“Singa laut maupun burung camar yang berkaok-kaok tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Mengapa manusia begitu berbeda dalam hal ini?”
– Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Editorial Los Andes pada tahun 1974 menerbitkan novelet berjudul “Las sorprendentes memorias de Baltazar: cuento”, sebuah novelet yang ditulis oleh Claudio Orrego Vicuna di Santiago de Chile. Novelet ini kemudian diterjemahkan dengan apik oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Marjin Kiri dengan judul Kenang-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub.
“Renungan ‘Seorang’ Beruang Kutub”
Orrego Vicuna memulai karya tipisnya dengan gaya satir yang menggugah pembaca. Sebuah kalimat dalam bab pendahuluan memicu pertanyaan penulis, “Bagaimana bisa ‘seorang’ beruang kutub memiliki kebijaksanaan, kearifan, dan selera humor yang ekuivalen dengan manusia?”
Dalam mukadimah novelet tipis ini, Vicuna meletakkan frasa yang memaksa pembaca untuk memiliki anteseden yang unik. Pembaca seperti dihipnotis untuk percaya semua kisah yang ia paparkan berasal dari ‘seorang’ beruang kutub.
Vicuna berhasil membangun karakter beruang kutub bernama Baltazar menjadi sosok binatang yang memiliki rasa humanisme yang kuat. Maka tak heran bila penulis mengubah pronomina “seekor” menjadi “seorang” berkat sisi humanis Baltazar.
Penulis resensi (yang sedang anda baca) tak bisa menyangkal akan interpretasi bahwa curahan hati seorang Baltazar merupakan manifestasi Vicuna. Namun, apa boleh buat? Toh pembaca novelet tipis ini juga bisa “bersilat lidah,” siapa sebenarnya sosok dibalik beruang kutub ini, bukan?
Pengaruh Politis Vicuna hingga Kontemplasi Diri Seorang Baltazar
Tuduhan Vicuna sebagai aktor intelektual dibalik seorang Baltazar juga ada sebab musababnya. Latar belakang Vicuna sebagai seorang akademisi yang menjadi politisi dibawah kudeta militer Augusto Pinochet pada tahun 1973 menjadi salah duanya. Kudeta yang bukan hanya menggulingkan rezim terpilih Salvador Allende, namun juga tersingkirnya Vicuna dari kursi parlemen.
Latar kondisi politik setelah kudeta militer di Cile pada 1973, tak ayal, mendesak penulis untuk menerka Vicuna-lah seorang Baltazar. Suasana kediktatoran dengan latar di balik jeruji coba dihantarkan (oleh) Vicuna kepada pembaca menjadi premis novelet.
Novelet disusun atas hari-hari seorang Baltazar, layaknya diary seorang tahanan. Berbeda dengan keluhan beruang di berbagai taman margasatwa di beberapa negara, Baltazar malah membuat penulis ber-muhasabah. Ia berkontemplasi seraya bertanya persoalan fundamental atas kehidupan dan makna didalamnya.
Tak lupa, Baltazar juga merenung ihwal kebahagiaan dan kebebesan. Setengah halaman kedua novelet, Baltzar menurutkan sabdanya akan arti dari kebebasan dan kebahagiaan orisinil. Kumpulan frasa renungan Baltazar akan arti kebahagiaan dan kebebasan kembali ditegasakan dalam seperempat terakhir novelet.
“Bukan kebahagiaan karena melakukan apa yang ingin kulakukan, melainkan yang lebih dalam, yang berasal dari kemampuan untuk memahami mengapa terjadi seperti ini,” tulisnya.
Diramu bersama perpaduan emosional yang humanis, kembali sulit untuk mempercayai bahwa tulisan ini merupakan kisah beruang kutub.
“Bagaimana bisa beruang kutub lebih manusiawi daripada manusia itu sendiri?”
Apa Jadinya Jika Baltazar Memiliki Twitter?
“Mungkin buku ini tak akan terbit,” ucap warganet medioker.
Ya, tentu, jawaban itu yang kalian harapkan, bukan? Buku ini tak akan terbit. Penulis berasumsi, bahwa Baltazar akan lebih memilih tweet ranting ketimbang bercerita dan mengurai renungannya menjadi buku. Selain mendapat jutaan pengikut yang kelak menjadi umatnya, Baltazar juga mendapat exposure dunia maya yang meningkatkan engagement rate untuk endorsement suatu produk kecantikan, bukan?
Baltazar dalam Ihwal Humanisme dan Kebebasan
Tak dapat dipungkiri, kisah Baltazar dapat membuat pembaca merenung, tersenyum, terdiam, dan menyadari hal-hal dasar yang dimiliki manusia, sebagai subjek yang dimaksud. Penerimaan atas takdir menjadi salah satu dari berbagai renungan yang lugas disampaikan Baltazar dalam kisahnya. Kompleksitas sudut pandang beruang kutub dalam melihat manusia mampu menggelitik nurani pembaca.
“… aku menemukan sesuatu yang lebih dalam ketimbang yang ditemukan manusia tentang diri mereka sendiri,” katanya.
Penutup
Teka-teki siapa aktor intelektual di belakang Baltazar, tak akan pernah ada akhirnya. Ibarat “meneguk air laut, semakin diminum semakin haus,” sama seperti debat kusir atas teka-teki ini, semakin dijawab semakin merasa benar. Toh, tulisan ini kembali mengajak pembaca berkontemplasi akan novelet yang sarat makna dengan suasana yang tersirat. Pembangunan karakter Baltazar yang humanis ditambah pengaruh pemikiran politis Vicuna membuat novelet ini berbeda dari novelet sekelasnya.
Haikal Qinthara (Accounting 2018), is an Editor in Chief at Badan Otonom Economica. Some people may consider him as a stoic, he prefers to call himself a prokopton. He currently suffers from a stoic premise disease called self-deception.
Editor: Qurratu Aina, Ruthana Bitia, Alfina Nur Afriani
Ilustrasi oleh Jamie Paulus