Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kajian

Berteman dengan Kesepian: Kesehatan Mental saat Pandemi

by Islamilenia & Maria Yofanka
20 Desember 2020
in Kajian

Ada Apa dengan Covid-19?

Sembilan bulan sudah berlalu sejak pemerintah kita mengumumkan himbauan untuk social distancing, baik dalam bentuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maupun kebijakan karantina selama dua minggu pada bulan Maret lalu. Kebijakan untuk PSBB ini berdampak pada kantor dan institusi pendidikan harus segera menyesuaikan diri dengan menerapkan sistem work from home dan pembelajaran daring. Karenanya, waktu untuk commuting kemudian berkurang pesat, yang seharusnya memiliki dampak positif pada kebahagiaan individu menurut seorang psikoterapis, Amy Morin 1Mitra, M., 2020. New Research Shows How Much We’re Benefitting By Not Commuting. [online] Money. Available at: <https://money.com/work-from-home-commute/&gt;. Menurut sebuah riset dari University of Waterloo, dengan bertambahnya waktu commuting seseorang, kepuasan mereka terhadap hidup cenderung berkurang 2Hilbrecht, M., Smale, B. and Mock, S., 2014. Highway to health? Commute time and well-being among Canadian adults. World Leisure Journal, 56(2), pp.151-163.. Maka dari itu, Amy menyimpulkan bahwa seharusnya dengan berkurangnya waktu untuk commuting, kita merasa dapat lebih baik mengendalikan waktu beraktivitas, dan hal ini seharusnya membuat kita merasa lebih senang dan tenang.

Ya, masyarakat pada umumnya terlihat senang dengan kebijakan WFH maupun pembelajaran daring. Hal ini dapat dilihat dari tren-tren yang mulai merebak, seperti penggunaan TikTok, tren membuat kopi dalgona, dan kita bisa melihat teman-teman kita yang mulai mengembangkan hobi baru seperti merajut, memasak, membuat kue, dan lain sebagainya. Tren-tren ini adalah beberapa contoh hal yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengisi waktu luang dan menghadapi masa yang penuh kabar kurang menyenangkan ini. Kita melihat banyak teman kita yang terlihat lebih produktif, tenang, dan senang dibandingkan sebelumnya; saat kita masih harus keluar rumah untuk berangkat ke kantor, ke sekolah, dan beraktivitas. Tapi apa betul masyarakat lebih senang dan tenang?

Sebuah studi menemukan bahwa kecemasan (anxiety) merebak di kala pandemi ini. Sebanyak 72 persen dari responden, atau sebesar lebih dari 2.600 orang, merasa anxious selama pandemi, dan 23 persen lainnya mengatakan mereka merasa unhappy 3Iskandarsyah, A. and Yudiana, W., 2020. Information Provision About Covid-19, Health Behaviors And Mental Health In Indonesia. Jakarta. [online] OSF. Available at: <https://osf.io/qu3ec/&gt; . Banyak faktor yang berkontribusi pada rasa cemas yang makin merebak, seperti berita yang menyeramkan (pertambahan jumlah kasus tiap harinya), dan tugas yang menumpuk. Hal penting yang selalu kita perhatikan di masa pandemi serta karantina ini adalah penanganan finansial dan fisik, dengan berhati-hati dalam mengatur keuangan, dan selalu memerhatikan kebersihan diri. Namun ada satu faktor lainnya yang, bisa jadi, lupa untuk kita perhatikan: penanganan emosional (emotional care). Mungkinkah saat kita diberikan lebih banyak waktu luang, kita justru secara tidak sadar memilih untuk self-destruct?

 

Dari Karantina ke Karantina

The Centers for Disease Control and Protection (CDC) mendefinisikan karantina sebagai separation and restriction; pemisahan dan pembatasan atas pergerakan masyarakat yang memiliki potensi untuk terpapar suatu penyakit menular. Karantina ditujukan untuk mengurangi risiko individu tersebut menulari individu lainnya 4CDC. 2020. Quarantine And Isolation | Quarantine | CDC. [online] Available at: <https://www.cdc.gov/quarantine/index.html&gt;. Metode ini telah diterapkan untuk mengatasi pandemi seperti Black Death, SARS, dan Ebola. Sebuah tren yang mengikuti keputusan pemerintah untuk melakukan karantina adalah dampak psikologis yang cukup serius, seperti substantial anger atau kemarahan, dan peningkatan dari kasus depresi 5Brooks, S., Webster, R., Smith, L., Woodland, L., Wessely, S., Greenberg, N. and Rubin, G., 2020. The psychological impact of quarantine and how to reduce it: rapid review of the evidence. The Lancet, 395(10227), pp.912-920.. Faktanya, walau karantina dapat menangani penyebaran penyakit menular dengan baik, namun karantina juga membawa dampak psikologis yang penting untuk kita perhatikan.

Karantina berarti separation; menjaga jarak dari orang lain, termasuk teman dan keluarga. Hal inilah yang membuat karantina terasa sepi, dan dalam kesepian, banyak faktor dapat mengamplifikasi rasa stress. Beberapa di antaranya adalah ketakutan akan berita-berita terkini, ketidakpastian kapan kondisi ini akan berakhir, dan kekacauan ekonomi dikarenakan kondisi pekerjaan yang tidak menentu 6Kompas. 2020. WHO Peringatkan Krisis Gangguan Mental Global Akibat Pandemi. [online] Available at: <https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/15/135714920/who-peringatkan-krisis-gangguan-mental-global-akibat-pandemi&gt; 7Wan, W., 2020. The Coronavirus Pandemic Is Pushing America Into A Mental Health Crisis. [online] Available at: <https://www.washingtonpost.com/health/2020/05/04/mental-health-coronavirus/&gt;. Masa karantina untuk pandemi Covid-19 ini tidak selama masa karantina saat Ebola maupun SARS, namun jangkauannya lebih masif, dan waktu untuk kita dianjurkan beraktivitas dari rumah juga lebih lama [8]. Karenanya, waktu kita mengalami separation, baik dari teman dan keluarga kita maupun dari dunia luar, juga lebih lama. Masa separation yang berkepanjangan ini juga didampingi dengan waktu luang yang jauh lebih banyak dikarenakan berkurangnya waktu untuk bepergian. Sehingga, yang terjadi adalah lebih banyak waktu bagi kita untuk menyendiri.

Tapi, memangnya apa yang berbahaya dari kesendirian, sih? Bukannya kita justru bisa menyelesaikan banyak pekerjaan karena tidak terganggu oleh waktu bermain dengan teman, atau harus commuting selama satu jam ke kantor atau sekolah? Waktu produktif kita seharusnya meningkat pesat, dan dengan meningkatnya produktivitas ini, kita juga akan lebih puas dengan diri kita sendiri. Bukan begitu?

Ya, produktif adalah suatu kata yang banyak didengungkan saat pandemi ini, mungkin pembaca juga ingat sebuah unggahan dari seseorang bernama Jeremy Haynes yang viral beberapa bulan lalu:

Apakah pembaca setuju? Kita punya lebih banyak waktu, seharusnya kita menggunakan waktu tersebut untuk meningkatkan kemampuan kita, bukan? Faktor lain yang tampaknya sangat berpengaruh pada rasa tertekan pada masa pandemi ini adalah ‘anjuran’ untuk produktif. Dikarenakan separation dari dunia luar secara fisik, kita cenderung menganggap media sosial sebagai dunia baru kita: substitusi dari dunia yang nyata. Kita melihat kawan dan kerabat kita di media sosial terus mengembangkan skill baru, memenangkan lomba, mendapat penghargaan, dan sebagainya. Tapi mungkin kita lupa bahwa tidak ada orang yang mau terlihat menyedihkan di media sosial. Yah, wajar bila kita lupa, karena separation seakan memaksa kita untuk menghabiskan waktu dan pikiran kita bersama diri kita seorang. Jadi bagaimana sebetulnya peran media sosial dalam mengamplifikasi tekanan saat pandemi ini?

Kata kunci di sini adalah mengamplifikasi. Media sosial sebagai sebuah media interaksi, somehow, memfasilitasi habit-habit yang berkaitan dengan depresi dan atau kecemasan 8Fielding, S., 2020. How Your Social Media Habits May Contribute To Depression — And 4 Ways To Fix It. [online] Insider. Available at: <https://www.insider.com/does-social-media-cause-depression&gt;. Hal ini sudah berbahaya sebelum kita memasuki waktu pandemi dan karantina, bagaimana hal ini kemudian semakin teramplifikasi saat waktu pandemi dan karantina ini?

 

Sosialisasi di Kala Pandemi

Di luar pandemi sendiri, manusia di seluruh dunia secara umum memang merasa semakin sedih, stress, serta larut dalam duka dan kehampaan, dengan atau tanpa sebab sekalipun. Semakin hari semakin banyak orang yang kehilangan hasrat dan semangat dalam menjalani kehidupannya, mulai dari turunnya minat dan ketertarikan untuk mencoba hal baru, bahkan merasa bahwa kegiatan yang sebelumnya terasa seru dan menyenangkan menjadi tidak menarik, seakan tiada makna 9Rettner, R., 2020. People Across The Globe Feeling More Sad, Stressed And In Pain Than Ever. [online] livescience.com. Available at: <https://www.livescience.com/63563-world-emotions-gallup-survey.html&gt;. Keterpurukan mental ini dapat menyebabkan konsekuensi yang signifikan bila tidak segera ditangani.

Sebelum lanjut ke penanganan isunya, masyarakat perlu mengetahui apa yang sebenarnya mereka hadapi. Apakah rasa sedih, frustasi, dan cemas yang kerap dialami merupakan pertanda depresi atau sadness (kesedihan). Depresi ditunjukkan dengan perasan perasaan sedih yang berkepanjangan dan tidak kunjung pergi, merasa tidak punya harapan lagi, perubahan waktu tidur secara drastis, baik bertambah maupun berkurang, lemas, perubahan nafsu makan bahkan perasaan ingin mati. Untuk gejala sadness sendiri cukup mirip dengan depresi, namun tidak untuk waktu yang sangat lama seperti depresi yang memang merupakan suatu penyakit. Saat kita terjebak dalam kesedihan, kita mungkin merasa tidak bersemangat dan gundah, namun kita masih dapat melakukan, bahkan menikmati kegiatan sehari-hari yang memang biasa menjadi pelarian kita seperti membaca novel, menonton series, mengobrol bersama teman, termasuk untuk mandi, memasak sarapan, dan kegiatan sehari-hari lainnya. 10Sharp. 2020. Sadness And Depression During Self-Quarantine. [online] Available at: <https://www.sharp.com/health-news/sadness-and-depression-during-self-quarantine.cfm&gt;.

Keduanya ini merupakan kondisi yang acap dialami masyarakat, disadari maupun tidak, sehingga ada baiknya untuk setiap orang berjaga-jaga dan mengantisipasi sedini mungkin melihat angka . Semakin muda generasinya, semakin tinggi pula angka fenomena ini terjadi di masyarakat 11Brueck, H., 2020. Depression Among Gen Z Is Skyrocketing — A Troubling Mental-Health Trend That Could Affect The Rest Of Their Lives. [online] Business Insider. Available at: <https://www.businessinsider.com/depression-rates-by-age-young-people-2019-3?r=US&IR=T&gt;. Apa yang terjadi? Apa yang telah berubah? 

Psikolog Dr. Jean Twenge menyebutkan dalam bukunya, Generation Me, bahwa faktor pertama yang memengaruhi fenomena tersebut adalah hubungan kita, manusia, baik dengan manusia lain ataupun komunitas di masyarakat yang semakin melemah. Interaksi sosial ternyata benar-benar menghubungkan kita dengan kehidupan itu sendiri. Dengan adanya hubungan dan interaksi dengan pihak lain, manusia merasa dirinya ada dan bermakna 12Twenge, J., 2014. Generation Me – Revised And Updated: Why Today’s Young Americans Are More Confident, Assertive, Entitled–And More Miserable Than Ever Before. 2nd ed. Atria Books.. Hal ini cenderung tidak disadari oleh masyarakat, karena umumnya orang masih merasa cukup berinteraksi sosial lewat media sosial. Namun, interaksi tersebut tidaklah sama dengan cara manusia berhubungan pada dasarnya. Salah satu penelitian dari American Psychological Association (APA) mengatakan bahwa peningkatan dari penggunaan media komunikasi digital pada masa sekarang bisa jadi telah mengubah medium interaksi sosial kita. Yang kemudian menjadi bermasalah adalah perubahan ini nampaknya cukup masif sehingga dapat memengaruhi mood kita, APA menyebutnya mood disorders dan suicide-related outcomes. Sebagai contoh, orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial dibandingkan interaksi tatap muka langsung lebih rentan terhadap depresi 13Twenge, J., Cooper, A., Joiner, T., Duffy, M. and Binau, S., 2019. Age, period, and cohort trends in mood disorder indicators and suicide-related outcomes in a nationally representative dataset, 2005–2017. Journal of Abnormal Psychology, 128(3), pp.185-199..

Hasil penelitian Dr. Twenge dalam jurnal keduanya mengenai Social and Personal Relationships mendapati bahwa selama 4 dekade ini (‘80-’10) terjadi penurunan waktu bersosialisasi secara langsung di kalangan anak mudanya. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan social media sebagai alternatif berinteraksi sosial di zaman ini. Sayangnya, kedua hal tersebut tidak sama. Interaksi dalam bentuk chat tidak bisa menggantikan peran interaksi secara langsung di mana Adolescents low in in-person social interaction and high in social media use reported the most loneliness 14Twenge, J., Spitzberg, B. and Campbell, W., 2019. Less in-person social interaction with peers among U.S. adolescents in the 21st century and links to loneliness. Journal of Social and Personal Relationships, 36(6), pp.1892-1913..

Interaksi di sosial media juga tidak mengikat perhatian dalam waktu lama, karena emosi dan perasaan pengirim tidak sepenuhnya terepresentasikan di sana, sehingga manusia kerap merasa ‘berinteraksi’ dengan orang lain itu tidak menarik dan melelahkan. Dari sana, dapat muncul keinginan untuk menyendiri, bahkan di saat kita sedang sendirian.

Di masa pandemi ini, kita memiliki pilihan lain dalam hubungan dan interaksi kita dengan individu lain: lanjut berinteraksi dan berhubungan, atau menarik diri. Sebelum kita diberi pilihan untuk menarik diri, mungkin pilihan ini terdengar aneh, siapa yang mau hidup sendiri? Namun, agaknya kita menyepelekan rasa nyaman dari kesendirian. 

“Solitude s dangerous. It’s very addictive. It becomes a habit after you realize how calm and peaceful it is. It’s like you don’t want to deal with people anymore because they drain your energy.”-Jim Carrey

Rasa nyaman dan kepercayaan diri yang tinggi oleh manusia bahwa ia dapat mengerjakannya sendiri, dapat menjalani kehidupan ini sendiri, khususnya pada saat pandemi seperti ini memisahkan manusia dengan komunitas 15Twenge, J., 2020. Why So Many People Are Stressed And Depressed. [online] Psychology Today. Available at: <https://www.psychologytoday.com/us/blog/our-changing-culture/201410/why-so-many-people-are-stressed-and-depressed&gt;.Kesendirian ini, selain menimbulkan rasa kesepian, pada akhirnya akan menambah stress dan tekanan pada mental melalui waktu kosong dan sendirian yang kita dapati dalam melewati masa pandemi ini. Hal ini terlihat dari kondisi di mana jiwa kita yang sudah kelelahan tidak memiliki sarana untuk memenuhi kebutuhan sosialnya karena kita sudah memutuskan untuk menutup diri, ditambah lagi tuntutan yang dibawa oleh masyarakat merespon penambahan waktu luang yang kita miliki selama pandemi ini.

 

Ilusi Produktivitas

Salah satu tuntutan dari pandemi ini kepada masyarakat adalah untuk meningkatkan produktivitas seperti yang dituliskan sebelumnya. Tuntutan untuk produktif ini sebenarnya telah lama bergaung di era sekarang, baik saat pandemi maupun jauh sebelumnya. Hal ini terjadi karena generasi kita semakin terfokus pada tujuan, yaitu uang, ketenaran dan gengsi, yang berdasarkan penelitian Tim Kasser, Psikolog Amerika, berkorelasi dengan anxiety (kecemasan) dan depresi 16Twenge, J., 2014. Generation Me – Revised And Updated: Why Today’s Young Americans Are More Confident, Assertive, Entitled–And More Miserable Than Ever Before. 2nd ed. Atria Books.. Zaman yang semakin maju membuat manusia semakin takut ketinggalan dari yang lainnya, sederhananya saat teman kita memutuskan untuk membuka bisnis baru, kita cenderung merasa tertinggal dan perlu melakukan sesuatu yang produktif untuk menyeimbanginya. Tuntutan produktivitas ini meningkat di masyarakat pada masa pandemi melihat banyaknya waktu luang yang didapatkan oleh sebagian besar masyarakat. Kita merasa bahwa kita perlu membayar waktu luang yang kita dapat dengan produktivitas yang lebih tinggi lagi. Tuntutan untuk menjadi lebih produktif ini semakin digaungkan oleh masyarakat, baik oleh orang-orang di sekitarnya, di postingan-postingan media sosial, video-video yang kita tonton, maupun dari dalam diri sendiri. Apa kita pernah berpikir, kok saya punya waktu lebih, tapi hasilnya sama saja? Malah kadang menurun.

 Di saat skenario yang ideal ini tidak tercapai, kita akan merasa gagal, bersalah dan kecewa dengan diri sendiri. Pada akhirnya, kekecewaan ini dapat menimbulkan stress lanjutan dan memperkeruh suasana hati.

Bisa jadi kita saat ini hidup diiringi dengan sebuah ‘ilusi’ atas ekspektasi untuk produktif. Seperti yang ditanyakan oleh Satu Persen, kamu merasa bersalah nggak kalo harus istirahat di tengah pekerjaan? Selama berjam-jam kita duduk di depan segunung pekerjaan, di satu ruangan yang sama, tanpa pengawasan langsung dari supervisor kita, hal ini dapat membuat kita merasa bersalah apabila tidak bekerja cukup keras. Padahal, it’s okay to take a break. Beristirahat terkadang kita lupakan dalam masa karantina/WFH ini, seakan-akan semakin banyak waktu luang kita, semuanya harus kita gunakan untuk bekerja lebih keras.

Selain itu, kemajuan zaman juga berhasil membuat banyak masalah bagi sebagian besar manusia dapat terselesaikan dengan lebih mudah sehingga sebagian dari manusia tersebut punya waktu kosong yang lebih banyak dari generasi sebelumnya. Dengan peningkatan waktu kosong ini, kita mendapat waktu yang lebih banyak untuk melamun dan memikirkan kekurangan-kekurangan kita, mengintropeksi diri dan ujung-ujungnya bersedih. Memasuki masa pandemi maka waktu luang kita bertambah lagi, yang berarti semakin banyak pula kesempatan kita untuk tidak melakukan apa-apa. Logikanya, saat sibuk commuting, saat kita sibuk berpindah tempat dari rumah ke kantor, dari ruang kerja ke kantin, saat kita sibuk berdiskusi ataupun sekedar mengobrol dengan rekan kita, maka pada saat itu kita tidak punya waktu dan ruang untuk bersedih 17Jowit, J., 2020. What Is Depression And Why Is It Rising?. [online] The Guardian. Available at: <https://www.theguardian.com/news/2018/jun/04/what-is-depression-and-why-is-it-rising&gt;.. Namun pada saat pandemi, kita menghabiskan sebagian besar waktu kita di rumah, sendirian atau dengan interaksi langsung yang minimum. Situasi ini membuka kesempatan kita untuk kembali merenung dan bersedih.

Pandemi meningkatkan risiko stress dengan faktor-faktor yang tidak kita sangka. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang salah stir, salah satunya contoh di atas di mana masyarakat kerap memaksakan diri untuk menjadi lebih produktif di tengah suasana yang sudah menekan mental ini. Walaupun misalnya impian kita untuk menjadi lebih produktif tercapai, apakah kita akan baik-baik saja atau ada yang sebenarnya kita korbankan, kesehatan mental kita misalnya.

 

Lalu, Bagaimana?

Tahun 2020 ini merupakan pengalaman yang sangat baru dan bergejolak bagi sebagian besar masyarakat dunia, mulai dari perubahan kebiasaan dan aktivitas sehari-hari yang menuntut kita cepat menyesuaikan diri, baik fisik kita maupun mental kita. Meskipun dipenuhi trend-trend mengasyikan seperti tik-tok, kopi dalgona, dan saling kirim hampers, namun siapa sangka bagian dalam diri kita terpuruk dan rusak perlahan-lahan. Tingkat stress, kecemasan, dan frustasi semakin meningkat selama pandemi ini. Muncul dari banyak faktor, seperti ketakutan masyarakat pada virus yang menyebar, kesedihan karena korban-korban yang kerap berjatuhan, dan juga kehilangan semangat dan makna dari separasi yang dialami manusia dengan peradabannya, dengan komunitasnya, bahkan dengan teman-temannya.

Salah satu dampak dari pandemi ini pada kehidupan sehari-hari adalah bertambahnya waktu luang bagi sebagian besar orang. Menanggapi waktu luang ini, mayoritas masyarakat meromantisasi penambahan produktivitas di kehidupannya. Melihat jumlah waktu yang dimiliki menjadi lebih banyak, maka mereka berpikir bahwa idealnya hasil yang bisa dicapai juga harus lebih dari sebelum pandemi. Hal ini menimbulkan stress tersendiri akan tuntutan baru yang kita terima, baik dari masyarakat maupun diri sendiri. Sayangnya, kita kerap tidak sadar bahwa ada hal yang diambil oleh pandemi sebagai bayaran waktu luang tersebut, dan hal itu adalah waktu kita untuk berhubungan sosial dengan orang lain. Ternyata sebatas chat saja tidak cukup untuk menggantikan interaksi sosial kita yang terkesan tulus, mengikat, dan menarik. Hubungan inilah yang mempertahankan kesadaran kita akan value dari eksistensi diri masing-masing, dengan mengikatkan diri dengan kehidupan sosial dan menyadari bahwa kita tidak bisa sendirian. 

Stress karena kondisi dunia yang sedang dalam bahaya, diiringi stress akibat separasi dan isolasi dari orang-orang lain sehingga interaksi sosial semakin berkurang, baik dari kuantitas maupun kualitasnya, ditutup dengan stress dari tuntutan untuk semakin produktif sebagai wujud utilisasi waktu luang yang kita dapat dari pandemi ini membuat mental masyarakat semakin terpuruk lagi dan lagi, baik dalam bentuk kesedihan atau bahkan berakhir pada depresi. Bilamana anda mendapati gejala-gejala depresi dari kehidupan anda sehari-hari, segera periksakan ke ahlinya untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat. Bilamana anda merasa apa yang anda alami adalah kesedihan yang berkepanjangan, hal tersebut juga harus segera ditangani, jangan sampai kita kalah karena bila dibiarkan terus bersedih, maka dapat menjadi penyakit yang salah satunya adalah depresi. Kalau sedang merasa sedih, pertimbangkan untuk menelepon teman atau mengobrol dengan anggota keluarga yang lain, mungkin itulah yang sebenarnya kita butuhkan.

Islamilenia
+ postsBio

Accounting student

  • Islamilenia
    Dawn of a Decent Society: The Illegalization of Discomfort in a New Morality
  • Islamilenia
    The Society of Rejects: How Self-Acceptance Leads to Unrest
  • Islamilenia
    Marriage and The Anatomy of Love
  • Islamilenia
    Glitz, Glam, Gloss: The Anatomy of Modern Beauty

Referensi[+]

Referensi
↵1 Mitra, M., 2020. New Research Shows How Much We’re Benefitting By Not Commuting. [online] Money. Available at: <https://money.com/work-from-home-commute/&gt;
↵2 Hilbrecht, M., Smale, B. and Mock, S., 2014. Highway to health? Commute time and well-being among Canadian adults. World Leisure Journal, 56(2), pp.151-163.
↵3 Iskandarsyah, A. and Yudiana, W., 2020. Information Provision About Covid-19, Health Behaviors And Mental Health In Indonesia. Jakarta. [online] OSF. Available at: <https://osf.io/qu3ec/&gt;
↵4 CDC. 2020. Quarantine And Isolation | Quarantine | CDC. [online] Available at: <https://www.cdc.gov/quarantine/index.html&gt;
↵5 Brooks, S., Webster, R., Smith, L., Woodland, L., Wessely, S., Greenberg, N. and Rubin, G., 2020. The psychological impact of quarantine and how to reduce it: rapid review of the evidence. The Lancet, 395(10227), pp.912-920.
↵6 Kompas. 2020. WHO Peringatkan Krisis Gangguan Mental Global Akibat Pandemi. [online] Available at: <https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/15/135714920/who-peringatkan-krisis-gangguan-mental-global-akibat-pandemi&gt;
↵7 Wan, W., 2020. The Coronavirus Pandemic Is Pushing America Into A Mental Health Crisis. [online] Available at: <https://www.washingtonpost.com/health/2020/05/04/mental-health-coronavirus/&gt;
↵8 Fielding, S., 2020. How Your Social Media Habits May Contribute To Depression — And 4 Ways To Fix It. [online] Insider. Available at: <https://www.insider.com/does-social-media-cause-depression&gt;
↵9 Rettner, R., 2020. People Across The Globe Feeling More Sad, Stressed And In Pain Than Ever. [online] livescience.com. Available at: <https://www.livescience.com/63563-world-emotions-gallup-survey.html&gt;
↵10 Sharp. 2020. Sadness And Depression During Self-Quarantine. [online] Available at: <https://www.sharp.com/health-news/sadness-and-depression-during-self-quarantine.cfm&gt;.
↵11 Brueck, H., 2020. Depression Among Gen Z Is Skyrocketing — A Troubling Mental-Health Trend That Could Affect The Rest Of Their Lives. [online] Business Insider. Available at: <https://www.businessinsider.com/depression-rates-by-age-young-people-2019-3?r=US&IR=T&gt;
↵12, ↵16 Twenge, J., 2014. Generation Me – Revised And Updated: Why Today’s Young Americans Are More Confident, Assertive, Entitled–And More Miserable Than Ever Before. 2nd ed. Atria Books.
↵13 Twenge, J., Cooper, A., Joiner, T., Duffy, M. and Binau, S., 2019. Age, period, and cohort trends in mood disorder indicators and suicide-related outcomes in a nationally representative dataset, 2005–2017. Journal of Abnormal Psychology, 128(3), pp.185-199.
↵14 Twenge, J., Spitzberg, B. and Campbell, W., 2019. Less in-person social interaction with peers among U.S. adolescents in the 21st century and links to loneliness. Journal of Social and Personal Relationships, 36(6), pp.1892-1913.
↵15 Twenge, J., 2020. Why So Many People Are Stressed And Depressed. [online] Psychology Today. Available at: <https://www.psychologytoday.com/us/blog/our-changing-culture/201410/why-so-many-people-are-stressed-and-depressed&gt;
↵17 Jowit, J., 2020. What Is Depression And Why Is It Rising?. [online] The Guardian. Available at: <https://www.theguardian.com/news/2018/jun/04/what-is-depression-and-why-is-it-rising&gt;.

Related Posts

No Content Available
  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide