Pada Senin, (25/11), The 10th Sarasehan untuk Negeri (Seruni) dibawah naungan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (BEM FEB UI) mengadakan acara yang bertema “Berembuk Berdampak: Harapan dan Tantangan Lanskap Pendidikan Indonesia dalam Era Orientasi Pasar” dengan pemaparan materi oleh Fahmi Wibawa, S.E, MBA selaku Kepala Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), aliansi mahasiswa berisikan: Badan Otonom Economica (BOE), Islamic Business and Economic Community (IBEC), dan Kajian Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (KANOPI). Serta menghadirkan Gubernur DKI Jakarta 2014 – 2017 Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM, (Ahok), Kepala Lingkar Studi Kebijakan Pendidikan PSPK Stephen Pratama, dan Yanuar Farida Wismayanti S.ST. M.A., Ph.D sebagai penanggap materi yang dipaparkan. Acara ini moderatori oleh Fathia Fairuza, content creator di bidang pendidikan.
Acara berlangsung di Balai Sidang UI dan dibuka dengan keynote speech oleh Gubernur Jawa Tengah 2013 – 2023, Ganjar Pranowo. Dilanjut dengan sambutan dari Prani Sastiono, S.E., M.Ec., Ph.D selaku perwakilan dari dekanat, Dhika Hikmal Akbar sebagai Ketua BEM FEB UI 2024, serta Nayla Fathia Farrin selaku Project Officer.
Pendidikan sebagai Langkah Nyata Mahasiswa
Di tahun-tahun sebelumnya, Seruni rutin mengangkat tema sosial-politik. Namun, di tahun tema yang dibawakan adalah bidang pendidikan. “Kita sebagai pelajar, apa sih langkah terdekat yang bisa diambil? Yaitu pendidikan itu sendiri. Selama ini kita jauh-jauh bahas korupsi atau pemanfaatan sumber daya alam, tapi lupa hal yang paling dekat dari kita yaitu pendidikan,” jelas Nayla. Menurutnya pula, pendidikan ini bisa membawa transformasi-transformasi yang lanskapnya lebih luas nantinya.
Acara Berembuk Berdampak ini sendirilahir dari keresahan pribadi dan panitia Seruni ketika melihat kebijakan pendidikan yang selama ini tidak dinavigasi ke arah yang tepat. “Kita semua tahu bahwa kebijakan tidak akan menyenangkan semua masyarakat, tetapi kebijakan pendidikan harus berpihak (kepada) penerima manfaat utamanya, yaitu pelajar atau mahasiswa. Dari refleksi itu kita mau bahas apa yang dijadikan bahan diskursus di banyak tempat, yaitu liberalisasi pendidikan yang berakar dari paham neoliberalisme,” tambah Nayla.
Seruni hadir untuk menjadi wadah bagi semua kalangan, mulai dari anak muda, praktisi, hingga ahli untuk menyampaikan gagasan-gagasan mereka. “Sesuai namanya, sebenarnya tahun ini objektif khususnya kita ingin mengembalikan arti sarasehan itu sendiri, karena tahun-tahun sebelumnya formatnya berupa seminar. Padatahun ini dibuat lebih banyak ruang untuk kaum muda mengatakan gagasannya sendiri, bukan atas dikte yang output-nya berupa kajian,” terang Nayla.
Cacatnya Sistem Pendidikan Indonesia
Ganjar Pranowo pada keynote speech-nya menyebutkan, “Pendidikan di Indonesia menurut data dari PISA (masih) sangatlah kurang, karena faktor kualitas dan kuantitas tenaga pendidik yang di bawah rata-rata, serta alokasi anggaran negara terhadap pendidikan yang masih terbilang minim.”
Prani Sastiono (Prani), selaku perwakilan dari dekanat FEB UI pun menyampaikan tujuan serta tantangan pendidikan di Indonesia saat ini. “Sebagai dosen, kita berpikir keras bagaimana dampak (pendidikan) 5-10 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi di tahun-tahun selanjutnya karena dampak dari globalisasi yang begitu cepat, sehingga sektor pendidikan harus dapat mempersiapkan insan terdidik?” Menurutnya, tujuan pendidikan dewasa ini sudah berubah menjadi pembentukan individu sebagai SDM kompetitif, dari yang seharusnya bertujuan mencerdaskan bangsa.
Aliansi mahasiswa dari BOE menyampaikan, “Pendidikan merupakan hak bagi seluruh putra-putri Indonesia. Namun adanya sistem PTN BH, biaya yang dikeluarkan (oleh mahasiswa) menjadi sangat mahal, sehingga hanya dapat diakses oleh orang kaya.” Lebih lanjut, aliansi mahasiswa dari Kanopi menyebutkan, “Indonesia (menjadi) pemilik jumlah PTN terbanyak ke-2 se-Asia, namun kualitas PTN tidak sebanding dengan rasio yang ada.”Pendidikan berubah menjadi bahan komoditas publik yang diperjualbelikan oleh orang-orang tertentu.
Kenaikan biaya kuliah (UKT) ini sangat berdampak pada fokus mahasiswa yang mulai berubah, yakni untuk magang dan menghasilkan uang, sehingga mulai meninggalkan kegiatan sosial, organisasi, atau pengabdian yang seharusnya menjadi fokus utama kaum terdidik. Di akhir pemaparan kajian bersama, aliansi mahasiswa IBEC menyampaikan kesimpulan bahwa masih banyak sekali tantangan pendidikan yang ada di Indonesia ini, “Mulai dari anggaran yang kurang efektif, minimnya siswa SMA yang berhasil kuliah, hingga biaya yang dihasilkan (pasca kuliah) tidak sebanding dengan biaya pengeluaran (untuk kuliah) yang menjadi catatan merah pemerintah.”
Fahmi Wibawa (Fahmi) juga menjelaskan salah satu kecacatan pendidikan Indonesia yang menerapkan sistem neoliberalismeyang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik. “Wujud nyata dari neoliberalisasi pendidikan adalah menjadikan UKT tinggi, ketimpangan antar disiplin ilmu (ilmu sosial dan ilmu sains teknologi), serta kesenjangan sosial yang berpihak pada pemilik harta.” Fahmi juga menambahkan bahwa perlu adanya kajian ulang efektivitas dari sistem PTN-BH ini sendiri.
Berkolaborasi untuk Berdampak
Aliansi mahasiswa yang terdiri dari beberapa organisasi mahasiswa ini merupakan sebuah gebrakan baru dari panitia The 10th Seruni, untuk menggandeng sesama mahasiswa dan memberikan dampak berupa kajian komprehensif. “Ini merupakan terobosan baru, kita mau berembuk bersama dan berdampak bersama. Kami mengundang organisasi dengan latar (belakang) berbeda agar memiliki perspektif berbeda pula, karena perubahan tidak bisa hanya dilakukan satu orang, tetapi harus dengan kolaborasi,” ujar Nayla.
Selain itu, dengan latar kepakaran setiap penanggap materi yang juga berbeda membuat diskusi menjadi variatif secara prespektif. “ Kita mengundang Ganjar Pranowo sebagai keynote speech dan Ahok sebagai penanggap (materi yang dipaparkan) agar tahu perspektif dari orang yang pernah membuat kebijakan, dan (mengundang) tokoh politik karena politik sendiri sebagai sarana transformasi. Kalau expert di bidang pendidikan, (kami) mengundang Kak Stephen dari Pusat Studi Pendidikan dan waktu Diskusi Anak Negeri berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar,” imbuhnya.
Melihat Harapan dan Dampak Acara
Seruni berharap acara tahun ini dapat menjadi acuan positif untuk perkembangan di masa mendatang, tidak hanya dalam hal penyelenggaraan tetapi juga dalam memberikan dampak yang signifikan. Harapannya, Seruni dapat terus mendorong perubahan, baik di lingkup internal kepanitiaan maupun secara luas di masyarakat. “Semoga seruni tahun ini menjadi acuan baik untuk perkembangan seruni kedepannya. Gak hanya sekadar untuk menyelenggarakan acara, tapi semoga fungsionaris Seruni tahun depan dan selanjutnya beneran punya dorongan untuk memberikan impact,” ungkap Nayla
Untuk para peserta, diharapkan ilmu dan wawasan yang diperoleh dari acara ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata dan disebarluaskan kepada orang lain, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. “Semoga para peserta yang sudah hadir bisa benar-benar mengimplementasikan apa yang sudah didapatkan, insight yang sudah didapatkan dari acara seruni ini dan hopefully bisa menyebarluaskan kembali apa ilmu yang sudah didapat, bisa mengajarkan kembali orang-orang yang mungkin belum punya kesempatan untuk datang,” pungkasnya.
Editor: Khansa dan Marshellin Fatricia

