Berapa lama waktu yang Anda habiskan di jalan?
Ungkapan-ungkapan semacam “tua di jalan” sering kali jadi celetukan, melengkapi jawaban pertanyaan tersebut layaknya kerupuk udang menemani nasi goreng. Ungkapan tersebut tentunya tak lahir tanpa alasan. Ia lahir atas frustrasi para komuter yang sehari-harinya menempuh jarak jauh hanya untuk mengais pundi-pundi rupiah. Ironisnya, pundi-pundi uang tersebut tak jarang banyak tergerus sekadar untuk membawa diri mereka pergi menuju dan pulang dari tempat kerja masing-masing.
Mengutip Tirto (2025), hingga 80 ribu rupiah rela dikeluarkan oleh para komuter per harinya. Maknanya, dalam sebulan, seorang pekerja komuter yang tinggal di kota-kota satelit Jakarta seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) mengeluarkan hingga lebih dari satu juta rupiah hanya untuk biaya transportasi saja. Memang, itu harga mahal yang harus dibayar demi mencari nafkah di ibu kota. Tak hanya itu, selain biaya dalam bentuk uang, ada pula biaya lain yang tak tampak yang juga harus dibayar oleh para komuter: biaya psikologis.
Tersiksa di Jalan Setiap Pagi dan Sore
Salah satu dari jutaan komuter Bodetabek tersebut menceritakan kisahnya pada kami. Sehari-hari, pria berumur 49 tahun tersebut harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Depok menuju tempat kerjanya di Bekasi. Perjalanan tersebut biasanya ia tempuh selama kurang lebih 1,5 jam sekali jalan dengan kombinasi antara motor, kereta rel listrik (KRL), dan LRT Jabodebek. Kepadatan KRL sering membuat perjalanannya tidak nyaman. “KRL sekarang sudah terlalu padat, mungkin karena harganya murah dan jangkauannya luas,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kurangnya fasilitas pendukung di Bekasi, seperti trotoar yang jelek dan angkutan pengumpan yang minim. Ia pun jadi harus memesan ojek online sesampainya di stasiun LRT tujuan untuk sampai ke kantor. Pengeluarannya untuk transportasi pun jadi membengkak.
Tak hanya menguras tenaga dan uang, kepadatan dan kondisi perjalanan yang melelahkan juga menguras emosi. “Pernah juga berantem sama orang di KRL gara-gara senggolan,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap berusaha menjaga profesionalisme agar emosi di perjalanan tidak memengaruhi produktivitasnya di tempat kerja. “(Terhadap) produktivitas banyak pengaruhnya. Enggak cuma (pengalaman) commuting saja, tetapi suasana jalan (juga) ngaruh ke suasana kerja dan tugas yang dilakukan di kantor,” tambah karyawan tersebut.
Efek dari perjalanan yang panjang dan lama pun terbawa hingga ke rumah, membuat waktu bersama keluarga menjadi terbatas. Ia lanjut bercerita, “Biasanya sampai rumah jam delapan malam, makan sebentar, terus tidur.”
Meski begitu, dirinya mengakui bahwa transportasi umum kini sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu. “Kalau kendaraan umum di Jakarta sekarang sudah bagus banget. Operatornya juga lebih tertib dan jadwalnya tepat waktu,” ujarnya.
Tak hanya pekerja kantoran yang merasakan siksaan commuting dengan jarak yang cukup jauh. Dalam wawancara yang kami lakukan dengan seorang mahasiswi berusia 20 tahun, ia menceritakan rutinitas perjalanannya dari rumahnya di Bogor ke kampusnya di Universitas Indonesia (UI) yang memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam untuk sekali jalan. Menurutnya, meskipun dirinya sudah mulai terbiasa dengan rutinitas perjalanan panjangnya, dampak psikologis dan fisik tetap terasa nyata, mulai dari kelelahan tubuh hingga tekanan mental akibat keramaian dan ketidakpastian waktu. “Secara fisik (aku) capek karena harus berdiri lama, apalagi aku punya masalah di kaki. (Aku) capek mental juga karena harus menghadapi desakan, panas, dan keramaian,” ujarnya.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi dirinya selama di perjalanan, tetapi juga berdampak pada mood, fokus, hingga produktivitasnya di kampus. Semangat yang sudah disiapkan dari rumah sering kali menurun ketika tiba di kampus dalam kondisi lelah dan tidak percaya diri akibat pengalaman di kereta. “Kadang dari rumah semangat, tetapi sampai kampus sudah lelah dan kurang percaya diri karena kondisi di kereta (panas, kusut, rambut lepek),” ujarnya.
Selain itu, kegiatan organisasi dan sosialnya juga ikut terganggu, “Aku sering tidak bisa ikut rapat malam atau nongkrong karena harus pulang cepat. Akibatnya, aku merasa kurang dekat dengan teman-teman organisasi,” ucapnya.
ia bahkan mengaku sempat iri dengan teman-temannya yang ngekos di sekitar kampus. “Aku pernah nginep di tempat temanku, terus aku kayak diajak main, gitu. Aku jadi ngerasain, ternyata kehidupan seperti ini loh yang bisa aku dapatkan kalau aku enggak PP (pulang pergi), kalau aku tinggal di dekat kampus,” tuturnya.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Semua hal yang dialami mereka berdua terjadi karena stres sebagai akibat dari commuting, salah satunya waktu tempuh perjalanan yang panjang. “Diibaratkan saja seperti kita menunggu sesuatu yang tidak jelas. Itu sangat menyiksa dan membuat stres karena bosan, tidak bisa melakukan apa-apa, dan terkurung di suatu tempat. Itu adalah bentuk tekanan psikologis yang sulit dihindari,” jelas Budi Soetjipto (Budi), seorang dosen dan praktisi di bidang pengelolaan sumber daya manusia Universitas Indonesia.
Semakin lama seseorang berada di perjalanan, semakin besar pula tekanan psikologis yang dirasakan. Situasi terjebak di kendaraan, entah itu kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, tanpa bisa berbuat apa-apa menciptakan perasaan terkurung dan bosan yang berujung pada stres. Proses ini, meski tampak sederhana, dapat terakumulasi menjadi stres yang berujung pada burnout. Hal yang demikian dapat pula disebut sebagai biaya psikologis yang harus dibayar para komuter hanya untuk sampai ke tempat kerja mereka.
Pada akhirnya, semangat para komuter dalam menjalani aktivitas sehari-hari pun menurun, termasuk di tempat kerja dan tempat belajar. Belum lagi jika mempertimbangkan faktor-faktor seperti interaksi dengan pengguna jalan atau pengguna transportasi umum lainnya ketika commuting.
Dalam jangka panjang, commuting pun dapat memengaruhi loyalitas dan retensi karyawan. Budi mencontohkan bahwa faktor jarak tidak hanya berkaitan dengan kantor, waktu, dan uang. “Kadang masalahnya bukan hanya durasi perjalanan, tapi juga aspek lain seperti jarak dari sekolah anak, atau rumah mertua tempat menitipkan anak. Jadi kenyamanan itu luas, tidak hanya soal uang,” jelas Budi.
Semangat tersebut terhubung dengan konsep motivasi pekerja. Budi menjelaskan bahwa motivasi terbagi menjadi dua, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik muncul dari dalam diri individu, seperti harapan dan ekspektasi terhadap hasil kerja. Namun ketika energi sudah terkuras akibat perjalanan yang melelahkan, semangat tersebut otomatis menurun. Sebagai akibatnya, produktivitas pekerja pun dapat terganggu.
Meski begitu, Budi menilai bahwa banyak perusahaan yang bahkan tidak tahu tentang biaya psikologis yang harus dibayar para karyawannya sebatas untuk mencapai tempat kerja. “Pertama, dia harus tahu dulu, ya kan? Setelah itu, baru mulai dia sadar perlunya, baru dia peduli (tentang biaya psikologis),” jelas Budi.
Menurut Budi, tantangan untuk menyadarkan manajemen-manajemen akan biaya psikologis tersebut adalah sifatnya yang intangible dibandingkan biaya-biaya lainnya. Padahal, pemahaman akan biaya psikologis menjadi penting, apalagi terkait dengan manajemen dan pengembangan sumber daya manusia yang selama ini sudah dimiliki perusahaan. Sekali pun aware tentang masalah tersebut, Budi menilai bahwa sering kali permasalahan tersebut dikesampingkan.
“Karena (mereka) beranggapan, ‘ya urusan lu lah, kan lu yang milih tinggalnya jauh’,” kelakarnya. “Enggak bisa begitu juga (karena) kan pada akhirnya perusahaan punya kepentingan pada motivasi karyawan.”
Mewujudkan yang Tak Wujud
Konsep psychological capital, menurut Budi, dapat mematerialisasikan biaya psikologis tersebut. Empat komponen dari psychological capital adalah HERO. Huruf H di sini adalah singkatan dari hope (harapan), di mana menurutnya, perusahaan harus dapat memberikan harapan kepada karyawannya. Harapan di sini bisa berbentuk harapan akan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi dan perlakuan yang lebih baik dari perusahaan.
Huruf E adalah singkatan dari efficacy. Menurut American Psychological Association (APA), efficacy dapat diartikan sebagai rasa percaya diri akan kemampuan diri sendiri. Menurut Budi, hal ini dapat dipupuk melalui pemberian pelatihan kepada karyawan. “Perusahaan memberikan harapan, ‘wah visi kita ke depan, 2030 (akan mencapai) A, B, C, D, kita mau jadi perusahaan kelas dunia.’ Itu adalah salah satu cara menumbuhkan harapan, kan? Tetapi (kalau) orang itu enggak dimampukan, ya enggak akan jalan,” terang Budi.
“(Komponen) ketiga adalah resiliensi. Apa itu resiliensi? Resilience itu tahan banting,” jelas Budi. Lalu yang terakhir adalah optimisme. Menurut Budi, optimisme harus dijaga supaya kita tetap terus punya harapan akan masa depan yang lebih baik.
Konsep tersebut pada akhirnya digunakan untuk mengembangkan sumber daya manusia perusahaan. Namun sayangnya, menurut Budi, terkadang perusahaan-perusahaan lebih mementingkan uang daripada pengembangan sumber daya manusia. “Kalau uang begitu dihitung (dengan) hati-hati. Semuanya ada: prudent segala macam, risk management, governance, wah lengkaplah. Namanya investasi itu. Tapi kalau orang (human capital), ada enggak perhatian yang sedemikian ketat, sedemikian rigid?” tuturnya.
Padahal, masih menurut APA, manajemen psychological capital yang baik di antaranya dapat meningkatkan performa kerja karyawan, kepuasan kerja karyawan, serta meningkatkan engagement karyawan di tempat kerja.
Langkah ke Depan Mengurangi Biaya Psikologis
Salah satu cara perusahaan dapat meningkatkan psychological capital pada para karyawannya adalah dengan membantu “mengisi ulang” energi karyawan yang habis dilahap perjalanan yang panjang dan melelahkan ke kantor. Hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai hal, di antaranya dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, menyediakan fasilitas yang memadai, serta memberi penghargaan terhadap kontribusi mereka.
Menurut Budi, pemberian tugas yang menantang pun dapat dilakukan untuk membangkitkan motivasi karyawan. “Sehingga orang tersebut juga akhirnya merasa dihargai, punya kontribusi dibanding teman-temannya yang lain,” ujar Budi.
Meski begitu, Budi pun mengingatkan bahwa pemberian tugas yang menantang tersebut harus diimbangi dengan dukungan yang memadai. Tantangan tidak boleh diartikan sebagai kesulitan berlebihan, melainkan harus sesuai dengan prinsip SMART goals: spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu.
Selain itu, pemberian tugas menantang pun harus disertai dengan resources yang memadai. “Konsepnya adalah job demand–job resources. Kita menyuruh karyawan bekerja, tapi harus didukung dengan resources yang memadai. Semua ada ukurannya dan harus seimbang dengan effort yang dibutuhkan,” tutur Budi.
Dalam skala makro, pemerintah pun memiliki banyak pekerjaan rumah. Di antaranya adalah membangun transportasi umum yang lebih memadai dan membangun lebih banyak hunian di tengah kota. Harapannya, para pekerja akan jadi lebih dekat dengan tempat mereka bekerja, lantas mengurangi jarak dan waktu tempuh commuting mereka.
Hal yang senada disampaikan oleh mahasiswi yang kami wawancarai. Meski menurutnya sudah ada peningkatan, ia memberikan catatan pada ketepatan waktu transportasi umum, terutama pada layanan KRL. “Dan itu tuh lumayan mengganggu. Karena maksudnya, kalau kamu telat lima menit di awal (karena kereta yang terlambat datang), kamu bisa telat tiga puluh menit di akhir (sampai tujuan),” tuturnya.
Terkait dengan ketepatan waktu, penyediaan jumlah armada pun menjadi penting. Pekerja yang kami wawancarai pun berkomentar, “Jadi sebenarnya pemerintah ini kejar-kejaran antara angka pertumbuhan penduduk dengan jumlah transportasi umum. Harapannya, pertambahan transportasi umumnya dipercepat, karena kita kejar-kejaran sama generasi berikutnya lagi.”
Pemerintah pun diharapkan bisa menyediakan lebih banyak pekerjaan dan pendidikan yang layak di kota-kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. “Jadi, enggak cuma cuman di daerah-daerah yang pusat (tengah kota) doang, gitu,” imbuh sang mahasiswi.
Hal yang senada diutarakan oleh pria paruh baya tersebut, meski dengan metode yang berkebalikan, “Perlu dipikirkan untuk mendekatkan jarak antara antara lokasi hunian dengan kantor. Mungkin dengan sistem cluster (perumahan) atau membangun hunian murah di tengah Jakarta, supaya orang-orang tinggal di pinggir tidak harus bolak-balik tiap hari ke Jakarta.”
Pada akhirnya, semua harapan tersebut berujung pada satu hal: berkurangnya stres yang harus dihadapi para komuter selama berada di perjalanan. Berkurangnya stres tersebut tak hanya menguntungkan bagi masing-masing komuter saja, tetapi juga bagi perusahaan, universitas, lingkungan di sekitar para komuter. Dampak ini pada akhirnya akan merembet sampai ke perekonomian nasional, berhubung Presiden Prabowo memasang target pertumbuhan ekonomi hingga 8% (Rachman, 2025).
Referensi
American Psychological Association. (2023, 21 Agustus). Psychological capital: What it is and why employers need it now. https://www.apa.org/topics/healthy-workplaces/psychological-capital.
Nur, M. F. (2025, 5 Agustus). Komuter Bekasi dan Depok: Gaji Tekor, Tua di Jalan. Tirto.id. https://tirto.id/komuter-bekasi-dan-depok-gaji-tekor-tua-di-jalan-hfkG
Rachman, A. (2025, 3 Maret). Prabowo Pasang Target Ekonomi 8%, Daerah Ini Bakal Melesat 11,1%. Detikcom. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250303093353-4-614964/prabowo-pasang-target-ekonomi-8-daerah-ini-bakal-melesat-111.

