Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Mild Report

Budaya Presentasi dalam Pembelajaran Perguruan Tinggi: Evaluasi, Tantangan, dan Arah Perbaikan

by Sultan Gendra Gatot & Muhammad Faiz Ihsan Zain
23 Desember 2025
in Mild Report

Dalam beberapa program studi di perguruan tinggi Indonesia, termasuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), budaya presentasi telah menjadi salah satu metode pembelajaran yang paling dominan dalam beberapa tahun terakhir. Mahasiswa dari berbagai angkatan melaporkan bahwa mereka kerap diminta untuk melakukan presentasi hampir setiap minggu, baik dalam mata kuliah teoretis maupun praktis. Frekuensi yang tinggi ini memunculkan kekhawatiran bahwa proses pembelajaran tidak lagi berorientasi pada pendalaman materi, tetapi hanya pada pemenuhan tugas rutin yang bersifat teknis dan administratif.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting mengenai apakah presentasi benar-benar menjadi sarana yang efektif untuk mencapai pemahaman substansial atau justru mempersempit ruang belajar menjadi sekadar rutinitas tanpa refleksi akademik. Fenomena ini tidak hanya muncul di lingkungan FEB UI, tetapi juga di kampus lain, menunjukkan bahwa budaya presentasi merupakan pola pembelajaran yang meluas dan membutuhkan evaluasi mendalam. Dari kondisi ini, muncul kebutuhan untuk menilai kembali peran presentasi dalam pendidikan tinggi dan memahami apakah metode ini masih sesuai dengan tujuan pedagogis yang ingin dicapai.

Dasar Pemikiran Program Studi dalam Mengadopsi Presentasi

Menurut Imam Salehudin (Imam), Kepala Program Studi Manajemen FEB UI, penggunaan presentasi dalam silabus tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari konsep pembelajaran berpusat pada mahasiswa atau student-centered learning. Pendekatan ini dikembangkan sebagai kritik terhadap model lama yang menempatkan mahasiswa sebagai pendengar pasif dalam kuliah, sementara dosen menjadi sumber pengetahuan tunggal yang mendominasi alur pembelajaran.

Dalam paradigma baru ini, mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran aktif melalui kegiatan membaca, menganalisis, dan mengomunikasikan kembali materi dengan bahasa dan pemahaman mereka sendiri. Presentasi kemudian dipilih sebagai instrumen yang dianggap paling mudah diimplementasikan untuk mendorong partisipasi aktif tersebut, sekaligus melatih keterampilan komunikasi akademik yang dinilai penting bagi dunia profesional.

Walaupun demikian, Imam juga menyadari bahwa implementasi di lapangan sering kali jauh dari ideal, karena sebagian mahasiswa hanya membaca ulang materi tanpa proses pengolahan yang mendalam terutama dengan keberadaan teknologi kecerdasan buatan yang memperparah kondisi ini.

Kelebihan Presentasi dalam Literatur dan Perspektif Dosen

Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa presentasi memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran karena mendorong mahasiswa mengolah informasi secara aktif dan terstruktur. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa presentasi memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran karena mendorong mahasiswa mengolah informasi secara aktif dan terstruktur. Misalnya, Freeman, Goodhew, dan Brown (2014) menemukan bahwa presentasi yang dirancang secara interaktif meningkatkan fokus, partisipasi, dan retensi materi pada mahasiswa teknik.

Penelitian Michel, Cater, dan Varela (2009) juga menunjukkan bahwa tugas presentasi yang disertai diskusi dan analisis meningkatkan pemahaman konsep bisnis secara signifikan karena mahasiswa dipaksa mensintesis informasi daripada sekadar menerima penjelasan pasif. Selain itu, Brown dan Lee (2021) mencatat bahwa strategi pembelajaran berpusat pada mahasiswa, termasuk presentasi, dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif apabila dosen memberikan scaffolding yang memadai. Temuan-temuan tersebut memperkuat argumen bahwa presentasi bukan sekadar aktivitas penyampaian materi, tetapi sebuah proses kognitif yang dapat memperdalam pemahaman apabila dirancang dengan struktur pedagogis yang tepat.

Imam, selaku Kepala Program Studi Manajemen FEB UI, menegaskan bahwa kemampuan presentasi, terutama dalam menjelaskan konten secara jernih dan sistematis, termasuk salah satu kompetensi yang paling menonjol dari alumni Manajemen UI berdasarkan riset kompetensi lulusan. Keterampilan ini sangat relevan dengan tuntutan profesional, terutama dalam lingkungan kerja yang membutuhkan kemampuan komunikasi efektif, argumentasi berbasis data, serta penyampaian gagasan dalam format yang terstruktur. Lebih jauh, presentasi dipandang bukan hanya sebagai proses penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang untuk melatih kemampuan berpikir kritis melalui sesi tanya jawab yang menstimulasi analisis lebih mendalam.

Namun demikian, kekuatan utama presentasi ini tidak selalu muncul di ruang kelas, terutama jika mahasiswa kurang memahami materi atau jika diskusi tidak berkembang karena audiens tidak terlibat aktif. Dengan demikian, walaupun presentasi memiliki landasan teoritis yang kuat sebagai metode pembelajaran aktif, efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas pelaksanaan di kelas.

Perspektif Mahasiswa Mengenai Praktik Presentasi

“Meskipun presentasi seharusnya membuat mahasiswa menyiapkan materi sendiri sehingga membutuhkan eksplorasi yang mendalam dengan menggunakan berbagai sumber seperti jurnal dan penelitian yang ada di internet, namun banyak teman yang tidak siap dengan materinya, kurang memahami, penyampaiannya tidak menarik, kurang jelas dalam menjelaskan, dan sering menyajikan materi yang tidak sesuai dengan silabus. Akibatnya, audiens tidak fokus, bahkan ada yang main HP dan tidak mendengarkan sama sekali,” ungkap Rafly Arsyad Baros (Rafly), mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi FEB UI angkatan 2024.

Menurut Rafly, budaya presentasi yang terlalu sering pada akhirnya membuat mahasiswa berubah menjadi “mesin presentasi” yang hanya mengejar penyelesaian tugas, bukan memahami konsep secara mendalam. Ketika waktu persiapan terbatas, mahasiswa cenderung menyiapkan materi secara dangkal meskipun akses terhadap jurnal, Artificial Intelligence (AI), dan sumber lain sebenarnya memungkinkan analisis yang lebih komprehensif.

Melihat sisi mahasiswa di luar UI, tim Economica pun melakukan wawancara dengan mahasiswa S1 Bisnis Digital di Universitas Nasional, Zidny, yang memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana presentasi diimplementasikan di kampus lain. Berbeda dengan beberapa kelas di FEB UI, presentasi di Universitas Nasional biasanya dilakukan setelah dosen terlebih dahulu mengajarkan materi inti sehingga mahasiswa tidak dipaksa memahami topik yang belum pernah dijelaskan.

Model pelaksanaannya bersifat berkelompok, di mana diskusi antar anggota menjadi tahap penting sebelum penyampaian. Hal ini membuat mahasiswa merasa lebih siap karena mereka sudah memahami fondasi materi yang disampaikan sebelumnya. Sesi tanya jawab yang aktif pun menjadi faktor yang paling membantu dalam memperdalam pemahaman karena mahasiswa dituntut untuk mempertahankan argumen mereka di hadapan teman maupun dosen. Meskipun demikian, Zidny juga mengakui bahwa efektivitas presentasi sangat bergantung pada kualitas penyampaian dari presenter dan kemampuan kelas untuk menghidupkan diskusi.

Tantangan dalam Metode Pembelajaran dengan Presentasi

Menurut Dosen Program Studi Manajemen, Yeshika Alversia (Yeshika), sekitar 70 persen mahasiswa berhasil mencapai kompetensi dasar yang ingin dikembangkan melalui presentasi, terutama dalam aspek komunikasi, keberanian berbicara, dan kemampuan berargumentasi. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pemahaman substansial terhadap materi, karena sebagian mahasiswa tetap mengalami kesulitan dalam menguasai konsep inti.

Tantangan menjadi lebih besar pada mata kuliah kuantitatif yang membutuhkan kerangka penjelasan dari dosen sebelum mahasiswa dapat mengembangkan pemahaman secara mandiri. Yeshika menilai bahwa jika pengantar materi tidak diberikan, mahasiswa cenderung hanya memindahkan informasi dari slide tanpa memahami konteks yang lebih luas. Selain itu, kecenderungan mahasiswa bekerja secara individual dalam kelompok, hanya membagi tugas tanpa berdiskusi, menyebabkan presentasi kehilangan nilai kolaboratif yang seharusnya menjadi bagian penting dari student-centered learning.

Kepala Program Studi Manajemen, Imam Salehudin, menyadari adanya kecenderungan mahasiswa memandang presentasi hanya sebagai kewajiban administratif untuk memperoleh nilai kehadiran atau penyelesaian tugas mingguan. Mahasiswa sering kali menyiapkan materi secara terburu-buru, memanfaatkan Artificial Intelligence sebagai alat utama untuk menyusun konten, sehingga proses berpikir kritis terpinggirkan. Hal ini menimbulkan risiko penurunan kualitas pemahaman karena mahasiswa tidak lagi terlibat dalam proses analisis pribadi yang seharusnya menjadi inti pembelajaran.

Ketidakefektifitas lain muncul karena mata kuliah atau materi tertentu, terutama yang bersifat kuantitatif dan konseptual, tidak cocok diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa tanpa adanya penjelasan awal dari dosen. Selain itu, permasalahan kerja kelompok seperti ketimpangan kontribusi antar anggota mengakibatkan terjadinya fenomena “free rider” yang mengurangi keadilan dan efektivitas pembelajaran.

Durasi presentasi yang terlalu panjang juga berpotensi menurunkan konsentrasi mahasiswa sehingga penyampaian materi tidak lagi efektif. Mahasiswa yang tidak memahami materi awal sering kali menyajikan informasi secara dangkal atau bahkan keliru, yang pada akhirnya menciptakan kebingungan bagi audiens. Tantangan lain muncul dari kurangnya mekanisme umpan balik yang terstruktur sehingga mahasiswa tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan presentasinya secara jelas.

Tantangan tambahan juga muncul dari temuan berbagai studi internasional yang menyoroti resistensi mahasiswa terhadap metode pembelajaran berbasis partisipasi aktif, termasuk presentasi. Çakıroğlu dan Öztürk (2023) menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa menolak pendekatan pembelajaran aktif karena merasa lebih nyaman dengan model pengajaran tradisional yang pasif sehingga presentasi sering dianggap membebani dan bukan sarana belajar yang bermakna. Penelitian lain oleh Brown dan Lee (2021) mengungkap bahwa metode yang terlalu berorientasi pada mahasiswa justru dapat memicu kecemasan performatif, terutama ketika mahasiswa merasa tidak memiliki dukungan atau arahan yang cukup dari dosen.

Selain itu, studi Chen dan Yang (2020) menemukan bahwa presentasi berbasis slide tradisional menghasilkan efek belajar yang lebih rendah dibandingkan metode dengan elemen interaktif. Ketika presentasi tidak didesain secara engaging, mahasiswa cenderung kehilangan fokus dan mengalami kesulitan mempertahankan motivasi. Penelitian Freeman, Goodhew, dan Brown (2014) juga menekankan bahwa slide presentasi yang tidak interaktif gagal meningkatkan keterlibatan kelas sehingga model presentasi konvensional tidak cukup untuk mempertahankan perhatian audiens. Lebih jauh, Houlden (2023) menyoroti bahwa banyak presentasi mahasiswa hanya membahas permukaan karena mereka lebih fokus “menyelesaikan giliran” daripada memahami materi, yang diperparah oleh struktur kelas yang tidak memberi ruang refleksi mendalam.

Seluruh temuan ini menunjukkan bahwa tantangan presentasi tidak hanya berkaitan dengan teknis penyampaian, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan kognitif mahasiswa, desain pedagogik dosen, dan kecenderungan kelas untuk jatuh kembali pada pola pasif yang mengurangi efektivitas pembelajaran.

Rekomendasi Perbaikan

Beberapa rekomendasi disampaikan oleh dosen dan mahasiswa untuk memperbaiki efektivitas presentasi di kelas. Rafly menyampaikan, “Presentasi akan jauh lebih efektif jika dosen menjelaskan materi terlebih dahulu sebelum mahasiswa diminta untuk mempresentasikan. Fondasi yang jelas sangat penting agar mahasiswa memahami konteks materi dan tidak menyampaikan isi yang keliru atau terlalu dangkal,” Ia juga menambahkan, “Akan lebih membantu jika dosen memberikan umpan balik secara bertahap, misalnya per bagian atau per slide, sehingga mahasiswa tahu secara spesifik bagian mana yang perlu diperbaiki.”

Dalam praktik idealnya, presentasi tidak boleh menggantikan peran dosen sebagai pemberi struktur, konteks, dan arah pembelajaran. Dosen tetap perlu memberikan pengantar konsep-konsep dasar sebelum sesi presentasi dimulai agar mahasiswa memiliki fondasi yang memadai untuk memahami topik yang mereka jelaskan. Selain itu, dosen bertanggung jawab memberikan rangkuman dan klarifikasi setelah presentasi berlangsung, untuk memastikan bahwa poin-poin penting tidak hilang atau disalahpahami.

Kepala Program Studi Manajemen menegaskan, “Peran dosen seharusnya tidak hanya mengamati presentasi, tetapi menjadi moderator aktif yang memandu diskusi dan menjaga kualitas pertukaran gagasan. Tanpa penguatan dari dosen, presentasi berisiko hanya menjadi formalitas yang tidak berdampak signifikan terhadap proses pembelajaran.”

Imam menyarankan, “Sistem presentasi sebaiknya dibagi menjadi sesi-sesi pendek, dilengkapi dengan diskusi lanjutan melalui platform daring di luar kelas, serta standar penilaian yang transparan agar mahasiswa memahami ekspektasi secara jelas.” Sementara itu, sebagai dosen, Yeshika menyampaikan, “Penggunaan kuis interaktif seperti Kahoot dapat meningkatkan keterlibatan audiens sekaligus menguji pemahaman mahasiswa secara real-time.”

Untuk menghadapi tantangan penggunaan AI, dosen pada akhirnya harus memberikan “pagar-pagar pembelajaran” berupa panduan, batasan, dan instruksi tambahan untuk memastikan bahwa presentasi tetap mendorong refleksi intelektual yang sehat. Tanpa batasan yang jelas, penggunaan AI dapat mengarah pada pengulangan materi yang tidak dipahami dan diskusi yang kurang substantif. Maka dari itu, presentasi tidak hanya membutuhkan kesiapan mahasiswa, tetapi juga strategi pengawasan yang konsisten dari dosen.

Hasil penelitian dari berbagai literatur menunjukkan bahwa efektivitas presentasi dapat ditingkatkan apabila dosen mengintegrasikan prinsip-prinsip pembelajaran aktif secara konsisten. Freeman et al. (2014) menegaskan bahwa active learning secara signifikan meningkatkan performa akademik karena melibatkan mahasiswa dalam kegiatan seperti pertanyaan interaktif, diskusi dua arah, dan refleksi singkat selama kelas.

Penelitian Michel, Cater, dan Varela (2009) menunjukkan bahwa scaffolding atau pemberian dukungan bertahap membantu mahasiswa memahami struktur presentasi yang baik melalui contoh, template analisis, dan daftar konsep inti yang harus dibahas. Selain itu, Prince (2004) menekankan bahwa kerja kelompok hanya efektif jika dilakukan secara kolaboratif sehingga diperlukan diskusi awal, pembagian peran yang jelas, serta evaluasi antaranggota untuk memastikan semua mahasiswa memahami materi secara merata. Literatur ini memperkuat argumen bahwa perbaikan sistemik terhadap presentasi sangat diperlukan agar metode ini benar-benar menjadi sarana pembelajaran yang bermakna.

Kesimpulan

Dari keseluruhan temuan, jelas bahwa budaya presentasi di perguruan tinggi memiliki potensi besar sebagai metode pembelajaran berbasis partisipasi aktif, tetapi implementasinya masih menghadapi banyak tantangan yang membatasi efektivitasnya. Presentasi sering kali berubah menjadi rutinitas administratif tanpa disertai proses berpikir kritis, terutama ketika mahasiswa hanya fokus menyelesaikan tugas mingguan tanpa memahami substansi secara mendalam. Oleh karena itu, diperlukan perancangan ulang praktik presentasi agar kembali pada tujuan awalnya sebagai sarana pembelajaran aktif yang kolaboratif dan analitis.

Dosen perlu memberikan pengantar materi yang kuat, scaffolding yang jelas, serta umpan balik yang konsisten untuk memastikan bahwa mahasiswa belajar secara terarah. Di sisi lain, mahasiswa perlu membangun komitmen untuk memahami materi secara mendalam, bukan hanya menyiapkan slide. Dengan kolaborasi yang baik antara desain pengajaran yang lebih sistematis dan partisipasi mahasiswa yang reflektif, budaya presentasi dapat menjadi pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna dan relevan bagi pengembangan kompetensi akademik maupun profesional.

 

Referensi

Çakıroğlu, Ü., & Öztürk, M. (2023). Insights from a randomized controlled trial of flipped classroom on academic achievement: The challenge of student resistance. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 20(1), 1–20. https://doi.org/10.1186/s41239-023-00413-6

Chen, C.-H., & Yang, J.-C. (2020). Studies on learning effects of AR-assisted and PPT-based lectures. Asia-Pacific Education Researcher, 29(4), 365–375. https://doi.org/10.1007/s40299-020-00533-x

Freeman, R. A., Goodhew, P. J., & Brown, R. A. (2014, June). The effectiveness of interactive slide presentations for promoting student engagement in university engineering courses. Proceedings of the 2014 ASEE Annual Conference & Exposition. American Society for Engineering Education. https://peer.asee.org/the-effectiveness-of-interactive-slide-presentations-for-promoting-student-engagement-in-university-engineering-courses

Brown, C. A., & Lee, Y. (2021). An exploration of student experiences with learner-centered instructional strategies. Contemporary Educational Technology, 13(4), ep328. https://doi.org/10.30935/cedtech/6142

Houlden, S. (2023, August 17). Flip students’ presentations for more in-depth learning. Times Higher Education.https://www.timeshighereducation.com/campus/flip-students-presentations-more-indepth-learning

Related Posts

Biaya Tak Kasat Mata yang Anda Bayar Ketika Berangkat Kerja (dan Kuliah)
Mild Report

Biaya Tak Kasat Mata yang Anda Bayar Ketika Berangkat Kerja (dan Kuliah)

Sekejap di Layar, Seumur Hidup di Otak: Risiko Video Pendek bagi Tumbuh Kembang Anak
Mild Report

Sekejap di Layar, Seumur Hidup di Otak: Risiko Video Pendek bagi Tumbuh Kembang Anak

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide