Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Soft News

Potensi Atlet Disiakan: Ketika Bakat Tak Diberi Fasilitas yang Tepat

by Ade Heru Hermansyah & Anggraini Safitri
30 Oktober 2026
in Soft News

Asian Games 2026 telah berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September–3 Oktober silam. Pada awalnya, Indonesia menargetkan empat medali emas, tetapi di luar dugaan, Indonesia berhasil membawa pulang lima medali emas dalam ajang olahraga terbesar di Asia tersebut. Namun, dibandingkan dengan data historis, pencapaian ini masih berada jauh di bawah capaian Indonesia pada Asian Games 2018, ketika Indonesia menjadi tuan rumah dan berhasil meraih 31 medali emas.

Pengamat olahraga, Fritz Simanjuntak, yang dikutip dari Media Indonesia, menilai rendahnya target tersebut sebagai kemunduran prestasi olahraga Indonesia. “Ya itu jelek banget (target Indonesia). Itu lho. Sangat jelek itu,” ujar Fritz ketika menanggapi target medali emas tahun ini. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan kegagalan dalam pembinaan prestasi olahraga.

Tim Economica mewawancarai dua atlet muda Indonesia, hasilnya menggambarkan adanya ketimpangan dalam dukungan pembinaan antardaerah dan antarcabang olahraga. Seorang atlet menembak binaan KONI di Banten masih menunggu bonus juara kedua Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) yang belum cair hingga tiga bulan setelah kompetisi. Sementara itu, pemain akademi Persebaya asal Sidoarjo, Alfredo Nararya Nugroho, merasakan dukungan yang lebih memadai ketika bergabung dengan tim nasional. Meski begitu, Alfredo juga mendapat informasi dari temannya yang berasal dari Papua bahwa kompetisi olahraga masih jarang diselenggarakan di daerah tersebut.

Dua Jalan, Awal yang Sama 

Keduanya memulai perjalanan sebagai atlet dari lingkungan yang berbeda. Alfredo mulai mengenal sepak bola melalui SSB Bintang Putra Sidoarjo saat berusia sekitar delapan tahun. Setelah mengikuti Liga Surabaya, ia dipantau Akademi Persebaya pada 2024 dan kemudian menandatangani kontrak tiga tahun. Dari akademi tersebut, ia mengikuti seleksi tim nasional pada Februari 2026 dan berangkat ke turnamen AFC di Arab Saudi.

Sementara itu, narasumber yang menjadi atlet menembak menyampaikan bahwa ia mulai berlatih pada 2021 setelah dikenalkan oleh teman ayahnya. Ia baru mengikuti pertandingan setelah diajak pelatihnya turun di Pekan Olahraga Kota (Porkot). Pada Oktober 2024, ia meraih juara ketiga nomor individu dan juara kedua nomor beregu. Prestasi tersebut membuatnya kemudian menjadi atlet binaan KONI sejak 2025 dan menerima uang pembinaan. Kini, ia tercatat sebagai peserta Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).

Keduanya sama-sama merupakan pelajar yang harus membagi waktu. Alfredo, siswa kelas tiga SMA, sering bersekolah pagi dan meminta izin untuk berlatih di Surabaya pada siang harinya. Ia juga harus mengikuti bimbingan belajar (bimbel) pada sore hari dan baru bisa bermain pada malam hari. Sang atlet menembak juga berencana untuk menjalani dua jalur, yaitu sebagai atlet dan mahasiswa. Namun, walaupun memulai dari lingkungan yang sama-sama relatif sederhana, pengalaman keduanya mulai berbeda ketika berbicara tentang dukungan yang mereka terima dari pemangku kepentingan. 

Dukungan yang Belum Merata

Bagi Alfredo, dukungan terhadap atlet sepak bola cukup terasa ketika berada di tim nasional. Ia menyebut mendapat penginapan, fasilitas, dan uang saku yang memadai. Di Sidoarjo, kompetisi berjenjang hingga tingkat nasional seperti Liga TopSkor juga telah tersedia sejak masa Sekolah Sepak Bola (SSB).

Namun, pengalaman tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi atlet di cabang lain. Sang atlet menembak mengatakan ia mendapat fasilitas antar-jemput latihan dengan biaya bensin ditanggung pemerintah serta uang pembinaan KONI yang dinilainya “lumayan”. Uang pembinaan ini, yang dia sampaikan, harus dibagi merata dengan rekannya tanpa membedakan intensitas latihan masing-masing. Baginya, pembagian tersebut terasa tidak adil karena atlet yang rajin berlatih menerima bagian yang sama dengan mereka yang tidak. 

Selain itu, bonus juara kedua Popda yang seharusnya diterima sejak Juni lalu juga belum cair. Pada 22 September, para pemenang baru diminta menandatangani dokumen penerimaan dan dijanjikan pencairan sekitar satu bulan kemudian.

Keterbatasan juga terlihat pada fasilitas latihan. Lapangan yang digunakan atlet menembak di Tangerang Selatan hanya sekitar 33 meter, lebih pendek dari standar 41 meter. Selain itu, ruang latihan air rifle 10 meter tidak memiliki kipas atau pendingin sama sekali. Sementara itu, harga senapan yang bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp60 juta membuat beberapa atlet memilih berhenti. Narasumber bahkan sempat berhenti berlatih selama empat bulan sebelum pelatih meminjamkan senapan.

Akses Pembinaan yang Berbeda

Perbedaan dukungan juga dirasakan Alfredo ketika membandingkan pengalamannya dengan teman-temannya dari Papua. Alfredo mengatakan sejumlah temannya di Papua sempat “nggak dapat apa-apa” sebelum hadirnya Papua Football Academy. Di klub lain, sebagian atlet juga masih harus menanggung sendiri biaya untuk mengikuti kompetisi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan atlet tidak selalu dimulai dari titik yang sama. Selain kemampuan dan kesempatan bertanding, atlet membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka berlatih secara konsisten dan mengikuti kompetisi tanpa terbebani biaya yang seharusnya dapat ditanggung dalam proses pembinaan.

Salah satu contoh dukungan pembinaan datang dari Papua Football Academy. Akademi yang didirikan oleh PT Freeport Indonesia pada Agustus 2022 tersebut akhirnya dapat menjadi wadah pembinaan sepak bola usia muda di Papua. Tiga siswanya bahkan kini mengikuti pemusatan latihan tim nasional U-16. Kehadiran akademi tersebut menunjukkan bagaimana dukungan dari pihak di luar klub dapat turut membuka akses pembinaan bagi atlet muda. 

Bagi Alfredo, persoalan tersebut bukan berarti tidak ada dukungan. Ia sendiri merasakan dukungan ketika berada di tim nasional. Persoalannya adalah bagaimana dukungan itu tersedia secara berkelanjutan sejak atlet berada di tingkat daerah, ketika fasilitas, biaya kompetisi, dan sarana latihan masih menjadi bagian dari perjuangan mereka.

Apakah Sudah Berkeadilan?

Berdasarkan hasil wawancara Tim Economica dengan Budi Ariyanto Muslim, Asisten Deputi Olahragawan Elit Kemenpora RI, Kemenpora sendiri memandang keadilan yang harus didapatkan para atlet tidak hanya berkaitan dengan tersedianya lapangan atau tempat latihan, melainkan keseluruhan ekosistem pembinaan atlet, mulai dari fasilitas yang terlihat seperti tempat dan peralatan latihan, hingga dukungan mental dan kesehatan atlet. 

“Kita ingin mengurangi ketimpangan antara pusat dan daerah. Prinsip yang dibangun dalam regulasi adalah bahwa pembinaan atlet berlangsung pada tiga tingkatan, yaitu nasional, provinsi dan kabupaten/kota. LTAD tingkat nasional menjadi tanggung jawab Menteri, tingkat provinsi menjadi tanggung jawab gubernur, sedangkan tingkat kabupaten/kota menjadi tanggung jawab bupati/wali kota. Dengan demikian, pembinaan atlet tidak boleh hanya bertumpu pada Jakarta,” ujar Budi.  “Tantangannya tentu masih ada, terutama dalam kualitas dan ketersediaan fasilitas di daerah. Karena itu, yang kita dorong adalah penguatan sentra pembinaan olahraga prestasi di daerah serta sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi olahraga, masyarakat dan dunia usaha,” lanjutnya. 

Upaya mengurangi kesenjangan antara pelatihan pusat dan daerah didorong dengan adanya penetapan standar prasarana sebagai acuan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan dalam menjamin mutu penyediaan prasarana olahraga. Standar tersebut dapat disempurnakan secara berkala sesuai perkembangan kebutuhan olahraga sehingga, paradigmanya bergeser dari sekadar membangun menjadi membangun, menggunakan, memelihara, mengevaluasi dan meningkatkan kualitas fasilitas secara berkelanjutan. 

Untuk menyokong keberhasilan dalam mempersiapkan atlet, Budi mengungkapkan bahwa tidak ada penetapan satu persentase baku yang menyatakan sekian persen anggaran harus langsung diterima atlet. Aspek yang diatur adalah jenis fasilitasi dan prinsip pemberian dukungan sesuai kemampuan keuangan negara serta ketersediaan alokasi anggaran.  Budi menegaskan, “Ukuran keberhasilan anggaran tidak semata-mata dilihat dari besar kecilnya anggaran, tetapi dari seberapa efektif anggaran tersebut dikonversikan menjadi peningkatan kualitas pembinaan dan prestasi atlet. Karena itu, yang harus kita pastikan adalah anggaran benar-benar berorientasi pada pencapaian target prestasi, pembinaan atlet, kebutuhan pelatih, fasilitas, kompetisi, pemulihan, kesehatan dan sport science. Event bukan tujuan akhir. Event merupakan instrumen untuk mengukur dan meningkatkan prestasi atlet.”

Harapan ke Depan

Alfredo turut berharap untuk kondisi atlet sepak bola kedepannya, “Harapan saya sih mas, PSSI lebih (memperhatikan) kayak kota-kota kecil yang kurang diperhatikan gitu kali ya.” Atlet menembak juga menambahkan harapannya kepada pemerintah setempat untuk lebih mendukung moral atlet. “Berikanlah penyemangat yaitu percepat uang uang lomba dan perbaiki fasilitas yang kurang dan berikan uang pembinaan yang besar tanpa di bagi 2 dengan yang lain,” jelasnya. Selain itu, ia berharap pemerintah setempat dapat menyediakan sarana prasarana untuk mendukung keberlanjutan calon atlet berpotensi.

Besar harapan bila ke depannya nasib putra-putri terbaik bangsa diperhatikan sepenuhnya. Pemerintah dapat meringankan beban yang mereka pikul selama memperjuangkan nama baik bangsa di kancah dunia dengan memberikan apa yang seharusnya mereka dapat, yaitu pendanaan yang adil dan sesuai. Ketika fasilitas sudah merata, atlet tentu akan lebih mampu untuk memaksimalkan potensi mereka. 

 

Oleh: Ade Heru Hermansyah dan Anggraini Safitri
Editor: Tim Redaksi
Ilustrasi: Louis Caleb

#SebatasKataKataBukanBudayaKami

Related Posts

Aksi #IndonesiaSadar: Menggemakan Bundaran HI, Masyarakat Menolak Diam
Hard News

Aksi #IndonesiaSadar: Menggemakan Bundaran HI, Masyarakat Menolak Diam

Merdeka di Atas Kertas: Realitas Pendidikan Indonesia yang Masih Terjajah
Headline

Merdeka di Atas Kertas: Realitas Pendidikan Indonesia yang Masih Terjajah

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide