“Maaf” terlontar dalam balutan citra memukau
Masih melekat ucapan terakhirmu dalam barisan paruh dua
Satu kata dingin nan getir yang sangat dalam kutarik maknanya
Hatiku memberontak dalam diam meminta lebih, tak terucap, sayangnya
Jeda setengah dasawarsa
Harapku suasana membeku demi mengancang diri
Awan kelabu diiringi gemuruh langit menaruh dramatisasi
Menyatu padu dengan riuhan sesak dan ketidakkaruan
Bukankah kita sama-sama terguncang?
Atau hanya menimpa diriku? Amat sangat kurasa
Atau malah menimpa dirimu lebih kuat? Barukah?
Atau memang sama besar, masih sama?
Jeratan tangan bersikukuh menarikku kuat
Mencoba meminimumkan jarak yang tak terlampau jauh
Nyaliku tiba-tiba tak sanggup, aku tertahan, menolak
Seketika mengacaukan skenarioku akan tibanya hari ini
Kecamuk pikiran masih samar dengan salah satu pernyataanmu
Kunilainya hanya sebagai pikirku belaka yang tak pernah nyata
Nahas, masih saja batinku kukuh menyeringai sebaliknya
Satu dasawarsa hampir menyapa dan bolehkah kecamuk itu pergi (dahulu)?
Pojok Sastra adalah kolom terbuka untuk tulisan jenis puisi, resensi, cerita pendek, dan opini. Dikurasi langsung oleh redaksi Economica.id.


Discussion about this post