Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kilas Riset

Potrayals of Success in Work-related TV Series: Is High Income the Only Factor?

by Alena Noura Jadwa Laduni As’ad
30 November 2024
in Kilas Riset, Penelitian

Introduction

Mendapat jabatan yang tinggi serta gaji yang cukup kerap dianggap sebagai tolok ukur individu dalam mencapai kesuksesan. Pandangan tersebut yang dominan dimiliki oleh banyak orang menjadi topik penelitian bahwa semua konsepsi terkait kesuksesan juga tercermin di media hiburan seperti film atau TV series, terutama di work-related television series. Hubungan konsepsi kesuksesan karir yang tercermin di series televisi dengan pandangan individu menjadi bahan penelitian yang akan diteliti lebih dalam. 

 

Background 

Teori Kultivasi menjelaskan bahwa televisi atau media hiburan memengaruhi cara pandang seseorang terhadap realitas sosial. Sebuah media televisi terutama film atau series akan memuat sebuah pesan moral yang kemudian diserap oleh penonton dan mengubah cara pandang mereka. Riset terbaru meneliti bahwa pesan yang umum diberikan di sebuah media televisi melibatkan topik kesuksesan. Lingkungan meritokratik memengaruhi cara pandang seseorang karena mereka percaya bahwa seorang individu yang jujur dan memiliki paras indah lebih mudah mencapai kesuksesan ditambah dengan ras, gender serta umur menjadi stereotipe dalam keberhasilan karir. Terdapat pandangan hipotesis Dunia yang Adil (Prevalence of Just World) yang meyakini dunia adalah tempat yang adil dan semua orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan perbuatan mereka. Jika berbuat buruk maka akan mendapatkan kesulitan hidup, sedangkan jika berperilaku baik maka kesuksesan dan kebahagiaan akan datang di kehidupan. 

Malleability Narrative

Malleability narrative merupakan istilah yang merujuk kepada seseorang yang berubah seiring waktu karena pengalaman dan pembelajaran yang ia dapatkan. Istilah ini menunjukkan bahwa pribadi seseorang tidak kaku sehingga dapat berkembang serta beradaptasi. Malleability narrative memiliki konsep dengan seorang pekerja yang mendapat promosi jabatan atau kenaikan gaji karena pengalaman serta pengembangan diri yang ia lakukan. 

Indicators of Success

Dua indikator yang menjadi rujukan dalam pandangan seseorang terkait kesuksesan ialah objektivitas dan subjektivitas. Objektivitas dilihat dari bagaimana sebuah individu berhasil meraih gaji atau jabatan di dalam pekerjaan, sedangkan kepuasan karir yang dialami oleh individu dalam pekerjaannya merupakan subjektivitas.

 

Method 

Sample and Procedure 

Sampel yang digunakan adalah series populer pada saat sampel dilakukan yaitu Suits (season 8), Grey’s Anatomy (season 16), The Bold Type (season 3) dan The Good Doctor (season 3). Hal yang diteliti meliputi sifat dan pekerjaan karakter, peran (karakter utama atau sampingan), jenis kelamin, seksualitas, serta ras. Dalam mengukur  kesuksesan objektivitas, karakter dilihat dari status pekerjaan dan gaji. Sementara itu, untuk aspek subjektivitas diukur melalui kesempatan karakter dalam mengembangkan diri, fisik, kehidupan sosial, dan romansa karakter. 

Penelitian ini menggunakan metode ANOVA (Analysis of Variance) yang menggunakan R analisis.  Semua sampel diteliti dengan rentang skor 1-3. Penelitian pertama (RQ1) fokus dalam menganalisis objektivitas dan subjektivitas kesuksesan di mana “status dan gaji pekerjaan” menjadi ukuran objektivitas dan “kepuasan karir” serta “kesempatan dalam mengembangkan diri”  merupakan subjektivitas. Penelitian kedua (RQ2a) meneliti lebih dalam mengenai prevalensi dunia dan kepercayaan meritokratik yang memengaruhi bagaimana “fisik, kehidupan sosial, serta romansa karakter” berdampak pada kesuksesan pekerjaannya. Masih dalam kepercayaan meritokratik, “kerja keras” juga diteliti pengaruhnya dengan tingkat kesuksesan (RQ2b). Tak hanya itu, RQ2c menganalisis tanggung jawab individu serta dilanjut dengan penelitian ketiga (RQ3a) yang meneliti pengaruh jenis kelamin, ras, dan etnik terhadap kesuksesan objektif dan subjektif. Selanjutnya, RQ3b menganalisis tanggung jawab individu yang memengaruhi baik kegagalan atau kesuksesan yang akan diraih. 

Coding Process

Sebanyak 59 karakter dianalisis yang mencakup umur, jenis kelamin, jumlah kesuksesan, dan kegagalan yang diperoleh tiap episode. Pembuat kode melakukan tiga fase untuk penelitian. Fase pertama melakukan pelatihan coding di series Mad Men yang bukan bagian dari sampel kemudian dilanjut dengan coding manual yang dilakukan dengan 4 karakter di satu episode House of Cards.  Fase terakhir menghitung reliabilitas antar coder di 7 episode dan 262 adegan yang dijadikan sampel. Tingkat statistik reliabilitas menunjukkan tingkat sedang ke tinggi. Coding manual dilakukan dengan mengukur peran karakter (karakter utama atau tidak), umur (<20, 20s 30 s, 40 s, >50), jenis kelamin, seksualitas (biseksual, homoseksual, heteroseksual, dll.), ras (afrika-amerika, asia, latina, dll.), tingkat gaji (tinggi atau tidak), status pekerjaan, fisik, sosial, romansa, status hubungan (menikah atau tidak), kehidupan romansa (memuaskan atau tidak), dan terakhir kehidupan seksual (aktif atau tidak).

 

Results

Karakter yang diteliti menghasilkan 62.7% sebagai pemeran utama dan sebagian dari mereka adalah laki-laki sebanyak 50.8%. Umur mereka berkisar di angka 40 (35.1%) dengan mayoritas ras adalah kaukasia (59.3%). Semua karakter yang diteliti mempunyai skor yang tinggi dalam daya tarik fisik tetapi keberhasilan romansa dan sosial mendapatkan skor yang rendah.

Hasil dari penelitian pertama (RQ1) menunjukkan bahwa ukuran kesuksesan yang tercermin di karakter dalam television series lebih dominan subjektivitas (M= 2.88) dibandingkan objektivitas (M= 2.21). Sebanyak 50.8% karakter memiliki wewenang biasa dalam pekerjaannya, 46.6% karakter mendapatkan gaji rata-rata dan karakter memiliki kesempatan yang banyak dalam pengembangan dirinya (89.9%). Karakter berada di sebuah pekerjaan yang mengutamakan subjektivitas (pengembangan diri) dibandingkan kenaikan gaji. Namun, tipe kesuksesan yang karakter dapatkan memiliki hasil yang sama (M= 0.004), menandakan kenaikan gaji dan kepuasan pekerjaan mereka dapatkan sama rata. 

Penelitian yang kedua menghasilkan bahwa daya tarik fisik dan romansa dalam karakter tidak sepenuhnya memengaruhi kesuksesan. Daya tarik sosial dengan keberhasilan fisik, romansa, dan karir memiliki hubungan yang negatif tetapi gaji yang tinggi dan kepuasan karir tidak memiliki hubungan penting dengan daya tarik sosial. Sedangkan “kerja keras” memiliki hubungan positif dengan gaji dan status pekerjaan dan tidak ada hubungan yang signifikan dengan keberhasilan fisik, romansa, serta karir. Keberhasilan yang berkaitan dengan romansa, fisik, sosial dianggap sebagai tanggung jawab individu dan kegagalan yang berkaitan dengan romansa, fisik, sosial berasal dari tanggung jawab individu. 

 

Penelitian ketiga mengungkapkan bahwa umur memiliki pengaruh dengan kesuksesan. Karakter di umur kurang dari 20 memiliki gaji yang lebih rendah dari karakter yang berumur lebih dari 50 sedangkan apresiasi dalam pekerjaan (kenaikan status dan gaji) lebih banyak didapat oleh karakter berumur 30 dibandingkan dengan karakter berumur 50. Namun, karakter yang berumur 20 merasa mengemban lebih banyak beban dalam kesuksesannya terkait romansa, fisik, sosial serta karir. Tanggung jawab individu dengan ras atau jenis kelamin tidak memiliki perbedaan yang signifikan. 

 

Concluded Discussion

Skor hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kesuksesan subjektif lebih dominan dibandingkan objektif. Pekerjaan yang karakter lakukan lebih mengarah ke perkembangan diri dan tipe kesuksesan yang mereka dapatkan seperti kenaikan gaji dan kepuasan pekerjaan menunjukkan hasil yang sama. Dengan perkembangan dinamika sosial yang terjadi dan pesan yang disampaikan di work-related TV series, pandangan masyarakat terhadap kesuksesan objektif perlahan mengarah pada kesuksesan subjektif. Namun, kesuksesan yang dilihat dari kenaikan gaji dan status pekerjaan juga harus diimbangi dengan kepuasan karir. Dengan pesan yang disampaikan di TV series, pandangan masyarakat akan semakin meluas terkait dengan kesuksesan bahwa gaji dan status saja tidak cukup jika tidak dilengkapi dengan pengembangan diri. Dampak positif terjadi karena membuat pekerja ingin mencari pelatihan karir untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. 

Berhubungan dengan lingkungan meritokratik, orang yang memiliki daya tarik fisik dan romansa tidak mendapatkan kesuksesan objektif dan subjektif serta tidak otomatis berhasil dalam lingkup romansa, fisik, sosial dan karir. Hubungan negatif antara daya tarik sosial dan kesuksesan di semua lingkup memiliki arti bahwa karakter yang memiliki daya tarik sosial lebih justru kurang berhasil dalam lingkup romansa, fisik, sosial dan karir. Hubungan negatif ini bertentangan dengan hipotesis Dunia yang Adil (Prevalence of Just World). Kemungkinan kurang berhasilnya karakter yang memiliki daya tarik sosial dengan kesuksesan di semua lingkup karena mereka lebih fokus kepada interaksi sosial dan tidak mementingkan karir. Selain itu dalam kepercayaan meritokratik, setiap orang akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan kesuksesan yang sama walaupun dari ras, jenis kelamin dan umur yang berbeda. Namun, dalam work-related TV series, penelitian mengatakan karakter timur tengah lebih sukses dibandingkan dengan ras kaukasia. Hal ini karena masih kurangnya representasi karakter timur tengah sehingga ras timur tengah lebih ingin ditonjolkan. 

Karakter yang bekerja keras mendapatkan kesuksesan objektif lebih dibandingkan kesuksesan subjektif. Sesuai dengan malleability narrative mengenai gambaran kesuksesan yang ditampilkan di work-related TV series, orang yang bekerja lebih keras dalam pekerjaan akan mendapatkan penghargaan berupa kenaikan gaji dan status. 

Karakter di usia muda mendapatkan gaji dan jabatan yang lebih rendah dibandingkan karakter yang berusia lebih tua. Sesuai dengan logika, usia muda baru memulai karirnya dan usia yang lebih tua sudah lebih dulu menduduki jabatan yang tinggi. Selain itu, karena pekerja yang berusia tua memiliki jabatan tinggi dan mempunyai minim kesempatan untuk naik jabatan, pekerja berusia muda lebih mudah mendapatkan promosi jabatan karena mereka baru memulai karirnya dari jabatan yang rendah. Usaha pribadi dengan pencapaian keberhasilan romansa, fisik, sosial, dan karir sering dikaitkan oleh karakter yang berusia muda. 

Terkait dengan demografi karakter yang mencakup perbedaan ras, jenis kelamin, dan usia tidak terlalu berpengaruh kepada pencapaian kesuksesan. Semua karakter memiliki hasil pencapaian objektif dan subjektif yang sama dengan keberhasilan lingkup romansa, sosial, fisik, dan karir. Penggambaran ini membuat masyarakat percaya bahwa semua orang memiliki kesempatan dan hak yang sama dalam karir dan keberhasilan yang ingin dicapai. 

 

Limitations

Walaupun banyak pengetahuan yang diberikan dalam penelitian ini, ada beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh penelitian ini. Karakter yang dianalisis hanya 59 karakter dengan dominan ras kaukasia. Dominasi berlebih yang dimiliki oleh ras ini mengakibatkan hasil penelitian yang cukup bias. Semua serial TV yang dijadikan sampel berasal dari Amerika Utara yang mencakup konteks neoliberal sehingga lingkungan pekerjaan yang tergambar hanya dalam lingkup tersebut. Tipe karir yang dijadikan sampel juga sedikit, hanya dunia medis dan kreatif sehingga tidak terlalu mengulik tipe karir yang lain. Penelitian ini tidak meneliti latar belakang pendidikan karakter yang di dunia sebenarnya tingkat pendidikan menjadi kunci dalam pekerjaan. Keterbatasan terakhir adalah indikator kesuksesan objektif dan subjektif yang dipakai masih terbatas dan tidak meneliti indikator lainnya seperti decision-making (objektif) dan jam kerja fleksibel (subjektif). 

 

Reviews

Indikator kesuksesan yang diteliti dalam penelitian ini mencakup banyak hal. Gaji bukan hanya ukuran kesuksesan yang menjadi acuan tetapi bagaimana seorang pekerja puas dengan karirnya dan berhasil mengembangkan dirinya dalam pekerjaan tersebut. Keberhasilan dalam lingkup romansa, sosial, dan fisik juga menjadi acuan dalam kesuksesan hidup. Lingkungan meritokratik menimbulkan kepercayaan bahwa banyak faktor yang menjadi pertimbangan dalam mencapai sebuah kesuksesan baik dari latar belakang pendidikan, jenis kelamin, ras, seksualitas, usia, dan lainnya. Hal ini yang akan memengaruhi pandangan seseorang lewat gambaran yang ditampilkan di work-related TV series (Suits, Grey’s Anatomy, The Good Doctor, The Bold Type).

Penelitian ini menganalisis hubungan-hubungan teori kultivasi, hipotesis Prevalence of Just World, dan kepercayaan meritokratik dengan pencapaian kesuksesan. Arti dari teori yang sudah ada tidak sepenuhnya sesuai dengan hasil penelitian, bahkan ada yang menentang dan menunjukkan hubungan negatif. Kelemahan dari penelitian ini adalah sampel yang digunakan hanya di satu lingkup (western series) sehingga tidak mencakup semua konteks yang ada. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menganalisis sampel yang lebih luas dan mencakup seluruh indikator.

 

 

 

 

Reviewed from:

Devos, S., Konings, F., Eggermont, S., & Vandenbosch, L. (2024). Exploring the prevalence of success stories in popular work-related television series: A content analysis. Poetics, 102, 101866. https://doi.org/10.1016/j.poetic.2024.101866

Editor: Amira Nisa Adli & Maura Gita

Ilustrasi oleh: Alya Khoerunnisa

Related Posts

The Science Fiction of a Heartbreak
Opini

The Science Fiction of a Heartbreak

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide