Pemilihan Umum Raya (Pemira) FEB UI 2021 akan kembali digelar dalam waktu dekat. Berkaca pada pelaksanaan tahun sebelumnya yang harus dilaksanakan secara daring, terdapat beberapa persoalan terkait pendaftaran dan partisipasi mahasiswa FEB UI. Pihak panitia Pemira FEB UI berusaha untuk memperbaiki teknik pelaksanaan di Pemira yang akan datang. Lantas, apa saja evaluasi dan inovasi serta bagaimana independensi untuk penyelenggara Pemira FEB UI tahun ini?
Badan Otonom Economica berkesempatan mewawancarai Emirio Syauqi selaku Project Officer Pemira FEB UI 2021 dan Mohammad Iqbal Darmawan selaku Kepala Komisi Kaderisasi dan Suksesi BPM FEB UI untuk mengetahui inovasi serta independensi pelaksanaan Pemira FEB UI 2021.
Pelaksanaan Sistem Pemungutan Suara
Sistem pemungutan suara akan dilaksanakan secara daring seperti tahun lalu. “Untuk masalah sistem e-vote sama seperti fakultas lain, kita ikut sistem Pemira UI agar koordinasi lebih bagus,” ucap Emir. Sistem yang digunakan pada tahun lalu terbilang berjalan dengan aman dan mudah untuk diakses, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk tetap menggunakan sistem tersebut. Namun, Iqbal dari pihak BPM FEB UI berkata bahwa masih menunggu keputusan dari pihak Pemira UI terkait ada atau tidak perubahan sistem pemilihan.
Selanjutnya, Emir mengatakan bahwa sempat ada penawaran sistem cadangan yang dapat digunakan oleh Pemira FEB UI. “Sebenarnya tahun lalu ada pihak eksternal yang menawarkan sistem baru untuk Pemira FEB UI, tapi kita gak ambil karena alasan finansial dan harus koordinasi dengan Pemira UI,” tutur Emir. Selain dari pihak eksternal, Pemira FEB UI sendiri masih akan melihat sistem cadangan lain dan berkaca pada pelaksanaan Pemira fakultas lain.
Kemudian, Pemira FEB UI menyampaikan evaluasi terkait pelaksanaan tahun lalu, yaitu publikasi yang dirasa kurang gencar, tidak seperti ketika offline. “Contohnya itu waktu masa pemilihan (ketika offline) orang-orang lagi jalan sehabis kelas bisa melihat TPS,” ucap Emir. Hal tersebut dapat menjadi penggerak bagi mahasiswa lain agar ikut berpartisipasi dalam pemilihan.
Beranjak dari evaluasi tersebut, panitia mempertimbangkan untuk lebih fokus melakukan publikasi melalui platform LINE yang banyak digunakan mahasiswa FEB UI. “Satu lagi ada beberapa saran Pemira tahun ini bisa dibuat lebih fun,” ujar Emir. Berdasarkan hearing dari beberapa calon tahun lalu, Pemira FEB UI memiliki kesan yang menyeramkan sehingga berdampak pada partisipasi mahasiswa dalam pemilihan.”Kita mau buatnya Pemira itu fun dan bukan hal yang menakutkan tetapi sebagai ajang demokrasi yang transparan,” tutur Emir.
Meningkatkan Keterlibatan Publik dalam Mengikuti Pemira
Untuk Pemira FEB UI tahun ini, Emir mengatakan bahwa kegiatan eksplorasi yang dilakukan juga masih sama seperti tahun lalu. Tingkat partisipan yang mengikuti eksplorasi tahun lalu bisa mencapai ratusan hingga ribuan, “Pelaksanaannya masih sama sih, belum ada perubahan tertentu, paling cuman di aturan aja tadi,” ujarnya. Pada tahun ini, mahasiswa FEB UI juga masih dapat melihat siaran ulang eksplorasi melalui kanal YouTube Pemira FEB UI.
Bentuk lain untuk melihat tingkat partisipasi publik adalah melalui jumlah voting yang telah mendapatkan total suara kurang lebih 50%, yang berarti terdapat 1.600 sampai 1.700 orang yang ikut memilih. Meskipun demikian, angka tersebut masih berada dalam ambang batas kuorum sah dari pemungutan suara.
Panitia Pemira sendiri merasa sudah mencoba sekeras mungkin untuk mengajak mahasiswa lainnya agar ikut memilih. Cara tersebut dirasa sudah cukup efektif, tetapi setelah melakukan hearing ke berbagai pihak, Emir merasa perlu mencoba alternatif baru. “Kalau misalnya sempet, kita (panitia Pemira FEB UI) mau membuat semacam podcast gitu sama mantan calon tahun-tahun sebelumnya untuk menggambarkan pengalaman mereka mengikuti berbagai kegiatan di Pemira, agar para calon untuk tahun ini juga tahu ‘Oh Pemira itu kayak gini’,” ungkap Emir. Podcast tersebut rencananya dibuat agar para calon dapat mengenal lebih dalam tahapan Pemira yang terdiri dari eksplorasi, kampanye, hingga masa pemilihan sekaligus mendengar cerita dari mantan calon yang terlibat pada tahun kemarin.
Emir mengeklaim bahwa BPM juga telah menyetujui gagasan ini. Berbagai inovasi, mulai dari publikasi yang masif dan menarik, seperti penggunaan platform Youtube, sudah digunakan Pemira untuk mendongkrak partisipan dari IKM FEB UI. Namun, sejatinya kesuksesan Pemira tahun ini tidak hanya bergantung pada adanya terobosan baru yang masif, tetapi bergantung juga pada partisipasi dari IKM FEB UI.
Mengatasi Batu Sandungan pada Pemira
Ketika ditanya perihal pelaksanaan Pemira tahun lalu, Emir memastikan bahwa Pemira tahun lalu bebas dari kecurangan, akan tetapi sempat ada permasalahan saat pendaftaran dan pengumpulan berkas calon yang akhirnya memunculkan polemik. Hal itu pun sudah ditengahi oleh BP (Badan Pengawas) dan akhirnya panitia Pemira sudah diberikan sanksi sebagai akibat dari kesalahannya tersebut.
“Sebenarnya (dampaknya) cukup signifikan sih, soalnya yang jadinya terlibat bukan cuman Pemira dan calonnya yang merasa dirugikan ini, tetapi juga melibatkan BP sama BPM. Oleh karena itu, tahun lalu Pemira dapet sanksi lisan dari BP, sebenarnya cukup gede sih masalahnya karena melibatkan berbagai pihak,” ungkap Emir.
Emir mengatakan bahwa pihak panitia telah memiliki rencana untuk mencegah terjadinya keterlambatan berkas seperti periode tahun lalu. “Tahun ini mau diubah (perpanjangan waktu pendaftaran) menjadi satu kali selama 4 atau 5 hari,” ujar Emir. Perubahan ini didasari dengan evaluasi dan hearing yang dilakukan dengan calon tahun lalu bahwa perpanjangan penerimaan berkas selama dua hari dirasa tidak cukup bagi seseorang dalam mengambil keputusan untuk maju sebagai calon kandidat.
Tindakan preventif yang dilakukan untuk mencegah adanya kecurangan juga masih sama seperti tahun sebelumnya. “Kalau preventif, sebenarnya dari tahun ke tahun cukup sama sih. Seperti biasa, baik untuk calon BEM, BPM, ataupun himpunan, kita bakal minta media sosial yang kira-kira mereka pake selama kampanye,” tutur Emir. “Kita juga bakal minta list nama susunan kampanyenya agar Pemira dan BP bisa ngawasin selama kampanye sampai masa pemilihan dari data media sosial sama campaign manager dan campaign team yang kita punya,” lanjutnya.
Kemudian, dalam rangka memperketat pelaksanaan pemira, panitia kemungkinan akan mengubah aturan mengenai deposit. “Sebelumnya, untuk pendaftaran calon BEM dan BPM terdapat semacam deposit yang akan dikembalikan setelah sidang verifikasi,” ujar Emir. Pada tahun ini, peraturan tersebut kemungkinan akan diubah, pengembalian deposit akan dilakukan setelah masa pemilihan selesai. Sehingga, apabila terjadi suatu pelanggaran pada masa kampanye, pihak panitia tidak segan untuk mengenakan denda kepada pasangan calon.
Independensi Pemira FEB UI
Emir mengeklaim bahwa Pemira tahun ini bisa dibilang lebih siap dan independen. “Yang jelas Pemira tahun ini bakal sangat mengedepankan (asas) luber jurdil dalam artian kita juga ingin mengedepankan transparansi,” tambahnya. Hal tersebut didasari oleh kejadian dari tahun sebelumnya yang kurang menampilkan adanya transparansi sehingga tahun ini diharapkan untuk bisa jauh lebih baik.
Tidak hanya itu, ditilik dari sisi internalnya, tim inti dari Pemira terdiri dari orang-orang yang sebelumnya pernah menjabat menjadi staf, BPH (Badan Pengurus Harian), kemudian beranjak ke PI (Pengurus Inti) sehingga Emir merasa yakin bahwa dari pengalaman tersebut, Pemira dapat dilaksanakan dengan baik dan benar pada tahun ini.
Di samping itu, Iqbal juga merasa yakin dapat menjamin independensi dari Pemira FEB UI. Hal ini didasari atas kesiapan BPM FEB UI yang sudah menerapkan beberapa kontrol internal baik berupa regulasi ataupun sebuah badan. Contohnya adanya keberadaan BP Pemira yang berfungsi membantu dan mengawasi agar rangkaian Pemira dan proses demokrasi di tahun ini bisa berjalan dengan baik. Badan ini terdiri dari sekelompok orang dengan background jurusan dan angkatan yang berbeda. Selain itu, BPM melakukan pendekatan kepada BP secara profesional dan personal untuk memastikan adanya laporan secara berkala kepada BPM sehingga BP dan BPM dapat selalu mengetahui kondisi terbaru dari Pemira.
Ilustrasi oleh Ahmad Adiyaat
Editor: Muhammad Zaky Nur Fajar, Nismara Paramayoga, Maurizky Febriansyah, Hafsha Pia Sheridan, Muhammad Ramadhani

