“Manusia juga korban rusaknya lingkungan. Bedanya, manusia itu korban, sekaligus pelaku.” – Lukmanul Hakim.
Kutipan ini menggambarkan realitas yang diangkat dalam film dokumenter “17 Surat Cinta” yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan diproduksi oleh Ekspedisi Indonesia Baru (EIB) bersama berbagai organisasi lingkungan. Dokumenter ini menyoroti kehancuran hutan Indonesia dari Aceh hingga Papua. Tidak hanya menggambarkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengungkap kebejatan pemerintah, kejahatan perusahaan-perusahaan sawit, serta tekad besar para aktivis dan masyarakat adat yang berjuang mempertahankan tanah dan hutan mereka.
Film ini mengikuti perjalanan dua pemeran utama, Lukmanul Hakim, seorang data analyst, dan Rubama, seorang wildlife photographer, dalam mengungkap dampak nyata dari perusakan lingkungan. Keduanya menjadi saksi langsung atas bagaimana kebijakan pemerintah yang lemah dan korporasi sawit yang rakus telah menyebabkan bencana ekologis yang merugikan manusia dan satwa. Aceh, misalnya, yang memiliki hutan terbaik di Sumatera, justru menjadi wilayah yang paling sering dilanda banjir, longsor, dan kebakaran hutan. Infrastruktur yang dibangun dengan megah menjadi sia-sia ketika alam terus dihancurkan.
Suaka Margasatwa Rawa Singkil dan Perlawanan Masyarakat Adat
Salah satu fokus utama film ini adalah Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Aceh, yang seharusnya menjadi kawasan terlindungi. Namun, sejak 2022, alat berat mulai masuk ke kawasan ini untuk membuka lahan sawit. Parit-parit digali untuk mengeringkan tanah gambut, yang kemudian dibakar dan ditanami sawit. Padahal, Rawa Singkil adalah habitat vital bagi orang utan, gajah, harimau, dan badak Sumatera.
Ironisnya, meski aktivis telah mengirim 17 surat protes kepada pemerintah, termasuk kepada Presiden, tidak ada tanggapan serius. Bahkan, pejabat pemerintah justru menyangkal fakta kerusakan yang terjadi. Hal ini bertentangan dengan Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, yang secara jelas menyatakan:
“Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.”
Film ini juga menyoroti perlawanan masyarakat adat, seperti Suku Awyu di Papua, yang mempertahankan 39.000 hektar hutan mereka dari ancaman perusahaan sawit. Mereka memasang tanda salib merah sebagai simbol perlawanan. Namun, upaya mereka sering kali dihadapkan pada ketidakadilan sistemik. Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi Suku Awyu, menunjukkan betapa hukum sering kali berpihak pada kepentingan korporasi.
Janji Palsu Pemerintah dan Hegemoni Korporasi
Kejahatan perusahaan-perusahaan sawit juga diungkap dengan detail. Perusahaan dengan inisial PT G.S.S. dan PT S.S.N. menjadi pemasok bagi raksasa sawit, seperti PT berinisial G.A.R dan M.M., yang kemudian memasok produk mereka ke perusahaan global, seperti ***lever, Nes***, Pep**, P&*, dan masih banyak lagi. Meski perusahaan-perusahaan ini berjanji untuk memperbaiki praktik mereka, janji itu hanya menjadi lip service. Sementara itu, kerusakan hutan terus meluas, mencapai lebih dari 2.000 hektar di Suaka Margasatwa Rawa Singkil hingga September 2024.
Film ini tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan penghormatan kepada para aktivis dan masyarakat adat yang gigih berjuang. Tim Koalisi Penyelamatan Rawa Singkil (TKPRS), dengan berani membawa masalah ini ke Jakarta, bertemu dengan berbagai lembaga dan media. Namun, respons pemerintah tetap mengecewakan. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem menyatakan tidak ada aktivitas pembukaan lahan baru, sementara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, mengklaim bahwa 95% Suaka Margasatwa Rawa Singkil masih utuh. Padahal, fakta di lapangan justru menunjukkan kerusakan yang masif dan terus meluas.
17 Surat Cinta, 17 Teriakan yang Tak Didengar
“17 Surat Cinta” adalah film yang membuka mata. Ia mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya masalah ekologis, tetapi juga masalah kemanusiaan. Masyarakat adat, satwa, dan hutan adalah korban dari keserakahan korporasi dan kelalaian pemerintah. Film ini juga mengajak kita untuk bertanya: sampai kapan kita akan diam melihat kehancuran ini?
Sebagai pelajar, tentunya kita dididik tentang keutamaan suaka margasatwa dan keberagaman hayati, maka dari itu penulis sangat geram dan frustasi melihat kehancuran yang terjadi. Pemerintah dan pihak berwenang telah gagal melindungi hutan dan masyarakat kita. Mereka lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya, sementara korporasi sawit terus merajalela. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Domdom Lydia Napitupulu, S.E., M.Sc., dosen mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam FEB UI, yang telah mengenalkan penulis pada film ini. Semoga karya-karya seperti “17 Surat Cinta” dapat terus menjadi bagian dari pembelajaran kita, membuka mata banyak orang tentang realita yang terjadi, dan mendorong tindakan nyata untuk menyelamatkan bumi kita.
Sebagai penutup, film ini bukan hanya sekadar dokumenter, tetapi juga seruan untuk bertindak. Ia mengajak kita semua, terutama generasi muda, untuk tidak hanya marah, tetapi juga terlibat dalam perjuangan melindungi bumi.
“Ini beneran surat cinta, karena kami benar-benar mencintai hutan Aceh.” – Rubama.


Discussion about this post