“Kecurangan bukan hanya terjadi di UI, namun karena kita adalah universitas yang besar dan biasanya perhatian publik tertuju pada universitas yang dianggap bereputasi baik,” ujar Amelita.
Sejumlah isu terkait beberapa kecurangan yang terjadi pada SIMAK UI 2024 sempat menggemparkan media sosial beberapa waktu lalu. Dugaan kecurangan yang melibatkan praktik perjokian hingga penggunaan artificial intelligence (AI) ramai diperbincangkan warganet. Oleh karena itu, Economica bermaksud mencari keterangan lebih lanjut melalui Dra. Amelita Lusia, M. Si (Amelita) selalu Kepala Biro Humas dan KIP UI serta Dr. Gunawan, S. T., M. T. (Gunawan) selalu Kepala Kantor Penerimaan Mahasiswa Baru UI pada Senin (5/8).
Mengapa SIMAK 2024 Masih Dilaksanakan Secara Daring?
Pada wawancara yang dilakukan Economica tahun 2023 lalu (15/7), Gunawan mengatakan bahwa SIMAK 2024 direncanakan untuk dilaksanakan secara offline, namun kenyataannya hal ini masih belum bisa dilaksanakan. Keputusan ini diambil karena adanya pertimbangan UI terhadap aksesibilitas bagi peserta yang bertempat jauh di luar Pulau Jawa supaya terakomodir.
Meskipun begitu, UI tetap berencana mengadakan ujian tatap muka bagi SIMAK UI program pascasarjana sebagai uji coba model baru yang memadukan kemudahan akses dan pengawasan ketat. “Kalau jadi kita akan lakukan uji coba untuk pascasarjana di Oktober,” kata Amelita. Gunawan menambahkan, “Kalau misalkan uji cobanya berhasil dan lancar bisa saja diimplementasikan untuk SIMAK biasa (S1) yang offline (untuk tahun depan).”
Pembobotan 50:50
Penentuan kelulusan SIMAK UI dengan menggunakan perbandingan 50% nilai UTBK dan 50% nilai ujian SIMAK juga sempat dikeluhkan oleh peserta. UI menerangkan bahwa skema ini dibuat karena mempertimbangkan potensi kecurangan yang besar saat ujian SIMAK UI yang dilaksanakan secara daring. Maka, nilai ujian SIMAK tidak digunakan murni. UTBK yang dilaksanakan on site dan diawasi langsung oleh panitia diasumsikan lebih kecil kemungkinan pelanggarannya sehingga nilainya tetap diambil untuk menjadi perhitungan.
“Sebenarnya (pembobotan) kombinasi ini menjadi hak dari masing-masing PTN,” kata Gunawan. PTN hanya mengikuti peraturan dari Kemendikbudristek dan bebas menentukan bobot penilaiannya masing-masing.
Penerimaan Laporan Indikasi Kecurangan
Pihak UI sudah menyiapkan layanan pengaduan kecurangan lewat berbagai kanal resmi. Misalnya lewat contact center SIPP (Sentra Informasi Pelayanan Publik) UI, “Kita punya Whatsapp yang bisa disampaikan apa yang menjadi keluhannya,” jelas Amelita. Email resmi PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) UI juga menjadi media untuk masyarakat maupun pendaftar yang ingin memberikan pertanyaan ataupun pengaduan.
Amelita mengimbau masyarakat untuk melapor secara resmi sehingga lebih efektif dan dapat ditangani. “Kalau misalkan melakukan kecurangan dan sebagainya dan terbukti, itu memang bisa dibatalkan kelulusannya atau minimal dia tidak akan menjadi mahasiswa UI,” terang Gunawan.
“Laporan yang tidak disertai bukti konkret tidak akan diterima, sedangkan laporan dengan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan bisa dievaluasi,” ujar Amelita untuk menghindari tuduhan yang belum tentu benar. Setiap laporan kecurangan yang diterima UI akan diproses melalui verifikasi dan investigasi ketat sebelum diambil tindakan lebih lanjut.
Langkah-langkah Demi Minimalisir Kecurangan
Sebagai langkah preventif terhadap tindakan tidak jujur peserta, UI menerapkan sistem proctoring dengan penggunaan kamera selama ujian berlangsung. Selain itu, panitia ujian SIMAK memastikan peserta benar-benar mengikuti ujian tanpa bantuan pihak ketiga dengan menerapkan larangan memegang buku atau meninggalkan tempat ujian.”(Pelanggaran) itu akan ter-capture semua oleh kamera tadi,” jelas Gunawan.
Wajah peserta juga dicocokkan dengan identitas yang terdaftar untuk mencegah peserta digantikan orang lain. Waktu pengerjaan yang singkat dan ditunjukkan dengan timer juga diharapkan dapat membuat peserta fokus dan menghindari perbuatan tidak jujur selama tes.
Tak hanya itu, UI terus memperbarui sistem teknologi dan informasinya bersama DSTI (Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi) UI dengan mengembangkan mekanisme untuk mendeteksi kecurangan yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau joki ujian. “Kalau sambil ujian lalu sambil membuka (laman) yang lain pasti akan ter-detect,” ujar Amelita.
Ia menambahkan, “Kami selalu berusaha lebih maju dari perkembangan teknologi untuk melindungi integritas ujian kami.”
Harapan Untuk SIMAK ke Depannya
Gunawan berharap agar ujian SIMAK pascasarjana berjalan dengan baik dan segera bisa diterapkan untuk SIMAK sarjana dan vokasi di tahun depan. Sementara itu, Amelita ingin agar publik dapat melaporkan segala bentuk kecurangan langsung ke Humas UI, “Ada call center, hotline, dan Whatsapp di website Humas UI dan juga email ke PMB atau datang langsung dengan aduan ke sini.” Pelapor juga diharapkan untuk memastikan dugaan tersebut benar adanya untuk kemudian dilakukan banyak pertimbangan dan penelusuran lebih jauh oleh UI.
Editor: Titania Nikita, Anindya Vania, Khansa, Fauziah Nurzijah

