Aku sudah tidak tahu apa yang diriku harus lakukan. Kepalaku mulai berat. Di hadapanku, setumpuk kertas kosong dan sebuah pulpen. Di bawahku, penggalan kalimat dan kepala berserakan. Aku ingin berteriak namun terjebak dalam ruangan kecil ini, tidak ada seorang pun yang dapat mendengar.
Tanpa suara detakan jam, sinar matahari, ataupun penanda waktu lainnya, sulit untuk mengetahui sudah berapa lama aku berada di ruangan ini. Tanpa aba-aba, aku menggambar empat lingkaran—satu untuk kepala, satu untuk mulut, dua untuk mata. Sepasang mata tersebut memelototiku sebelum kepala yang ku gambar menggelinding ke lantai lagi.
Pertama hal tersebut terjadi, aku ketakutan setengah mati. Namun sekarang, aku hanya bisa menghela nafas, menendang kepala tersebut agar jauh dari kakiku. Paling tidak, mata yang ku gambar tidak perlu memperhatikanku dari dekat. Aku ingin menggigit pulpen, namun aku tahu pulpen tersebut hanya akan menggigit kembali.
Aku mengangkat pulpen tersebut lagi. Begitu berat rasanya. Akuinginpergi, tulisku dengan huruf sambung. Lagi-lagi, ketika aku mengangkat pulpen dari kertas, kepala-kepala di lantai mulai meneriaki kalimat yang ku tulis, seolah menghinaku, dan hanya berhenti ketika aku membuangnya ke lantai. Kalimat tersebut merembes ke kertas di bawahnya, dalam sepersekian detik tulisan tersebut menjadi takadajalan, sebelum akhirnya tinta membleber lagi dan hanya menjadi garis merah. Kertas tersebut pun ku buang juga.
Entah sudah berapa kertas yang telah digunakan. Namun, tumpukan kertas di hadapanku seolah belum pernah disentuh sama sekali. Sama dengan pulpen bertinta merah tersebut—yang ku curigai merupakan darah. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan bau tinta yang seperti besi itu maupun cara tinta tersebut membleber di kertas. Apapun yang terjadi, aku harus berkarya.
Namun, ruangan ini memiliki sebuah aturan sendiri dalam berkarya. Ketika aku menggambar segitiga, ujung-ujungnya melembut, menjadi sebuah lingkaran. Tanpa ku sadari, aku telah menggambar sepasang mata yang mengolok. Seperti wajah-wajah lain yang ku gambar, ia pun menggelinding jatuh dari meja.
Aku berusaha menutup mataku, namun bayanganku dihantui oleh mata-mata yang telah ku gambar, berbinar, seolah ingin memangsa. Paling tidak, jika aku membuka mataku, aku bisa memfokuskan pandangan pada kertas kosong di depanku.
Malangnya, tanganku tidak bisa diam. Lingkaran demi lingkaran ku gambar. Kepala demi kepala ku tendang. Putih, pucat, tatapan kosong, tatapan penuh seringai. Beberapa dengan mulut, beberapa tidak. Tidak ada satu pun yang bertelinga. Jika aku diam, aku akan merasa kepalaku mulai berat, berat, seperti akan jatuh dan mengikuti kepala-kepala yang ku gambar. Hanya dengan menggambar kepalaku menjadi ringan lagi.
Mungkin aku harus menulis lagi jika aku bosan. Tapi apa? Namakuadalah. Aku membuat kesalahan mengangkat tanganku terlalu cepat. Gemaan “Namaku adalah” mulai memenuhi ruangan. Aku tidak bergegas membuang kertas tersebut dan hanya mengerang. Lalu, hal aneh mulai terjadi. Di antara gemaan “Namaku adalah”, kepala-kepala tersebut mulai menyebutkan nama. Laras, Minati, Cindy, dan banyak lagi nama-nama dengan berbagai latar belakang. Tidak satu pun namaku.
“Sekar”, “Klara”, bukan namaku! Aku berusaha menulis namaku. Paling tidak jika mereka ingin berisik, berisiklah dengan namaku. Namun tanganku hanya membuat lingkaran lingkaran lagi—dan di hadapanku sekarang, sepasang kepala tanpa mulut. Setelah mereka menggelinding jatuh, aku membuang kertas tersebut, dan ruangan pun hening lagi.
Titik, titik, titik. Aku ingin menggambar sesuatu yang baru. Titik-titik. Tetap bundar, namun, bukanlah lingkaran. Bukankah titik adalah awal dari sebuah lingkaran? Namun untuk setiap titik yang ku gambar di kertas, terasa sebuah tusukan di tanganku. Titik, titik, titik. Hey, paling tidak ini sebuah perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Titik, titik, garis. Di luar kendali, titik-titik yang ku gambar tersambung menjadi empat lingkaran—satu untuk kepala, dua untuk mata, satu untuk mulut. Aku menepis kepala tersebut, sebal telah mengganggu.
Titik, titik, titik. Tusukan di tanganku mulai menyebar, mendalam, mengucur. Titik, titik, titik. Aku tidak peduli. Titik, titik, garis. Ruangan bajingan! Garis, garis, lingkaran. Sebuah kepala muncul lagi, kali ini tanpa mulut. Kali ini, saat ku menendang kepala tersebut, terasa percikan air. Kakiku mulai menggenang.
Aku lelah. Aku lelah melihat merah, melihat putih. Aku ingin warna baru! Biru, tulisku, namun tinta langsung mengoreksi menjadi merah. Tidak ada lolongan kali ini. Hanya bisikan “Merah”. Aku tidak melempar kertas, hanya menulis nama-nama warna yang bisa ku ingat. Hitam. Biru. Hitam. Hitam. Hitam. Mereka semua berubah menjadi merah.
Lingkaran lagi. Aku berusaha menggambar lingkaran lagi, diikuti sebuah lingkaran yang lebih kecil. Sebuah cermin. Mataku hitam, biarkan aku melihat warna mataku! Tidak ada cermin. Hanya sebuah kepala membisikkan “Merah” padaku di hadapanku. Titik, titik, titik. Aku menggambar titik lagi.
Kali ini tidak hanya diriku yang mengucur, tetapi kepala di sekitar kakiku juga. Lagi-lagi merah. Merah! Aku muak sekali dengan warna ini! Tinta merah. Pulpen putih. Cairan merah. Rambut putih. Merah putih merah putih merah putih. Mataku hitam! Titik, titik, titik. Sekarang rasa sakit mulai muncul di wajahku. Titik, garis, lingkaran. Mata merah. Lagi-lagi bukan diriku.
Rambutku mulai rontok, menyatu dengan kertas. Terkena bleberan tinta, menjadi merah. Rambutku membentuk sebuah lingkaran. Lagi-lagi, sebuah kepala. Aku berusaha menendangnya, namun sudah tidak ada ruang lagi. Kepala hanya menumpuk di sekitarku.
Titik, titik, titik. Pedih. Mataku, mata hitamku, mulai perih. Aku menggaruk mataku. Garukan menjadi cakaran. Lepaslepaslepas, tulisku dengan tangan satuku. “Lepas! Lepas! Lepas!” teriak para kepala.
PTAS!
Mataku, mata hitamku, di tanganku. Aku hanya bisa tertawa bahagia. Akhirnya, sebuah warna baru! Titik, titik, titik. Kali ini muncul titik-titik hitam. Tidak hanya di kertas, namun di pandanganku. Titik, titik, garis. Tidak! Titik. Sekarang aku menggambar lagi, begitu cepat, sambil meremas mata kiriku. Genangan yang tadinya hanya semata kaki mulai mencapai pusar.
Aku kehilangan darah, sepertinya, namun pulpen ini tidak pernah seringan ini. Titik, titik, titik. Titik, titik, titik. Gatal, mata kananku. Haruskah? Aku melempar mata kiriku. Gatal, tulisku, disambut oleh paduan suara satu kata “Garuk!”
Titik, titik, garuk! Titik, garuk! Aku tidak bisa mengendalikan tanganku. Tangan kiriku meraih mataku dan titik hitam semakin mendominasi pandanganku. Meja sekarang menjadi merah. Tadi putih. “Garuk, garuk, garuk!” Aku tidak bisa diam. Akhirnya, aku bisa mengendalikan apa yang ku gambar—titik, begitu banyak titik. Namun aku tidak bisa mengendalikan tangan satuku.
Ptas.
Pandanganku hitam. Tanganku tetap bergerak sendirinya. Aku membuang kertas coretanku dan mulai menggambar titik lagi. Entah kenapa, kali ini para kepala tidak diam. Mereka menyanyi begitu indah, seperti paduan suara menuju surga. Titik, titik, titik. Pulpen tersebut mulai memberat lagi. Tidak! Aku tidak bisa berhenti di sini! Titik. Titik. … … … .
(Berhenti, dan ia menggelinding juga. Di kursinya, sebuah mangsa baru.)

