Pemilihan Raya (PEMIRA) FEB UI merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan suara yang mereka miliki, dengan memilih pemimpin-pemimpin organisasi mahasiswa, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan himpunan jurusan seperti KANOPI, MSS, SPA, dan IBEC.
Pada Selasa (10/9) lalu, lewat unggahan di akun Instagram-nya, Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FEB UI melakukan survei mengenai kesadaran IKM FEB UI terhadap PEMIRA. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya dalam PEMIRA masih rendah.
Oleh karena itu, Economica melakukan wawancara pada Rabu (20/11) dengan Dylan Edward Williams (Dylan), selaku Project Officer PEMIRA FEB UI 2024 untuk mencari informasi yang mendasari rendahnya partisipasi mahasiswa dalam PEMIRA FEB UI serta apa yang akan dilakukan oleh panitia untuk mengurangi hal tersebut pada PEMIRA periode ini.
Kurang Tersebarnya Informasi dan Kesadaran Menjadi Alasan Utama
Salah satu alasan utama mengapa banyak mahasiswa tidak menggunakan hak pilih mereka pada PEMIRA yang lalu adalah karena kurang tersebarnya informasi mengenai kegiatan ini. Masalah ini dapat diatribusikan kepada kurangnya engagement dan kesadaran mahasiswa akan pentingnya PEMIRA.
“Sebenarnya gua gak tahu ada PEMIRA. Dari marketing-nya kurang banget, karena cuman dari grup angkatan (saja) taunya kalau (sedang) ada voting,” tutur seorang mahasiswa FEB UI dengan inisial samaran X. Mahasiswa X juga merasa bahwa marketing PEMIRA terutama pada sosial media masih perlu ditingkatkan.
“Sebenarnya pemilihan (raya) itu penting buat terlaksananya program dan tujuan sesuai kepentingan, tapi gua merasa waktu pemilihan (raya) gak ada pembeda antara calon yang spesifik dan kontras. Seakan-akan kedua calon tersebut sama dan jika memilih gak ada bedanya,” tutur seorang mahasiswa FEB UI lainnya dengan inisial samaran Y yang memberikan sudut pandang lain mengenai alasan kurangnya partisipasi mahasiswa dalam PEMIRA.
Berkaca dari Tahun Lalu
Menurut Dylan, marketing PEMIRA tahun lalu dirasa kurang maksimal karena penyebaran informasinya hanya dari mulut ke mulut atau hanya melalui postingan Instagram. “Paling juga poster atau spanduk kalau lagi ada acara,” imbuhnya. Ia juga merasa bahwa lokasi poster-poster tersebut tidak berada di tempat yang sering dikunjungi mahasiswa. “Kemarin cuman nempel di mading doang, sedangkan anak FE basecamp-nya di KaFE,” terang Dylan
Selain itu, Dylan merasa bahwa sesi eksplorasi publik yang bertujuan untuk meningkat kesadaran mahasiswa tentang rencana kandidat juga masih kurang efektif, ia mengatakan, “Sesi panelis yang bersifat publik dilaksanakan di selasar, tetapi orang menganggap itu (hanya) tempat lewat doang.” Menurut Dylan, alasan lain rendahnya partisipasi mahasiswa FEB UI dalam PEMIRA adalah karena mereka menganggap kegiatan ini belum relevan dengan kebutuhan mereka, bahkan masih banyak pula yang belum mengetahui apa sebenarnya PEMIRA itu.
Inovasi Sebagai Solusi
Meski begitu, Dylan tidak menganggapnya sebagai tantangan, melainkan sebuah peluang. “Ini jadi motivasi gua dan PI-PI lainnya untuk mastiin kalau PEMIRA tahun ini inklusif, transparan, dan relevan untuk anak-anak FE lainnya.” Dylan juga menyampaikan bahwa ada beberapa inovasi yang ingin dijalankannya supaya PEMIRA lebih menjadi momen penting yang disoroti oleh IKM FEB UI.
Inovasi pertama adalah sesi eksplorasi publik di KaFE untuk meningkatkan engagement dan kesadaran mahasiswa FEB UI. “KaFE itu strategis, ramai, dan banyak mahasiswa nih yang (dapat) mendengar gagasan dan visi misi dari para kandidat yang akan naik di BEM dan BPM,” jawab Dylan
Inovasi kedua adalah voting online melalui platform EMAS yang sering digunakan oleh mahasiswa sehari-hari dalam perkuliahan. Namun, Dylan menjelaskan bahwa mekanisme ini memiliki kekurangan, “Minusnya itu, PEMIRA ada unsur kerahasiaan, sedangkan kalau kita pakai EMAS pasti panitia bisa lihat dong siapa milih siapa dan mungkin anggapan orang bakal ada manipulasi.” Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Panitia PEMIRA 2024 akan menandatangani pakta integritas untuk menjamin proses yang jujur.
Inovasi ketiga adalah dengan mengadakan sesi panelis secara online. “Gua bikin online supaya fleksibel dan mudah diakses oleh seluruh mahasiswa FEB UI,” jelas Dylan. Terakhir dari PEMIRA tahun ini adalah perluasan jangkauan media sosial dengan pembuatan akun X PEMIRA. Ini karena popularitas platform tersebut di kalangan mahasiswa FEB UI. Dengan inovasi-inovasi tersebut, panitia PEMIRA berharap bisa mengatasi masalah rendahnya partisipasi mahasiswa FEB UI dalam Pemira tahun 2024 ini.
Editor: Marshellin Fatricia, Titania Nikita


Discussion about this post