Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Mild Report

Shock Harga Minyak akibat Perang Iran-Israel: Analisis IRF dan Historical Decomposition untuk Indonesia

by Farhannur & Muhammad Ghathfan Arrade
1 Agustus 2025
in Mild Report

Pada tanggal 13 Juni 2025, dunia terhenyak. Di tengah riuh rendah pemulihan ekonomi global pasca pandemi dan ketegangan kawasan yang belum usai, pecah lagi sebuah babak baru dalam konflik lama: Israel dan Iran saling melancarkan serangan terbuka. Dunia menyebutnya “Ketegangan terbuka antara Israel dan Iran”. Serangan tersebut bukan hanya berarti saling tembak di medan perang, tetapi juga memicu ketegangan besar di titik nadi perdagangan global—Selat Hormuz. Selat ini adalah jalur vital di mana hampir seperlima dari suplai minyak dunia melintas setiap harinya. Maka ketika rudal beterbangan di atasnya, bukan hanya negara-negara yang berkonflik yang terkena dampaknya, dunia pun ikut terengah.

Indonesia, negara yang jaraknya ribuan kilometer dari medan konflik, tak kebal dari getaran perang tersebut. Dampaknya tidak kasatmata seperti ledakan atau reruntuhan, melainkan inflasi yang pelan tapi pasti merayap, biaya produksi yang melonjak, dan ketidakpastian yang membayangi pelaku usaha dari Jakarta hingga Jayapura. Inilah bentuk perang yang tak memakai peluru, tapi menghantam melalui jalur perdagangan, pasokan energi, dan ekspektasi pasar. Seperti yang dikemukakan oleh Li et al. (2021), eskalasi geopolitik berdampak langsung terhadap perdagangan energi global, terutama melalui jalur pasokan utama seperti Selat Hormuz, dan dapat memicu volatilitas harga minyak serta disrupsi perdagangan internasional.

Tulisan ini mencoba memahami: bagaimana perang Iran-Israel, yang secara geografis jauh, dapat beresonansi hingga ke perekonomian Indonesia? Bagaimana guncangan harga minyak mentah dunia—sebagai salah satu dampak paling langsung dari konflik ini—memengaruhi inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri? Dengan memanfaatkan pendekatan ekonometrika melalui model Structural Vector Autoregression (S-VAR), analisis ini membedah tidak hanya respons langsung ekonomi terhadap lonjakan harga minyak (Impulse Response Function), tetapi juga menelusuri sejarah keterkaitannya selama tiga dekade terakhir (Historical Decomposition), seperti yang juga digunakan dalam studi-studi serupa terkait dampak geopolitik terhadap variabel makroekonomi (Hamilton, 2003; Kilian, 2009).

 

Benang Rumit Iran-Israel

Hubungan Iran dan Israel mengalami transformasi ekstrem dari kemitraan strategis menjadi permusuhan ideologis yang mendalam. Sebelum Revolusi Islam tahun 1979, Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi menjalin kerja sama erat dengan Israel dalam bidang intelijen, militer, dan perdagangan minyak. Salah satu bentuknya adalah Operation Flower, proyek rahasia pengembangan rudal antara kedua negara (Parsi, 2007). Meskipun tidak mengakui Israel secara formal, Iran menjadi mitra kunci Israel di kawasan yang saat itu didominasi negara-negara Arab yang memusuhi Tel Aviv.

Namun, revolusi 1979 yang melahirkan Republik Islam Iran mengubah haluan politik luar negeri secara drastis. Ayatollah Khomeini menyebut Israel sebagai “rezim Zionis yang ilegal” dan “musuh Islam”. Iran memutus hubungan diplomatik, menyerahkan Kedutaan Israel kepada Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan sejak saat itu secara aktif mendukung kelompok-kelompok anti-Israel seperti Hizbullah dan Hamas (BBC, 2005; Norton, 2007).

Ketegangan meningkat signifikan di abad ke-21 ketika Israel menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Meskipun Iran mengklaim programnya damai, Israel melakukan berbagai operasi rahasia untuk menghentikannya—termasuk serangan siber ke fasilitas Natanz dan pembunuhan ilmuwan nuklir Iran (The New York Times, 2011; Reuters, 2020). Iran sendiri memperkuat pengaruh regionalnya melalui dukungan terhadap milisi bersenjata di Suriah, Irak, Lebanon, dan Yaman.

Sejak 2017, Israel meningkatkan serangan udara ke target Iran di Suriah, mencapai lebih dari 400 kali dalam lima tahun (Al Jazeera, 2022). Di sisi lain, normalisasi hubungan Israel dengan beberapa negara Arab melalui Abraham Accords pada 2020 semakin memperburuk posisi strategis Iran (Council on Foreign Relations, 2020).

Ketegangan ini mencapai puncaknya pada pertengahan 2025 ketika Israel melancarkan serangan terbuka terhadap fasilitas militer Iran. Iran merespons dengan ancaman menutup Selat Hormuz dan meningkatkan retorika perang. Eskalasi ini berisiko memicu konflik berskala regional yang bukan hanya mengancam stabilitas Timur Tengah, tetapi juga berdampak luas pada pasokan energi global dan kestabilan ekonomi negara-negara seperti Indonesia yang sangat bergantung pada impor energi.

Persia Ditantang

Pada 13 Juni 2025, konflik yang selama ini beroperasi dalam bentuk perang bayangan antara Iran dan Israel pecah menjadi konfrontasi terbuka. Di tengah ketegangan regional yang terus meningkat, Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi terhadap beberapa fasilitas strategis militer Iran di Provinsi Isfahan dan Khuzestan. Serangan tersebut dilaporkan menyasar kompleks industri militer, fasilitas rudal, dan pusat komunikasi pertahanan (Al Jazeera, 2025).

Pemerintah Israel menyatakan serangan ini sebagai tindakan pre-emptive untuk menghentikan “ancaman langsung dari aktivitas nuklir dan militer Iran” yang disebut telah melewati batas ambang keamanan regional. Iran merespons dengan keras, menyebut serangan itu sebagai “agresi terang-terangan terhadap kedaulatan nasional” dan bersumpah akan melakukan pembalasan setimpal.

Tak lama setelah serangan terjadi, milisi yang didukung Iran di Lebanon, Irak, dan Yaman mulai melancarkan serangan roket terhadap wilayah Israel, termasuk Tel Aviv dan Haifa. Pemerintah Iran juga memperkuat kehadiran militernya di Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa stabilitas jalur pelayaran internasional akan berada dalam risiko jika “agresi Zionis” tidak dihentikan.

Serangan 13 Juni ini menjadi titik balik yang mengancam menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam konflik berskala luas, di mana bukan hanya dua negara terlibat, tetapi juga aliansi-aliansi regional dan kekuatan global ikut terseret secara tidak langsung. Ketegangan ini pun mulai mengguncang pasar energi dunia, dengan harga minyak mentah melonjak tajam hingga 120 dolar AS per barel hanya dalam dua hari setelah serangan (Bloomberg, 2025).

 

Selat Hormuz

Sebagai salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia—setara dengan lebih dari 17 juta barel per hari—melewati selat sempit sepanjang 39 kilometer ini yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab (U.S. Energy Information Administration, 2023).

Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz setelah serangan Israel menjadi isu global yang memicu keresahan besar di pasar energi. Penutupan selat ini, bahkan hanya untuk sementara, bisa menyebabkan gangguan besar pada rantai pasok minyak global, menaikkan harga energi secara drastis, dan memperburuk inflasi di negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Secara historis, Iran telah beberapa kali mengancam penutupan Selat Hormuz setiap kali mengalami tekanan militer atau ekonomi, terutama ketika menghadapi sanksi internasional. Namun, situasi tahun 2025 memperlihatkan ancaman ini bukan lagi retorika semata. Iran mengerahkan kapal perang dan rudal anti-kapal di kawasan tersebut, dan beberapa kapal tanker dilaporkan sempat diinspeksi secara paksa oleh Garda Revolusi Iran.

Kondisi ini membuat komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, menyerukan de-eskalasi dan membuka jalur diplomatik guna menghindari krisis energi global. Meski belum terjadi penutupan total, risiko keamanan tinggi di Selat Hormuz berdampak langsung pada lonjakan premi asuransi pengangkutan minyak, meningkatnya biaya logistik, dan merosotnya kepercayaan pasar—sebuah gejolak ekonomi yang menjalar hingga ke negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik, seperti Indonesia.

 

Perang dan Ekonomi 

Perang, terutama di era modern yang menggunakan alat tempur canggih, tak terlepas dari ekonomi. Ekonomi bisa menjadi motif dari perang, misalnya invasi Irak terhadap Kuwait yang salah satunya didorong oleh utang Irak yang membengkak kepada negara-negara Arab setelah perang dengan Iran, dan ekonomi juga bisa menjadi korban dari perang itu sendiri. Bagaimana ekonomi bisa menjadi korban dalam perang perang? Ada beberapa jawaban. Di era globalisasi, di mana semua negara saling terhubung, perang antarnegara meningkatkan risiko geopolitik global. Dampaknya, terutama dalam perdagangan energi, berakibat buruk dengan menurunkan intensitas ekspor dan impor energi antarnegara (Li, et.al., 2021). Akibatnya, perekonomian domestik akan terganggu karena saat ini tak terhitung banyaknya kegiatan produksi yang bergantung pada energi. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga tak luput dari dampak perang. Invasi Rusia terhadap Ukraina yang dimulai pada 2022 silam sebagiannya harus dibayar dengan tutupnya beberapa UMKM mereka. Ukraina harus kehilangan 17% UMKM dan 20% usaha mandiri, sementara itu, Rusia yang merupakan agresor, menanggung biaya yang lebih besar, 48% UMKM di negara tersebut harus gulung tikar (Audretsch, et.al., 2023). Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara yang berpartisipasi secara aktif ataupun pasif, misal menjadi pemasok senjata untuk negara yang sedang berperang, di dalamnya, tetapi juga oleh semua negara yang saat ini saling terhubung karena globalisasi. Perang memperburuk pertumbuhan ekonomi negara dan meningkatkan instabilitas harga barang dan jasa domestik (Kasych, 2023a). Perang juga turut meningkatkan jumlah imigran yang pindah dari negara berkonflik ke negara yang lebih aman (Kasych, 2023b). Lebih lanjut lagi, perang menghilangkan kesempatan kita untuk menyelesaikan permasalahan yang lebih urgent dibandingkan dengan perang itu sendiri, karena sumber daya yang bisa digunakan untuk melakukan hal yang demikian harus dialokasikan kepada upaya-upaya untuk menyokong jalannya perang (Kasych, 2023c).

 

Dampak Shock Harga Minyak : Analisis Impulse Response Function (IRF) dan Historical Decomposition (HD)

Untuk melihat bagaimana dampak perang Iran-Israel memengaruhi ekonomi Indonesia, tulisan ini menggunakan harga minyak mentah dunia sebagai variabel eksogen dan tiga indikator ekonomi makro Indonesia, yaitu inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan pengangguran. Data-data yang digunakan merupakan data time series dari tahun 1994 hingga 2023. Data-data tersebut diambil dari beberapa sumber terpercaya. Harga minyak dunia diambil dari Federal Reserve Economic Data (FRED). Indikator ekonomi makro Indonesia diambil dari World Development Indicator World Bank. Tulisan ini menggunakan model Structural Vector Autoregression (S-VAR) untuk melihat bagaimana hubungan dinamis antara harga minyak mentah dunia, inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Dalam menilai dampak perang Iran-Israel, yang diwakili oleh shock harga minyak mentah dunia, terhadap perekonomian Indonesia, tulisan ini menggunakan alat-alat ekonometrika time series dari model S-VAR berupa Impulse Response Function  (IRF) dan Historical Decomposition (HD). IRF digunakan untuk melihat bagaimana variabel ekonomi yang diamati merespon shock harga minyak mentah dunia. IRF menjawab pertanyaan, “Apa yang terjadi pada perekonomian jika saat ini harga minyak mentah dunia mengalami shock?” HD digunakan untuk melihat bagaimana kontribusi shock variabel-variabel ekonomi  yang diamati memengaruhi shock salah satu variabel dalam rentang waktu pengamatan. HD menjawab pertanyaan, “Dalam rentang waktu tertentu, bagaimana shock dari variabel-variabel lain berkontribusi pada shock variabel tertentu?”  Singkatnya, IRF menerawang dampak ke depan, sedangkan HD merekam masa lalu.

Impulse Response Function (IRF)

 

Gambar 1. Impulse Response Function (IRF)

 

Impulse response function (IRF) menunjukkan bagaimana indikator ekonomi makro Indonesia, inflasi, Gross Domestic Product (GDP), dan pengangguran, bereaksi terhadap kenaikan harga minyak mentah global. IRF dari inflasi menunjukkan adanya lonjakan inflasi pada periode yang sama saat terjadi lonjakan harga minyak mentah global, tetapi tidak terlalu besar. Lonjakan tersebut seiring waktu, beberapa periode ke depan, mulai melemah hingga akhirnya hilang. Namun, secara statistik tidak signifikan, sehingga perlu kehati-hatian dalam menyimpulkan hubungan kausal antara lonjakan harga minyak mentah global dan inflasi domestik Indonesia.

Tingkat pengangguran mengalami penurunan sesaat setelah harga minyak mentah global mengalami lonjakan. Kemudian, beberapa periode ke depan dampak lonjakan tersebut mulai mereda. Sama halnya dengan inflasi, dampak dari lonjakan harga minyak global terhadap pengangguran tidak signifikan, sehingga, apa yang ditampilkan oleh IRF tidak bisa secara gamblang ditafsirkan sebagai hubungan kausalitas antara harga minyak mentah global dengan tingkat pengangguran Indonesia.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan di saat terjadinya kenaikan harga minyak mentah global. Namun, sekali lagi, hubungan antara harga minyak global dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak signifikan.

 

Historical Decomposition (HD)

Gambar 2. Historical Decomposition (HD)

Melihat ke belakang, fluktuasi ekonomi Indonesia tidak terlalu dipengaruhi oleh shock harga minyak mentah global. Fluktuasi secara dominan dipengaruhi oleh shock variabel ekonomi makro itu sendiri. Kontribusi harga minyak mentah global pada fluktuasi ekonomi domestik Indonesia hanya pada waktu-waktu tertentu, dalam rentang waktu pengamatan. Kontribusi harga minyak mentah global terhadap pertumbuhan ekonomi terlihat jelas dalam rentang waktu 2008 hingga 2016, ditunjukkan oleh garis fluktuasi garis biru dalam D(LGDPR). Dalam rentang waktu tersebut, harga minyak mentah global menunjukkan kontribusi positif dan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Kontribusi negatif paling tajam terjadi pada sekitaran tahun 2014.

Kontribusi harga minyak mentah global terhadap tingkat pengangguran menunjukkan tren yang serupa dengan pertumbuhan. Kontribusi paling jelas terlihat dalam rentang waktu 2008 hingga 2016. Kontribusi harga minyak mentah global juga menunjukkan kontribusi positif dan negatif terhadap fluktuasi tingkat pengangguran, dengan kontribusi positif paling tajam terjadi pada sekitaran tahun 2016.

Sementara itu, kontribusi harga minyak mentah global terhadap fluktuasi inflasi Indonesia tidak terlalu terlihat. Sepanjang waktu pengamatan, 1998 hingga 2022, garis biru yang merupakan kontribusi harga minyak mentah global selalu mendekati angka nol. Tidak terlihat adanya lonjakan positif ataupun negatif. 

 

Penutup

Perekonomian Indonesia terlihat tahan terhadap dampak perang Iran-Israel atau perang apapun yang menyebabkan terjadinya lonjakan harga minyak mentah global. Namun, perlu diingat bahwa dampak perang tidak hanya terlihat pada harga minyak mentah global. Perang memengaruhi berbagai aspek, misalnya timbulnya gelombang perpindahan penduduk, menurunnya permintaan global, hingga terganggunya rantai produksi dan rantai pasok global. Sehingga, simulasi ini tidak sepenuhnya mampu menggambarkan bagaimana dampak perang terhadap perekonomian Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Li, F., Yang, C., Li, Z., & Failler, P. (2021). Does geopolitics have an impact on energy trade? Empirical research on emerging countries. Sustainability, 13(9), 5199. https://doi.org/10.3390/su13095199

Kasych, A. (2023). The economic consequences of the war in the 21st century at the regional and global levels. SHS Web of Conferences, 160, 01005. https://doi.org/10.1051/shsconf/202316001005

Audretsch, D. B., Momtaz, P. P., Motuzenko, H., & Vismara, S. (2023, March 5). The economic costs of the Russia‑Ukraine war: A synthetic control study of (lost) entrepreneurship [Working paper]. SSRN. https://doi.org/10.2139/ssrn.4378827

Lampiran

 

Uji Stationerity Tingkat Level


Uji Stationerity Tingkat Differencing 1


Lag Optimal


Uji Stabilitas


Uji Hetterosedasticity

 

Related Posts

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas
In-Depth

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas

Korupsi Akademik: Krisis Integritas di Dunia Pendidikan Tinggi
In-Depth

Korupsi Akademik: Krisis Integritas di Dunia Pendidikan Tinggi

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide