“Dengan sifat yang membedakan saya dari kebanyakan orang, saya berhasil mencapai kepercayaan diri dalam mengekspresikan perbedaan dan keberagaman saya itu, sehingga berhasil merajut kehidupan yang lumayan sejahtera”
Dede Oetomo – pendiri GAYa Nusantara
(Jalan panjang Dede Oetomo dalam menerima identitasnya merupakan perjalanan yang banyak queer rasakan. Penerimaan dan rasa nyaman yang timbul kadang hanya menjadi mimpi bagi para queer di Indonesia)
Latar Belakang
Queer adalah sebuah kata yang mendefinisikan perjuangan dan menjadi suatu frasa yang digunakan individu untuk membebaskan diri dari sempitnya konsep tradisional mengenai identitas 1Jagtiani, J. (2021, December 20). What is queer?. Embodied Philosophy. https://www.embodiedphilosophy.com/what-is-queer/. Kata ini pertama kali muncul pada awal abad ke-16, awalnya dipakai untuk menunjukan sesuatu yang aneh, ganjil, tak biasa, atau eksentrik, tetapi netral. Namun, pada akhir abad ke-19, ada pergeseran penggunaan kata queer yang menjadikan kata tersebut merujuk kepada laki-laki yang memiliki ketertarikan sesama jenis, dengan konotasi negatif 2Associate Professor Timothy W. Jones, history. (2023, January 31). The history of the word “queer.” La Trobe University.. Queer berubah menjadi slur, yang dijadikan senjata, untuk membangun narasi buruk terhadap komunitas LGBTQ+. Pada tahun 1980-an, perjuangan minoritas gender dan seksualitas untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaan sekaligus merebut kembali kata queer membuat perubahan yang besar 3Jagtiani, J. (2021, December 20). What is queer?. Embodied Philosophy.. Queer menjadi umbrella term yang merepresentasikan identitas yang mendobrak gagasan normatif masyarakat tentang gender dan seksualitas 4What does “Queer” mean anyway? Home. (n.d.). https://www.minus18.org.au/articles/what-does-%22queer%22-mean-anyway. Makna yang akhirnya setelah diperjuangkan, menjadi selebrasi terhadap identitas diri.
Selebrasi ini juga bersambung dengan pengalaman dominan para queer yaitu mempercayakan orang lain atas identitas mereka. Aksi melela, atau dalam bahasa Inggris adalah coming out, merupakan tindakan individu yang mengungkapkan orientasi seksual, ekspresi gender, dan identitas queer mereka 5Melela. (n.d.). https://melela.org/. Seringkali, melela dilakukan individu kepada orang terdekat mereka yang sekiranya dapat menerima dengan baik. Namun, tidak jarang individu terpaksa melela kepada orang-orang yang belum tentu siap menerima. Kadang kala, identitas ini terkubur bersama diri mereka, menjadi rahasia yang menyakitkan dan dipendam hingga akhir diri mereka. Di Indonesia, hal ini menjadi bayang-bayang yang terus menghantui para queer 6Diandrio, R. Z. (2023). Coming In and Coming Out: A Qualitative Study on Young Adult Homosexual Males in Indonesia (dissertation). Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok..
Perspektif yang Berkembang di Masyarakat Indonesia
Masyarakat awam Indonesia umumnya condong ke arah konservatif dan religius, mereka menggabungkan agama dan budaya juga ketakutan atas suatu hal yang menurut mereka ‘salah’ untuk menjadi tameng dan tombak mereka dalam menyerang para queer 7Kemenag. (n.d.). Menag tolak LGBT Sebagai Gaya Hidup. https://kemenag.go.id. https://kemenag.go.id/nasional/menag-tolak-lgbt-sebagai-gaya-hidup-bh47h3. Masyarakat awam ini seringkali melontarkan pernyataan dan tekanan kepada perilaku-perilaku yang mereka anggap sebagai suatu hal yang ‘menyimpang’ dari keyakinan mereka 8Rodriguez, D., & Murtagh, B. (2022). Situating anti-LGBT moral panics in Indonesia. Indonesia and the Malay World, 50, 1 – 9. https://doi.org/10.1080/13639811.2022.2038871.. Secara kolektif, Indonesia masih bukan tempat yang aman bagi para queer, membuat kehadiran komunitas LGBTQ+ menjadi suatu ‘dosa’ dan ‘aib’ dalam lingkungan masyarakat maupun keluarga. Kekerasan secara verbal dan non-verbal menjadi suatu hal yang dipandang normal dan kerap kali dirasakan oleh queer 9Sihombing, E. N. (2019). Perilaku Lgbt Dalam Perspektif Konstitusi Negara Republik Indonesia Dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/Puu-Xiv/2016. Edutech: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 5(1).. Hak hidup mereka sering dirampas. Bahkan, pernah ada rancangan untuk mempidanakan LGBTQ+ lewat RUU KUHP pada tahun 2022 silam 10Wijayanto, Enggar & Putri, Vivi. (2022). LGBT RUU KUHP dan Hak Asasi Manusia dalam Tinjauan Negara Hukum Pancasila. Jurnal Justisia : Jurnal Ilmu Hukum, Perundang-undangan dan Pranata Sosial.. Namun, berlawanan dengan keyakinan para konservatif percaya, bahwa queer di Indonesia merupakan hasil dari globalisasi, legalnya pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat, atau gerakan LGBTQ+ di negara-negara lain, tetapi nyatanya eksistensi queer sudah hadir dan hidup dalam budaya nenek moyang di Indonesia. Orang-orang yang memiliki pandangan konservatif yang cenderung dengan secara aktif menggunjing dan menyerang LGBTQ+ seringkali menutup mata akan sejarah panjang pergerakan queer di Indonesia. Tidak hanya dalam kehidupan modern saja, dalam kebudayaan Indonesia—salah satunya suku adat Bugis—gender sendiri memiliki lima pembagian dalam kelompok adat Bugis 11Maimunah, M. (2016). Memahami Teori queer di Budaya Populer Indonesia: Permasalahan Dan Kemungkinan. Lakon : Jurnal Kajian Sastra Dan Budaya, 3(1), 43. https://doi.org/10.20473/lakon.v3i1.1926. Di Toraja misalnya, mereka mengakui gender ketiga yang disebut burake tambolang 12Conversation, T. (2023, May 24). Indonesia’s rich history of gender diversity and non-binary sexuality. The News Lens International Edition. https://international.thenewslens.com/article/104478. Tidak hanya dari kebudayaan saja, sejarah panjang komunitas LGBTQ+ sudah dituliskan dari sebelum Amerika Serikat melegalisasikan pernikahan sesama jenis di tahun 2016. Di masa kepemimpinan Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta dari akhir tahun 1968, beliau bahkan sudah melakukan dialog dengan para waria (sebagai profesi) untuk mengerti apa yang mereka butuhkan 13Who constructed LGBT identity in Indonesia?. New Mandala. (2016, November 20). https://www.newmandala.org/from-margins-to-centre/. Ali Sadikin juga lebih memanusiakan mereka dengan membantu mendukung pembuatan organisasi Himpunan Wadam Jakarta untuk menjadi wadah para waria agar lepas dari pekerjaan seks komersial dan beliau yang juga mensiasatkan penggunaan kata wadam (Wanita Adam) untuk menggantikan kata ‘banci’ yang sudah dicap negatif. Pada akhirnya penggunaan kata waria (Wanita Pria) menggantikan kata wadam 14Who constructed LGBT identity in Indonesia?. New Mandala. (2016, November 20). https://www.newmandala.org/from-margins-to-centre/, tetapi tetap saja mau seberapa banyak kata yang diganti atau direbut kembali oleh komunitas queer kembali digunakan oleh dengan negatif oleh masyarakat konservatif dan yang tidak terbuka untuk edukasi atau melihat perspektif komunitas queer sendiri.
Salah satu alasan utama mengapa dewasa ini lebih terlihat perkembangan dan skala dari komunitas queer yaitu karena adanya perkembangan dan kemajuan teknologi yang memfasilitasi penyebaran informasi dan edukasi bagi komunitas queer 15Rodriguez, D., & Murtagh, B. (2022). Situating anti-LGBT moral panics in Indonesia. Indonesia and the Malay World, 50, 1 – 9. https://doi.org/10.1080/13639811.2022.2038871.. Dahulu, komunitas queer tetap hadir di tengah-tengah masyarakat, tetapi mereka lebih terpecah antar wilayah dan tidak terlalu menunjukan eksistensinya kepada masyarakat awam 16Shap, kenzokaka, & Soeganda, P. (n.d.). Sejarah gay, waria, lesbian. Gaya Nusantara. https://gayanusantara.or.id/info-lgbtiq/lgbtiq-history/. Saat ini, secara daring kehadiran mereka lebih terasa, mereka menemukan tempat untuk berkembang dan membantu satu sama lain. Kehadiran komunitas queer secara daring difasilitasi oleh kemunculan dari platform-platform khusus queer, kadang platform ini juga berasal dari organisasi LGBTQ+ yang merambat ke arah digital 17Tentang Gaya nusantara. https://gayanusantara.or.id/about/. Platform-platform ini merupakan suatu anugerah, memberikan tempat aman bagi mereka agar dapat mengekspresikan diri, menceritakan pengalaman, dan mendapatkan edukasi 18Endah Triastuti Lecturer. (2022, September 13). Komunitas Gay di indonesia menggunakan media Sosial Untuk meruntuhkan batasan dan stigma. The Conversation. https://theconversation.com/komunitas-gay-di-indonesia-menggunakan-media-sosial-untuk-meruntuhkan-batasan-dan-stigma-156868. Namun, kehadiran mereka di dunia maya juga membawa kerentanan yang menjadi risiko nyata. Adanya informasi-informasi pribadi yang mudah disebarkan dengan tidak bertanggung jawab, jejak digital, dan anonimitas di internet memudahkan narasi palsu untuk semakin banyak terjadi 19Dwiana (2024, June 18). LGBT: Di media sosial, Mereka Pun Tetap Dikejar. Independen. https://independen.id/lgbt-di-media-sosial-mereka-pun-tetap-dikejar. Platform-platform dan individu queer yang vokal terhadap identitas dan komunitas mereka, dapat lebih mudah menjadi korban atas diskriminasi dan ketidakadilan yang dicoba dijustifikasi oleh masyarakat dengan berbagai alasan yang pada akhirnya hanya mereka pakai karena mereka merasa memiliki kekuatan lebih dari komunitas queer 20NUSANTARA, Gay. (2022, April 25). “toleransi” indonesia di Bawah Tekanan seiring Meningkatnya Wacana anti-LGBT. Kesetaraan, kesejahteraan orang-orang dengan orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender, dan karakteristik seks yang beragam. https://gayanusantara.wordpress.com/2017/01/29/toleransi-indonesia-di-bawah-tekanan-seiring-meningkatnya-wacana-anti-lgbt/.
Perspektif masyarakat masih campur aduk, dengan semua pada akhirnya kembali ke pandangan subjektif masing-masing individu yang beragam. Namun, ada perubahan progresif yang mulai terlihat dari perkembangan komunitas queer di media sosial, wadah media queer, dan generasi muda yang lebih terbuka. Meski demikian, tidak semua menerima dan mendukung, karena tentunya masih ada pihak yang menganggap queer sebagai dosa besar. itu merupakan suatu dosa. Walau begitu tetap saja, adanya perkembangan dalam status quo ini menunjukkan adanya orang-orang di grey area, yang tidak mendukung juga tidak secara aktif menekan narasi buruk atau ‘menyerang’ secara personal. Perspektif baru ini masih belum dapat membuat Indonesia menjadi tempat yang aman, karena secara umum queer masih dipersekusi dan diopresi, tetapi adanya secercah harapan bahwa setidaknya ada perubahan dapat membawa kedamaian kepada identitas diri mereka sendiri di tengah masyarakat yang aktif mengancam kehidupan mereka 21NUSANTARA, Gay. (2022, April 25). “toleransi” indonesia di Bawah Tekanan seiring Meningkatnya Wacana anti-LGBT. Kesetaraan, kesejahteraan orang-orang dengan orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender, dan karakteristik seks yang beragam. https://gayanusantara.wordpress.com/2017/01/29/toleransi-indonesia-di-bawah-tekanan-seiring-meningkatnya-wacana-anti-lgbt/.
Identitas yang Tidak Lengkap
Manifestasi dari lingkungan Indonesia yang masih rawan ini kepada komunitas queer adalah internalisasi queerphobia yang terjadi. Ketidaknyamanan dan kebencian terhadap diri yang mendominasi komunitas queer membuat kebingungan akan diri mereka. Mereka mencoba menggali identitas yang mereka sadari ‘salah’ dan ‘tidak normal’ karena tidak sesuai konstruksi sosial masyarakat 22The Rainbow Project. Internalised homophobia. (2021, March 30). https://www.rainbow-project.org/internalised-homophobia/. Identitas queer yang melekat pada individu yang memberontak—tidak menerima diri—dapat berdampak negatif. Hal ini dapat berujung kepada gejala-gejala gangguan mental seperti depresi yang dapat terjadi saat penolakan terhadap identitas diri kerap dirasakan 23Ardiya, P. (2019, Juni). Hubungan Antara internalized homophobia Dan Gejala depresi Yang Dimediasi Oleh sense of belonging Pada individu homoseksual di Indonesia, Universitas Indonesia Library. https://lib.ui.ac.id/detail?id=20488525&lokasi=lokal. Diri mereka tidak pernah merasa lengkap karena ada bagian yang dilawan dan dirahasiakan.
Memang, di internet seperti media sosial, ada organisasi dan komunitas queer yang aktif membantu bagi individu yang menginternalisasi queerphobia, memiliki pertanyaan ataupun keraguan terhadap identitas diri mereka. Misalnya, The Rainbow Project yang merupakan organisasi yayasan amal internasional berbasis Irlandia Utara 24The Rainbow Project. (2021, March 30). https://www.rainbow-project.org. Fokus mereka merupakan edukasi kepada masing-masing individu dan masyarakat awam, juga menggalang dana untuk membantu queer yang membutuhkan. Di Indonesia sendiri, beberapa organisasi yang mengkhususkan diri dalam advokasi gerakan LGBTQ+ termasuk edukasi cukup terasa kehadiran mereka dalam dunia maya. Seperti Queer Indonesia Archive yang merupakan penyimpanan seluruh media queer di Indonesia termasuk film dan tulisan. QIA juga mengadakan agenda untuk pameran dan publikasi media queer yang membantu para queer mengetahui lebih lanjut sejarah dan proyeksi identitas diri mereka dalam queer lain 25Queer Indonesia Archive. (2022, July 21). https://qiarchive.org/. GAYa Nusantara yang lebih dulu eksis secara luring sejak 1 Agustus 1987, sudah memulai advokasi yang mencakup keseluruhan komunitas LGBTQ+ dan dengan platform daring mereka dapat lebih jauh merangkul para queer 26Tentang Gaya nusantara. https://gayanusantara.or.id/about/. Artikel-artikel juga pertemuan yang diadakan oleh GAYa Nusantara membantu mengedukasi para queer yang kebingungan dalam menghadapi perjuangan memenuhi identitas diri mereka.
Tetap saja tidak semudah itu untuk membalikan kebencian pada diri dan nyaman kepada identitas yang terasa paling pas. Semua harus kembali ke masing-masing queer untuk menerima identitas mereka, pengakuan merupakan langkah pertama queer dalam perjalanan untuk penerimaan diri 27Tracy, N. (2022, January 10). Stages of Coming Out After Accepting Your Sexuality, HealthyPlace. https://www.healthyplace.com/gender/coming-out/stages-of-coming-out-after-accepting-your-sexuality.. Waktu dan normalisasi terhadap komunitas LGBTQ+ sendiri akan membantu para queer yang masih memproses dan mencoba mengerti diri mereka. Apakah akhirnya identitas diri queer lengkap? Akan ada yang setuju. Merestui identitas diri dan bersatu dengan identitas queer sudah terasa lengkap. Dua identitas yang akhirnya bersatu. Namun, sebagian queer tetap merasa selama mereka menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya jati diri mereka itu, diri mereka tidak akan pernah lengkap. Selama mereka harus bersembunyi dalam bayang heteronormatif, para queer masih merasa belum sepenuhnya identitas mereka itu nyata 28The Rainbow Project. Internalised homophobia. (2021, March 30). https://www.rainbow-project.org/internalised-homophobia/.
Melela Sebagai Kemerdekaan dan Kekangan
Hidup di dalam kerahasiaan tidak pernah menjadi pilihan pertama manusia. Apa daya, untuk bertahan hidup, komunitas queer terus bersembunyi di dalam bayang-bayang heteronormatif 29Diandrio, R. Z. (2023). Coming In and Coming Out: A Qualitative Study on Young Adult Homosexual Males in Indonesia (dissertation). Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.. Queer berpura-pura ‘sesuai’ dan ‘normal’ dengan konstruksi masyarakat. Melela merupakan mimpi indah dan buruk. Saat seseorang melela, ada kebebasan yang mereka rasakan seperti beban berat yang terangkat karena secercah harapan muncul bahwa mereka bisa diterima, mereka bisa jadi diri mereka sendiri. Identitas mereka sepenuhnya diperlihatkan dan dibanggakan. Out and proud, merupakan frasa yang dipakai saat seseorang sudah melela dan lebih percaya diri akan identitas mereka. Biasanya para queer yang sudah out and proud juga melakukan advokasi dan membantu gerakan queer di Indonesia. Namun, melela juga menjadi pisau bermata dua. Seperti, di Indonesia yang tidak semudah itu untuk dapat berbangga diri karena sudah merasa nyaman dengan identitas diri, mayoritas dari masyarakat masih diselimuti pandangan negatif dan menolak kehadiran queer. Para queer tidak bisa memperlihatkan aktualisasi diri mereka yang akhirnya tercapai. Jadi, walau sudah melela pun kekangan akan ekspresi diri tetap ada dan bisa menekan queer lebih buruk lagi.
Melela bukan akhir dari perjuangan queer, tetapi awal dari perjuangan baru mereka. Belum lagi adanya gunjingan dan persekusi publik terhadap identitas mereka. Queer yang melela bukan berarti sudah seratus persen nyaman dengan diri mereka. Masih banyak ketidakpastian dan perubahan yang nyatanya tidak bisa mereka kontrol. Indonesia sendiri yang memang dalam status quo susah menerima queer, kadang membuat stereotip sendiri yang berkonotasi negatif dan menghina queer. Stereotipe-stereotipe ini menjadi narasi dominan yang ada dan semakin merendahkan status sosial queer. Seperti adanya narasi bahwa setiap transpuan adalah pekerja seks atau setiap laki-laki cisgender (identitas gender dan jenis kelamin saat lahir sama) yang berpenampilan dan cenderung lebih feminim adalah ‘banci’. Slur lokal yang dinormalisasi dipakai dalam konteks menghina atau hanya ‘sebuah candaan’ membuat ruang gerak queer semakin sempit. Melela dapat menambah senjata yang ada untuk dipakai menyakiti queer. Namun, melela kepada orang-orang yang memang dapat menerima walau hanya satu dua orang saja dirasa lebih baik dibanding selamanya mempertanyakan identitas. Bagi queer, identitas mereka sejatinya adalah kehidupan mereka. Setidaknya, ada beberapa yang mengerti kebebasan mereka.
Akhir Kata
Satu hal yang dapat dipelajari adalah perjuangan tanpa henti komunitas queer. Tidak hanya untuk mendapatkan hak yang setara, tetapi juga untuk perjuangan menerima diri dan identitas yang tidak pernah usai. Kemerdekaan diri mereka dicapai dengan pengorbanan yang luar biasa juga. Indonesia saat ini masih belum menghargai perjuangan mereka dan menjadi tempat aman untuk queer mengekspresikan diri secara bebas. Namun, adanya pergeseran perspektif sedikit demi sedikit, membuat peluang melela queer lebih lebar. Tidak sempurna memang, tetapi harapan bahwa arti dari identitas mereka adalah tetap pantas hidup.
Referensi


Discussion about this post