Video pendek, sebuah konten singkat yang diam-diam melahap waktu berjam-jam. Sejak beberapa tahun terakhir, ia hadir hampir di semua platform media sosial dan menjadi tontonan populer di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dibuat dengan algoritma canggih yang memanjakan mata sekaligus melemahkan kontrol diri, ia menjelma menjadi candu digital yang tak pandang usia.
Fenomena ini tentu tidak muncul di ruang hampa. Ia tumbuh subur di tengah pesatnya penetrasi gawai di masyarakat. Buktinya, pada tahun 2025, lebih dari 80% penduduk Indonesia merupakan pengguna gawai. Dari jumlah itu, 143 juta di antaranya bahkan aktif di media sosial (Kemp, 2025). Sayangnya, perkembangan ini tak pilih kasih. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan bahwa di Indonesia, sepertiga balita sudah menggunakan ponsel dan lebih dari separuh anak usia prasekolah tercatat mengakses internet. Bahkan, di wilayah tertinggal, remaja usia 13–14 tahun sudah kecanduan media sosial (Komdigi, 2025). Pola konsumsi media digital yang tidak sehat ini semakin diperparah oleh adanya efek adiktif dari konten video pendek. Dengan data tersebut, terlihat bahwa sejak usia dini, anak sudah terbiasa dengan excessive one-way interaction melalui layar gawai, bukan interaksi dua arah yang sehat (Madigan et al., 2020).
Di sisi lain, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat, pada tahun 2023 prevalensi speech delay atau keterlambatan bicara pada anak usia prasekolah di Indonesia mencapai 5–8% (Rosary, 2024). Artinya, sekitar 5–8 dari setiap 100 anak prasekolah mengalami gangguan perkembangan bahasa. Temuan ini menimbulkan garis merah yang menarik: apakah faktor terbesar penyebab speech delay justru berasal dari pola konsumsi media digital anak sejak dini? Jika bagi orang dewasa saja, kebiasaan ini mampu merusak fokus dan produktivitas mereka, lantas bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana dengan mereka yang bahkan berbicara saja belum bisa?
Short-Form Video Addiction: Algoritma yang Menjerat
Platform video pendek sudah mewarnai jagat sosial media sedari lama. Kala itu, video pendek menjadi sarana hiburan singkat, padat, dan menghibur. Vines adalah pelopor dari platform video pendek. Dengan durasi maksimal enam detik per konten, ia mampu merajai dunia maya. Sejak saat itu, pengguna media sosial menumbuhkan selera yang nyata untuk video berdurasi pendek. Saat ini Tiktok sebagai platform leader di sektor video pendek memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif per awal tahun 2025 (Search Logistic, 2025). Konten video pendek kini menjadi pilar utama ekosistem media sosial, dengan jangkauan miliaran penonton dan tingkat berbagi yang tinggi.
Setelah mengetahui when dan how terkait platform video pendek, maka apa sebenarnya video pendek itu? Video pendek merupakan video dengan rata-rata durasi sekitar 15 sampai dengan 60 detik (JBS, 2023). Menurut Vidyard, 58% penonton akan menonton seluruh video pemasaran jika durasinya kurang dari 60 detik (Shore Valerie, 2025). Selain itu, survei TechJury menunjukkan 85% pemasar menilai video pendek sebagai format paling efektif (StoryBlocks, 2025). Di samping menjadi juara secara komersial, platform video pendek memang didesain untuk membuat penggunanya kecanduan. Desain algoritma yang dipersonalisasi, aksesibilitas tinggi, dan mode interaksi yang ringkas adalah sekian faktor penyebab adiksi pemakaian platform video pendek.
Studi terbaru menunjukkan bahwa video pendek yang disesuaikan mengaktifkan bagian otak yang memproses gambar dan suara, namun mengurangi keterlibatan bagian otak yang mengatur perhatian dan kontrol diri. Akibatnya, perhatian pengguna tertuju pada rangsangan sensorik dan kontrol atas dorongan menurun sehingga kebiasaan menonton berulang dapat semakin kuat dan berpotensi berkembang menjadi kecanduan. (Gao et al., 2025).
Psikolog asal Amerika Serikat Dr Jean Twenge menyatakan, “Banyak remaja menggambarkan pengalaman menggunakan TikTok dan berniat menghabiskan waktu 15 menit, lalu menghabiskan dua jam atau lebih. Hal ini menjadi masalah karena semakin banyak waktu yang dihabiskan seorang remaja di media sosial.” Melalui pernyataan tersebut, ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap adiksi video pendek dikalangan remaja dan mengaitkannya dengan peningkatan depresi seiring pertumbuhan ponsel dan media sosial sejak 2012.
Hiburan 1 Menit, Kerusakan Seumur Hidup?
Adiksi video pendek mengundang bahaya untuk segala kalangan, pelemahan daya kontrol diri menjadi aspek negatif utama yang disoroti. Daya kontrol diri mungkin tidak menjadi tantangan yang berarti untuk orang dewasa, namun secara neurologis anak-anak dan remaja secara natural mengalami pergumulan terkait kontrol diri. Individu yang sedang dalam proses tumbuh kembang belum memiliki kontrol penuh atas wilayah prefrontal cortex, untuk kontrol diri yang efektif, semua wilayah ini harus saling terhubung dan harus berkomunikasi satu sama lain (Rosenthal, 2019). Dampak buruk dari kecanduan video pendek kian serius jika mengenai anak-anak. Karena otak mereka masih dalam tahap perkembangan, kebiasaan menonton yang merugikan berpotensi menyebabkan efek jangka panjang pada perkembangan fisik, emosional, dan nilai-nilai mereka.
Memberikan akses gawai kepada anak di bawah umur adalah fenomena yang umum kita saksikan di masyarakat dewasa ini. Terlebih di kota-kota besar dengan mayoritas kedua orang tua diharuskan bekerja guna memenuhi tuntutan ekonomi. Dengan gawai, anak disajikan berbagai media entertainment, menjaga mereka tetap terhibur sehingga orang tuanya tidak lagi merasa terganggu. Lantas biaya apa yang harus dibayar orang tua untuk fasilitas do not disturb ini?
Intensitas menonton video pendek memiliki hubungan kausalitas dengan keabnormalan kemampuan berbicara seorang anak, semakin intens paparan yang didapatkan maka semakin berpotensi pula anak terkena speech delay (Purwadi H., 2023). Sha & Dong (2021) menunjukkan bahwa penggunaan TikTok yang berlebihan akibat konsumsi informasi yang singkat dan cepat dapat mengganggu memori jangka pendek maupun panjang, sehingga anak sulit mengingat pelajaran, memahami konsep kompleks, dan mudah melupakan hal penting. Dampak negatif ini sering kali timbul karena minimnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, padahal pada masa tumbuh kembang anak, orang tua menjadi sosok yang ditiru oleh anak. Pemberian contoh yang baik, interaksi dua arah, serta pengawasan lingkungan anak menjadi kebutuhan primer anak yang wajib dipenuhi oleh orang tuanya.
Teknologi Terkendali, Masa Depan Terjaga
Fenomena video pendek bukan sekadar tren hiburan; ia telah menjadi faktor struktural yang mengubah pola asuh dan perkembangan anak. Data Komdigi dan temuan IDAI yang disebutkan sebelumnya memperlihatkan bahwa penetrasi gawai sejak usia dini dipadukan dengan desain algoritma yang memicu keterulangan membuka celah risiko perkembangan, termasuk meningkatnya kasus speech delay pada prasekolah. Ketika interaksi dua arah tergantikan oleh konsumsi one-way yang masif, kualitas stimulasi bahasa dan keterikatan anak dapat menipis.
Untuk itu, tanggung jawab tidak boleh jatuh hanya pada individu. Orang tua dan pengasuh perlu menerapkan batasan waktu layar yang tegas, mengedepankan kegiatan berbicara langsung, serta menggunakan fitur pengawasan dan kurasi konten. Sekolah dan layanan kesehatan anak harus memperkuat skrining dini dan program literasi digital bagi keluarga. Pemerintah dan platform media sosial pun wajib bersinergi: memperketat perlindungan usia, transparansi algoritma, dan kebijakan yang menempatkan keselamatan anak di depan profit.
Akhirnya, teknologi bukan musuh melainkan alat yang harus dikelola. Jika dibiarkan, kegemaran menonton video berdurasi pendek berpotensi merampas momen penting pembelajaran bahasa dan interaksi anak. Melindungi anak dari efek adiktif konten singkat membutuhkan langkah kolektif: edukasi, regulasi, dan praktik pengasuhan yang sadar digital.
Referensi
Apa Itu Video Shorts? Simak Manfaat dan Tips Membuatnya! (n.d.). JSB.id. Retrieved from https://jsb.id/blog/apa-itu-video-shorts
Gao, Y., Hu, Y., Wang, J., Liu, C., Im, H., Jin, W., Zhu, W., Ge, W., Zhao, G., Yao, Q., Wang, P., Zhang, M., Niu, X., He, Q., & Wang, Q. (2025). Neuroanatomical and functional substrates of the short video addiction and its association with brain transcriptomic and cellular architecture. NeuroImage, 307, 121029. https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2025.121029
Kemp. (2025, Februari 25). Digital 2025: Indonesia [Laporan daring]. DataReportal – Global Digital Insights. Retrieved from https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
Komdigi.go.id. (2025, Februari 27). Komitmen pemerintah melindungi anak di ruang digital. Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Retrieved from https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/ko…
Liao, M. (2024). Analysis of the causes, psychological mechanisms, and coping strategies of short video addiction in China. Frontiers in Psychology, 15. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1391204
Madigan, S., McArthur, B. A., Anhorn, C., Eirich, R., & Christakis, D. A. (2020). Associations between screen use and child language skills: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics, 174(9), e201549. https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2020.1549
Purwadi, H., Fitriyani, L., Hidayatullah, M. R., & Institut Kesehatan dan Teknologi PKP DKI Jakarta. (2023). Hubungan intensitas penggunaan aplikasi YouTube dengan perkembangan bahasa (speech delay) pada anak usia 2–6 tahun. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(4). https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/view/21490/16372
RSPI (Rumah Sakit Pondok Indah). (2024, Desember 5). Speech delay: Penyebab, faktor risiko dan cara… [News article]. RS Pondok Indah. Retrieved from https://www.rspondokindah.co.id/en/news/alasan-si-kecil-terlambat-bicara
Shore, V. (2024, Agustus 6). Evolution of short form video marketing. Storyblocks. https://www.storyblocks.com/resources/blog/evolution-of-short-form-video-marketing


Discussion about this post