati diri dan keinginan untuk membanggakan orang tua.

When Life Gives You Tangerines adalah surat cinta untuk setiap orang tua dan anak-anak. Untuk para Ae-sun dan Gwan-sik di luar sana yang mencintai anak-anaknya tanpa pamrih, dan untuk para Geum-myeong dan Eun-myeong yang ingin menjadi kebanggaan orang tuanya. Seperti arti judulnya dalam bahasa Korea—Pokssak Sogatsuda—kalian telah bekerja keras.

Related Posts

You Are What You Read: How Literary Fiction Rewires the Human Mind
Kilas Riset

You Are What You Read: How Literary Fiction Rewires the Human Mind

Nyatanya Aku Sendiri
Sastra

Nyatanya Aku Sendiri

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide