Jazz Goes To Campus atau yang dikenal JGTC merupakan festival musik yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (BEM FEB UI) dan selalu dinanti tak hanya oleh mahasiswa UI, tetapi juga khalayak umum. Tahun ini JGTC menapaki umur ke-47 sebagai festival musik tertua di UI. Selain memberi kemeriahan dengan menampilkan jajaran artis nasional maupun internasional, JGTC juga memberi kehangatan melalui museum yang dirangkai sedemikian cantik.
Pada Selasa (20/11), Economica berkesempatan untuk mewawancarai Alika Myeisha (Ale) sebagai Koordinator Divisi Expression dan Wildan Fuady (Wildan) sebagai Kontrol Internal Divisi Expression untuk dapat mengenal lebih dalam mengenai Museum The 47th JGTC.
Menikmati Jaz Selain dengan Telinga
Setiap tahun, JGTC memiliki ide baru untuk membumikan musik jaz di kalangan mahasiswa maupun umum. Salah satu idenya adalah dengan membuat museum yang membawakan unsur jaz. “Tahun ini kita membawa tema ‘Visualing Jazz’, kami ingin menyampaikan bahwa jaz bukan hanya dapat dinikmati oleh indra pendengaran, tetapi juga bisa dinikmati (oleh) indra penglihatan”, ujar Ale. Ale menambahkan, “Berkaca saat acara kemarin, selain menyampaikan pesan-pesan tentang jaz, para pengunjung juga menjadikan museum sebagai tempat beristirahat yang memberi kehangatan dari hiruk pikuk kemeriahan konser.”
Tidak seperti museum sejarah pada umumnya, museum JGTC ini menggambarkan perkembangan genre musik jaz serta memberikan kilas balik acara JGTC dari tahun ke tahun. Selain itu, museum ini juga merupakan ruang berekspresi penggemar musik dan media untuk menikmati jaz melalui mata untuk semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap genre musik ini.
Detail Instalasi Seni Museum
Museum JGTC tahun ini memiliki luas 100m2 yang terdiri dari empat bagian atau section yang memiliki daya tarik masing-masing. “Di museum ini kita ada 4 section, ada section A, section B, section C, dan section D. Section A dinamakan ‘Introducing JGTC’, nah itu berisi artis-artis internasional sebelum-sebelumnya yang pernah manggung di JGTC, dan ada juga founder dari JGTC yaitu Candra Darusman,” jelas Wildan. Selain itu, ia turut menambahkan bahwa museum JGTC kali ini juga berkolaborasi dengan Sierra Social untuk proses instalasinya.

Sementara itu, di section C terdapat instalasi saksofon milik musisi muda yang juga merupakan salah satu mahasiswa FEB UI, bernama Rafi Sudirman.



“Adanya section yang namanya TV Corner, karena ada tumpukan TV yang nampilin hasil video dari sebuah kamera. Kamera itu ada di antara section B dan section C. Ada juga Jaggytessa, yang merupakan maskot JGTC,” ujar Wildan.


Ale pun menambahkan, “Di section D ada tiga art installation, yang pertama Jazz Kinetic Wall (yang mana) semacam struktur yang dihias pakai album jaz. Kedua Vinyl Vibes, itu ada kaca yang rame banget buat mirror photo (selfie). Terakhir ada nama-nama orang di belakang JGTC sebagai bentuk penghargaan kita karena telah bekerja keras menyukseskan JGTC.”
Para penonton juga banyak yang mengunggah hasil foto mereka pada bagian ini di media sosial mereka masing-masing. Saking iconic-nya, banyak pendatang yang rela mengantre panjang untuk mengambil foto di sana, sehingga section ini menjadi yang paling favorit.

Proses Pembuatan Instalasi
Segala proses dalam pembuatan museum ini tentu bermula dari perancangan konsep dan dilanjut dengan eksekusi. Persiapan divisi expression JGTC sendiri sudah dilakukan dari beberapa bulan sebelum acara. “Proses eksekusi berjalan dari Agustus, tapi untuk konsep dan ide udah dimulai di sekitar bulan Mei atau April dan memakan waktu 3 minggu,” terang Ale
Ale juga memberikan penjelasan mengenai proses yang harus dilalui divisi ini mulai dari tahap pembuatan konsep hingga akhirnya proses eksekusi berjalan. “Pembuatan konsep dibagi menjadi empat tim dan setiap tim memikirkan ide untuk satu section. Setiap tim juga dipimpin satu BPH (Badan Pengurus Harian), nah BPH ini bertugas untuk memimpin agar kreativitas para staf dikeluarkan,” terang Ale.
Ia menambahkan bahwa setelah konsep matang pun, panitia harus melalui FGD (Forum Group Discussion) dan melakukan presentasi ke divisi lain. Setelah melalui tahap ini, proses eksekusi dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai masukan atau saran dari antar divisi ini.
Harapan untuk Museum JGTC ke Depannya
Ale berharap Museum JGTC ini dapat terus ramai dikunjungi penonton, “Gue harap, dari tahun ke tahun, pengunjung museum selalu ramai dan dari (segi) instalasi (bisa) lebih kreatif dan mewah, agar semakin menarik pengunjung.”
Wildan juga menyampaikan harapannya, “Dari segi pencahayaan mungkin bisa lebih remang-remang kayak Museum Macan atau kayak museum-museum di Singapura.” Ke depannya, Wildan berharap agar Museum JGTC dapat dibuat menjadi dua lantai, “Biar bisa menampung lebih banyak pengunjung karena kemarin (kunjungan) sempat harus distop karena terlalu rame dan (museum) terpaksa tutup lebih awal.”
Editor: Marshellin, Rafa, dan Titania
