Pada Jumat (23/8), Desa Keroya, Lombok Timur, diramaikan dengan penemuan jenazah seorang warganya yang terkapar di tengah sawah. Setelah diidentifikasi, jenazah ini merupakan warga desa setempat yang bernama Husni atau Amaq Eni (65) yang juga ayah dari seorang mahasiswi FEB UI, Muslihatin (Atin).
Melalui Instagram-nya, @atinn_172, Atin terus berusaha mencari keadilan bagi ayahnya. Economica telah berkesempatan untuk mewawancarai Atin guna mengetahui perkembangan pengusutan kasus yang menimpa ia dan keluarganya ini.
Kronologi Kasus
Sehari sebelumnya, yaitu Kamis (22/8), Atin mengatakan bahwa ayahnya pamit untuk pergi ke sawah seperti biasa pada pukul 08.00 WITA dan biasanya akan kembali ke rumah sekitar pukul 18.00 WITA. “Namun, ayahku sampai jam 20.00 belum juga pulang. Jadi, ibu dan adikku berinisiatif untuk mencari ayah ke sawah,” ujarnya.
Pada malam itu, pencarian tidak membuahkan hasil. Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 WITA, Akmaluddin selaku pemilik sawah menemukan korban dalam keadaan yang mengenaskan. Atin mendeskripsikan, “Wajahnya penuh luka, tulang belakang kelihatan, terdapat banyak bolongan di badannya akibat paku yang digunakan untuk memukul ayah.”
Hampir Sebulan Berlalu, tetapi Keadilan Belum Juga Ditemukan
Sejauh ini, Atin dan keluarganya juga telah meminta bantuan dari Polres Lombok Timur. “Kemarin sudah ada satu pelaku yang menyerahkan diri ke polisi. Tetapi ia berkata kalau sebenarnya terdapat dua pelaku, di mana pelaku kedua merupakan anaknya sendiri,” jelas Atin. Namun, pelaku kedua ini dikabarkan lari ke Malaysia dan sekarang statusnya adalah buronan.
“Namun, kami merasa janggal. Pelaku yang menyerahkan diri ini usianya sudah sekitar 70 tahun dan untuk berjalan saja dia kesusahan. Rasanya mustahil untuk melakukan pembunuhan,” ungkap Atin terkait keresahannya. Ia juga merasa bahwa pembunuhan ini tidak hanya dilakukan oleh dua orang berdasarkan senjata yang ditemukan oleh polisi.
Ia menambahkan, “Ketika jenazahnya ditemukan, terlihat ada (pelaku) yang bertugas untuk memegang tangan dan kaki serta memukul ayah. Selain itu, senjata yang ditemukan oleh polisi juga enggak mungkin digunakan oleh dua orang saja, karena ada parang, kayu, dan kumpulan paku bergerigi.”
Di samping itu, Atin juga menyatakan bahwa ia dan keluarganya merasakan kejanggalan dalam proses autopsi jenazah. “Biasanya kan kita dikasih tahu hasil autopsinya, tetapi polisi bilang kalau keluarga enggak boleh tahu terkait hasilnya,” terangnya.
Harapan untuk Keadilan Masih Terus Dinantikan
Melihat berbagai kejanggalan yang ada, Atin berharap pelaku dapat cepat ditemukan dan diadili. “Kami enggak rela kalau pelaku masih bisa berkeliaran bebas di luar sana, sedangkan ayah kami belum mendapatkan keadilan,” tegasnya.
Untuk membantu Atin dan keluarganya dalam mencari keadilan, Ecopeeps juga dapat membantu Atin dengan menyebarluaskan unggahan Instagram Atin dan/atau informasi yang berhubungan dengan kasus ini.
Editor: Anindya Vania dan Marshellin Fatricia

