Berbelanja merupakan pola ekonomi dimana individu atau kelompok mendapatkan barang atau jasa melalui pertukaran uang atau kredit. Berbelanja melibatkan proses pengambilan keputusan yang terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pengenalan kebutuhan, proses pencarian informasi, pengevaluasian alternatif, dan pengambilan keputusan (Blackwell, R. D., Miniard, P. W., & Engel, J. F. (2006). Consumer Behavior. Boston: Cengage Learning)). Tidak hanya melibatkan interaksi antara penjual dan pembeli, namun proses jual beli melibatkan faktor psikologis yang dipengaruhi oleh kebutuhan dasar, keinginan (need), dan faktor emosional dalam berbelanja.
Dewasa ini aksesibilitas dalam melakukan transaksi jual beli semakin mudah dijangkau oleh berbagai pihak melalui aktivitas jual beli di layanan e-commerce. Hal ini tidak lepas dari peran kemajuan teknologi yang memfasilitasi keterjangkauan akses bagi setiap komoditas untuk terjun dalam aktivitas transaksi jual beli yang dinilai jauh lebih praktis dibandingkan aktivitas jual beli konvensional. Data menyebutkan bahwa terdapat 189,6 juta jiwa yang menggunakan e-commerce sepanjang tahun 2024 dengan signifikansi pertumbuhan yang tinggi dibandingkan tahun 2020, yaitu pada angka 129,9 juta jiwa 1Tempo. (2020, August 31). Prediksi Angka Pengguna E-commerce di Indonesia 2024. Retrieved from tempo.co: https://data.tempo.co/data/909/prediksi-angka-pengguna-e-commerce-di-indonesia-2024. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan atensi masyarakat terhadap kehadiran e-commerce di Indonesia yang memberikan beberapa kemudahan dalam beberapa layanan.
Berbagai dorongan melatarbelakangi tingginya tingkat penggunaan e-commerce di tengah masyarakat Indonesia, salah satunya kenyamanan dalam berbelanja. Kemudahan dan fleksibilitas yang ditawarkan oleh e-commerce, seperti berbelanja kapan saja dan dimana saja yang tidak terikat akan jam operasional, mendorong pergeseran dalam ekspektasi konsumen terhadap layanan belanja secara menyeluruh 2Lim, W. M. (2016). Understanding consumer purchase behavior in the online marketplace. International Journal of Retail & Distribution Management, Vol. 43 No. 3., 83-8. Keterpaparan akan iklan yang bertarget serta algoritma rekomendasi memberikan kepuasan pada konsumen dan pengalaman belanja yang menyenangkan. Pengalaman interaktif dan dinamis yang terjadi ketika berbelanja secara online, seperti layanan live chat atau AI-driven product recommendations, memberikan kontribusi pada peningkatan kepuasan konsumen dan frekuensi terjadinya pembelian secara berkala 3Cheung, M. L., Pires, G. D., Rosenberger, P. J., Leung, W. K., & Sharipudin, M.-N. S. (2021). The role of consumer-consumer interaction and consumer-brand interaction in driving consumer-brand engagement and behavioral intentions. Journal of Retailing and Consumer Services, Vol. 61, 1-13.
Disisi lain fenomena kehadiran e-commerce di Indonesia memberikan pergeseran pada pola perilaku individu yang cukup signifikan. Salah satu pergeseran pola perilaku yang terjadi di tengah masyarakat akan kehadiran e-commerce berupa aktivitas berbelanja yang tidak direncanakan (impulsive buying). Ketika individu ditawarkan dengan berbagai kemudahan transaksi yang cepat dan potongan harga yang dikemas secara menarik, individu tersebut cenderung untuk melakukan pembelian yang tidak direncanakan sebelumnya. Hal ini berdampak negatif dan berkepanjangan jika tidak dikelola dengan bijak karena individu akan kehilangan kontrol akan delay gratification dimana individu dapat menunda hal-hal yang sifatnya menyenangkan dan didapatkan dengan instan 4Verhagen, T., & Van, D. W. (2011). The influence of online store beliefs on consumer online impulse buying: A model and empirical application. Journal of Retailing and Consumer Services, 18(5), 312-318.
Kemudahan dalam berbelanja melalui layanan yang disediakan e-commerce memberikan efek pada pembelian berlebihan oleh konsumen tanpa mempertimbangkan kebutuhan mereka. Melalui kemudahan akses dalam metode pembayaran, perilaku konsumtif dalam berbelanja dapat semakin meningkat bagi pengguna e-commerce. Fitur seperti rekomendasi produk yang secara berkelanjutan ditayangkan kepada konsumen menuntut untuk melakukan pembelian produk lebih banyak yang kerap kali tidak betul-betul mereka butuhkan 5Laroche, M., & Teng, L. (2019). Understanding the global consumer culture: Views from eastern and western scholars, an introduction to the special issue. Journal of Business Research. Volume 103, 219-221.
Fenomena impulsive buying saat ini telah merujuk pada fenomena yang lebih spesifisik lagi terhadap kondisi berbelanja tanpa berpikir panjang, yaitu doom spending. Kondisi ini hadir ketika individu melakukan pembelian secara impulsif sebagai bentuk respons terhadap situasi stres, kecemasan, atau ketidakpastian akan masa depan mereka. Stres atau ketidakpastian terhadap ekonomi kerap terjadi pada kondisi pelik seperti pandemi Covid-19 beberapa tahun silam yang secara signifikan mendorong perilaku konsumtif yang impulsif, khususnya doom spending 6Andrade, C., Gillen, M., Molina, J. A., & Wilmarth, M. J. (2022). The Social and Economic Impact of Covid-19 on Family Functioning and Well-Being: Where do we go from here? Journal of Family and Economic Issue, Vol. 43, 205-212. Doom Spending menitikberatkan pada pembelian barang-barang yang tidak dibutuhkan, yang didorong oleh keinginan untuk memperoleh kenyamanan emosional jangka pendek meskipun hal tersebut dapat memperburuk kondisi finansial mereka.
Peningkatan ketergantungan terhadap aktivitas belanja dapat dipicu oleh kondisi psikologis yang tidak stabil, sedangkan kondisi finansial individu yang tidak mendukung untuk memenuhi hal tersebut terjadi kondisi yang bertolak belakang dengan realitas. Hal ini mendesak individu untuk mendapatkan alternatif lain yang lebih cepat untuk dapat memenuhi keinginannya tersebut, seperti melakukan pinjaman online. Pinjaman online dinilai lebih efisien sebagai solusi cepat dalam menangani kondisi keuangan yang tidak realistis terhadap keinginan untuk berbelanja. Fitur persetujuan secara instan, pembayaran yang fleksibel, dan pengurangan syarat kredit yang merupakan diferensiasi terhadap pinjaman konvensional dapat mendorong konsumen untuk mengajukan pinjaman secara online 7Qu, Y., Khan, J., Su, Y., Tong, J., & Zhao, S. (2023). Impulse buying tendency in live-stream commerce: The role of viewing frequency and anticipated emotions influencing scarcity-induced purchase decision. Journal of Retailing and Consumer Services, Vol. 75, 1-16.
Pinjaman online memiliki risiko jangka panjang jika dilakukan dalam frekuensi yang besar. Konsumen yang kerap menggunakan pinjaman online sebagai alternatif untuk berbelanja secara impulsif lebih cenderung memiliki kesulitan dalam keuangan, seperti keterlambatan pembayaran atau gagal bayar yang berefek negatif pada kondisi finansial mereka sehingga menjadikan konsumen terjebak dalam siklus utang yang berantai 8Koranteng, B., & You, k. (2024). Fintech and financial stability: Evidence from spatial analysis for 25 countries. Journal of International Financial Markets, Institutions and Money, Vol. 93, 102002, 1-16. Perilaku impulsif dalam berbelanja akan semakin dilakukan individu ketika mereka memiliki kecenderungan merasa mampu untuk membeli banyak barang karena mereka dapat meminjam dana tanpa prosedur yang rumit.
Di sisi lain, pinjaman online dapat memperparah kondisi keuangan individu khususnya terkait perilaku impulsif yang tidak terkontrol pada tingginya risiko utang akibat pinjaman online untuk berbelanja yang tidak direncanakan. Ketika individu berulang kali mengandalkan pinjaman online untuk memfasilitasi pembelian impulsif secara terus menerus, hal ini berkecenderungan untuk terjebak dalam situasi kesulitan dalam melunasi utang yang dapat berakibat pada beban keuangan jangka panjang 9Qu, Y., Khan, J., Su, Y., Tong, J., & Zhao, S. (2023). Impulse buying tendency in live-stream commerce: The role of viewing frequency and anticipated emotions influencing scarcity-induced purchase decision. Journal of Retailing and Consumer Services, Vol. 75, 1-16 hingga kemiskinan yang berkelanjutan. Hal ini menjadi bentuk tantangan tersendiri yang muncul, khususnya bagi sektor pemerintahan yang berupaya untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia dalam menjamin kehidupan yang layak dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals) sebagai tujuan global.
Mengingat hal ini, esensi untuk dituntaskan diperlukan bagi beberapa sektor dengan mengintegrasikan kebijakan untuk mengelola regulasi terkait pinjaman online yang berdampak serius pada kesejahteraan finansial masyarakat di Indonesia. Dalam menavigasi hal ini, pemerintah dapat mengintegrasikan beberapa hal, diantaranya memastikan kelayakan kredit pada nasabah, pendapatan dan kapasitas finansial nasabah secara lebih intensif dapat memfasilitasi keberhasilan, serta menavigasi kerugian dari pinjaman online. Melalui hal ini, penyedia layanan pinjaman online akan dapat memetakan konsumen yang dapat diberikan kredit yang dinilai mampu membayarnya.
Selain itu, penyedia layanan pinjaman online dapat mengaplikasikan fitur remaining atau limit dalam batasan jumlah transaksi yang dapat diperoleh dalam kurun waktu tertentu. Hal ini bertujuan untuk memberikan batas pada transaksi oleh konsumen akan hal-hal yang dinilai impulsif sebagai akibat dari akses kredit yang mudah. Fitur-fitur serupa dapat mendorong pengambilan keputusan finansial yang lebih bijak dalam memitigasi risiko pembelian impulsif. Kebijakan ini akan membantu mengurangi dampak negatif pinjaman online terhadap perilaku impulsif yang mendorong konsumen untuk lebih pintar dalam menggunakan uangnya.
Di sisi lain, pendekatan yang lebih menyentuh dapat diaplikasikan melalui pengembangan program edukasi keuangan. Edukasi keuangan perlu digalakkan secara besar-besaran di kalangan masyarakat, terutama mengenai pemahaman risiko penggunaan pinjaman online. Konsumen harus didorong untuk berpikir kritis sebelum menggunakan layanan kredit untuk pembelian yang tidak penting. Edukasi yang mendorong literasi keuangan dapat membantu konsumen memahami dampak jangka panjang dari perilaku belanja impulsif dan utang yang terkait dengan pinjaman online.
Referensi


Discussion about this post