‘Satu-satunya hal yang bisa kita pastikan tentang masa depan adalah bahwa itu akan berbeda.’ – Albert Einstein
Tidak Ada Bidang Pekerjaan yang “Aman”
Ancaman AI terhadap lapangan kerja manusia muncul dari kemampuannya untuk mengotomatisasi tugas-tugas yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh manusia. AI mampu belajar dari data dalam jumlah besar, mengidentifikasi pola, dan membuat keputusan dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan manusia. Hal ini memungkinkan AI untuk mengambil alih pekerjaan yang bersifat repetitif, rutin, dan memerlukan analisis data yang kompleks. Pekerjaan di bidang manufaktur, pelayanan pelanggan, hingga keuangan menjadi beberapa contoh sektor yang paling rentan terdisrupsi oleh AI. Dengan kemampuan pengolahan data hari ini pun kita tidak lagi butuh bookkeeper, kasir, operator alat berat, dan koki restoran. Praktik otomatisasi di beberapa sektor tadi sudah bisa kita temukan di negara dengan perkembangan teknologi maju seperti Singapura.
Tidak ada bidang ilmu yang benar-benar tidak berpeluang untuk diotomatisasi. Jangan mengira hanya karena anda tengah menjalani studi yang “kompleks” karir anda dijamin aman. Seringkali dalam sebuah forum diskusi topik ini, beberapa orang berasumsi job seorang dokter tidak akan pernah tergantikan AI sebab pendidikan dokter merupakan studi yang sangat kompleks. Well, mungkin benar; apabila peran dokter tidak sebatas mendiagnosa dan meresepkan obat. AI dapat dengan mudah diprogram untuk melakukan keduanya. Melalui pemodelan data medis yang ekstensif, AI mampu meniru pola diagnosis dan rekomendasi pengobatan dari berbagai praktisi. Hasilnya, akurasi diagnosis meningkat dengan waktu relatif singkat. Sama halnya seorang akuntan, apabila perannya sebatas membuat laporan dan melakukan analisa keuangan, AI jauh lebih menguntungkan perusahaan. Sebab, menggunakan kecerdasan buatan akan mengurangi risiko bias dalam memproses informasi.
Berkat pengembangan algoritma, kecerdasan buatan tak lagi terbatas pada tugas-tugas repetitif. AI telah dikembangkan hingga mampu memecahkan berbagai jenis masalah, termasuk yang membutuhkan kreativitas. Hari ini kita telah mengenal generative AI, yakni jenis kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan teks, gambar, video, atau karya lain sebagai respons terhadap perintah. Generative AI mempelajari pola dan struktur data input mereka, kemudian menghasilkan data baru yang memiliki karakteristik serupa. AI Generatif telah mengancam industri kreatif dengan memperkenalkan alat baru yang dapat membantu proses kreatif. Alih-alih memulai dari awal, manusia dapat menggunakan algoritma AI generatif untuk membuat karya seni atau desain. Manusia tak lagi harus menyewa seniman atau ilustrator untuk menghasilkan karya yang diinginkan, cukup menyusun prompt, memasukkannya ke dalam sistem, dan voila!
Belum Akan Terjadi Segera, Untuk Apa Khawatir?
Dalam jangka pendek, kecerdasan buatan (AI) mungkin belum akan menjarah seutuhnya pekerjaan anda. Malam ini, anda mungkin masih bisa tidur nyenyak. Besok pagi ketika datang ke kantor, para karyawan mungkin belum akan dibagikan surat PHK dengan tulisan “Pulanglah, kami telah menemukan mesin pintar yang akan menggantikan anda” seperti brosur promosi jalanan. Akan tetapi, AI pastinya akan segera merombak lanskap pekerjaan manusia secara signifikan. Perihalnya bukan terjadi atau tidak terjadi, melainkan seberapa cepat itu akan terjadi.
Dengan perspektif masa kini, manusia belum dapat sepenuhnya memperkirakan akselerasi perkembangan AI dua dekade mendatang. Hari ini, pengadopsian kecerdasan buatan (AI) di Indonesia masih berada di tahap early stage development, sehingga inovasinya belum terlihat konkret. Evolusi kecerdasan buatan sesungguhnya merupakan bom waktu di dunia ketenagakerjaan. Transformasi massal dalam waktu singkat mungkin tidak akan terjadi, namun disrupsi AI sudah pasti akan semakin tampak kentara.
Sumber: Kiela et al. (2023) – with minor processing by Our World in Data. “Test scores of the AI relative to human performance” [dataset]. Kiela et al., “Dynabench: Rethinking Benchmarking in NLP” [original data].
Berdasarkan analisis (selama dua dekade) dari Our World in Data, kita dapat meninjau bagaimana kinerja manusia dan AI dalam berbagai domain, mulai dari pengenalan tulisan hingga pemahaman bahasa . Kondisi ini menjadi adalah salah satu bukti bahwa kemampuan kognitif dari sistem AI telah berkembang begitu pesat. Data tersebut mengumpulkan hasil tes dari serangkaian domain di sebelah kanan. Kemampuan manusia dalam tes dianggap konstan dan ditempatkan di posisi 0. Mesin AI memulai dari nilai yang jauh di bawahnya. Jika mesin AI bisa mendapatkan nilai lebih tinggi dari 0, berarti mesin tersebut lebih pintar dari manusia dalam hal tertentu. Dapat kita lihat dari grafik sepuluh tahun lalu tidak ada mesin yang mampu memberikan pengenalan bahasa atau gambar seperti manusia. Namun, sistem AI menjadi semakin mumpuni dan kini mengalahkan manusia dalam hampir semua kemampuan kognitif 1https://ourworldindata.org/brief-history-of-ai. Beberapa tahun belakangan, kemampuan pemahaman baca tulis AI semakin bergerak melampaui rata-rata manusia. AI dapat menulis email secara otomatis, menerjemahkan teks, hingga membuat laporan ilmiah. Per hari ini sistem AI mungkin belum bisa menghasilkan teks yang panjang dan koheren seperti novel dan karya sastra sejenisnya, tetapi mungkin beberapa tahun lagi akan lahir William Shakespeare versi kecerdasan buatan, siapa tahu?
Kiamat Nyata bagi Indonesia
Dampak transformatif kecerdasan buatan terhadap lapangan pekerjaan manusia sudah menjadi realitas global yang tak terelakkan. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menguasai teknologi itu sendiri. AI pada hakikatnya adalah alat pembantu produktivitas. Maka dari itu, kita harus membekali diri dengan pengetahuan IT supaya kita mampu memberlakukan AI sebagaimana tujuan ia diciptakan.
Transisi menuju ekonomi digital di negara berkembang dengan basis industri padat karya seperti Indonesia akan menimbulkan permasalahan kompleks. Hasil analisis Produk Domestik Bruto (PDB) dan Survei Angkatan Kerja BPS tahun 2022 menunjukkan adanya fenomena pergeseran dari industri padat karya ke padat modal di Indonesia yang ditandai dengan melonjaknya rata-rata pertumbuhan PDB sektor padat modal. Dalam jangka panjang, fenomena ini akan berujung pada melonjaknya angka pengangguran struktural.
Menyikapi fenomena ini, pemerintah mengklaim telah berupaya meluncurkan berbagai program seperti training, pengembangan pendidikan vokasi, hingga beasiswa seperti Digital Talent Scholarship yang telah dirilis sejak 2018 silam. Akan tetapi, saya pikir program-program terkait tampaknya belum akan cukup mengentaskan masalah darurat talenta digital di Indonesia. Mengapa? Ada tiga alasan utama.
Pertama, tingkat literasi digital rata-rata masyarakat kita masih rendah. Dengan lebih dari 210 juta pengguna, Indonesia merupakan salah satu negara pengguna internet tertinggi di dunia. Pada Januari 2023, Indonesia berada di peringkat keempat setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Sangat disayangkan bahwa hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia terpapar akses internet, tetapi hanya menjadi penikmat konten yang pasif 2Jayanthi, R., & Dinaseviani, A. (2022). Kesenjangan Digital Dan Solusi Yang Diterapkan di Indonesia selama pandemi covid-19. JURNAL IPTEKKOM Jurnal Ilmu Pengetahuan & Teknologi Informasi, 24(2), 187–200. https://doi.org/10.17933/iptekkom.24.2.2022.187-200. Mayoritas piawai menggunakan media sosial dan browser penelusuran, namun enggan untuk mengembangkan kompetensi IT lebih lanjut. Berdasarkan survei yang diadakan oleh DataReportal pada tahun 2023, masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata sekitar 3 jam 11 menit di media sosial setiap hari, sementara untuk bermain game online dan mendengarkan musik sekitar 2 jam 43 menit 3https://datareportal.com/reports/digital-2023-indonesia. Tanpa kita sadari, begitu banyak waktu yang kita habiskan untuk hal-hal yang sia-sia seperti menjadi aktivis tak dibayar di media sosial.
Kedua, minat generasi muda Indonesia terhadap ilmu Sains dan Teknologi masih belum masif, akibatnya muncul shortage demand akan tenaga terampil di bidang terkait. Studi oleh Bank Dunia dan McKinsey menunjukkan kebutuhan Indonesia diperkirakan mencapai 9 juta orang hingga 2030, sementara pasokan lulusan IT hanya sekitar 180 ribu orang per tahun. Dilihat dari aspek gender, Indonesia memiliki jumlah pekerja wanita terendah di sektor teknologi (22%) se-Asia Tenggara 4Rastogi, V., Meyer, M., Tan, M., & Tasiaux, J. (2020, October 19). Boosting Women in Technology in Southeast Asia. bcg.com. https://www.bcg.com/publications/2020/boosting-women-in-southeast-asia-tech-sector#:~:text=Indonesia%20has%20the%20lowest%20share,the%20overall%20workforce%20(32%25). Angka ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh budaya patriarki yang mengakar di masyarakat. Stigma bahwa profesi teknis tidak cocok untuk wanita, sering kali membuat para pendidik memandang pelajaran seperti ilmu komputer dan sains data terlalu rumit untuk wanita. Akibatnya, pola pikir insecure menjadi terinternalisasi dalam diri kaum muda wanita Indonesia.
Melihat kondisi pasar tenaga kerja hari ini, saya rasa sudah waktunya kita mendorong minat generasi muda, tak terkecuali kaum wanita, ke arah ilmu-ilmu praktikal, khususnya di bidang Sains dan Teknologi. Sudah cukup kita menampung muda-mudi pengangguran yang menghabiskan lima tahun untuk ilmu teoritis seperti filosofi, sastra, atau kebudayaan. Kita juga tidak butuh ribuan sarjana manajemen sumber daya manusia (SDM) setiap tahun, mengingat personnel Human Resource tidak terlalu banyak dibutuhkan perusahaan. Sebaliknya, peluang ekonomi terbentang luas di ranah teknologi informasi, seperti yang telah saya elaborasi di atas.
Memang, menghapus ilmu teoritis di kurikulum pendidikan bukanlah solusi yang tepat untuk mendorong generasi muda menggeluti IT. Akan tetapi, Kemendikbud Ristek dan lembaga perguruan tinggi dapat mencoba membuat kebijakan pengalihan kuota penerimaan dari jurusan-jurusan terkait ke jurusan bidang IT. Saya pikir ini bisa menjadi insentif dalam meningkatkan penetrasi mahasiswa ke bidang IT di perguruan tinggi.
Ketiga, masalah tentang pemerataan pendidikan masih terus bergulir. Di luar sana masih banyak teman-teman kita yang, jangankan untuk terpapar kemampuan digital, bersekolah saja tidak. Fondasi pengetahuan seperti membaca, menulis, dan berhitung tentunya krusial sebelum seseorang mengembangkan kemampuan digital. Terkadang, status sosial-ekonomi menghalangi seseorang untuk mengembangkan keterampilan sebab tidak semua orang memiliki privilege akses ke pendidikan yang lebih baik.
Di samping tiga faktor internal di atas, ketidakmerataan infrastruktur telekomunikasi turut memperparah masalah ini. Berdasarkan hasil Survei Literasi Digital 2022 yang dilakukan oleh KataData dan Kominfo, 98% dari responden mengaku masih sering mengalami gangguan koneksi akibat jaringan yang tidak stabil. Data ini menunjukkan bahwa kualitas layanan internet Indonesia perlu ditingkatkan, terutama di daerah perbatasan yang memiliki infrastruktur telekomunikasi belum memadai. Mirisnya, masyarakat perbatasan cenderung memanfaatkan akses internet lebih banyak untuk kegiatan hiburan non produktif (Muttaqin, 2019). Padahal, anggaran kuota internet dan waktu mereka bisa digunakan untuk kegiatan produktif, misalnya dengan mengikuti berbagai kursus online gratis. Apabila tidak ingin mendalami ilmu-ilmu “berat”, mereka bisa mencari tahu teknik budidaya peternakan atau pertanian modern lalu menjadikannya peluang bisnis. Sungguh orang-orang yang merugi.
Kita Telah Tertinggal, Lalu Sekarang Apa?
Bersyukurlah apabila anda memiliki perangkat elektronik yang memadai, artinya anda hari ini masih bisa mengejar ketertinggalan kemampuan digital. Dengan bermodalkan perangkat elektronik dan akses internet saja anda bisa menguasai dunia. Dengan demikian, manfaatkanlah privilege anda sebaik mungkin.
Banyak orang mempermasalahkan kurangnya waktu ketika ingin belajar hal-hal teknis seperti bahasa pemrograman atau cara mengoperasikan software. Saya pikir jika ada cukup waktu bagi anda untuk meng-update status dan menonton trend TikTok selama 8 jam non-stop, seharusnya juga cukup bagi anda untuk belajar hal-hal produktif. Tidak ada lagi alasan bagi anda untuk tidak belajar.
Lantas, apakah dengan tulisan ini saya secara implisit mengatakan disiplin ilmu yang anda tekuni hari ini tidak berguna? Tentu saja tidak. Jika selama ini anda bahagia dengan jalan karir anda, bodoh bagi anda untuk menyesalinya. Kita tidak bisa menekan tombol pause and replay di film kehidupan. Apapun keputusan karir yang telah anda buat sesungguhnya tidak menjadi batasan diri anda untuk mengeksplor hal-hal yang belum pernah anda coba selama ini. Seperti yang telah saya jelaskan, hari ini sudah banyak tersedia platform digital yang menyediakan kursus bagi pemula yang benar-benar baru terjun ke dunia komputasi. Bahkan, hari ini banyak ahli yang beranggapan sekolah formal tidak diperlukan lagi, sebab telah banyak dibuka bootcamp yang lebih efisien dan fleksibel.
Anda tidak perlu paham semua bahasa pemrograman untuk memiliki portofolio karir yang seksi. Menguasai semua bahasa pemrograman adalah tujuan yang tidak realistis dan tidak efisien. Yang penting anda mampu menguasai bahasa yang relevan dengan bidang yang anda tekuni. Sebagai contoh, anda adalah seorang auditor keuangan. Tugas-tugas sederhana seperti mengumpulkan bukti audit dengan sampel, memeriksa kontrak, dan menemukan kesalahan dalam dokumen, dapat dilakukan AI. Tugas anda adalah membuat judgements berdasarkan standar audit dan menginterpretasikan hasil yang diberikan oleh AI. Apabila anda mengerti cara kerja AI dalam menelisik informasi di database, sewaktu ada error anda bisa mengidentifikasinya. Selain itu, dengan memahami bahasa pemrograman terkait database, yakni Structured Query Language (SQL), anda dapat mengekstrak data yang diperlukan dengan jauh lebih cepat.
Sebagai pelaku ekonomi yang rasional kita seharusnya mampu membaca peluang di masa depan. Jika anda masih tidak ingin mulai belajar, terserah anda. Pada akhirnya, mereka yang mampu beradaptasi lah yang akan beruntung.
Referensi

