Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Kajian

Kapitalisme Niretika: Membedah Permasalahan Etis dari Perspektif Sosial, Spasial, dan Teknokapital

by Sheva Kafka Geuvara
6 Agustus 2024
in Kajian, Umum

Sejak pertama kali eksis pada abad ke-18 di Inggris, kapitalisme dengan cepat menyebar ke wilayah lain di kawasan Eropa Barat Laut dan Amerika Utara. Asumsi-asumsi kapitalisme yang telah berkembang memengaruhi revolusi industri yang terjadi di Barat kala itu. Di masa awalnya, secara sederhana kapitalisme berperan sebagai sebuah sistem produksi, distribusi, dan pertukaran di bidang ekonomi. Berakar dari titik tolak sederhana ini, para pengusaha kapitalis lantas mempelajari pola-pola perdagangan internasional yang membuat sejarah panjang kapitalisme berlanjut dengan dorongan ekspansi komersial menuju ke skala internasional1Lerner, R. E. (1988). Western Civilization. New York-London: W.W. Norton & Company..

Goncangan yang dialami ideologi sosialisme-komunisme setelah berakhirnya Perang Dingin dikonsiderasikan sebagai kemenangan bagi sistem kapitalisme. Bagi peradaban umat manusia, terutama di Barat, kapitalisme menunjukkan tajinya pasca-Perang Dingin dengan menjadi mesin penggerak peradaban2Giddens, A. (1995). The Constitution of Society: The Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press.. Rancang bangun sistem kapitalisme dalam mengarungi peradaban telah terbukti kokoh hingga sekarang. Bahkan, ramalan Karl Marx yang pernah menyebut bahwa dinamika dalam sistem kapitalisme adalah dinamika menuju kehancuran sistemnya sendiri terbukti tidak sepenuhnya benar dan bisa dibilang meleset3Marx, K. (2004). Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik. Jakarta: Hasta Mitra.. Dewasa ini, eksistensi dan resistansi sistem kapitalisme dalam mendominasi kehidupan umat memang tak terbantahkan.

Esensi Kapitalisme dan Permasalahan Etisnya

Ayn Rand — seorang filsuf dari Rusia — mendefinisikan bahwa kapitalisme adalah suatu sistem sosial yang berbasis pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik, di mana semua kepemilikan adalah milik privat4Rand, A. (1970). Capitalism: The Unknown Ideal. New York: A Signed Book.. Melihat frasa “sistem sosial” itu, dapat ditarik sebuah konklusi bahwa kapitalisme memiliki potensi untuk menjadi tumpuan dalam terciptanya proses perubahan sosial. Dalam konteks perubahan sosial, sistem kapitalisme memiliki kapabilitas dalam memberikan keunikan dalam logika historis di mana logika ini mengacu pada gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan dan konfigurasi kelembagaan dari suatu dinamika proses kehidupan masyarakat5Habernas, J. (1988). Legitimation Crisis. Cambridge: Polity Press.. Kendati demikian, kapitalisme memfokuskan dirinya di bidang ekonomi di mana kapitalisme berupaya mewujudkan liberalisasi dalam bidang tersebut, sekalipun kapitalisme memiliki dimensi yang luas6Hayek, F. A. The Principles of A Liberal Social Order. Il Politico, 31(4), 601–618. https://www.jstor.org/stable/43206528..

Berbicara tentang kapitalisme, sudah barang tentu tak dapat dipisahkan dari internal contradictions of capital accumulation atau kontradiksi internal akumulasi modal yang dikandung oleh sistem tersebut. Terkait dengan ini, David Harvey berpandangan bahwa kapitalisme sebagai sebuah sistem kontradiktif yang merupakan bentuk sosial saat proses sirkulasi dan akumulasi modal bersifat hegemonik dalam kehidupan sosial7Harvey, D. (2014). Seventeen Contradictions and the End of Capitalism. New York: Oxford University Press, 11..

Secara umum, ada tiga aspek esensial dari kontradiksi internal akumulasi modal yang disebutkan oleh Harvey. Pertama, konektivitas antara manusia dan alam yang menurun, mulai dari punahnya beberapa spesies, eksistesi virus-virus baru, pemanasan global, kelangkaan air, dan berbagai persoalan lingkungan lainnya. Kedua, tuntutan bagi modal untuk terus tumbuh yang sudah mencapai titik refleksi pada kurva pertumbuhan eksponensial di mana tuntutan ini makin bergerak tak terbatas, khususnya dalam bentuk kredit atau uang. Ketiga, tumbuh dan bergeraknya modal pada akhirnya akan membawa pada eksisnya alienasi universal8Ibid., 14.. Kontradiksi internal akumulasi modal inilah yang pada hakikatnya membawa sistem kapitalisme kepada permasalahan-permasalahan etis, seperti ketimpangan sosial, kerusakan keruangan dan lingkungan, orientasi produksi, serta permasalahan etis lainnya.

Dimensi Etika dalam Konteks Sosial Ekonomi

Secara mendasar dan filosofis, etika menurut Romo Magnis adalah ilmu atau refleksi sistematik terkait dengan pendapat, norma, dan istilah moral yang secara lebih luas diartikan sebagai keseluruhan tentang norma yang digunakan oleh masyarakat untuk mengetahui bagaimana sesuatu seharusnya berjalan9Magnis-Suseno, F. (2001). Etika Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.. Hubungan antara etika dan kebebasan terjadi secara kontinu. Dalam hal refleksi kritis terkait moralitas, persoalan etika menjadi esensial karena ia membayangi daya tarik antara kebebasan manusia dan keinginan untuk mengatur kehidupan, termasuk kehidupan sosial ekonomi10Magnis-Suseno, F. (1987). Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Penerbit Kanisius..

Pada dasarnya, memasukkan etika dalam analisis ekonomi tidaklah mudah karena manusia sebagai homo economicus berperan mengejar kepentingan diri untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya11Wight, J. B. (2015). Ethics in Economics. California: Stanford University Press.. Etika sering kali dipandang sebagai skop yang berada di wilayah terpisah dengan ilmu ekonomi. Sistem kapitalisme dengan kebebasan berusaha sebagai cirinya dapat membuahkan finansialisasi dimensi-dimensi kehidupan dengan landasan satu prinsip, yakni efisiensi. Modal sendiri merupakan nilai yang secara kontinu bergerak untuk mencapai keuntungan yang juga berlandaskan pada prinsip efisiensi. Dimensi etika memiliki keterbatasan ketika dimasukkan ke dalam proses produksi dan distribusi dalam sistem ekonomi12Harvey, D. (2017). Marx, Capital and the Madness of Economic Reason. London: Profile Books.. Meskipun dimensi etika mempunyai keterbatasan saat dihadapkan dengan realitas kekuatan pasar, aspek-aspek seperti nilai dasar, faktor lingkungan, tugas sebagai manusia, dan keadilan juga harus memiliki tempat untuk dijadikan pertimbangan dalam meregulasi pasar.

Metafora Mesin Produksi dan Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Modal berkaitan dengan kekuatan tenaga kerja sebagai komoditas. Proses pertukaran tenaga kerja menjadi basis bagi reproduksi melalui mekanisme yang kontinu dan sistematis untuk menghasilkan surplus yang dengan proses tersebut pekeja dapat bertahan hidup. Kapitalisme telah menghasilkan perubahan dalam sistem kerja sosial yang dilakukan untuk orang lain menjadi kerja sosial yang teralienasi13Ritzer, G. (1996). Sociological Theory. New York: McGrawHill.. Kapitalis akan selalu berusaha untuk meningkatkan produktivitas dan jam kerja pekerja, sedangkan pekerja berusaha mengurangi intensitas dan jam kerja berkenaan dengan halangan-halangan fisik dalam pekerjaan mereka14Harvey, Op. Cit., 62.. Sering kali pekerja dimetaforakan sebagai “mesin” dari sistem produksi yang mengadopsi sistem kapitalisme. Bukan suatu hal yang mengejutkan apabila nilai upah pekerja yang rendah dianggap kapitalis sebagai hal baik karena akan membuahkan hasil maksimal dalam proses produksi. Fenomena ini lantas memunculkan persepsi pekerja bahwa perusahaan merupakan “mesin pencetak uang” dengan bahan bakar “keringat manusia”15Jalil, A. (2008). Teologi Buruh. Yogyakarta: LKiS..

Perbedaan nasib antara kapitalis dan pekerja yang diakibatkan oleh sistem kapitalis tersebut kemudian menimbulkan permasalahan baru yang disebut sebagai ketimpangan. Menurut laporan Tax Foundation tahun 2022, di Amerika Serikat, satu persen wajib pajak teratas membayar bagian pajak penghasilan individu yang lebih besar daripada gabungan 90 persen terbawah 16York, E. (2022, January 20). Summary of the Latest Federal Income Tax Data, 2022 Update. Tax Foundation. https://taxfoundation.org/data/all/federal/summary-latest-federal-income-tax-data-2022-update/. Ketimpangan pendapatan semacam ini adalah kecenderungan global yang terjadi di banyak negara. Sepanjang sejarah kapitalisme, pergumulan sosial antarkelas telah memberi dampak terhadap distribusi pendapatan yang berbeda antara negara satu dengan negara lainnya. Dan sepanjang sejarah itu pula, perjuangan untuk mewujudkan distribusi distribusi kekayaan sosial tak henti-hentinya dilakukan. Dalam kapitalisme, adaptasi dan variasi kemampuan modal dalam konfigurasi distribusi yang rumit harus bekerja secara ekstra ketika dihadapkan pada kompleksitas dan perbedaan kelompok-kelompok sosial yang selalu ada17Harvey, Op. Cit., 165.. 

Realitas yang kita lihat saat ini adalah orang super kaya (crazy rich) atau kelas zilioner eksis di berbagai negara dengan jumlah signifikan, seperti di Tiongkok, India, Rusia, Meksiko, Brasil, dan kini mulai bergeser ke Indonesia. Menurut Branko Milanovic, kita kini melihat plutokrasi global ketika kekuasaan global dipegang oleh segelintir orang yang sangat kaya18Paterson, J. L. (2014). David Harvey’s Geography (RLE Social and Cultural Geography). New York: Routledge.. Meskipun tak ada distribusi pendapatan yang optimal bagi kondisi reproduksi modal, tak ada seorang pun yang percaya bahwa distribusi pendapatan yang sempurna itu ada. Kendati demikian, kita harus mengakui bahwa distribusi pendapatan yang sangat timpang akan mengakibatkan permasalahan. Tidak hanya dari sisi ketidakstabilan dan keresahan sosial yang muncul, sejarah mencatat bahwa ketimpangan yang tinggi adalah pemicu terjadinya krisis makroekonomi19Harvey, Op. Cit., 169.. Maka, secara umum, kapitalisme sendiri diwarnai beragam pergumulan dan konflik. Lantas, apa yang menjadikan kesenjangan pendapatan dan kekayaan dapat dibenarkan dan diterima secara etis? Dan dengan cara apa ketidakadilan dapat dibenarkan?

Gelagat Kapitalisme dalam Pembangunan Ruang dan Kota

Menurut David Harvey, pergerakan modal seperti siklus gerakan air yang berangkat dari satu titik awal hingga kembali dan berlangsung kontinu. Dekonstruksi atas pemikiran Marx juga dilakukan Harvey di mana rantai produksi komoditas menghasilkan sirkulasi atau gerak dari modal yang selanjutnya membentuk ruang geografis, salah satunya melalui proses urbanisasi dan pembentukan kota-kota baru20Harvey, D. (2010). A Companion to Marx’s Capital. London: Verso.. Dalam mencermati dinamika geografi yang penuh intrik dan rumit dari sirkulasi modal, Harvey menyebut sebuah teori tentang ‘pembangunan geografi yang tidak seimbang’ (uneven geographical development). Secara kontekstual, dari ruang geografi kita dapat mencermati bagaimana sebuah krisis terbentuk dan menyebar21Harvey, D. (2019). Spaces of Global Capitalism: A Theory of Uneven Geographical Development. London: Verso.. Produksi ruang melalui pembentukan kota-kota baru dan proses urbanisasi adalah bisnis besar kapitalisme yang merupakan satu cara kunci untuk menyerap surplus modal dari satu wilayah ke wilayah lainnya agar modal tak berhenti berakumulasi. Melalui proses ini, angkatan kerja global total dengan proporsi yang signifikan akan diserap dan dipekerjakan dalam berbagai bangunan dan lingkungan22Harvey, D. (2009). The Enigma of Capital. London: Profile Books, 146.. 

Sejarah tentang korelasi surplus produksi, urbanisasi, dan pertumbuhan populasi dapat kita lihat dengan apa yang terjadi di Paris saat zaman Second Empire antara 1852 hingga 1870. Pada 1848, terjadi krisis pertama dalam sejarah yang berasal dari terjadinya surplus modal dan tenaga kerja secara bersamaan. Kelebihan modal tercermin dari surplus likuiditas di pasar, sementara kelebihan tenaga kerja adalah maraknya pengangguran. Krisis ini lantas menimbulkan gejolak revolusi yang pada akhirnya menjadikan Louis-Napoleon Bonaparte sebagai kaisar. Ia kemudian mencanangkan program investasi infrastruktur besar-besaran baik di dalam maupun luar negeri. Tetapi, di atas itu semua, hal yang paling disorot adalah pemanggilan Baron Haussmann oleh Bonaparte untuk mengubah wajah Paris melalui rekonfigurasi dari infrastruktur perkotaan23Ibid., 167-169..

Upaya Bonaparte untuk mengubah wajah kota Paris itu memiliki sisi gelap yang terbentuk dari penyerapan surplus melalui transformasi perkotaan yang disebut sebagai creative destruction. Eksisnya kota besar dan gedung-gedung pencakar langit memunculkan dimensi kelas di mana masyarakat bawah mengalami penderitaan dan marginalisasi dari kekuatan politik. Haussmann secara sengaja juga menggusur tempat tinggal kaum pekerja dari pusat kota Paris yang pada akhirnya memunculkan wilayah-wilayah kumuh (slums) baru di pinggiran yang menyimpan potensi kriminal dan kemiskinan24Harvey, D. (2012). Rebel Cities: From Right to The City to The Urban Revolution. London: Verso..

Sejarah Bonaparte dan Haussman dalam membangun Paris dapat menjadi contoh dalam menganalisis pembangunan ruang kota. Pada hakikatnya, modal memiliki sifat untuk berusaha berada pada lanskap geografis yang menguntungkan bagi reproduksi dirinya dan evolusi secara berkesinambungan25Harvey, D. (2006). Limits to Capital. London: Verso.. Pembangunan proyek-proyek besar untuk menyerap surplus modal dapat bermuara pada masalah-masalah etis, berupa ketimpangan, masalah sosial, dan lingkungan. Berkembangnya lanskap geografis modal juga memiliki peran dalam pembentukan krisis. Sifat inilah yang membuat kapitalisme dapat tetap eksis dari zaman ke zaman 26Herdiawan, J. (2021). Dimensi Etis Pemindahan Ibu Kota Negara: Masalah Ketimpangan Sosial dan Lingkungan dalam Ruang Perkotaan menurut David Harvey. Jurnal Dekonstruksi, 3(1), 7..

Teknokapitalisme: Wajah Baru Kapitalisme

Teknokapitalisme didefinisikan sebagai bentuk baru kapitalisme yang sangat didasarkan pada kekuatan perusahaan dan eksploitasi kreativitas teknologi. Kreativitas — kualitas manusia yang tidak berwujud — adalah sumber daya yang paling berharga dari inkarnasi baru kapitalisme ini. Kekuatan dan keuntungan perusahaan pasti bergantung pada komodifikasi kreativitas melalui research yang harus menghasilkan penemuan dan inovasi baru. Dengan demikian, sumber daya nyata kapitalisme industri dalam bentuk bahan baku, modal, dan kerja fisik tenaga kerja digantikan oleh sesuatu yang tak berwujud, research hardware, dan individu dengan bakat kreatif27Suarez-Villa, L. (2009). Technocapitalism: A Critical Perspective on Technological Innovation and Corporatism. Philadelphia: Temple University Press..

Selain teknologi canggih, hadirnya teknokapitalisme menjadikan kreativitas sebagai modal penting. Sejalan dengan pemikiran Lukacs terkait reifikasi dan fetisisme komoditas, kelas proletar mengobjekkan diri mereka sebagai komoditas dalam masyarakat kapitalisme28Adian, D. G. (2011). Setelah Marxisme: Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer. Depok: Penerbit Koekoesan.. Seiring berjalannya waktu, individu makin kehilangan bagian-bagian kediriannya dalam masyarakat kapitalisme. Tenaga atau kekuatan kasar yang sebelumnya menjadi nilai tukar, sekarang berganti dengan kreativitas yang semakin abstrak. Dalam teknokapitalisme, kemunculan sektor baru yang mengandung kepentingan komersialisasi (dalam bahasa Suarez-Villa disebut sebagai experimentalism) yang dilakukan oleh perusahaan atau korporatisme akan bermuara pada pencarian profit dan kekuasaan di atas segalanya29Suarez-Villa, L. (2012). Globalization and Technocapitalism: The Political Economy of Corporate Power and Technological Domination. Irvine: Ashgate Publishing Company..

Sistem manufaktur di pabrik-pabrik — otomatisasi, robotisasi, dan berbagai upaya menggantikan peranan manusia — di samping untuk mengejar efisiensi, merupakan upaya mengurangi kekuatan pekerja. Peranan inovasi dan teknologi yang menciptakan terjadinya pengangguran, berkurangnya kesempatan kerja, menurunkan atau mencegah kenaikan upah tenaga kerja, merupakan bentuk bentuk pertarungan antarkelas tempat teknologi memainkan peranan penting30Harvey, Op. Cit., 104.. Menurut Martin Ford, saat dinamika teknologi makin canggih, dampak besar terhadap ketersediaan lapangan kerja bukan hanya di manufaktur dan pertanian, melainkan juga merambah sektor jasa dan profesi. Permintaan agregat untuk tenaga di barang dan jasa akan turun dan selanjutnya berdampak pada permintaan agregat. Hal ini memiliki imbas serius bagi perekonomian secara keseluruhan, kecuali ada intervensi negara berupa bantuan kepada kelompok masyarakat yang terdampak perkembangan teknologi31Ford, M. (2009). The Lights in the Tunnel: Automation, Accelerating Technology, and the Economy of the Future. USA: Acculant Publishing..

Kapitalisme Beretika, Apakah Sebatas Utopia?

Demikianlah, kita tak memungkiri jika kapitalisme telah menimbulkan dampak negatif. Julian Richer mengatakan bahwa kapitalis dikenal licik dan serakah sehingga mereka selalu memiliki cara untuk mengakali aturan dan serikat pekerja. Belum lagi jika berbicara tentang kesenjangan sosial dan ekonomi yang diciptakan oleh sistem kapitalisme. Richer menyadari bahwa kapitalisme punya konotasi yang tidak menyenangkan di mana para pelakunya lebih nyaman dilabeli entrepreneur, pencipta lapangan kerja, atau penyokong perekonomian negara32Richer, J. (2018). The Ethical Capitalist: How to Make Business Work Better for Society. London: Random House Business Books..

Namun, jika dikomparasikan dengan sosialisme, kapitalisme memiliki sisi yang positif. Sering digaungkan bahwa sosialisme adalah kumpulan gagasan yang utopis namun tak realistis — hanya mengasumsikan bahwa orang akan bersedia bekerja untuk kebaikan bersama. Teori-teori sosialis hanya menggambarkan betapa menyenangkannya hal-hal jika ini terjadi. Sosialisme mungkin memiliki landasan moral, tetapi itu utopis — kapitalisme, di sisi lain, realistis33Halliday, D. & Thrasher, J. (2020, March 10). Is There an Ethical Case for Capitalism? The ABC’s Religion and Ethics. https://www.abc.net.au/religion/daniel-halliday-john-thrasher-the-ethics-of-capitalism/12044380.

Saat kapitalisme dihadapkan dengan konsep etis, ekspektasi pembaca atau pendengarnya terkadang melonjak menjadi sebuah mimpi tentang suatu korporasi dengan kebijakan dan visi utopis, seperti perusahaan yang antieksploitasi alam dan tak hanya berorientasi profit34Fakhri, U. (2020, February 23). Kapitalisme Beretika, Sebuah Utopia? The Columnist. https://thecolumnist.id/artikel/kapitalisme-beretika-sebuah-utopia-459. Padahal, menurut Richer, kapitalisme beretika tak perlu semuluk-muluk itu. Mengubah masyarakat dan peradaban menjadi lebih baik di era kapitalisme ini sesederhana dengan lebih memedulikan pekerja dan konsumen(Richer, Op. Cit.)). Dengan demikian, untuk mencapai kapitalisme yang beretika bukanlah hal yang mustahil, melainkan upaya kolektif yang memerlukan komitmen dari berbagai pihak.

Referensi[+]

Referensi
↵1 Lerner, R. E. (1988). Western Civilization. New York-London: W.W. Norton & Company.
↵2 Giddens, A. (1995). The Constitution of Society: The Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press.
↵3 Marx, K. (2004). Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik. Jakarta: Hasta Mitra.
↵4 Rand, A. (1970). Capitalism: The Unknown Ideal. New York: A Signed Book.
↵5 Habernas, J. (1988). Legitimation Crisis. Cambridge: Polity Press.
↵6 Hayek, F. A. The Principles of A Liberal Social Order. Il Politico, 31(4), 601–618. https://www.jstor.org/stable/43206528.
↵7 Harvey, D. (2014). Seventeen Contradictions and the End of Capitalism. New York: Oxford University Press, 11.
↵8 Ibid., 14.
↵9 Magnis-Suseno, F. (2001). Etika Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
↵10 Magnis-Suseno, F. (1987). Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
↵11 Wight, J. B. (2015). Ethics in Economics. California: Stanford University Press.
↵12 Harvey, D. (2017). Marx, Capital and the Madness of Economic Reason. London: Profile Books.
↵13 Ritzer, G. (1996). Sociological Theory. New York: McGrawHill.
↵14 Harvey, Op. Cit., 62.
↵15 Jalil, A. (2008). Teologi Buruh. Yogyakarta: LKiS.
↵16 York, E. (2022, January 20). Summary of the Latest Federal Income Tax Data, 2022 Update. Tax Foundation. https://taxfoundation.org/data/all/federal/summary-latest-federal-income-tax-data-2022-update/
↵17 Harvey, Op. Cit., 165.
↵18 Paterson, J. L. (2014). David Harvey’s Geography (RLE Social and Cultural Geography). New York: Routledge.
↵19 Harvey, Op. Cit., 169.
↵20 Harvey, D. (2010). A Companion to Marx’s Capital. London: Verso.
↵21 Harvey, D. (2019). Spaces of Global Capitalism: A Theory of Uneven Geographical Development. London: Verso.
↵22 Harvey, D. (2009). The Enigma of Capital. London: Profile Books, 146.
↵23 Ibid., 167-169.
↵24 Harvey, D. (2012). Rebel Cities: From Right to The City to The Urban Revolution. London: Verso.
↵25 Harvey, D. (2006). Limits to Capital. London: Verso.
↵26 Herdiawan, J. (2021). Dimensi Etis Pemindahan Ibu Kota Negara: Masalah Ketimpangan Sosial dan Lingkungan dalam Ruang Perkotaan menurut David Harvey. Jurnal Dekonstruksi, 3(1), 7.
↵27 Suarez-Villa, L. (2009). Technocapitalism: A Critical Perspective on Technological Innovation and Corporatism. Philadelphia: Temple University Press.
↵28 Adian, D. G. (2011). Setelah Marxisme: Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer. Depok: Penerbit Koekoesan.
↵29 Suarez-Villa, L. (2012). Globalization and Technocapitalism: The Political Economy of Corporate Power and Technological Domination. Irvine: Ashgate Publishing Company.
↵30 Harvey, Op. Cit., 104.
↵31 Ford, M. (2009). The Lights in the Tunnel: Automation, Accelerating Technology, and the Economy of the Future. USA: Acculant Publishing.
↵32 Richer, J. (2018). The Ethical Capitalist: How to Make Business Work Better for Society. London: Random House Business Books.
↵33 Halliday, D. & Thrasher, J. (2020, March 10). Is There an Ethical Case for Capitalism? The ABC’s Religion and Ethics. https://www.abc.net.au/religion/daniel-halliday-john-thrasher-the-ethics-of-capitalism/12044380
↵34 Fakhri, U. (2020, February 23). Kapitalisme Beretika, Sebuah Utopia? The Columnist. https://thecolumnist.id/artikel/kapitalisme-beretika-sebuah-utopia-459

Related Posts

In Between Socialism and Capitalism: How the Nordics Outperforms Pancasila Economics
Internasional

In Between Socialism and Capitalism: How the Nordics Outperforms Pancasila Economics

The Impact of Two Different Economic Systems on Dishonesty
Kilas Riset

The Impact of Two Different Economic Systems on Dishonesty

Discussion about this post

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© 2024 Badan Otonom Economica

Situs ini menggunakan cookie. Dengan menggunakan situs ini Anda memberikan izin atas cookie yang digunakan.

Selengkapnya Saya Setuju
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary
Always Enabled
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Non-necessary
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.
SAVE & ACCEPT
No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Riset
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide