1. Introduction
Meningkatnya penggunaan internet dan teknologi informasi memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi kesehatan secara daring. Di saat yang sama, maraknya misinformasi kesehatan di media sosial menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat karena penyebarannya yang meluas.
Misinformasi kesehatan mencakup konten terkait kesehatan yang menyimpang dari bukti ilmiah yang terverifikasi, yang berpotensi mendistorsi pemahaman penerimanya. Misinformasi kesehatan tersebut dapat mendistorsi persepsi publik, mendorong individu untuk menerima pendapat atau saran dalam misinformasi tersebut sebagai informasi yang akurat. Hal ini, pada gilirannya, dapat menyebabkan keputusan kesehatan yang keliru. Penyebaran misinformasi kesehatan yang meluas oleh pengguna media sosial memiliki konsekuensi negatif yang signifikan (Kampling et al., 2024). Penyebaran informasi yang salah tentang kesehatan di media sosial dapat melemahkan upaya kesehatan masyarakat (Nefes et al., 2023), memicu keraguan terhadap vaksin (Lu et al., 2023), menyebarkan upaya pencegahan yang salah (Romer dan Jamieson, 2020), serta memperparah kepanikan dan ketakutan, di antara berbagai masalah masyarakat lainnya (Chen et al., 2022).
2. Theoretical Framework
2.1. Health misinformation features in social media
Mempelajari karakteristik spesifik misinformasi kesehatan dapat membantu melindungi masyarakat dari dampak buruknya. Terdapat empat kategori kelompok karakteristik misinformasi (Kapantai et al., 2021; Peng et al., 2022; Walter et al., 2021).
Kelompok pertama adalah menarik perhatian pengguna dengan memanipulasi isyarat heuristik dalam pesan, menggunakan sumber palsu, atau kata-kata yang membuat orang mempercayainya tanpa berpikir dua kali. Misalnya, cerita yang sangat menyedihkan atau tampaknya berasal dari seorang ahli tetapi sebenarnya adalah kebohongan. Kelompok kedua yakni memperkaya konten dengan fakta-fakta palsu atau menciptakan kesan teori konspirasi. Misalnya, menggunakan cerita pribadi, membesar-besarkan risiko, atau membuat orang curiga untuk tujuan tertentu. Kemudian kelompok ketiga menggabungkan unsur kebenaran dan kekeliruan y. Yang dimana agar tampak lebih meyakinkan, mereka menggunakan fakta ilmiah yang disalahartikan atau bias. Terakhir, kelompok keempat sering menggunakan taktik sebagai politisasi atau provokatif. Misalnya, informasi kesehatan digunakan untuk tujuan politik atau untuk menyudutkan pemerintah dan lembaga medis, membuat orang lebih emosional atau marah.
Dari keempatnya, kategori yang paling umum digunakan adalah memanipulasi emosi pembaca dan membuat sumber informasi agar tampak kredibel. Masalah ini diperparah karena media sosial tidak memiliki sistem pemantauan yang baik , sehingga misinformasi ini sering dianggap sebagai konten berkualitas oleh platform tersebut. Akibatnya, orang merasa lebih mudah percaya dan menyebarkan misinformasi.
2.2. Health misinformation interventions in social media
Seiring berkembangnya masalah misinformasi kesehatan, terdapatada peningkatan seruan untuk intervensi berbasis bukti guna mengurangi penyebaran misinformasi (Nekmat, 2020). Para akademisi telah mengusulkan berbagai upaya intervensi dalam tiga tingkat: pemerintah, organisasi dan staf profesional, serta individu untuk memerangi penyebaran misinformasi kesehatan di media sosial (Chen et al., 2022). Sebuah studi oleh Vraga et al. (2022) juga menunjukkan bahwa meningkatkan keterampilan literasi peserta mengurangi kecenderungan mereka untuk berbagi informasi yang salah. Namun, peningkatan ini membutuhkan konten pendidikan yang ditargetkan dan terbukti sulit untuk ditiru. Selain itu, semua intervensi di atas menderita respons yang tertunda masalah, membuat mereka tidak memadai untuk mengatasi kemunculan konstan misinformasi kesehatan baru di media sosial, dan biaya penerapan intervensi ini untuk menjangkau semua pengguna secara efektif sangat mahal tinggi.
Namun, terdapat metode intervensi yang menjanjikan untukdapat mengatasi keterbatasan tersebut: konsep “nudge”. Berakar pada ekonomi perilaku, “nudge” menganjurkan desain dan implementasi situasi pilihan (misalnya, memberikan petunjuk atau saran) untuk secara tidak langsung dan tanpa paksaan membimbing dan mengubah perilaku individu dan menghindari pemicuan perlawanan manusia (Thaler dan Sunstein, 2009). Oleh karena itu, secara teori, penggunaan “nudge” untuk menekankan keakuratan informasi kesehatan akan menimbulkan keraguan dalam benak pengguna, menyoroti potensi kerugian, dan mengarahkan mereka untuk membuat pilihan yang diharapkan, tidak membagikan misinformasi kesehatan di media sosial untuk mempertahankan status dan persetujuan mereka. Sebagai alat digital yang murah, mudah diimplementasikan, tanpa paksaan, dan dapat dengan cepat diintegrasikan ke dalam konten media sosial, “nudge” telah menunjukkan kekuatannya untuk mengintervensi misinformasi (Andı dan Akesson, 2021; Zhang et al., 2023).
3. Research Model and Hypothesis
3.1 Research Model

Model penelitian ini berfokus pada hubungan antara fitur informasi (seperti emosi negatif daya tarik emosional dan sumber yang tampak kredibel), intervensi “accuracy-nudge”, serta kecenderungan niat pengguna untuk berbagi misinformasi. Penelitian ini mengevaluasi bagaimana kombinasi elemen-elemen ini memengaruhi niat berbagi misinformasi serta bagaimana intervensi dapat mengurangi dampaknya.

3.2 Hypothesis
Berdasarkan tinjauan pustaka dan model penelitian yang dilakukan, peneliti membuat 9 hipotesis sementara:.
H1. Misinformasi kesehatan dengan daya tarik emosi negatif mengarah pada niat berbagi yang lebih tinggi daripada mereka yang memiliki daya tarik emosi positif.
H2. Misinformasi kesehatan dengan sumber pseudo-otoritatif mengarah pada niat berbagi yang lebih tinggi daripada dengan sumber pseudo-umum
H3. Misinformasi kesehatan dengan label dorongan akurasi menyebabkan niat berbagi yang lebih rendah daripada tanpa label dorongan akurasi.
H4. Misinformasi kesehatan dengan daya tarik emosional negatif mengarah pada tingkat kredibilitas yang lebih tinggi, yang pada gilirannya meningkatkan niat untuk berbagi.
H5. Misinformasi kesehatan dengan sumber pseudo-otoritatif mengarah pada tingkat kredibilitas yang lebih besar, yang pada gilirannya meningkatkan niat berbagi.
H6. Misinformasi kesehatan dengan label dorongan akurasi menyebabkan tingkat kredibilitas yang dirasakan lebih rendah, yang pada gilirannya mengurangi niat berbagi.
H7. Misinformasi kesehatan dengan daya tarik emosional negatif mengurangi verifikasi informasi, yang pada gilirannya meningkatkan niat berbagi.
H8. Misinformasi kesehatan dengan sumber pseudo-otoritatif mengurangi verifikasi informasi, yang pada gilirannya meningkatkan niat berbagi.
H9. Misinformasi kesehatan dengan label dorongan akurasi meningkatkan verifikasi informasi, yang pada gilirannya mengurangi niat berbagi.
4. Methods
Peneliti menggunakan metode penelitian eksperimental melalui pendekatan kuantitatif. Dalam studi ini, para peneliti melakukan eksperimen untuk menguji bagaimana fitur pesan tertentu, seperti daya tarik emosional dan sumber informasi, serta efektivitas intervensi accuracy-nudge memengaruhi niat pengguna untuk berbagi misinformasi kesehatan di media sosial. Kemudian peneliti mengumpulkan dan menganalisis data numerik dari eksperimen yang melibatkan partisipan untuk mendapatkan temuan yang dapat digeneralisasi.
5. Results
Penelitian ini menemukan bahwa fitur tertentu pada misinformasi kesehatan, seperti daya tarik emosional negatif (rasa takut atau marah) dan sumber yang tampak kredibel tetapipalsu, meningkatkan persepsi kredibilitas dan niat pengguna untuk membagikannya. Namun, intervensi berupa accuracy-nudge, label yang mengingatkan untuk memeriksa akurasi, efektif menurunkan niat berbagi dengan mengurangi kesalahan persepsi dan mendorong verifikasi informasi.

6. Limitations and Recommendations
Studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, eksperimen hanya menggunakan satu jenis stimulus, yang dapat membatasi keakuratan hasil. Kedua, niat berbagi informasi, meskipun sering mencerminkan perilaku nyata, dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengaruh sosial, sehingga hasilnya mungkin berbeda dari tindakan sebenarnya. Selain itu, penelitian ini hanya berfokus pada fitur pesan tanpa mempertimbangkan pengetahuan awal peserta. Terakhir, peserta eksperimen tidak sepenuhnya mewakili populasi pengguna media sosial karena adanya persyaratan partisipasi.
Untuk penelitian mendatang, disarankan untuk mensimulasikan situasi nyata di media sosial dan menggunakan data objektif untuk analisis lebih mendalam. Menguji jenis informasi yang lebih beragam dengan teknik pengambilan sampel yang lebih luas juga dapat meningkatkan generalisasi hasil. Selain itu, penelitian sebaiknya mempertimbangkan karakteristik pribadi pengguna dan kebutuhan informasinya. Penting juga untuk menguji efektivitas intervensi akurasi pada berbagai jenis misinformasi serta dampak pengetahuan awal terhadap niat berbagi. Akhirnya, hubungan antara kredibilitas informasi yang dirasakan dan perilaku verifikasi perlu dieksplorasi lebih lanjut untuk memahami proses berbagi informasi.
Reviewed from:
Xue, X., Ma, H., Zhao, Y.C., Zhu, Q., Song, S. (2024), Mitigating the influence of message features on health misinformation sharing intention in social media: Experimental evidence for accuracy-nudge intervention. Social Science and Medicine, 356, 117136. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2024.117136
Editor: Amira Nisa Adli & Maura Gita
Ilustrasi oleh: Hamidatul Hawa Rahmadini


Discussion about this post