Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide
No Result
View All Result
Economica
Home Hard News

Outlier: Wajah Baru EBS E Club yang Visioner

by Aina Zafira Fitri, Kay Al Farisi & Rania Safira
30 Juni 2026
in Hard News

Hadirnya Outlier kepada publik terjadi pada saat akun instagram BEM FEB UI mengumumkan hasil Fit and Proper Test dari UKF Outlier 2026. Pada Minggu  (28/06), Tim Economica berkesempatan mewawancarai Abdullah Said, atau yang kerap disapa Said, Project Officer Outlier 2026.

 

Mengenal Outlier

Said membuka perkenalan mengenai Outlier dengan menjelaskan bahwa Outlier merupakan bentuk rebranding dari UKF Economic & Business Student Entrepreneurs Club (EBS E-Club), sebuah UKF komunitas bisnis yang memfasilitasi mahasiswa dalam menumbuhkan minat kewirausahaan serta mengembangkan potensi bisnis di lingkungan FEB UI, yang sempat vakum dan mengalami kekosongan kepemimpinan pada tahun 2025. Keputusan untuk melakukan rebranding terhadap EBS E-Club menjadi Outlier merupakan hasil dari konsultasi serta diskusi antara Said, yang sebelumnya merupakan calon project officer kepengurusan baru EBS E-Club, dengan anggota Departemen Entrepreneurship & Leadership (ELD), Kontrol Internal, serta Ketua BEM FEB UI.

Nama outlier sendiri terinspirasi dari buku karya Malcolm Gladwell dengan judul “Outliers: The Story of Success”, Sedangkan Logo Outlier berasal dari konsep statistik yang menunjukan titik data yang memiliki nilai berbeda signifikan dari sebagian besar data lainnya dalam satu set data. “Outliers ini adalah orang-orang yang punya pikiran visi-misi ke depan yang luar biasa. Tapi, selain pemikiran dan visi-misi ke depan, mereka juga sangat paham mengenai bagaimana sih visi itu bisa di-achieve dan bisa feasible.” jelas Said.

 

Lika-liku Rebranding

Proses rebranding UKF EBS E-Club menjadi Outlier dimulai sejak bulan Desember 2025, meskipun sebelumnya bidding untuk kepengurusan baru EBS E-Club telah direncanakan untuk diselenggarakan pada bulan November 2025. Pertanyaan pemantik yang menginspirasi dimulainya rebranding ini adalah mengenai kekurangan EBS E-Club dari berbagai segi seperti branding, logo, nama, dan lain-lain. Semenjak dimulainya perjalanan Outlier, beberapa tantangan seperti penundaan yang diakibatkan oleh sejumlah faktor dan pergantian susunan pengurus inti di awal tahun 2026 telah dilewati. Proses concepting dari Outlier sendiri akhirnya dimulai pada bulan Februari 2026 dengan perubahan nama serta logo dan hingga berlangsungnya bidding pada bulan Juni 2026.

 

Perbedaan EBS E-Club dan Outlier

“Kalau yang dulu (EBS E-Club) itu lebih niche ya, kak, lebih fokus terhadap entrepreneurship. Bagaimana teman-teman bisa dari (munculnya) ide, ideasi, ke concepting, sampai ke membuat sesuatu. Kalau EBS cover itu doang. Kalau kami (Outlier) belajar, learn, terus we connect, we build, we scale,” merupakan jawaban Said pada pertanyaan terkait perbedaan utama EBS E-Club dan Outlier. Fokus EBS E-Club yang hanya berpusat pada entrepreneurship dinilai kurang sesuai dengan mahasiswa FEB UI yang lebih fokus ke bidang finance, career development, dan lomba-lomba merupakan salah satu kekurangan EBS E-Club sebagai UKF.

Sebagai bentuk rebranding dari EBS E-Club, Outlier tidak hanya akan menjadi wadah di mana mahasiswa dapat berkumpul bersama untuk membahas seputar bisnis, tetapi juga tempat bagi para anggotanya untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mereka. Seperti meningkatkan pemahaman terkait pemanfaatan/pengunaan AI, cryptocurrency, Web3, serta business plan, business case competition, dan startup pitch competition. “Jadi harapannya ini (Outlier) bisa menjadi community hub. Teman-teman yang belajar saham, belajar AI, belajar entrepreneurship bisa nge-build something bareng,” ujar Said.

 

3 Pilar Outlier

Said menjelaskan bahwa terdapat 3 acara utama yang menjadi pilar dari organisasi ini. Pilar yang pertama adalah Grinding Class, sebuah program dimana para anggotanya dapat belajar secara online mengenai bisnis, saham, AI, serta konsultasi mengenai prospek karir di masa depan. Acara tersebut sekaligus menjadi kegiatan terdekat yang akan dilaksanakan oleh Outlier, yaitu pada bulan Juli mendatang.

Pilar yang kedua merupakan Master Class, yang sayangnya tidak dapat dilaksanakan pada tahun ini dan direncanakan akan terlaksana pada tahun depan. Pilar yang terakhir adalah Indonesia New Economic Forum (INEF), yaitu forum yang dihadiri oleh berbagai pihak untuk membahas isu seputar new economy, seperti pemanfaatan AI dalam bisnis dan cryptocurrency di Indonesia. “Kalau di INEF itu kami akan mengumpulkan dari industry leaders, government, asosiasi, mahasiswa atau young leaders, dan influencers. Jadi, forum itu menjadi jembatan antara semuanya,” jelas Said terkait konsep INEF.

 

Mimpi Besar di Era Baru

Perubahan nama EBS E-Club menjadi Outlier menyimpan mimpi besar di baliknya. Pemberian nama Outlier Indonesia mencerminkan visi yang ingin dicapainya dalam jangka panjang, yaitu menjadi komunitas nasional yang dimulai dari Universitas Indonesia (UI). “Visiku dan teman-teman itu lebih pengen Outlier ini nantinya ya di jangka panjang itu akan menjadi sebuah komunitas atau sebuah ekosistem percontohan untuk mahasiswa di PTN khususnya. Jadi, kami membawa nama UI ini pengen sebenarnya lebih ke brand gitu, kami juga pengen menjadi sebuah komunitas nasional yang dimana dimulainya dari UI,” tegas Said.

Said sebagai Project Officer dari Outlier mempunyai harapan untuk dapat memberikan impact ke masyarakat luas, terutama di bidang edukasi dengan pembuatan platform yang menyediakan berbagai pelatihan gratis, mulai dari OSN, UTBK, hingga tes IELTS. “Outlier ini mempunyai sebuah corporate responsibility di bidang edukasi. Kami kerjasama juga dengan beberapa yayasan dan ada platform kami juga (sebagai) inisiatif kami yaitu Gas Belajar Indonesia. Jadi ingin memajukan pendidikan Indonesia lah harapannya ke depan,” jelas Said. kay

Selain itu, ia juga berharap bahwa organisasi ini dapat menjadi wadah dimana para fungsionaris dan membernya bisa belajar, berkembang, hingga membuat bisnis start-up bersama. Menurutnya, kehadiran Outlier bukan sekedar sebuah komunitas yang menyelenggarakan berbagai acara tanpa hasil yang pasti, melainkan tempat untuk bertumbuh bersama, membangun relasi, dan menciptakan berbagai peluang baru di masa depan. “Harapannya kita di sini bisa build something big bareng, bisa di-funding bareng, dan bisa nemuin opportunity yang maybe will change our lives forever,” ujar Said sebagai penutup.

Related Posts

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas
In-Depth

Mengubah Mindset: dari Normalisasi Kecurangan ke Budaya Integritas

Korupsi Akademik: Krisis Integritas di Dunia Pendidikan Tinggi
In-Depth

Korupsi Akademik: Krisis Integritas di Dunia Pendidikan Tinggi

  • Tentang
  • Kontak
  • Kebijakan Privasi

© Badan Otonom Economica

No Result
View All Result
  • Hard News
    • Soft News
  • Sastra
  • Mild Report
    • In-Depth
  • Penelitian
    • Kilas Riset
    • Mini Economica
    • Cerita Data
    • Penelitian Economica
  • Kajian
  • Majalah Economica
  • UI Guide