Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kajian

Pembangkangan atas Ketidakbermaknaan Hidup: Psikoanalisis dan Filsafat dalam Penderitaan

by Sheva Kafka Geuvara & Dwiki Febrian
7 Maret 2025
in Kajian

Setiap tahunnya, 726.000 orang melakukan bunuh diri dan ada lebih banyak lagi yang melakukan percobaan bunuh diri. Bunuh diri merupakan fenomena global di mana 73% kasus bunuh diri global terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 20211World Health Organization. (2024, August 29). WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/suicide. Di Indonesia sendiri, menurut catatan Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri, sejak 1 Januari sampai 15 Desember 2023, angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1.226 jiwa. Jika dirata-rata, setidaknya tiga orang melakukan aksi bunuh diri setiap harinya. Catatan kasus bunuh diri ini bisa jadi merupakan fenomena gunung es karena diperkirakan masih banyak kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan atau ditutup-tutupi. Jumlah riil kasus bunuh diri sendiri diperkirakan lebih dari tiga kali lipat dari kasus yang dilaporkan2Purwanto, A. (2024, March 4). Menyelisik Problematika Kasus Bunuh Diri. Kompas. https://www.kompas.id/baca/riset/2024/03/14/menyelisik-problematika-kasus-bunuh-diri.

Korelasi antara bunuh diri atau percobaan bunuh diri dengan gangguan mental sudah diketahui dengan baik di negara-negara berpenghasilan tinggi. Namun, banyak kasus bunuh diri yang terjadi secara impulsif pada saat-saat krisis dengan gangguan kemampuan untuk menghadapi tekanan hidup. Masalah keuangan, konflik, bencana, kekerasan, rasa kehilangan, tindakan diskriminasi, rasa terisolasi, dan ketidaktenangan hidup sangat terkait dengan tindakan bunuh diri3World Health Organization, Op. Cit.. Lantas, dengan alasan-alasan ini yang dapat diasosiasikan dengan istilah “penderitaan”, mengapa orang-orang yang melakukan tindakan bunuh diri pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Bagaimana pula orang-orang yang melakukan tindakan bunuh diri memaknai kehidupan dan penderitaan yang mereka alami?

Id, Ego, dan Superego dalam Diri Manusia

Berkaitan dengan sistem dan kepribadian manusia, Sigmund Freud menciptakan suatu istilah “psikoanalisis” yang pertama kali muncul pada 1896. Secara umum, dapat dikatakan bahwa psikoanalisis adalah suatu pandangan tentang manusia di mana sisi ketidaksadaran manusia memegang peranan yang penting4Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.. Freud, dalam buku The Interpretation of Dreams, mengemukakan bahwa banyak aktivitas manusia yang sebenarnya tidak muncul di permukaan kehidupan sehari-hari yang kemudian disebut sebagai pikiran-pikiran dari alam bawah sadar (unconscious). Di dalam pikiran alam bawah sadar, manusia dapat menemukan dorongan-dorongan jasmaniah yang paling dasar, seperti dorongan untuk makan dan dorongan seksual5Stevenson, L. F., Haberman, D. L., & Wright, P. M. (2012). Twelve Theories of Human Nature. New York: Oxford University Press.

Dalam konflik-konflik keinginan, Freud mengemukakan konsep tiga titik kepribadian manusia yang disebut sebagai model struktural (the structural model). Tiga titik kepribadian manusia itu adalah id, ego, dan superego6Sugiyono, P. B. (2023). Menimbang Manifestasi Ateisme Freud Malang: Lingkar Studi Filsafat Discourse.. Dari tiga titik ini, id merupakan sistem kepribadian paling pertama dan mendasar yang di mana saat manusia dilahirkan, id membawa semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls, dan drives. Id berakar dari fase dasar evolusi manusia yang di dalamnya terdapat dorongan-dorongan mendasar hidup manusia, seperti makan, tidur, dan hasrat seksual.

Di titik teratas kepribadian, terdapat superego yang merepresentasikan kekuatan moral dan etik dari kepribadian. Pada hakikatnya, superego adalah elemen yang mewakili nilai-nilai atau interpretasi terkait norma sosial. Artinya, superego mewakili berbagai macam pengaruh yang ditanamkan sejak lahir dalam diri manusia yang berupa nilai-nilai yang dianggap baik oleh keluarga maupun masyarakat7Alwisol. (2008).Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.. Sementara itu, di antara id dan superego terdapat ego yang terletak di antara hasrat alamiah dan tuntutan dari luar. Ego sebagai “pusat penentu” kepribadian manusia bekerja dengan reality principle yang menjadi penengah antara pleasure principle dari id dan idealistic principle dari superego. Di satu sisi, ego mendorong terwujudnya keinginan id, namun di sisi lain ego juga harus siap menolaknya jika bertentangan dengan yang diperintahkan oleh superego8Pals, D. L. (2003). Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama Yogyakarta: Institute for Religion and Society Development..

Bunuh Diri sebagai Respons atas Penderitaan

Manusia sebagai sistem yang kompleks memakai energi untuk berbagai tujuan. Kegiatan psikologis juga membutuhkan energi—disebut sebagai energi psikis (psychic energy)—yang ditransformasikan dari energi fisik melalui id beserta insting-instingnya9Alwisol, Op. Cit.. Menurut Freud, manusia memiliki insting mati atau insting destruktif (destructive instincts atau disebut juga Thanatos) yang bekerja secara sembunyi-sembunyi jika dibandingkan dengan insting hidup. Dorongan agresif (aggressive drive) merupakan derivatif insting mati yang paling krusial. Jika insting mati mendorong manusia untuk “merusak” diri sendiri, maka dorongan agresif adalah bentuk penyaluran seorang manusia agar ia tidak membunuh dirinya sendiri (suicide)10Barnhart, J. E. (1972). Freud’s Pleasure Principle and the Death Urge The Southwestern Journal of Philosophy, 3(1), 113–120. https://doi.org/10.5840/swjphil19723112 .https://doi.org/10.5840/swjphil19723112.

Tetapi, manusia juga memiliki insting hidup untuk “memelihara” diri yang umumnya melawan insting mati dengan mengarahkan energinya kepada objek-objek eksternal di luar dirinya sendiri. Energi ini dapat disalurkan ke dalam bentuk kegiatan yang bisa diterima lingkungan sosial. Namun, ada juga energi yang disalurkan dalam bentuk ekspresi seperti menghukum atau menyalahkan diri sendiri11Abel‐Hirsch, N. (2010).The Life Instinct. The International Journal of Psychoanalysis, 91(5), 1055–1071. “https://doi.org/10.1111/j.1745-8315.2010.00304.x”>https://doi.org/10.1111/j.1745-8315.2010.00304.x.

Namun, tak semua manusia melampiaskan emosinya ke luar karena sebagian manusia memilih untuk memendam dan menyalurkan emosinya ke dalam. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Thanatos akan muncul dengan berbagai bentuk, seperti melukai diri, depresi, hingga pikiran untuk bunuh diri. Menurut Freud, Thanatos adalah naluri kematian maupun dorongan untuk menghancurkan diri. Karena itu, orang yang punya pikiran bunuh diri membuat “pernyataan” yang merendahkan dirinya sendiri dan bertindak agresif12Hutcheon, L., & Hutcheon, M. (1999). Death Drive: Eros and Thanatos in Wagner’s “Tristan und Isolde”. Cambridge Opera Journal, 11(3), 267–293. https://doi.org/10.1017/S0954586700005073 .

Pikiran manusia bisa diibaratkan layaknya gunung es di laut. Puncak gunung es yang terlihat di atas permukaan laut adalah “kesadaran” manusia, sementara badan gunung es yang jauh lebih besar dan tidak tampak dari permukaan adalah “prasadar dan ketidaksadaran” manusia13Stevenson, Op. Cit.. Dorongan-dorongan alamiah dasar yang bekerja dengan pleasure principle membuat manusia dapat sintas dalam hidup. Namun, dorongan tersebut dapat mengalami konflik ketika id dihadapkan pada realitas yang tak sesuai dengan keinginan. Id merupakan dorongan-dorongan paling mendasar manusia, salah satunya hasrat mendapat ketenangan hidup yang mendorong seseorang untuk menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan. Ketika dorongan dan hasrat ini tidak terpenuhi, maka timbul suatu proses yang disebut sebagai “penderitaan”. Penderitaan yang dialami seorang manusia akan terakumulasi di alam bawah sadarnya yang “tak terlihat”. Jika penderitaan yang terakumulasi itu berlangsung secara kontinu dan dalam “skala besar” sementara ia tak dapat menyalurkan energi insting hidupnya, maka akan timbul suatu pikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri14Freud, S. (2003). Beyond the Pleasure Principle: And Other Writings. UK: Penguin Books.

Keputusasaan dalam Pemaknaan Eksistensial

Penelitian Rutter dan Behrendt (2004) mengidentifikasi empat faktor utama yang berkorelasi dengan risiko bunuh diri: keputusasaan, permusuhan, konsep diri yang negatif, dan isolasi. Keputusasaan dan depresi merupakan korelasi yang signifikan terhadap keinginan untuk bunuh diri15Rutter, P. A. & Behrendt, A. E. (2004). Adolescent Suicide Risk: Four Psychosocial Factors Adolescence. Adolescene, 39(154), 295-302.. Meskipun banyak perhatian telah diberikan pada masalah bunuh diri, hanya sedikit perhatian yang diberikan pada beberapa faktor penyebab utama yang disebutkan di atas, terutama keputusasaan. Faktor ini sangat penting mengingat manusia selalu melalui proses pembentukan identitas yang mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep diri, tujuan, dan makna hidup16Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W. W. Norton & Company..

Komponen yang sering muncul dalam proses pembentukan dan pengembangan identitas adalah kecemasan eksistensial yang merupakan masalah inti manusia dalam filsafat dan teori perkembangan manusia. Isu-isu tentang hidup dan mati serta makna yang lebih luas seputar eksistensi menjadi menonjol, namun hanya sedikit perhatian yang dicurahkan untuk menerapkan prinsip-prinsip eksistensial17Fitzgerald, B. (2005). An Existential View of Adolescent Development. Adolescence, 40(160), 793-9. https://doi.org/10.1016/S0168-9525(99)01898-3 . Seseorang yang secara aktif mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan seputar eksistensi mereka dapat mengalami tingkat kecemasan dan depresi lebih tinggi yang dapat meningkatkan risiko perilaku bermasalah, melukai diri sendiri, dan bunuh diri, terutama saat ia merasa terhenti atau tidak dapat menemukan makna dan tujuan hidup18Berman, A. L., Jobes, D. A., & Silverman, M. M. (2006). Adolescent Suicide: Assessment and Intervention. American Psychological Association. https://doi.org/10.1037/11285-000 .

Filsafat Pencarian Makna dan Eksistensi Hidup

Schopenhauer berpandangan bahwa semua kehendak pada manusia mengimplikasikan rasa sakit. Menurutnya, kekurangan atau kebutuhan yang menjadi dasar keinginan manusia adalah keadaan yang menyakitkan dan tidak menyenangkan. Dengan demikian, penderitaan juga merupakan pengalaman yang tak menyenangkan. Hidup manusia adalah kehendak yang konstan dan oleh karenanya manusia terus menerus tersiksa oleh keinginan yang berulang dan rasa sakit yang menyertainya19Elgat, G. (2019). Nietzsche’s Failed Engagement with Schopenhauer’s Pessimism: An Analysis Inquiry, 65(2), 129–153. https://doi.org/10.1080/0020174X.2019.1612776 . Filsafat Pesimisme Schopenhauer memiliki pandangan bahwa kehidupan manusia bernilai negatif dan begitu celaka sehingga ketidakberadaan lebih baik daripada keberadaan. Tak hanya kehidupan seseorang, kehidupan secara keseluruhan, dalam filsafat pesimisme, adalah sebuah kesalahan. Schopenhauer melalui pandangan pesimismenya menyatakan pertentangan dengan optimisme Leibniz yang mengatakan bahwa dunia ini adalah meilleur des mondes possibles 20Gemes, K. & Janaway, C. (2011). Life-denial Versus Life-affirmation: Schopenhauer and Nietzsche on Pessimism and Asceticism. Wiley-Blackwell. https://doi.org/10.1002/9781444347579.ch19

Terkait dengan pemaknaan hidup, Albert Camus menyatakan bahwa sia-sia saja mencari makna hidup yang di dalamnya tidak ada makna yang melekat dan ditakdirkan untuk acak. Dalam mitologi Yunani The Myth of Sisyphus, Camus memetaforakan kehidupan manusia sebagai serangkaian pekerjaan sehari-hari yang membosankan seperti yang dilakukan Sisyphus menggulingkan batu ke atas bukit21Camus, A. (1955). The Myth of Sisyphus. New York: Vintage Books. Ia menganggap bahwa hidup pada dasarnya tidak memiliki makna dan tujuan. Hidup dengan kesadaran akan absurditas kehidupan adalah pertanyaan utama filsafat Camus. Jika hidup ini tidak masuk akal, apa gunanya hidup? Mengapa seseorang tidak bunuh diri dan mempercepat nasibnya? Melalui simbol Sisyphus, Camus menjawab pertanyaan ini dengan menghadirkan alternatif selain bunuh diri. Dia menolak semua hal yang menghapus kesadaran akan absurditas, seperti agama, bunuh diri, dan eksistensialisme22Abebe, A. H. (2020).Absurdity and Meaninglessness of Life in the Poems of Eshetu Chole. Eastern African Literary and Cultural Studies, 8(3), 117–138.”https://remote-lib.ui.ac.id:2075/10.1080/23277408.2020.1802568″. https://doi.org/10.1080/23277408.2020.1802568

Dalam pandangan Nietzsche terkait nihilisme yang melibatkan pengingkaran terhadap berbagai kepercayaan dan nilai moral, keyakinan bahwa hidup tak ada gunanya terjadi ketika individu yang memiliki keyakinan tersebut menemukan alasan untuk menolak kehidupan dan eksistensi secara keseluruhan. Nihilisme melibatkan pengingkaran mendasar terhadap kehidupan atau pelepasan diri dari kehidupan itu sendiri. Ini merupakan bentuk penyangkalan hidup—negasi kehidupan. Maka, penyangkalan hidup yang nihilistik melibatkan penilaian negatif terhadap kehidupan dan eksistensi: bahwa eksistensi itu tidak berharga, hidup itu tidak layak untuk dijalani, atau keyakinan bahwa akan lebih baik untuk tidak eksis23Creasy, K. (2023, April 5). For Nietzsche, Nihilism Goes Deeper than ‘Life is Pointless’. Psyche.”https://psyche.co/ideas/for-nietzsche-nihilism-goes-deeper-than-life-is-pointless”>https://psyche.co/ideas/for-nietzsche-nihilism-goes-deeper-than-life-is-pointless.

Menemukan Makna dalam Penderitaan

Viktor E. Frankl (1905–1997), psikiater Austria dan penyintas Holocaust, menawarkan gagasannya mengenai bagaimana manusia bisa menghadapi penderitaan. Dalam pengalamannya di kamp konsentrasi Nazi, ia menyadari bahwa hidup tak hanya dipenuhi oleh kebahagiaan, tetapi juga penderitaan yang tak bisa terhindarkan24Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press.. Pandangan utama eksistensial Frankl adalah bahwa hidup berarti menderita dan penderitaan merupakan bagian integral penting dalam kehidupan.

Tanpa penderitaan dan kematian, kehidupan manusia tak akan bisa menjadi lengkap. Bertahan hidup berarti menemukan makna dalam penderitaan yang membuat hidup menjadi lengkap25Parker, G. (2021). In search of Logotherapy.. Australian & New Zealand Journal of Psychiatry, 56(7). “https://remote-lib.ui.ac.id:2075/10.1177/00048674211062830”. remote-lib.ui.ac.id:2075/10.1177/00048674211062830.Dalam tulisannya, Frankl sering kali mengutip Nietzsche yang berpesan bahwa, “If you have a why to live, you can bear any hour, that which does not kill me makes me stronger Frankl menulis itu bukan tanpa alasan. Ia sadar bahwa makna hidup tidak hanya akan meringankan penderitaan, tetapi juga memberikan kekuatan untuk menghadapi segala bentuk masalah dan krisis dalam kehidupan26CE Noticias Financieras. (2022). De Friedrich Nietzsche a Viktor Frankl. CE Noticias Financieras, English ed. ContentEngine LLC.”https://www.proquest.com/wire-feeds/de-friedrich-nietzsche-viktor-frankl/docview/2666417387/se-2?accountid=17242″> https://www.proquest.com/wire-feeds/de-friedrich-nietzsche-viktor-frankl/docview/2666417387/se-2?accountid=17242.

Amor Fati: Seni Mencintai Takdir Hidup

Dalam bukunya yang berjudul Ecce Homo, Nietzsche menuliskan frasa lain yang cukup puitis, tetapi juga menampar yang berbunyi “fatum brutum amor fati” atau mencintai takdir walau takdir hadir dengan begitu brutal.”27Nietzsche, F. (2005). Ecce Homo: How One Becomes What One Is (R. J. Hollingdale, Trans.). Penguin Classics..  Dalam catatan Nietzsche tersebut, dia menekankan pada kita-kita yang merasa lepas kendali atas hidup untuk menerima kelepasan yang telah terjadi. Hal ini dimintanya karena semua yang ada dan terjadi di hidup manusia berlalu tanpa manusia tersebut benar-benar tahu apa dan mengapa. Ketidaktahuan ini, menurut Nietzsche, adalah hal yang harus kita terima dan cintai sebagai bentuk atas keterbatasan kita dalam menghadapi dunia28Chang, E. C. (2024). Amor Fati and the Negation of Life: Examining Existential Meaning in Life and Regret as Processes Involved in the Association Between One’s Love of Fate and Suicidal Ideation.Journal of Humanistic Psychology, 0(0). “https://doi.org/10.1177/00221678241285128” https://doi.org/10.1177/00221678241285128. 

Sama seperti hal lainnya, penderitaan hidup adalah hal yang manusia tak bisa ketahui apa dan mengapa. Oleh karena itu, alih-alih kabur dari hal-hal ini, Nietzsche menyerukan bahwa kita haruslah berani untuk menerima semua yang telah dan akan terjadi dengan brutal seperti seorang pahlawan. Seperti yang ditulis Nietzsche juga, “inti dari realitas adalah kekacauan, adalah kaotis.” Sehingga, hal paling bijak dan logis yang dapat kita lakukan dalam hidup, pertama-tama, adalah menerima kehidupan lengkap dengan seluruh keruwetan problemnya, ketidakjelasan dunianya, dan tentu takdirnya yang sering menghantam dengan kejamnya29Adha, M. A. M. (2023). Amor Fati: Nietzsche dan Stoikisme. LSF Discourse. https://lsfdiscourse.org/amor-fati-nietzsche-dan-stoikisme/. 

Akhir Kata

Kehidupan, dengan segala kerumitannya, sering kali membawa manusia pada pertanyaan tentang makna dan tujuan, terlebih di tengah kekacauan dan penderitaan yang mungkin kita alami. Namun, eksistensi manusia adalah bukti bahwa selalu ada ruang untuk menemukan nilai di balik setiap proses hidup. Dalam absurditas, ada kebebasan untuk memilih sikap dan dalam kebebasan itulah makna hidup tercipta. Seperti yang diajarkan Nietzsche, mencintai takdir—amor fati—adalah cara untuk menerima hidup sepenuhnya dengan segala keindahan dan kekurangannya.

Hidup adalah perjalanan dan setiap perjalanan memiliki tujuan yang layak dijalani. Tiap perjalanan, sekecil apa pun, membawa nilai yang tak tergantikan. Dalam perjalanan ini, keberanian untuk bertahan, menciptakan, dan memberikan arti menjadi kekuatan yang melampaui ketidakpastian. Meskipun makna tidak selalu terlihat jelas, keyakinan bahwa setiap langkah memiliki nilai adalah dasar untuk terus berjalan, menjadikan hidup ini lebih dari sekadar eksistensi, tetapi sebuah karya yang utuh.

Referensi[+]

Referensi
↵1 World Health Organization. (2024, August 29). WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/suicide
↵2 Purwanto, A. (2024, March 4). Menyelisik Problematika Kasus Bunuh Diri. Kompas. https://www.kompas.id/baca/riset/2024/03/14/menyelisik-problematika-kasus-bunuh-diri
↵3 World Health Organization, Op. Cit.
↵4 Bertens, K. (2006). Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
↵5 Stevenson, L. F., Haberman, D. L., & Wright, P. M. (2012). Twelve Theories of Human Nature. New York: Oxford University Press.
↵6 Sugiyono, P. B. (2023). Menimbang Manifestasi Ateisme Freud Malang: Lingkar Studi Filsafat Discourse.
↵7 Alwisol. (2008).Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
↵8 Pals, D. L. (2003). Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama Yogyakarta: Institute for Religion and Society Development.
↵9 Alwisol, Op. Cit.
↵10 Barnhart, J. E. (1972). Freud’s Pleasure Principle and the Death Urge The Southwestern Journal of Philosophy, 3(1), 113–120. https://doi.org/10.5840/swjphil19723112 .https://doi.org/10.5840/swjphil19723112
↵11 Abel‐Hirsch, N. (2010).The Life Instinct. The International Journal of Psychoanalysis, 91(5), 1055–1071. “https://doi.org/10.1111/j.1745-8315.2010.00304.x”>https://doi.org/10.1111/j.1745-8315.2010.00304.x
↵12 Hutcheon, L., & Hutcheon, M. (1999). Death Drive: Eros and Thanatos in Wagner’s “Tristan und Isolde”. Cambridge Opera Journal, 11(3), 267–293. https://doi.org/10.1017/S0954586700005073
↵13 Stevenson, Op. Cit.
↵14 Freud, S. (2003). Beyond the Pleasure Principle: And Other Writings. UK: Penguin Books
↵15 Rutter, P. A. & Behrendt, A. E. (2004). Adolescent Suicide Risk: Four Psychosocial Factors Adolescence. Adolescene, 39(154), 295-302.
↵16 Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W. W. Norton & Company.
↵17 Fitzgerald, B. (2005). An Existential View of Adolescent Development. Adolescence, 40(160), 793-9. https://doi.org/10.1016/S0168-9525(99)01898-3
↵18 Berman, A. L., Jobes, D. A., & Silverman, M. M. (2006). Adolescent Suicide: Assessment and Intervention. American Psychological Association. https://doi.org/10.1037/11285-000
↵19 Elgat, G. (2019). Nietzsche’s Failed Engagement with Schopenhauer’s Pessimism: An Analysis Inquiry, 65(2), 129–153. https://doi.org/10.1080/0020174X.2019.1612776
↵20 Gemes, K. & Janaway, C. (2011). Life-denial Versus Life-affirmation: Schopenhauer and Nietzsche on Pessimism and Asceticism. Wiley-Blackwell. https://doi.org/10.1002/9781444347579.ch19
↵21 Camus, A. (1955). The Myth of Sisyphus. New York: Vintage Books
↵22 Abebe, A. H. (2020).Absurdity and Meaninglessness of Life in the Poems of Eshetu Chole. Eastern African Literary and Cultural Studies, 8(3), 117–138.”https://remote-lib.ui.ac.id:2075/10.1080/23277408.2020.1802568″. https://doi.org/10.1080/23277408.2020.1802568
↵23 Creasy, K. (2023, April 5). For Nietzsche, Nihilism Goes Deeper than ‘Life is Pointless’. Psyche.”https://psyche.co/ideas/for-nietzsche-nihilism-goes-deeper-than-life-is-pointless”>https://psyche.co/ideas/for-nietzsche-nihilism-goes-deeper-than-life-is-pointless
↵24 Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press.
↵25 Parker, G. (2021). In search of Logotherapy.. Australian & New Zealand Journal of Psychiatry, 56(7). “https://remote-lib.ui.ac.id:2075/10.1177/00048674211062830”. remote-lib.ui.ac.id:2075/10.1177/00048674211062830
↵26 CE Noticias Financieras. (2022). De Friedrich Nietzsche a Viktor Frankl. CE Noticias Financieras, English ed. ContentEngine LLC.”https://www.proquest.com/wire-feeds/de-friedrich-nietzsche-viktor-frankl/docview/2666417387/se-2?accountid=17242″> https://www.proquest.com/wire-feeds/de-friedrich-nietzsche-viktor-frankl/docview/2666417387/se-2?accountid=17242
↵27 Nietzsche, F. (2005). Ecce Homo: How One Becomes What One Is (R. J. Hollingdale, Trans.). Penguin Classics.
↵28 Chang, E. C. (2024). Amor Fati and the Negation of Life: Examining Existential Meaning in Life and Regret as Processes Involved in the Association Between One’s Love of Fate and Suicidal Ideation.Journal of Humanistic Psychology, 0(0). “https://doi.org/10.1177/00221678241285128” https://doi.org/10.1177/00221678241285128
↵29 Adha, M. A. M. (2023). Amor Fati: Nietzsche dan Stoikisme. LSF Discourse. https://lsfdiscourse.org/amor-fati-nietzsche-dan-stoikisme/

Related Posts

Dinamika Pemira IKM UI: Gejolak Menuju Pemungutan Suara
Hard News

Dinamika Pemira IKM UI: Gejolak Menuju Pemungutan Suara

Is Folklore Dying or Evolving? Unpacking Its Modern Crisis
Kilas Riset

Is Folklore Dying or Evolving? Unpacking Its Modern Crisis

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide