“Hormati orang tuamu!”, “Hargai orang tuamu!”, “Dengarkan orang tuamu!”. Beberapa seruan tadi merupakan nasihat-nasihat mulia yang selalu diucapkan guru TK, SD, SMP, SMA, bahkan mungkin dosen-dosen mata kuliah kepribadian di beberapa universitas. Bagaimana tidak, orang tua merupakan sosok manusia yang paling peduli terhadap kita sebagai anaknya. Merekalah yang telah rela melakukan apapun demi kebahagiaan dan kelangsungan hidup anaknya, karena kebahagiaan anaknya lah yang membuat mereka bahagia.
Tunggu..
Apakah pernyataan tadi berlaku generik?
Entah mengapa pendidikan formal dan informal yang saya kenyam semasa hidup saya selalu memberikan nasihat ini, dengan asumsi bahwa semua orang tua merupakan makhluk yang lebih rasional daripada anaknya sampai kapanpun. Edukasi moral yang entah memang sudah terkoordinir dari sistem atau hanya berbasis kearifan lokal selalu condong untuk menjustifikasi perbuatan orang tua, bahkan ketika orang tua tersebut melakukan tindakan yang sedemikian ekstrim yang begitu irrasional.
Secara pribadi saya tidak keberatan dengan nasihat ini. Akan tetapi, tidakkah kita, orang-orang beruntung yang lahir dari keluarga baik nan rasional, terenyuh ketika melihat ekspresi kebencian dan dendam yang terpancar dari wajah-wajah anak korban KDRT ketika dinasihati hal-hal seperti ini? Bagaimana seorang anak yang tidak pernah meminta untuk hidup, bisa mencintai produsen biologisnya ketika hampir setiap hari dia tidak bisa hidup sesuai keinginan rasionalnya? Bagaimana ia bisa mencintai seekor (atau bahkan dua ekor) binatang yang hampir selalu melakukan kekerasan fisik maupun verbal terhadap anggota keluarganya? Bagaimana seorang anak bisa mencintai orang tuanya ketika ia hidup dibawah ancaman kematian dari orang yang membuatnya sendiri? Atau, kasus yang lebih sederhana, bagaimana seorang anak yang hidup di masa yang lebih modern dengan rasionalitas yang lebih maju harus menuruti perintah orang tua yang sudah tidak relevan dengan cita-cita maupun perkembangan zaman?
Saya tidak mengatakan bahwa nasihat tersebut dalam pendidikan formal adalah salah. Akan tetapi, daripada kita mendidik anak untuk mencintai orang tuanya, mengapa tidak kita mendidik orang tua agar dicintai anaknya? Mengapa misal, tidak ada lembaga resmi yang mendidik orang tua agar bisa memberikan nasihat-nasihat rasional yang baik untuk anaknya?
Angan-angan saya adalah agar dibentuk sebuah sistem yang mengharuskan orang tua mengikuti rangkaian pendidikan dan sertifikasi tertentu untuk diberi izin memiliki anak. Mungkin semacam sertifikasi boleh punya anak atau SIM A (Surat Izin Memiliki Anak). Mungkin mereka yang tidak memiliki sertifikat atau belum lulus pendidikan ini akan dikenakan denda yang amat tinggi ketika harus membuat akta kelahiran untuk anaknya. Setidaknya, sistem ini akan memberi disinsentif kepada masyarakat yang semena-mena membuat anak tanpa persiapan. Selain itu, disinsentif seperti ini akan menekan pertumbuhan populasi yang semakin mengkhawatirkan dengan dengan denda yang diberikan ketika menyalahi aturan. Juga, sistem ini akan memberikan wawasan tentang mendidik anak secara baik dan rasional kepada calon-calon orang tua yang bersemangat untuk memperoleh keturunan.
Entahlah. Saya tidak yakin apakah sistem ini akan berjalan efektif bila diterapkan, atau apakah economic benefit yang ditimbulkan lebih tinggi daripada cost yang dibayarkan pemerintah sejak awal. Akan tetapi, setidaknya ada langkah konkrit dari pemerintah untuk mencegah lahirnya anak-anak malang yang pikiran sehari-harinya hanyalah mengapa ia tidak bunuh diri saja.
Penulis: Nabil Rizky R


Discussion about this post