Kepemimpinan Baru FEB UI: Refleksi dan Harapan dari Pemilihan Dekan 2025
FEB UI resmi melantik Dekan baru pada (23/06) lalu, setelah sebelumnya melakukan rangkaian proses seleksi calon Dekan FEB UI periode 2025–2029. Proses tersebut resmi dimulai sejak pendaftaran yang dibuka pada 16 April hingga 29 April 2025 melalui kanal resmi fakultas.
Setelah melalui proses seleksi administrasi, tujuh kandidat dinyatakan lolos tahap awal dan tampil dalam sesi paparan publik yang diselenggarakan secara hybrid pada 15 Mei 2025 di Auditorium Soeria Atmadja FEB UI. Pada tahap ini, setiap kandidat menyampaikan gagasan kepemimpinan dan rencana pengembangan FEB UI ke depan. Economica berkesempatan mewawancarai Yulianti untuk menanyakan visi dan program kerjanya untuk FEB UI.
Dialog Dekan Terpilih: Menyusun Ruang Bersama untuk FEB UI
Dalam wawancara yang dilakukan tak lama setelah pengumuman resmi, Yulianti menanggapi berbagai pertanyaan dengan gaya yang terbuka dan penuh pertimbangan. Ketika ditanya bagaimana ia memaknai dirinya sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi dekan di FEB UI, ia menjawab, “Saya tidak pernah melihat ini sebagai pencapaian berbasis identitas. FEB UI adalah lingkungan yang meritokratis. Jika hari ini saya dipercaya memimpin, itu karena kapasitas dan kesiapan saya diuji,bukan karena gender.”
Hubungan dengan mahasiswa menjadi topik yang ia soroti secara mendalam. “Saya ingin mahasiswa merasa punya ruang untuk menyampaikan pendapat. Tidak perlu menunggu diundang,datang saja. Pintu saya terbuka,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa posisi mahasiswa dalam fakultas bukanlah sebagai pelengkap kebijakan, melainkan mitra sejajar. “Kalau kalian tahu apa yang kalian butuhkan, saya bantu fasilitasi. Bisa dengan jaringan alumni, narasumber, atau bahkan dosen tamu,” tambahnya.
Program Prioritas 100 Hari Kerja
Saat membahas prioritas 100 hari pertama, Yulianti menyebut tiga fokus utamanya: membentuk kanal komunikasi berbasis digital, membangun sistem endowment fund untuk mendukung kemandirian finansial, dan mempercepat digitalisasi layanan akademik. “FEB UI tidak bisa hanya mengandalkan UKT. Kita perlu sistem pendanaan jangka panjang yang transparan dan akuntabel,” jelasnya. Ia juga menyebut rencana untuk merancang dashboard publik sebagai bentuk keterbukaan dalam pengelolaan program dan anggaran.
Selain aspek struktural, ia juga menekankan pentingnya pengembangan soft skills mahasiswa. “Alumni kita ada di mana-mana,di kementerian, perbankan, sampai diplomasi internasional. Tapi kenapa harus menunggu mahasiswa lulus dulu untuk bertemu mereka? Saya ingin kolaborasi dengan alumni dimulai sejak tahun pertama, sebagai mentor, pembicara, atau fasilitator,” katanya. Menurutnya, kemampuan non-akademik seperti komunikasi, adaptasi, dan kepemimpinan tidak kalah penting dari capaian kurikuler.
Yulianti juga menyampaikan apresiasinya terhadap organisasi mahasiswa. “Kalian sering mengadakan acara yang rapi, terstruktur, bahkan kadang lebih profesional daripada penyelenggara institusional. Saya ingin menjadikan organisasi mahasiswa sebagai mitra fakultas, bukan sekadar pendukung acara,” ungkapnya.
Menutup sesi tersebut, Yulianti menyampaikan refleksi yang sederhana namun kuat , “saya tahu saya tidak bisa memenuhi semua ekspektasi sekaligus. Tapi saya percaya, jabatan ini bisa menjadi ruang kolektif dan saya harap lebih banyak forum bersama dengan mahasiswa untuk membangun bersama, bukan hanya untuk mengatur dari atas. Let’s shape the future together.”
Abbygayle Callista (EMA’24) dengan penampilan suara merdunya turut memeriahkan pelantikan Dekan Senin lalu. Ia turut mengungkapkan antusiasme dan kegembiraannya, “saya berharap Ibu Yuli dapat dapat mendorong terciptanya lingkungan kampus yang semakin inklusif, kolaboratif, dan adaptif terhadap tantangan zaman, terutama dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tuturnya.
Intip Paparan Kandidat Calon Dekan Sebelumnya
Sebelumnya, paparan publik calon Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) periode 2025–2029 diselenggarakan pada 15 Mei 2025 secara hybrid di Auditorium Soeria Atmadja. Ketujuh kandidat menyampaikan visi strategis mereka di hadapan sivitas akademika, membahas topik-topik seperti tata kelola, kolaborasi riset, dan peran alumni.
Pada sesi paparan publik, Dr. Arief Wibisono Lubis, Ph.D. yang mengawali urutan paparan menekankan penguatan standar akreditasi internasional dan pengembangan riset lintas disiplin. Ia mendorong agar mahasiswa dilibatkan dalam proyek riset global sejak tahun pertama studi melalui kolaborasi antar departemen.
Disusul dengan dekan terpilih, Dr. Yulianti Abbas, S.E., M.E., Ph.D. mengusulkan pembentukan skema endowment fund untuk memastikan keberlanjutan pendanaan FEB UI, serta percepatan digitalisasi proses akademik dan layanan administratif untuk meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas.
Calon dekan berikutnya, Siti Nuryanah, S.E., AK., MSM, MBUS (ACC), Ph.D., membawa visi Fostering FEB UI, fostering the faculty of economics dan business UI to be Fortitudinous, Ethical, Brilliant to contribute to the Unique Indonesia to be Acknowledged Universally-Internationally.
Kemudian Prof. Dr. Sylvia Veronica Siregar, S.E., AK. hadir dengan visi membawa FEB UI menjadi pusat keunggulan global di bidang ekonomi dan bisnis yang akan menjadi tempat lahirnya pemimpin, innovator, dan wirausahawan yang memberikan dampak nyata bagi bangsa dan dunia.
Prof. Dr. Ir. T. Ezni Balqiah, ME., MH. membawa enam tema strategis yang dirancang mencerminkan inovasi model bisnis institusi pendidikan tinggi untuk mendukung sasaran strategis Universitas Indonesia. Keenam tema tersebut yakni: enhancing institutional reputation; intellectual & research impact; network expansion; human capital; digitalization & infrastructure; environmental, social, & governance.
Prof. Desi Adhariani, S.E., M.Si., Ph.D membawa rencana strategis dan program unggulan Triple Bottom Line: Prosperity (meningkatkan kesejahteraan dan inovasi unggulan), People (mengembangkan kapasitas SDM dan memperluas akses pendidikan), dan Planet (mewujudkan kampus berkelanjutan dengan penerapan tata kelola dan kolaborasi).
Sementara itu, Dr. Ratna Wardhani, Ph.D. yang mengakhiri urutan paparan mengusung visi menjadikan FEB UI sebagai entrepreneurship hub. Ia memaparkan rencana pembentukan ekosistem startup berbasis kampus yang menghubungkan akademisi, alumni, dan industri, dilengkapi dengan inkubator bisnis dan dukungan dana abadi.
Oleh: Patricia Eunike Vanuela S
Editor: Fauziah Nurzijah, Khansa, dan Rafa Zulhaq
Ilustrasi: Diniar Arini
#SebatasKataKataBukanBudayaKami
Tulisan ini telah diedit pada 29 Juni 2025


Discussion about this post