Sunyi.
Dalam kesunyian malam hari, Surya menemukan segalanya menjadi lebih indah. Di hadapannya, kekasihnya sudah tertidur dengan pulas. Sepertinya ia lelah setelah seharian bekerja di ladang. Sinar rembulan yang remang-remang mencahayai wajah paripurnanya. Pria berambut coklat tersebut tahu ia harus tidur, ia masih harus mengajar esok hari. Namun melihat pasangannya begitu tenang dalam tidurnya, ia merasa semua kelelahan dan kepenatannya lenyap seketika.
Tas dan kemeja dilempar begitu saja di lantai, Surya menaiki ranjang mereka berdua, berbaring menyamping dan menopangkan kepala pada tangannya. Matanya mengeksplor tubuh kasihnya, mempelajari semua detil-detil kecil. Ia mendekat dan menyibak rambut legamnya, ingin melihat mukanya lebih jelas. Kasihnya tertidur begitu pulas. Surya dipenuhi dengan rasa ingin menghujani wajah kasihnya dengan kecupan.
Tanpa peringatan, kekasihnya tiba-tiba menyampingkan badannya dan meringkuk, kepalanya sekarang bersentuhan dengan dada Surya. Ia merangkul kekasihnya, menariknya lebih dekat sehingga kedua tubuh mereka bersentuhan. Jika wanita berambut hitam tersebut masih bangun, Surya yakin ia bisa mendengar suara jantungnya yang hendak lepas dari tubuhnya.
“Sayang…” bisiknya lirih.
Sudah setahun mereka tinggal di bawah satu atap yang sama, namun Surya masih belum terbiasa dengan momen-momen kecil namun intim seperti ini. Setiap hari, sepertinya selalu ada saja alasan baru untuk Surya makin jatuh cinta dengan wanita yang terlelap di dekapannya. Binar di matanya saat ia mendengarkan celotehan Surya mengenai harinya, bagaimana lesung pipitnya hanya muncul ketika ia memiliki ide usil, atau bagaimana keringat melumuri raganya setelah seharian berladang. Surya masih bisa menyebut beribu momen yang membuat ia makin mencintai kekasihnya.
Surya menutup matanya dan memfokuskan pendengarannya pada suara nafas kekasihnya—nafas masuk, tahan, keluar. Sebuah ritme yang menenangkan. Suasana ini kontras dengan suasana hatinya dua tahun lalu, ketika ia pertama bertemu kekasihnya.
Surya masih ingat dengan jelas hari itu. Surya, seorang anak kota yang pertama kali menginjakkan kakinya di desa, bersama sesama rekan guru-gurunya. Ia yang terbiasa dengan hiruk pikuk ibukota justru merasa kewalahan dengan ketenangan desa tersebut. Waktu terasa begitu lambat, udara yang segar terasa seperti belati di hidungnya. Alih-alih suara lalu-lalang kendaraan, ia mendengar suara samar-samar gemericik air.
Dalam pikirannya, hanya terdapat kekhawatirannya akan kegiatan belajar-mengajar yang akan ia lakukan. Akan seperti apa karakteristik murid-muridnya? Bagaimana orang-orang di desa ini?
Omongan kepala desa yang sedang memperkenalkan daerah lewat saja dari pendengarannya. Lamunannya terbuyar ketika seorang gadis datang mendekati rombongan. Tubuhnya bersimbah keringat, rambutnya yang diikat berantakan. Di genggamannya terdapat sebuah sabit. Ia memiliki senyuman termanis yang pernah dilihat oleh Surya. Hatinya langsung tertambat pada momen itu juga. “Bu…” sapanya dengan halus pada kepala desa sambil menundukkan kepalanya.
Tanpa berpikir panjang, Surya memberikan buku kode morse yang ia pegang ke temannya dan mengulurkan tangannya. “Nama saya Surya, saya salah satu guru yang akan mengabdi di desa ini. Salam kenal.” ucapnya, jantung berdebar, mengenalkan diri.
Kasar.
Impresi pertama Surya ketika gadis tersebut menggenggam tangannya. Sepertinya karena ia berladang. Sangat berkebalikan dengan wataknya. “Mina.” balas gadis tersebut secara singkat dengan senyuman di wajahnya.
Pikiran Surya perlahan kembali ke momen ini saat pasangannya secara tiba-tiba menggenggamnya dengan tangan kasarnya. Satu garis, satu ketukan, satu garis, satu ketukan. Jeda. Tiga ketukan. Kode morse untuk huruf C dan S. Cinta Surya. Di momen tersebut, ingin rasanya Surya membangunkan kasihnya agar ia bisa mengatakannya kembali. Namun ia hanya membalas dengan menggenggam pasangannya semakin kuat.
Beberapa bulan yang lalu, mereka sempat bertikai, Surya yang memulai. Sepele sebenarnya. Namun Surya sangat lelah setelah hari yang panjang di sekolah, menghadapi siswa yang keras kepala. Meski ia berhasil menghadapi konflik tersebut, ia tetap merasa frustasi atas minimnya apresiasi yang ia terima. “Cintaku, aku pulang.”
Senyap.
Ketika ia disambut oleh keheningan di rumahnya, ia pun membanting pintu. Mina, yang terbiasa dengan kehangatan Surya, terkejut dengan reaksi dinginnya. Ia bergegas keluar dari dapur, tangan masih memegang pisau. “Surya, ada apa?”
Bagi Surya, cinta adalah sesuatu yang perlu diucapkan. Sesuatu yang bisa ia dengar, bisa ia pegang. Demikian dari novel-novel roman yang ia baca. “Aku cinta kamu,” baginya, di penghujung hari jauh lebih kuat dari perbuatan.
“Aku selalu menyatakan cintaku padamu, Mina. Namun kau tidak pernah mengembalikannya. Kamu hanya bisa diam,” ucap Surya, suara bergetar, dengan mata berlinang air mata.
Ia tahu, kekhawatiran tersebut sebenarnya tidak masuk akal. Ia tahu, Mina mencintainya, bahkan mungkin melebihi rasa yang Surya miliki. Ia tahu, semua Mina tunjukkan melalui perbuatan, bukan ucapannya. Demikian kebiasaan orang-orang di desa ini. Membantu satu sama lain di ladang, memasak makanan kesukaan tanpa diminta, demikian cara Mina dan orang-orang di desa ini menunjukkan kasih mereka. Namun, tanpa konfirmasi verbal, Surya seringkali merasa bahwa ia tidak dicintai oleh Mina.
Hening.
Dalam keheningan tersebut, Surya dan Mina hanya bertatapan tanpa sepatah kata. Pria tersebut tidak dapat membaca ekspresi yang diberikan kekasihnya. Mina mengerutkan alisnya, tampaknya sedang berpikir keras.
Surya beruntung kekasihnya tidak memarahinya, mencaci makinya, atau memberi kata-kata setajam benda yang ditangannya. Mina meletakkan pisau yang ia pegang dan duduk di samping Surya, memegang tangannya yang gemetar dan berkata, “Maaf, Surya. Aku kira aku sudah cukup menunjukkan kasihku dengan perbuatanku.”
Mina mengambil sebuah lap dan menghapuskan air mata Surya. “Surya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini?” tanya Mina.
Sore itu mereka habiskan mencari solusi agar Surya tetap merasa dicintai Mina, tanpa ia harus mengeluarkan sepatah kata. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menggunakan kode morse. Hal ini diusulkan oleh Mina ketika ia teringat bahwa Surya sedang terobsesi dengan kode tersebut. Muka Surya bercahaya ketika mendengar saran tersebut.
“Satu garis, satu ketukan, satu garis, satu ketukan. Jeda. Dua garis. C, M, untukku.” sebut Surya sambil memperagakannya di tangan kekasihnya.
Surya kemudian mengambil tangan Mina “Satu garis, satu ketukan, satu garis, satu ketukan. Jeda. Tiga ketukan. C, S, untukmu, Mina.” Sebuah tanda non-verbal mereka untuk mendeklarasikan kasih sayang mereka.
Sejak sore itu pula, Mina selalu menyatakan cintanya pada Surya. Jauh lebih banyak dari yang bisa diucapkan Surya. Saat mereka berpegangan tangan, menari bersama, Mina memberikan Surya kotak bekal makan siangnya, bahkan saat ia tertidur, tak sadarkan diri, seperti saat ini.
Pria berambut coklat tersebut tersenyum kecil mengingat peristiwa-peristiwa tersebut. Mereka telah berkembang bersama. Ia merasa sangat beruntung, dengan perbedaan mereka pun, mereka tetap dapat memahami satu sama lain. Dahulu, ia merasa bahwa cinta hanya dapat dinyatakan melalui perkataan, seperti di buku-buku yang ia baca. Namun seakan berjalannya waktu, ia menyadari bahwa perbuatan memiliki sebuah kekuatan tersendiri. Surya menguatkan dekapannya pada Mina.
Satu garis, satu ketukan, satu garis, satu ketukan. Jeda. Dua garis. “Aku juga mencintaimu, Mina.” bisiknya, sembari memejamkan matanya.
Ilustrasi oleh Syifa Carla
Discussion about this post